MENGABADIKAN CINTA HINGGA KE SURGA, Resensi Atas “Sehidup Sesurga” Karya Fahd Pahdepie

0
142

*) Siti Salamah

Telah banyak kita temui buku-buku tentang pernikahan. Namun, sangat sedikit yang berisi pengalaman-pengalaman atau cerita-cerita yang lazim di keseharian. Kebanyakan berisi nasihat atau pelajaran yang ‘berat’. Berawal dari situ muncullah ide Fahd untuk menulis buku tentang pernikahan yang berisi cerita-cerita sederhana, semacam ‘lubang kunci’ untuk mengintip kehidupan setelah pernikahan. Terbitlah buku Rumah Tangga (Panda Media, 2015) yang menuai sukses luar biasa. Ia mengalami 10 kali cetak ulang selama 6 bulan dan diskusi-diskusinya selalu dibanjiri banyak orang.

Sehidup Sesurga bisa dikatakan sebagai buku Rumah Tangga 2. “Semacam sebuah rekonstruksi makna dari frasa umum ‘sehidup semati’. Jika cinta kita kepada pasangan hidup harus berakhir saat kematian, betapa pendek usia cinta kita. Cinta itu seharusnya terus hidup dan membersamai sepasang pencintanya menuju surga.” Demikian tutur penulisnya dalam kata pengantar.

Surga hendaknya menjadi muara akhir bagi sepasang suami-istri yang menikah, menggenapkan separuh agamanya. Memang tidak pernah mudah menuju ke sana. Menikah ibarat pelayaran panjang yang dinahkodai suami dan istri serta anak-anak sebagai penumpangnya. Untuk menuju pulau impian, dibutuhkan nahkoda yang tangguh dan istri yang sewaktu-waktu siap jika harus mengganti memegang kemudi.

“Taruh hatimu di puncak gunung!”
“Hati yang tersimpan di puncak gunung tak akan merasa lelah, karena yang lelah adalah tubuh yang mendaki. Hati yang tersimpan di puncak gunung tak akan terbakar, karena yang terbakar adalah hutan-hutan yang kita jelajahi selama memperjuangkan mimpi.” (halaman 14 – 15).

Banyak orang menunda menikah karena alasan belum mapan. Buku ini sebaliknya, menyeru kepada kita: Menikahlah sebelum mapan! Dengan pemahaman baru ‘menikah sebelum mapan’ seseorang akan menghadapi pasangannya dengan penuh penghargaan. (halaman 18)

‘Mapan’ bagi kebanyakan orang berarti memiliki penghasilan dengan nominal tertentu, memiliki rumah, dan memiliki-memiliki lainnya yang bersifat materi. Dalam buku ini dijelaskan definisi ‘mapan’ yang lebih penting sebagai bekal menikah, yakni kesanggupan individu untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya.

Yang dibutuhkan dalam pernikahan bukanlah semata-mata harta yang berlimpah, tetapi rasa tanggung jawab yang cukup. Karena pada hakikatnya manusia tidak pernah mapan, selalu membutuhkan bantuan orang lain. Maka benarlah firman Allah dalam Al-Quran. Istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian baginya, [QS. Al-Baqarah 187]. Suami adalah individu yang belum mapan tanpa istrinya, dan istri adalah pribadi yang belum sempurna tanpa suaminya. (halaman 20)

publication11Sehidup Sesurga mengajak kita melihat kehidupan rumah tangga dengan sudut pandang yang berbeda. Cerita-cerita tentang keseharian rumah tangga Fahd dan Rizqa, istrinya, sebenarnya sederhana. Tidak melulu tentang impian besar yang menjadi cita-cita bersama suami-istri. Karena seringkali kita justru luput memaknai peristiwa kecil dalam keseharian karena menganggapnya sebagai peristiwa remeh-temeh yang tak berarti apa-apa. Namun, cerita yang disajikan bukan cerita biasa melainkan cerita yang sarat makna. Menggugah rasa haru, kepedulian, empati, dan menghargai pasangan.

Mengucapkan terima kasih, mendahului meminta maaf meskipun kesalahan ada pada pasangan, menyediakan waktu untuk ngobrol, bermain dengan anak merupakan contoh peristiwa kecil yang tak bisa dianggap kecil. Bahkan kita tetap harus mengucapkan terima kasih kepada pasangan dan anak yang membuat rumah menjadi berantakan.

“Barangkali rumah yang berantakan harus kita lihat sebagai semacam pemberitahuan bahwa kita masih bersama istri dan anak-anak. Rumah yang berantakan adalah bukti kehadiran mereka…” (halaman 84)

Sayangnya, ada beberapa kesalahan ketik dalam buku setebal 210 halaman ini. Pada halaman 150 terdapat pengulangan paragraf. Paragraf keempat merupakan pengulangan dari paragraf ketiga. Nasihat Seorang Suami Kepada Istrinya (halaman 133), ditulis ulang di halaman 205. Sementara halaman 174, ‘bahwa’ diketik ‘bahawa’dan di halaman 189, ‘kekesalan, diketik ‘kekesalah’.

Terlepas dari kekurangannya, buku ini penting dibaca bagi Anda, yang belum maupun sudah menikah, yang mendambakan cinta sehidup sesurga.


unnamedSiti Salamah. Penulis cerpen dan resensi yang tinggal di Karanganyar ini sehari-harinya bekerja sebagai guru di SD Al Islam 3 Gebang, Surakarta. Beberapa karyanya berupa cerpen, resensi, dan artikel telah dimuat di koran lokal cetak (Solopos), dan koran digital (Koran Madura, Koran Jakarta, dan Koran Muria), serta majalah (majalah Orange dan Hadila). Antologinya yang telah terbit yaitu kumpulan cerpen Senandung Rindu yang Karatan (Leutika Prio), kumpulan cerpen remaja Autumn Leaves (Oase Pustaka), dan Kumpulan 111 Surat Istimewa: Kepadamu dengan Sepenuh Hati (Mazaya Publishing). Tergabung dalam FLP Soloraya dan Sekolah Menulis Online Writing Revolution yang didirikan oleh Joni Lis Efendi. Pernah menjadi narasumber dengan tema Kiat Menulis Resensi di radio HIZ Fm. Penulis dapat lebih dikenal di facebook Siti Salamah (Salma Madani)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY