MENU SEBUAH RESTORAN DI ALEPPO, Puisi-Puisi Achmad Hidayat Alsair

0
97
Sumber ilustrasi: http://cdn.klimg.com/vemale.com/p/art-maude-1.jpg

*) Achmad Hidayat Alsair

Setelah Taman Dilarang

Jadi, taman-taman sudah dibongkar dan rerimbun teduh jadi mitos anak cucu  katanya mereka sudah tidak diperlukan, tidak mendatangkan keuntungan  jika dedaunan bisa bergerak dan berbicara, mereka juga akan dikenakan pajak mengotori jalan dan pemandangan, para dewasa kini berotak buku rekening

Menuju pusat perbelanjaan, brosur mengatakan mereka menanam pohon “kami tengah berusahan menjalin kembali hubungan dengan alam” pungkasnya maka setengah terburu kupacu kendara, dada ini sesak butuh udara sungguhan begitu tiba, hanya rindang dan rumput plastik serta gerbang bertulis “wajib beli tiket masuk

Penduduk hanya berkumpul membahas hidup dan pekerjaan di bawah lampu paling terang sementara anak-anak bermain dengan mesin-mesin serta boneka berkulit aneka limbah udara dinikahkan paksa dengan cerobong raksasa pinggiran kota beraura paling kelam sakit paru-paru adalah sarapan pagi bagi para pejalan, kabar baik untuk pabrik obat

Menebang batang menjadi pekerjaan utama Dinas Tata Kota, menanam beton adalah gantinya serangga hilang kediaman, kumpulan burung bertukar kabar keadaan pulau Galapagos kuraih komputer jinjing guna mengerjakan naskah buku dongeng terbaru ceritanya sederhana, tentang sebuah taman yang hanya memiliki satu pohon

Makassar, 2 Desember 2016

Revisi Pembelajaran Sejarah (2)

Kuganti Tojo dengan Hitler
kalang kabutlah Rommel karena tank-tanknya mandek di sawah

Kuganti Maradona dengan Ronaldo
kalang kabutlah Pele sekaligus takjub menonton kepala botak bak sinar kaum Bolivar kedua

Kuganti Hindia-Belanda dengan Australia
kalang kabutlah Ratu Wilhelmina dengan laba-laba sebesar topi sombrero

Kuganti Manhattan dengan Medellin
kalang kabutlah Umar Kayam melihat kunang-kunang menjadi lesatan peluru para kartel

Kuganti Skotlandia dengan Kanada
kalang kabutlah William Wallace menyusun pasukan yang gemar meminta maaf

Kuganti Beatles dengan Beach Boys
kalang kabutlah John Lennon dengan musik rock yang semakin tidak keruan

Kuganti Komodo dengan Kanguru
kalang kabutlah Si Komo membaca skrip film dokumenter yang dia perankan
Semua sudah direvisi dengan hati-hati
sudahkah Anda tertawa hari ini?

Makassar, 3 Desember 2016

Doa Para Pemeluk Guling

yang kubilang nyaman adalah seonggok badan
terlunta dimakan nasibnya sendiri
penantian tak lebih sinonim dari gagal
tuntutan kata-kata dalam pelaminan
ditempa begitu halus oleh nyanyian padang
basa-basi langit malam
kuali dijunjung, meminta pertanyaan
untuk membaur jauh dari pekarangan
gema-gema sunyi
dan kecipak air dari ledeng

Tuhan, segera beri aku peraduan
cermin selalu berteriak ke wajahku
Tuhan, mohon sempitkan kamar ini
hiasi dengan seprai rajahan mawar

Makassar, Oktober 2016

Menuju Sinai

Membekap sekantung bekal
sebelum mulai menghitung
kantung air tersisa di buntalan 
uang receh dalam saku celana
berat dan tidak banyak
hari ini tanpa sarapan

Mencari pohon terindang
berteduh tanpa bantal
tebalnya selimut berkain terik
sekongkol hadirkan lelap
mimpi nihil dialog
renggut rencana bangun

Dalam perjalanan pulang
remah roti lalu bekas sujud
ocehan pasir menempa mata

Makassar, September 2016

Menu Sebuah Restoran di Aleppo

Kalau nanti aku merasa lapar
segera suguhkan asap dari luncuran misil
bau reruntuhan dan kulit melepuh lebih menggoda
daripada hidangan berupa bait-bait perdamaian metafora

Sarapan hingga makan malam
yang tersedia di dapur selalu sama
konvoi bantuan kala siang kerap terhalang gencatan pura-pura
berita suasana perdebatan sidang umum adalah selingan pencuci mulut

Jika telah kenyang serta selesai proses di perut
lupakan tidur siang istirahat pencernaan
bersembunyi kini jadi pekerjaan utama
selain menangis dan menyumbat luka

Makassar, September 2016

Perihal Angin dan Resahnya

Angin memasang tampang jinak
butuh panduan lampiaskan amarah
hanya meniup nyanyi lirih
dari nisan pemeluk semak

Angin mengaku terlalu ringkih
mengumpat tempuhan berbagai jarak
disesatkan oleh peta gadungan
dipanggil bencana dalam berita cuaca

Angin dipaksa menceraikan hembusan
menggali liang semayamnya kelak
tidak bertenaga untuk meliar
letih mekar di sekujur lubangnya

Makassar, September 2016

Elegi Ekspedisi

Bawaan di pundak terlalu berat
selalu singgah jika temui tempat teduh
mungkin berhenti kalau diizinkan 
lelah dan peluh, rajam
punggungku hendak bersandar
pada tembok atau rindangmu
entah mana yang lebih dekat
Sengaja tak ada tanya
biarkan kemayu lunglai
kita tetap akan sampai pada waktunya
semoga saja

Kaluppini, Juli 2016

Membaca Angin

Aku bertanya pada semilir
mengeja tanda pada gurat wajah
sungai bersikeras tetap mengalir
acuh pada semak enggan terbara
Aku mendengar bisik terpaan
melihat sejauh mana dia bermain
keliaran yang tak kunjung reda
pada kulit pepohonan kering meranggas
Aku belajar membaca tubuhmu
kadang tergagap dituntun terik

Kaluppini, Juli 2016 


Achmad Hidayat Alsair. Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, jurusan Ilmu Hubungan Internasional, semester 7. Puisi-puisinya pernah dimuat di sejumlah surat kabar dan portal berita daring seperti Fajar Makassar, Go Cakrawala Gowa. Tanjungpinang Pos, Lombok Post, Jurnal Asia Medan, Analisa Medan, Litera, FloresSastra, Nusantara News, Saibumi, serta beberapa buku antologi puisi bersama. Yang terbaru, salah satu puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Pesta Puisi Kopi Dunia 2016 “1550 MDPL”. Bisa dihubungi melalui sur-el ayatautum95@gmail.com.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY