DUKAKU ABADI, UNTUK PERANG TANDING DI ADONARA DAN DUKA YANG LAHIR DARINYA, Puisi-Puisi Jann Reef

0
130

*) Jann Reef

PEREMPUANKU

I
Untuk kehidupan ini, hal tersulit adalah melupakanmu
walau kita tak lagi sejalan
walau harapan tak seperti mimpi malamku
engkau pertama yang menyapa dengan senyum seindah rembulan
menyimpan cahaya dalam kalbuku
tak pernah redup
sampai kapan pun.

II
Malam, mimpiku ke langit
pada bintang yang bersinar terang
pagi, lamunku ke taman
pada bunga yang bermekar indah
engkau bagiku
bukanlah kata-kata yang terucap
tetapi jiwa yang berkelana
menemuimu
ketika malam bersinar seperti bintang
menjumpaimu
ketika pagi mekar seperti bunga
untukmu
kagumku tak pernah habis.

III
Malamku adalah kepenatan yang panjang
setiap saat membukakan pintu mimpi
yang engkau ketuk berulang-ulang
hanya sekejab lalu pergi,
namun datang kembali
saat aku hendak menutup mata
begitu terus
tak ada yang istimewa untuk dikenang
selain perjumpaan semu yang melelahkan.

Februari, 2015

DUKAKU ABADI
(untuk perang tanding di Adonara dan duka yang lahir darinya)

Senja telah tiba
keheningan belum beranjak pergi
rasa gelisah mesih melekat
aku larut di dalamnya
menantimu pulang
entah membawah luka
atau mungkin terlelap kaku.

Dalam remang mataku memandang
anak-anak lari menyongsong ayah mereka
para istri bergegas menyambut suami mereka.
aku dan putra semata wayangku ikut,
berlari di antara kerumunan yang melepas resah.
kami berhenti.
tak ada lagi orang.
hanya gelap dan cemas semakin tak karuan.
“Di mana ama?”
Berkali-kali anakku bertanya.
Aku hanya diam.

Dari balik gelap
Beberapa lelaki membopong tubuh kaku,
Menatapku dengan mata berkaca
Dan membaringkan tubuh itu di hadapanku.
Seketika gelisahku meledak.
Aku dan putraku roboh
Bersama ratap yang menembus langit malam.
Hatiku teriris.
Sakit melebihi luka yang melekat pada tubuh kaku di hadapanku.

Lihatlah!
Anak-anak manja dalam pelukan ayah mereka.
Para istri bahagia dalam dekapan suami mereka.
Sementara aku dan putraku menangis,
Meratap,
Memeluk  pada tubuh kaku,
Berkeluh tanpa didengar
Sampai suaraku hilang,
Larut dalam sisa-sisa darah.

Entah…
Sebesar apa salahmu
Hingga Lewo Tanah tak melindungimu
Seberat apa dosamu
Sampai Rera Wulan tak menyertaimu

Engkau ku ikhlaskan pergi sebagai laskar
Berjuang untuk kebenaran,
Untuk  Lewo Tanah.
Namun menerimamu kembali tanpa jiwa
Adalah duka yang tak akan terobati
Luka yang tak akan hilang sepanjang waktuku.

Juni 2015

Glasorium :
Ama : ayah atau orang laki-laki
Lewo Tanah : kampung halaman
Rera Wulan : sebutan untuk Tuhan

UNTUKMU

Bersama musim yang berajak pergi
Lekas lepas sesak di dada
Pada angin yang berhembus tenang
Berpulang kisa yang kukenang

Bersama malam yang selalu hening
Titik embun membasuh jiwa
Pada pagi yang akan datang
Tak ada lagi rindu menghuni hati

Untukmu
Seribu harapan kuukir
Menggenggam tanganmu
Masih kutanya kapan

Untukmu
Sampai di sini
Harapanku kulepas
Tak ada lagi mimpi untukmu

Maret 2016


Jann Reef, Asal  Adonara, mahasiswi pada STIE YPUP Makassar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here