KILUN DAN LISTRIK YANG MENYAMBANGINYA, Cerpen Devi Eka

0
46

*) Devi Eka

Kilun berjalan dengan tubuh gemetar. Tadi dia tanpa sengaja menyentuh kabel listrik yang tidak memakai pengaman. Spontan dia tersetrum. Hampir saja nyawanya melayang begitu saja. Saat dalam ketidakberdayaannya, ia hanya mampu berharap akan ada orang yang berlalu di jalan yang hanya setapak itu.

Ternyata Tuhan mendengar harapannya. Seorang yang tidak begitu dikenalnya, secara kebetulan melintas lalu menolongnya. Belum sempat mengucapkan terima kasih, orang itu keburu pergi entah ke mana. Lenyap di ujung jalan.

Kilun masih berjalan. Tubuhnya gemetar. Tangannya sedikit gosong oleh arus listrik yang disentuhnya. Mukanya pucat. Tanpa gairah. Air liurnya seringkali jatuh tanpa ia sadari. Berulangkali ia mencoba menutup mulutnya yang seumur hidupnya tidak tersentuh oleh sikat gigi. Tapi berulangkali pula, mulut itu terbuka tanpa ia sadari. Dadanya yang kerempeng, basah oleh air liurnya sendiri. Saat tanpa sengaja berpapasan dengan orang, saat itulah hidung orang di samping tertutup rapat. Air liurnya beraroma comberan ditampung di dalam botol aqua bertahun-tahun. Lalu ditumpah di ruang tamu. Baunya akan menyebar ke mana-mana. Kilun tidak tahu, kalau badannya membawa bau tidak sedap bagi orang di sekitarnya. Pikirannya tidak pernah berlabuh pada hal demikian.

Saat ini ia mendayung perahu, bagaimana bisa mengantarnya pada daratan tanpa arus listrik. Yang sebenarnya ia pun tidak tahu di mana sebenarnya tempat itu. Namun ia akan tetap mendayung, sampai ia menjumpai pulau tersebut. Biarlah ia dihantam ombak. Biarlah ikan-ikan besar menghalanginya, itu bukan persoalan. Ia hanya ingin kehidupannya tidak ada listrik sama sekali. Ia trauma. Menyesalkan kalimat larangan ibunya.

Ketika umurnya belasan tahun, ia tidak pernah paham mengapa ibunya yang memang cerewet melarangnya bermain layang-layang di dekat kabel listrik. Saat ditanya sang ibu hanya memberi jawaban tidak pasti. Hanya kalimat larangan yang selalu Kilun dengar tanpa ia tahu alasannya.

Bukan tidak cemburu ketika Kilun melihat teman-temannya memakai baju seragam sekolah. Seragam mereka begitu indah, sehingga membuat orang yang melihatnya, akan merasa ada kepuasaan tersendiri. Tapi bagi Kilun, itu adalah penghinaan terbesar baginya. Jangankan memakai baju seragam sekolah, menyentuhnya pun ia belum pernah sama sekali. Ia tidak tahu bagaimana rasanya memakai seragam. Bukan tidak pernah ia mencoba beratanya pada ibunya, tapi jawaban ibunya selalu tidak pasti. Ada saja alasan yang tidak masuk akal, dikeluarkan pada Kilun yang lugu.

Sejak itu, ia tidak pernah bertanya lagi pada ibunya. Ia hanya mendengarkan dan menurut dengan yang diperintah ibunya. Meski ia sendiri tidak tahu sebab akibat yang diperbuatnya. Terlalu lugu atau terlalu bodoh si Kilun, sehingga ia mau saja dikerjai teman-temanya menyentuh kabel listrik tanpa pengaman. Pasti jika ibunya sampai tahu, ia pasti akan dimarahi. Begitulah kalau tidak menurut pada petuah orang tua, kualat jadinya.

Di tengah kebodohan Kilun, ada saja orang yang mau membodohinya. Tidak tanggung lagi, sampai berakibat fatal, membuat tubuh Kilun hampir dijemput maut. Lalu orang-orang itu dengan seenaknya lari, tanpa sedikit pun merasa bersalah. Bagaimana mungkin ada manusia setega mereka. Membiarkan Kilun yang bodoh tersetrum begitu saja. Sekarang lihatlah bagaimana Kilun berjalan, ia seumpama anak ayam ditinggal induknya. Di otaknya, hanya ada ketakutan yang menderanya. Ia takut melihat lampu listrik yang kebetulan menyala. Ia akan mengambil batu, lalu melempari setiap lampu yang sedang menyala. Entah itu di tiang-tiang mau pun di rumah-rumah. Kilun dikejar orang-orang. Mereka marah karena Kilun seenaknya melempar lampu listrik di teras mereka. Kilun dipukul. Air liurnya mengalir. Menetes deras. Lalu tersentuh oleh para pemukul itu. Aromanya melekat, sukar dihapus. Orang-orang itu kemudian pergi, membiarkan Kilun lesu tanpa daya. Tidak sedikit pun yang iba melihat Kilun terluka. Malah kebencian yang terus bersemai.

Kilun yang bodoh terluka. Badannya memar. Peluhnya membadai pada tulang-tulang rusuknya. Sehingga angin segar tak mampu menjadi sekedar pendingin hawa panas yang terus mendera kesakitan yang ia rasakan. Tubuh rontangnya basah kuyup. Kurang jelas, antara perpaduan peluh atau malah air liurnya menjadi badai kedua. Yang tak mampu membawa perahunya mencari pulau tanpa arus listrik. Pulau yang nantinya bisa melihat dengan indah lekuk bulan purnama. Menikmati bintang jatuh. Bercengkerama dengan cahaya-cahaya alam. Yang sedikit pun tidak memberikan kerugian bagi yang menikmatinya. Namun di manakah pulau itu? Sekali lagi pertanyaan itu menjadi hantu di otak Kilun.

Sementara itu, di kampung orang-orang ramai membicarakannya. Ia menjadi bintang lidah kampung. Dari anak-anak, remaja, sampai ke yang tua sekalipun, mereka ramai membicarakan Kilun. Mereka menganggap Kilun sudah benar-benar gila. Yang jika dibiarkan akan mengganggu ketenangan warga kampung. Kilun harus dilenyapkan, itu artinya ia harus dibunuh. Bukan hanya itu, Kilun sekarang mempunyai virus ampuh. Yang tidak ada obatnya. Air liurnya mengeluarkan aroma tidak sedap. Sangat busuk. Diskusi itu tidak menemui ujung penyelesaian. Dari anak kecil, remaja, ibu rumah tangga, kepala rumah tangga, bapak RT, sampai kepala desa pun ikut nimbrung bersama masyarakat desanya.

“Kalau menurut saya, lebih baik Kilun kita pancing. Ia orangnya bodoh tidak tahu apa-apa,” perwakilan dari anak kecil mengeluarkan suara pertama.
“Tapi bagaimana?” kilah yang lain.
“Gampang. Kita bawa dia ke dekat listrik, lalu kita setrum dia.”
“Saya tidak setuju,” celah seorang ibu rumah tangga yang juga turut andil dalam musyawarah tersebut.
“Aku juga,” sambung yang lain dari pihak kepala rumah tangga.
“Terus bagaimana?”
“Saya punya usul,” kata kepala rumah tangga.
“Apa?”
“Kita bunuh dia ramai-ramai. Lalu tubuhnya kita buang ke sungai. Dengan begitu tidak ada pihak lain yang mengetahui jasadnya. Meski ada yang tahu, namun mereka tidak akan tahu siapa pelakunya.”
“Ide yang cemerlang,” sambung Pak RT.
“Tapi saya tidak setuju, itu cara tidak manusiawi. Seharusnya kita paham betul bagaimana menghukum orang bodoh seperti Kilun.”
“Iya betul,” sambut yang lain serempak.
“Terus bagaimana?”
“Saya punya usul,” kata Pak RT.
“Apa?”
“Kita tidak membunuhnya. Kita tidak perlu mengotori tangan kita dengan darah Kilun. Cukup kita menyuruh orang untuk menghabisi nyawanya. Dengan begitu, selain kita semua tetap bersih, kita juga tidak perlu capai-capai mengeluarkan keringat.”
“Menyuruh orang lain, berarti kita harus mengeluarkan dana. Kira-kira siapa di sini yang bersedia menjadi donatur?”

Tidak ada yang menjawab. Semua peserta musyawarah maupun penonton, semuanya diam.
“Saya tidak setuju dengan usulan dari Bapak RT. Kalau kita mampu melaksanakan tugas itu dengan tangan kita sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain? Lagipula, itu masih membutuhkan biaya. Sementara dari kita tidak ada yang mau menjadi donatur,” kembali ibu rumah tangga mengeluarkan argumen ketidaksetujuannya dengan pendapat yang ketiga.

“Ya, kami juga tidak setuju kalau harus mengeluarkan uang,” jawab penonton serempak.
“Terus bagaimana?” keluh Pak RT. Yang sedari tadi belum menghasilkan kemufakatan bersama.
“Bagaimana dengan Bapak Kepala Desa. Barangkali dia mempunyai ide jernih, yang bisa disepakati bersama.”
“Begini saja. Jika semua rencana sejak tadi tidak ada persetujuan serempak, saya hanya mempunya satu usulan, yaitu tabrak lari. Dengan begitu, tidak akan ada orang yang tahu siapa dan kapan ia ditabrak. Bagaimana?” usul Pak Kades dengan wajah tersenyum. Sepertinya ia yakin kalau idenya akan diterima begitu saja oleh semua anggota musyawarah.

“Sebenarnya bagaimanapun caranya, itu tidak terlalu penting. Seharusnya yang perlu kita bahas sekarang adalah kapan hari H tersebut. Karena saya pribadi masih sanggup meski dengan tangan kosong untuk membunuh Kilun tanpa ongkos, tanpa menabraknya. Yang saya perlukan sekarang adalah kapan hari H tersebut.”

Segenap hadirin sejenak manggut-manggut mendengar penuturan orang di depan mereka. Namun selang beberap menit, terdengar celetuk dari ibu rumah tangga. “Kenapa harus sendiri. Kita di sini banyak. Kita juga ingin menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri. Biar semua pihak merasa terpuaskan.”

“Iya betul.” Kembali keputusan ibu rumah tangga itu mendominasi suara pada musyawarah tersebut.

Karena anggota musyawarah tidak juga menemukan kemufakatan bersama, maka orang-orang mulai merasakan dongkol. Mereka menuduh ibu rumah tangga sebagai provokator massa tidak adanya kesepakatan bersama. Karena setiap ada usulan pasti dia yang selalu menyangkal. Ramai-ramai anggota musyawarah menunjuknya mengusulkan argumennya.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Tidak ada suara. Semua orang menunggu suara dari ibu rumah tangga. Saat suasana sedang sepi, ibu rumah tangga menarik nafas dalam-dalam. Ia seperti menangkap reaksi massa yang akan diterimanya saat setelah ia memberikan argumen.

“Begini, kita sebenarnya tidak perlu membunuhnya, tidak perlu menyakitinya, atau apa saja yang bisa membuatnya kehilangan nyawa. Hal terpenting yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana menyikapi hal seperti ini dengan positif. Membunuh orang bodoh, apa untungnya bagi kita? Tidak ada yang untung, dan tidak ada yang rugi.”

“Kenapa bisa begitu?” Ia dihujani ribuan pertanyaan.
“Tidak perlu banyak bertanya. Kita ini manusia yang berakal. Tidak seharusnya kita berbuat seperti itu.” Suasana lengang kembali menyapa. Belum ada yang memberi komentar.
“Tapi kami ingin membunuhnya. Ia sumber penyakit. Ia membawa virus. Yang harus dihentikan. Kalau tidak kita akan terkena tular oleh virusnya. Kalau kamu memang tidak terima dengan rencana kami, sebutkan alasan yang paling kuat.”

“Dia anakku.” Secepat kilat orang-orang itu membawa ibu Kilun keluar ruang musyawarah. Di sana ia ditelanjangi. Kemudian diikat. Lalu dilempar batu ramai-ramai. Tak lama setelah itu, ajal menjemputnya. Musyawarah telah memutuskan bahwa malam nanti akan dilaksanakan pembunuhan terhadap Kilun. Sumber penyakit, pembawa virus.

Kabar rupanya tidak sekejam nasib ibunya. Angin lebih memberinya iba, daripada ketidakadilannya. Dalam rentang waktu yang tidak lama, ia sudah mendengar kabar tentang nasib ibunya. Kabar yang menurut sama sekali tidak bisa diterima begitu saja. Sebab takdir bukanlah manusia yang menjalankan, Tuhan-lah yang menentukannya. Tapi mereka, dengan seenaknya melawan takdir Tuhan. Bahkan seolah mereka mampu menyamai kekuasaan-Nya.

Kilun yang malang, malam ini nyawanya terancam. Penduduk sudah ramai berkumpul di depan rumah Bapak Kades. Mereka membawa senjata tajam. Celurit, pedang, parang, cangkul, macam-macam besi mereka bawa asal bisa melukai tubuh Kilun.

Bapak Kades menjadi motivator paling semangat malam itu. Begitu ia berkata, “Kilun harus mati!”
Serentak penduduknya menyahut, “Harus!”
Begitulah yang terjadi di kampung Kilun. Belum usai perkumpulan tersebut, listrik penerang di ruang tamu Pak Kades mati mendadak, lalu menjalar ke semua ruangan rumahnya. Belum hilang kekagetan warga, tiba-tiba seluruh listrik kampung mati. Tidak ada satu pun rumah yang hidup lampunya. Warga mulai bertanya-tanya. Jangan-jangan Kilun bertingkah lagi.

Sementara di tempat lain, Kilun terbaring kaku. Tubuhnya kehabisan tenaga. Ia habis memanjat kabel listrik. Lalu kembali tubuh krempengnya harus kesetrum tegangan tinggi arus listrik. Ajal telah menjemputnya.[]


Devi Eka. Penikmat senja dan pecinta kucing. Karyaku yang sudah terbit berupa novel adalah: The Love is (not) Blue (DIVA Press, 2013); Morning, Gloria (de Teens, 2014); dan Aku Menunggumu (de Teens, 2015). Serta beberapa antologi: Gadis 360 Hari yang Lalu, Don Juan Katrok, Distalovers, Unforgettable Stories, Kado untuk Kamu yang Tak Terlupakan, dan Mimpi Merah Hari Ke-40.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here