Sepucuk Surat Kepada Nana Azharul

2
506
Foto Istimewa

Flores, 7 December 2016

Surat ini aku tulis untukmu, Aceh, melaluimu, sahabatku, Nana Azharul. Aku menulis surat ini sebelum siang pulang. Ketika senja sajikan jingga paling indah di tepi barat Pulau Flores. Ketika angin meliuk-liuk di pepohonan, menjatuhkan sisa hujan, dan  suara adzan meninggi. Syahdu.

***
Terlintas jelas awal jumpa kita. Entah mengapa, melihatmu pertama kali, aku temukan keanggunan. Dialek Acehmu yang berenergi. Aku terpesona nian.  Pun mengenalmu beberapa hari kemudian perlahan merubuhkan tembok pemisah di hati.

Ya… Bagaimana tidak. Kau, Azharul dan Aku, Elisabeth. Tembok yang kita berduapun dengan brutal menolak mengakuinya. Rupanya  ruang Jumpa denganmu adalah berkat besar di tahun ini seperti yang pernah dikatakan kak Yuli.

Aku masih berhutang rindu tentang Tanah Aceh yang kau banggakan. Menjejakkan kaki di tanah rencong sebesar rasa kagumku atas pemahaman ajaran kepercayaanmu. Dari balik Hijab kelabu bermotif bunga aku menemukan mantra-mantra kedamaian dari sekian teka teki yang aku tanyakan.

Santun engkau menjawab tanpa mengataiku Kafir. Dengan banggapun aku bercerita tentang Tanah Flores yang cantik dalam toleran. Ada nada kagum  dan pengakuan yang tulus di balik seru Subhanallah…. yang kau lontarkan. Kaupun tersenyum manis saat aku berkata Kalau ke Flores antara Sopi dan Kopi rasanya sama-sama memabukkan.

Iseng saat engkau mampir ke kamar 208 dengan takjub dan takut aku memberanikan diri meminjam Hijabmu (berkali-kali engkau menolak kata Hijab) dan dengan perlahan aku berbisik: “ Na.. Apakah Kita berdua tidak sedang melakukan penistaan”

Kaupun tertawa terbahak-bahak memecah sunyi  sambil menggeleng dalam derai tawamu. Malam itu  seakan tak ada hitam, tetapi hanya putih yang disatukan oleh peduli yang sama dalam berbagi cerita  tanpa henti.

Aku juga teringat tentang botol minumanmu yang kau tawarkan saat aku kehausan. Botol yang membawamu melintas ujung ke ujung Jakarta mencariku. Sebegitu cintakah dirimu pada botol minumanmu? Atau Engkau hanya mencari alasan untuk menemui sekali lagi. Aku merindu sungguh, assamualaikum yang selalu kau sampaikan untuk kesekian kalinya.

Hari ini, aku terbangun dalam ketakutan membaca #PrayforAceh di media Social. Aku teringat tentang dirimu dan mencoba menghubungimu berkali-kali. Tanda unread text di whatsapp membuatku semakin ketakutan. Aku mencoba mengusir ketakutanku dengan tengelam di Facebook.

Namun apa yang aku dapat disana; Bukan lagi dukungan malah kebencian yang dibagikan terus menerus dalam berita-berita Hoax. Mengatakan musibah ini sebagai Azab dari kejadian-kejadian beberap minggu terakhir.

Sungguh… Aku berharap engkau tidak perlu membaca bagian-bagian itu dari medsos. Tuhankah mereka yang suka menghakimi satu sama lain.

Aneh nian Negri ini. Sorak fans Timnas melengking jauh mengalahkan tangisan pilu para korban gempa . Lihat betapa mereka tak sadar mencaci maki saat Timnas mau Kalah seakan mereka jauh lebih berpengalam di lapangan Hijau. Belum sempat menarik Nafas sebagian Fans berteriak: Maen Macam bnci saja…. Atau Maen loyo macam perempuan. Ehhh?

Kita berdua di mana, Aceh di mana, Flores di mana. Bukankah dalam sepelukan doa kepada Tuhan yang sama. Bukankah dalam sebaris ziarah Indonesia merdeka dan bermartabat.

Nana Azharul, sahabatku. Malam berlalu, heningnya meyapu sepi. Sedih yang semakin mendalam suluk akan segera bercahaya. Seterang shadiq.

Dari sebuah sudut jendela kamar aku menatap langit. Melirik lilin di depan salib yang luluh hampir padam sekali lagi aku berdoa. Semoga Aceh dan kau, Nana Azharul diberi kekuatan dan dijaga oleh-Nya.

***
Nana Azharul. Surat ini aku tulis untukmu, Aceh, melaluimu. Aku menulis surat ini sebelum siang pulang. Ketika senja sajikan jingga paling indah di tepi barat Pulau Flores. Ketika angin meliuk-liuk di pepohonan, menjatuhkan sisa hujan, dan  suara adzan meninggi. Syahdu.

Sahabatmu, Elisabeth

Labuan Bajo, Flores NTT

flores-sastra-sastra-ntt

2 KOMENTAR

  1. Terima kasih cindra
    Terima heni,
    Membaca ini sungguh membuatku kembali pada 5 hari merajut kebersamaan dlm perbedaan bersama kalian. Kenangan 208 sungguh membekas
    Sekali lagi,
    Terima kasih atas nikmat Tuhan yang tiada tanding ini; sebuah pertemuan

LEAVE A REPLY