Perempuan Berpenis, Sebuah Monolog

0
193
http://www.qureta.com/

*) Rebecca

Sejak kukatakan tak ada yang bisa memisahkan aku pada boneka, mereka tak lagi menatapku dengan cara yang sama.

Bisik-bisik busuk tercium jelas, padahal umurku saja belum sampai berbelas-belas.
“’Lanang kan ndak main boneka. Malu sama burungmu. Lanang macam apa? Lancang! Lanang macam apa?”

Aku, Lanang, yang memendam cinta pada guru olahraga, ketika yang lain berbangga-bangga pada mimpi memerawani perempuan. Aku, Lanang yang setiap pagi menanti guru olahragaku berlari mengelilingi tanah lapang. Mataku menelanjangi tubuhnya inci demi inci. Ototnya yang pejal. Bulir peluhnya mengkilat. Saat ia berlari ke tepi, dekat sekali denganku, kudengar napasnya memburu. Kaosnya yang basah mencetak sepetak dada yang bidang. Dada yang naik turun mengatur napas. Wajahnya memerah.

Ah. Bulu kudukku mekar. Sejak saat itu, bayangan guruku tak bisa lepas. Guru olahragaku masih terus berlari di dalam mimpi-mimpiku. Aku tak tahu apakah kalian pernah merasakannya, rasa geli di bawah perut. Berputar-putar. Menggelitik. Mempercepat debar jantung. Memperlebar senyum di wajah. Kalian tahu kan rasa itu? Sange, kalau kata teman-teman lelaki sebayaku.

Jelas penyebab mereka sange adalah tubuh perempuan. Sementara aku? Inilah. Rahasia ini tak bisa kuceritakan pada siapapun. Kututup pintu rapat-rapat, kusembunyikan kuncinya. Bahkan diam-diam aku berharap, aku lupa bahwa aku punya rahasia.

Memang… yang mengerikan dari sebuah rasa adalah ketika kau tak bisa mencurahkannya pada sesiapa. Hidupku diselimuti takut dan kalut. Pada dunia, aku berpura-pura. Pada dunia, aku bersandiwara. Jelas, aku tidak gila dan aku tidak sakit. Yang gila dan sakit adalah dunia. Aku hanya berbeda, dan berbeda bagi keluargaku berarti aib.

Ketika umurku menginjak tujuh belas, baru kusadar, kalau aku tak sendiri. Seorang lelaki jatuh hati padaku. Ya, jatuh cinta. Padaku. Ketika orang menyingkir bagai melihat penyakit, laki-laki ini… justru menaruh hatinya padaku.

Dunia baru saja mulai terang, ketika kucium gelagat anyir dari mulutnya. Sayang, cinta apa adanya itu tak ada, katanya. Menurutnya, aku harus lebih terlihat jantan. Jangan seperti perempuan! Katanya. Oh. Kenapa? Aku bukan hanya seperti perempuan, Sayang… Aku memang perempuan. Penis dan jakun tak menjadikan seorang manusia harus jadi lelaki, kan? Itu hanya kelamin, sayang. Perasaanku adalah perasaan perempuan. Dan hanya rasa yang membuat manusia tahu apa jati dirinya.

Aku tak ingin lagi bersandiwara. Aku tak ingin lagi berpura-pura. Dunia ini harus tahu bahwa aku ada. Aku perempuan. Perempuan tak bervagina. Aku perempuan. Perempuan berpenis. Aku perempuan.[]


Rebecca, aktivis, pegiat seni, menetap di Jakarta

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY