PUSARA PASIR, Cerpen Sandza

0
97

*) Sandza

Kampungku dipenuhi tangan-tangan rajin. Begitu aku menyebutnya untuk menghaluskan istilah tangan-tangan usil. Tak ada warga yang berani menyimpan barang-barang di pekarangan rumah. Bahkan, hanya untuk sekedar sandal jepit saja mereka menyimpannya di dapur sehabis menggunakannya –semisal pergi ke warung. Tidak menyimpannya di teras rumah, walaupun hari masih terang benderang.

Ada satu hal lucu di kampungku ini: tak ada satu pun rumah yang memiliki jemuran di pekarangan rumah. Mereka membentangkan tali yang membelah ruangan-ruangan rumah –biasanya di dapur. Ventilasi dibuat sangat lebar agar cahaya bisa leluasa masuk dan jemuran lekas kering.

Salat berjamaah di masjid pun menjadi pemandangan yang lucu bagiku. Mereka semua memakai sandal jepit putus yang sudah dipaku atau disambung rapia. Atau, jika sandal jepit tersebut masih kelihatan bagus, mereka memakainya sisirangan1) –pasti ditukar dulu dengan orang rumah. Bahkan, tak sedikit dari mereka pergi ke masjid dalam keadaan nyeker 2), dan membersihkan kaki mereka di tempat wudu masjid.

Ah, separah inikah tingkat ketidakpercayaan mereka kepada orang sekitar?

***
Hingga suatu hari, terjadi kegemparan di kampungku. Kala itu, pagi masih berembun. Mentari belum menampakkan senyum sumringahnya. Ceu Icih yang setiap sehabis subuh pergi ke pasar, membuat kegaduhan. Ia berteriak-teriak kencang memanggil nama-nama orang terdekatnya, suami dan anak-anaknya. Tak hanya keluarganya saja yang menghampiri Ceu Icih, tapi hampir semua warga, termasuk aku. Ceu Icih menemukan dua gundukan pasir. Itulah yang menjadi sabab-musabab kegaduhan yang melanda kampungku hari itu.

Bukan gundukan pasir biasa ternyata. Mirip pusara. Ada batu penanda semacam nisan sebesar tiga kepalan tangan di tiap ujung gundukan. Anehnya, jarak antara satu batu dengan batu lainnya hanya sekitar lima jengkal.

“Kuburan siapa ini?” Mang Kusman yang berdiri paling dekat dengan gundukan pasir melempar tanya sambil matannya mengitari wajah setiap warga.
“Siapa? Mang Kusman yakin ini kuburan orang?” Mang Dadan yang ragu terhadap isi gundukan pasir tersebut menimpali.
“Jadi, menurut Mang Dadan ini kuburan apa?”
“Ya… paling kucing mati habis ketabrak,” Mang Dadan menjawab enteng.
“Kucing yang mana? Setahu saya di sini hanya ada tiga ekor kucing kampung yang berkeliaran,” Mang Kusman menunjuk tiga ekor kucing kampung yang sedang duduk malas di teras pos ronda sambil mengibaskan ekornya.
“Jangan-jangan, ini kuburan ayam kepunyaan kita,” raut wajah Mang Dadan panik. Ia gegas berlari menuju rumahnya.

Warga lain yang juga memelihara ayam tak kalah paniknya. Mereka pun mengayunkan kakinya, memeriksa kandang ayam mereka apa masih ada penghuninya atau tidak.

Di kampungku, memelihara ayam dijadikan sebagai kegiatan menyambung hidup. Bukan, bukan beternak. Hanya iseng saja jika suatu hari kepepet tak mampu membeli teman makan, ayam-ayam tersebut menjadi korban sembelih atau sekedar diambil telurnya sebelum masa dierami oleh sang induk. Dan, ini juga masuk perihal yang lucu di mataku; kandang-kandang ayam milik mereka digembok, bahkan ada yang sampai dipasang kawat-kawat yang telah disambung aliran listrik. Tangan-tangan rajin itu benar-benar sudah menjelma menjadi hantu paling menyeramkan, mengalahkan mitos Kelong Wewe penghuni pohon beringin yang berdiri kokoh di tengah ladang Bapak.

Tapi, tak bisa kupungkiri, memang begitu adanya. Entah semenjak kapan semua ini berlangsung. Mungkin sebelum aku lahir. Yang kuingat, ketika aku masih usia SD, ketakutan warga terhadap tangan-tangan rajin sudah terjadi. Padahal, kata Ibu, dulu kampung ini aman dan tentram. Ternak-ternak dibiarkan berkeliaran di pekarangan rumah tetangga pun masih utuh hingga petang dan pulang kandang. Warga khusyuk menjalankan ibadah di masjid walau sandal yang dikenakan pergi ke masjid baru dibeli kemarin di toko.

Ah –masih kata Ibu, semua kedamaian itu sudah ditelan waktu dan hanya akan menjadi sejarah. Jangankan ayam-ayam yang dibiarkan berkeliaran di pekarangan, ayam yang tak dikeluarkan dari kandang pun digondol maling. Begitulah Ibu menyebut tangan-tangan rajin dan usil itu dengan kata maling.

Warga kembali mengerumuni pusara pasir setelah bernapas lega yang menandakan ayam-ayam milik mereka masih menempati kandangnya.

“Jadi, ini kuburan siapa?” Mang Kusman kembali melempar tanya.
“Kuburan apa, mungkin,” Mang Dadan meluruskan pertanyaan Mang Kusman.

***
Esok harinya, kehebohan terjadi lebih riuh. Lagi-lagi setelah Ceu Icih berteriak memanggil orang-orang terdekatnya. Dalam sejekap, warga kembali berkerumun. Mereka masih penasaran dengan perkembangan pusara pasir tersebut. Benar saja, ada perkembangan baru yang ditemukan Ceu Icih. Gundukan pasir itu kini ada penyekat berupa sebilah kayu yang benar-benar sudah membentuk pusara.

“Sepertinya benar apa yang dikatakan Mang Kusman kemarin kalau ini kuburan siapa bukan kuburan apa,” Mang Dadan melirik Mang Kusman. Ia sepertinya berusaha keras memecahkan teka-teki pusara pasir itu, terlihat dari keningnya yang berkerut.

Mang Kusman yang dilirik Mang Dadan tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum jumawa.
“Tapi siapa yang dikubur di sini?” Mang Dadan kembali bertanya dengan nada putus asa karena kepalanya sudah tumpul untuk mengungkap misteri gundukan pasir itu.
“Yang pasti ini kuburan bayi,” Ceu Ani, yang dikenal sebagai biang gosip di kampungku, berkata lantang mendekati pusara pasir.
“Bayi yang dikubur di sini pasti bayi kembar,” Ceu Titin, rekan duet Ceu Ani, menimpali sambil tangannya menunjuk ke arah kedua gundukan pasir tersebut.
“Untuk menguak misteri kuburan ini, gampang saja. Pasti bayi yang dikubur di sini berasal dari keluarga yang memiliki garis keturunan kembar. Dan satu-satunya keluarga yang memiliki keturunan kembar di kampung kita adalah…,” mata Ceu Ani membelah kerumunan. Memandang lurus ke depan, ke rumah gedong di ujung jalan kampung dekat mulut jalan raya.

Bu Santi. Aku hanya tahu nama salah satu penghuni rumah itu. Kata Bapak, rumah yang berdiri tiga tahun silam itu dihuni lima orang; Bu Santi, suaminya dan ketiga anaknya. Anak pertama dan kedua kembar. Keduanya tak pernah terlihat karena memang sedang kuliah di kota besar. Suaminya Bu Santi pun jarang terlihat karena selalu berangkat subuh dan pulang selepas isya untuk bekerja. Hanya Bu Santi yang kerap kulihat melewati rumahku untuk belanja ke warung Ceu Isah.

“Apa Bu Santi hamil lagi terus keguguran karena rahimnya tak kuat lagi mengandung? Usianya kan sudah mau kepala lima.”
“Atau jangan-jangan ini anaknya si Tina atau si Tini yang menjadi korban pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang?”

Suasana semakin riuh tak terkendali. Ceu Ani dan Ceu Titin menjadi kompor agar warga masuk kedalam gosip yang disebarnya ini. Ini santapan lezat mereka dan aku benar-benar merasa panas dan tak betah kalau sudah menyangkut urusan fitnah.

“Kalau ini kuburan anak haram, tak mungkin orang tersebut sebodoh ini menguburnya di tengah kampung seperti ini. Kalau ngomong tuh pake ini,” kutunjuk kepalaku sendiri. Berbicara lantang kepada orang-orang yang terkena hasut, terutama kepada Ceu Ani dan Ceu Titin.

Kutarik tangan Bapak untuk segera meninggalkan kerumunan dan lekas ke ladang sebelum sinar mentari semakin menyengat.

***
Ubun-ubunku serasa terbakar. Kemarau tahun ini terasa panjang. Aku dan Bapak terbiasa pulang dari ladang lepas zuhur. Begitu terkejutnya aku ketika pulang dari ladang mendapati warga masih mengerumuni gundukan pasir.

“Rumah Bu Santi kosong, benar dugaan saya tadi. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan salah satu anak kembarnya sehingga mereka pergi ke kota. Mungkin si Tini atau si Tina sedang mendapat perawatan medis setelah menggugurkan kandungan secara paksa,” mulut Ceu Ani masih berapi-api.

“Sudah… Sudah… daripada ribut, mending gundukan pasir ini kita bongkar saja,” kucoba melerai perdebatan.
“Eh, jangan! Nanti kita semua kebawa sial,” Ceu Titin mencegahku.
“Sial apa? Ini sudah 2015, bukan lagi jaman pra-sejarah, dimana mitos berkuasa,” aku mencoba mencekoki pikiran mereka dengan logika.

Di tengah-tengah perdebatan yang semakin membara, sekonyong-konyong muncul Kang Kardun membawa sekop dan dua buah karung. Dibuangnya empat batu sebesar tiga kepalan tangan dan sekatan kayu di gundukan pasir itu ke bantaran kali. Digeruknya gundukan pasir itu ke dalam karung.

“Jadi, pasir-pasir ini milik kamu, Kang?” Mang Kusman tercenung.
“Ya, ini pasir milikku buat bahan bikin kamar mandi yang baru setengah jadi,” Kang Kardun menjawab enteng.

Seluruh warga beradu tatap dengan orang-orang yang di sampingnya. Mang Kusman, Mang Dadan, Ceu Ani, dan Ceu Titin sama-sama mengepalkan tangan, menahan kesal. Mereka seperti tak rela telah dipermainkan Kang Kardun hingga mereka dibuat beradu silat lidah guna menguak misteri gundukan pasir tersebut.

“Jang, bantu Akang bawa karung yang satu lagi,” Kang Kardun menepuk bahuku.
“Siap, Kang!”
Kugelengkan kepala dan menyimpulkan senyum. Ini benar-benar lucu. Tapi, aku acungkan jempol untuk ide gila Kang Kardun menyelamatkan pasir miliknya dari tangan-tangan usil.

Garut, Mei 2015

Keterangan:
1) Sisirangan = memakai sandal/sepatu antara yang kanan dan kiri berbeda (Sunda)
2) Nyeker = tanpa alas kaki


Sandza, berprofesi keseharian sebagai pengajar Aritmatika kelahiran Garut 29 Mei. Cerpen-cerpenya pernah dimuat di koran Pikiran Rakyat, Inilah Koran, Radar Surabaya, Merapi, Minggu Pagi, Solo Pos, Riau Pos, Metro Riau, Tribun Jabar dan Republika. Pernah juga beberapa kali memenangi lomba menulis puisi dan cerpen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here