RUMAH DI INGATAN KECIL ANGGIH, Cerpen Dwi Rahmi Wahyuningsih

0
107
Sumber: http://sancita.com/wp-content/uploads/2013/11/IMG_0537.jpg

*) Dwi Rahmi Wahyuningsih

Di kotak ingatan yang tak seberapa luas, suatu kali muncul kenangan tentang sebuah ruang sempit di kepala Anggih. Di sana, ada tiga kursi kayu dengan dudukan terbuat dari penjalin. Ia berdiri di sudut sambil memegangi lengan kursi terpendek. Tinggi Anggih sendiri saat itu tak lebih tinggi dari lengan kursi berbentuk setengah lingkaran itu.

“Kurasa itu rumah Eyang Marjo,” ceritanya pada ibu.
“Itu tak mungkin!” tukas ibu. “Terakhir di sana, umurmu belum ada dua tahun.”
Remaja belia itu hampir-hampir tak yakin dengan pemberitahuan perempuan tiga puluhan itu. Anggih muda sangat yakin akan kenangan kecil itu. Kalau bukan di rumah mbah buyut, mungkin di suatu tempat lain, entah di mana. Dan, sepertinya ada suatu kejadian penting lain di sana — yang sampai saat ini belum mampu diingatnya lagi apa dan bagaimana.

*
“Taman yang cantik,” puji Ekana pada taman Amaryllis yang terhampar di halaman belakang rumah Anggih. Kebun bunga yang biasanya hanya berupa perdu itu kini menjelma hamparan bunga bintang berwarna orangedi antara pohon-pohon cengkih.
Yang dipuji menyengir. “Kau suka?” tanyanya.
Ekana mengangguk. Matanya yang bak kejora di langit pagi itu berbinar.
“Maaf ya, Eka. Aku nggak punya kado cantik di ulang tahunmu.” Lelaki yang telah menjelma menjadi remaja SMA dengan sosok tinggi besar itu terdengar menyesal. “Harusnya dari jauh-jauh hari aku tahu ini ulang tahunmu.”
Ekana terkekeh. Ia menatap geli pada sahabat yang baru lebih akrab tiga bulan ini. “Seperti aku pacarmu saja.”
Andai saja, gadis mungil itu lebih berlama sedikit saja, akan didapatinya muka Anggih merona.
Berjingkat Ekana menghambur ke sebuah gazebo di tengah kebun. Dengan pondasi yang agak tinggi, seluruh taman orange itu dapat dinikmatinya dengan mata hampir tak kedip.
Sementara, lelaki pemuja diam-diamnya mengikuti dari belakang.
“Struktur gazebo ini unik,” kata pemilik suara manja itu menelusuri bangunan tua yang menaunginya dengan mata sipitnya. Ia kini berdiri di belakang pagar pendek yang menjadi dinding gazebo..
“O, ya?” tanya Anggih skeptis.
“Mengingatkanku pada gazebo-gazebo di film klasik Eropa.”
“Kau terlalu berlebihan,” Anggih menyahut sambil membersihkan kursi kayu dari debu dan daun cengkeh kering. “Gazebo ini dibangun hanya selang beberapa tahun dari kelahiranku.
Atapnya sudah agak bocor. Dulu aku suka di sini kalau lagi ngerjain PR.”
Ekana seperti tak mendengar. Matanya lurus menatap suatu arah.
“Ang,” bisiknya hati-hati. Anggih menoleh.
“Apa tadi kamu lihat?”
“Apa?” Anggih mengikuti arah pandang gadis berkuncir kuda yang berdiri tak jauh darinya.
“Tadi ada orang di sana?” Ekana menunjuk.
“Ah, masa sih?” Anggih mendekat.
“Serius!” Gadis berusia tujuh belas tahun itu menunjukkan ekspresi dan intonasi yakin.
“Perempuan itu melihat ke sini. Tapi, waktu aku perhatikan lagi biar lebih jelas, ia sudah nggak ada.”
Mulut remaja berkulit cokelat terang itu langsung terkunci. Tak sekali ini, didengarnya hal yang sama. Seorang perempuan, yang selalu muncul di kebun Amaryllis tiap bulan November, saat bunga lily itu mekar. Pertanyaannya sekarang, “siapa dia?” Yang jelas, bukan tetangga atau saudara, karena mereka yang mengaku sering atau pernah melihatnya sendiri tak pernah jelas tentang siapa orang itu.
Tiba-tiba sebuah getaran halus muncul dari saku Anggih, disusul alunan MP3 menandakan nada panggil. Segera Ekana melupakan kejadian barusan dan beralih ke saku lelaki muda di depannya yang sedang dirogoh si pemilik.
“Hallo, Ayah? Apa? Baik. Anggih segera ke sana.”
Nada bicara Anggih yang tegang dan sedikit panik membuat Ekana ikut cemas.
“Ada apa, Ang?” tanya gadis muda itu beberapa saat setelah Anggih memasukkan handphonenya kembali ke saku.
“Ehm. Ibuku kecelakaan. Ia masuk rumah sakit. Sepertinya ada sedikit masalah. Ayah masih di kantor, aku suruh ke sana dulu.”
“Aku ikut ya?” Ekana menawarkan diri. Anggih mengangguk.

Ekana agak cemas setelah mendapati Anggih kembali dari menemui dokter.
“Aku butuh donor,” bisiknya lirih. Suaranya sedikit gemetar.
“Lalu?”
“Golongan darah ibuku AB. Stok lagi kosong. Punyaku tak cocok.”
“Oh.” Ekana tersenyum riang. “Tak apa.”
“Eh, apa? Tak apa?” Anggih tampak kaget. Ekana mengangguk mengiyakan.
“Kebetulan golongan darahku sama dengan ibumu. Ayo, kita temui petugas.”
Anggih yang masih seperti dalam kondisi dejavumenurut saja saat gadis teman sekelasnya menggamit dan melangkah menuju petugas di IGD.
Tak seberapa lama, Ekana keluar dari ruang tempat pengambilan darah. Ia langsung pamit pulang. Sebelumnya, ia sempat menepuk pundak Anggih yang duduk dengan wajah masih agak pucat dan gemetar. Gadis itu mengerti yang tengah dirasakan lelaki sahabatnya.
“Ibumu akan baik-baik saja. Percayalah dan berdoa.”
Anggih tersenyum dan berterima kasih.
Sepeninggal Ekana, Anggih duduk sendiri di lobi. Ia menatap kosong ke tempat ibunya yang masih tak sadarkan diri.
Tak seberapa lama, Pak Bandi — ayahnya, datang.
“Bagaimana ibumu?”
Anggih tak kuasa menjawab. Ia menunjuk ke suatu sudut. “Di sana,” katanya pendek.
Lelaki paruh baya itu mengangguk. Namun, ia tidak langsung ke tempat istrinya, melainkan pergi ke petugas IGD.
“Yah!” panggil Anggih. Pak Bandi yang tampak serius bicara dengan petugas sedikit terkejut.
“Ini barang-barang ibu.” Anggih mengulurkan sebuah dompet perempuan.
Pak Bandi menerimanya dengan heran.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang dulu. Mau mandi. Nanti ke sini lagi. Ayah mau dibawain apa?”
Pak Bandi mengangguk lega. Ia lalu memesan ini itu untuk dibawa Anggih saat kembali ke
rumah sakit.
Anggih mengangguk. Ia berjalan cepat meninggalkan gedung bergaya mestizo dengan cat putihnya. Kekhawatiran dan ketakutan tergambar jelas di wajahnya.
“Bagaimana dengan donor?” lanjut Pak Bandi pada petugas.
“Syukurlah, kami masih punya stok. Tinggal satu-satunya. Mungkin ini rezeki istri Bapak.”
“Syukurlah.” Wajah Pak Bandi memancarkan kelegaan. Ia tahu, istrinya akan baik-baik saja.

“Eka!” seru Anggih pada gadis manis berpostur mungil yang masih berdiri di halte menanti bus. Seketika, ia menoleh pada arah suara yang tak diyakini dikenalnya. Sebuah sepeda motor merapat padanya. Seketika, Ekana mengenalnya tepat ketika orang itu membuka kaca helm.
“Aku antar,” tawarnya.
“Kamu kok pulang?” tanyanya ragu.
“Ada ayah. Aku disuruh ambil keperluan,” terangnya singkat. Ekanamahfum.
“Tapi, arah rumah kita…” dibayangkannya Anggih terburu, sementara arah rumah mereka
bertolak belakang.
“Tak apa¬† Aku ada keperluan dengan ibumu.”
“Ibuku?” Ekanya mengerutkan kening.
“Sudahlah! Ayo naik,” lanjut Anggih menginstruksi, membuyarkan pikirannya. Dengan masih sedikit kekagetan, buru-buru ia mematuhi Anggih.
“Aku nggaknemani ya? Mau langsung mandi.”
Anggih mengangguk. “Makasih ya.”
“Eh?” Lagi-lagi Ekana heran. Bukankah dirinya yang harusnya berterima kasih? Namun, segera ia mengingat alasanAnggih. Ia tersenyum ringan dan mengangguk kecil.
Kemudian, dengan langkah ragu, lelaki muda ini memasuki ruang praktek Bidan Soraya — ibu Ekana.
Tampak di sana, seorang perempuan masih menulis sesuatu. Sekilas, ia melihat tulisan cakar ayam di buku yang tengah dihadapi perempuan yang wajahnya diwarisi Ekana.
Melihat ada yang masuk dan menyapanya dengan ‘permisi’, perempuan itu mendongak. Ia langsung mengenali sosok Anggih di ambang pintu. Perempuan itu tersenyum dengan mata menghamburkan banyak tanya.
“Silakan,” sapanya ramah. “Nak Anggih mau periksa?” Ke bidan? Perempuan itu hampir-hampir tak percaya.
“Ehm. Bukan, Bu.” Ada keraguan yang ditangkap Bu Soraya dalam suara Anggih. Tapi, itu diabaikannya. “Saya cuma mau tanya sesuatu. Apa ibu ada sedikit waktu?”
Ketika Ekana datang dengan rambut basah, Anggih ternyata sudah pulang.
“Memangnya Anggih mau ngapain?” tanya Ekana pada ibunya.
“Oh, tidak apa-apa. Dia bilang mau tanya-tanya tentang PR Biologi.”
“PR?” tanya Ekana lagi dengan ekspresi keheranan.
Sampai di rumah, Anggih tak langsung mencarikan pesanan ayahnya. Sebaliknya, ia menuju almari berkas. Tak menemukan yang dicari, ia menuju ke kamar orang tuanya. Di sana, ia juga membongkar laci-laci dan almari tempat berkas disimpan. Ternyata, tak ada sesuatu yang menarik baginya.
Merasa lelah, ia menjatuhkan diri ke ranjang di kamar itu. Matanya kosong menyapu langit-langit. Kemudian, ia beralih pada sebuah foto kusam — foto penikahan ayah ibunya dahulu.
“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”
Diabaikannya layar handphone yang berkedip-kedip memanggil. Ayah telah menyuruhnya kembali ke rumah sakit.

“Ayah,” panggil Anggih pelan. Pak Bandi menoleh. Keduanya sedang duduk bersama di lantai ruang rawat inap Bu Kartika, ibu Anggih.
“Apa golongan darahmu?”
Sang Ayah terhenyak. ” A. Kenapa?”
“Ibu AB kan?”
Lelaki paruh baya itu berhenti mengunyah nasi padang yang baru dibeli anaknya. Sekarang, matanya lurus menatap pada Anggih.
“Iya. Terus?”
“Mengapa golongan darahku O?” tanya Anggih serius. Pak Bandi tergelak.
“Apa salahnya? Eyang Marjo juga O. Kamu pasti nuruni si mbah.”
Anggih terdiam sesaat.
“Tapi, …” ia meragu. “orang tua bergolongan darah AB, tak mungkin menurunkan anak dengan golongan darah O.”
‘Uhuk!’
Sebagian nasi yang baru setengah dikunyah Pak Bandi seketika langsung tertelan. Akibatnya, ia tersedak. Anggih tak bereaksi meskipun melihat ayahnya menenggak hampir segelas air putih.
“Kata siapa itu?” Intonasi yang meremehkan, pikir Anggih.
“Dokter!” ia berbohong dengan kemantapan yang membuat mental ayahnya merosot seketika.
Anggih menarik napas panjang namun hati-hati, menahan seluruh goncangan yang mungkin akan diterimanya.
“Tolong, Ayah. Demi apa pun yang tengah Ayah lindungi, tolong jelaskan siapa saya sebenarnya. Rumah siapa yang sering muncul dalam kenangan saya? Dan…” Anggih terdiam beberapa lama. “Siapa petempuanyang sering datang ke kebun Amaryllis?”
Tampak, Pak Bandi telah kehilangan selera makan. Mendadak, terlintas lagi seorang lelaki dua tahun yang digendongya dari sebuah rumah kayu sempit dengan diiringi tangis perpisahan dari seorang perempuan kusam. “Ia mirip! Ia akan baik saja! Istriku akan bertahan!”
Pak Bandi tercenung. Wajahnya berangsur pucat. Tanpa disadarinya, perempuan yang tadinya tertidur, takzim mendengarkan. Perempuan berusia empat puluhan itu menggigil tanpa merasa kedinginan. Mengapa ia sama sekali tidak pernah mengerti? Rumah dalam ingatan kecil Anggih, Eyang Marjo yang tak lagi mengajak buyutnya menginap, perempuan yang sering datang ke rumah untuk menitipkan sesuatu untuk Anggih, gazebo yang bentuk dan tempat yang tak lazim namun terus dirawat di tengah kebun, dan mengapa harus amaryllis—bunga November, bukan buah atau kopi? Seketika, ingatan yang terbenam amnesia parsialnya kembali, bulan November bertahun lalu, ia mengalami kecelakaan. Ia bahkan sempat coma dan patah tulang sampai harus duduk di kursi roda. Waktu itu, ia baru mengambil Anggih pulang dari rumah Eyang Marjo. Apa yang terjadi dengan Anggihnya? Dan, siapa Anggih yang ada di sini? Ya, Tuhan.

Bawang, 14 Desember 2016


Dwi Rahmi Wahyuningsih lahir di Purbalingga, Jawa Tengah. Sekarang ini, ia bekerja sebagai seorang tenaga pengajar di sebuah SMA negeri di kabupaten Batang, Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here