MATI KALAP, Cerpen Kak Ian

0
58

*) Kak Ian

Sore itu warga Kulon Progo digegerkan oleh sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki dewasa. Berusia sekitar 50-an dan ditemukan di bibir pantai. Hingga hal itu membuat orang-orang menjadi penasaran untuk melihatnya. Sampai langsung menyemut seketika.

Penasaran ingin melihat siapakah gerangan mayat yang tewas saat itu?
 “Ini mati kalap! Ndak wajar! Ini ndak wajar. Meninggalnya Pak Taufan ndak wajar,” ceracau Zul ketika melihat kematian sesosok mayat itu.

Ternyata sesosok mayat itu bernama Pak Taufan.
Zul seorang pemuda berusia 25 tahun itu mengirakan kematian Pak Taufan bukan mati biasa. Matinya Pak Taufan, mati kalap.
Zul  sudah menduganya. Kematian Pak Taufan  sama seperti yang sudah-sudah ia lihat sebelumnya.

Mati kalap. Ya, mati karena diminta kaum lelembut atau makhluk halus. Begitu ia meyakini kematian Pak Taufan saat itu.
Sampean ngomong apa. Zul? Kamu kalau bicara yang benar! Jangan asal mengada-ada. Jangan asal bekoar. Apalagi membuat warga di sini ketakutan. Kamu mau menebar berita takhayul, ah! Atau, menakut-nakuti warga di sini,” sambar Kardi  meredam kegaduhan yang ditimbulkan Zul.

Semua pasang mata mengarah pada Kardi. Jika apa yang dikatakan Zul tidaklah benar, menurut Kardi.

Aku saat itu tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menyaksikan saja. Apalagi aku orang baru yang menginjak di kampung ini. Tak elok bila aku ikut ambil suara.

Memang aneh. Begitu yang Zul ketahui ketika melihat dengan kepalanya sendiri di hadapannya. Kematian Pak Taufan yang tenggelam di laut sudah dua hari lamanya itu seperti tidak ada tanda-tanda jika ia tenggelam ditelan ombak saat mencari ikan.

Aku memang melihat kondisi mayat Pak Taufan saat itu. Kulihat dari fisiknya; perutnya kempis, tidak kembung, mukanya tidak membiru, tidak terkoyak sama sekali dan masih utuh. Seperti mati baru saja.

Itu mungkin yang mendasari Zul berkata demikian.
“Kalau kalian ndak mempercayai ucapanku, silakan! Tetapi jika ada korban seperti itu kembali berarti apa yang aku katakan benar,” pungkas Zul berapi-api.

Akhirnya sore itu pun diwarnai kericuhan antara Zul dan Kardi yang ingin membenarkan segala alibi mereka. Mungkin diantara mereka ingin orang-orang mempercayai hanya dari salah satu mereka saja. Entahlah.

Tapi kericuhan dan kegaduhan yang ditimbulkan saat itu, lebih tepatnya saling membenarkan alibi antara Zul dan Kardi pun berakhir. Tidak lama berlangsung. Semua bisa diredam oleh kedatangan pihak berwajib—yang melapor ada mayat di pantai itu.

“Baik, Bapak-bapak dan Ibu-ibu serta saudara sekalian untuk kematian Pak Taufan ni serahkan kepada kami. Pihak berwajib yang akan mengurusi dan mengusut sebab dan akibatnya Pak Taufan  tewas. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dan saudara sekalian untuk sekarang, silakan balik ke rumah masing-masing. Percayakan pada kami!” ucap salah satu lelaki yang berseragam coklat berperawakan tinggi dan tegap memberitahukan para kerumunan saat itu.

Akhirnya para warga yang sejak tadi berkerumun melihat mayat Pak Taufan langsung membubarkan diri. Tanpa membicarakan kembali peristiwa kematiannya. Mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Halnya dengan aku, kembali ke rumahku.

Seminggu sudah, sejak peristiwa kematian Pak Taufan warga Kulonprogo dan yang tinggal di pesisir pantai, mereka dicekam ketakutan. Mereka tidak lagi ada yang bermain di tepi pantai maupun melaut untuk berlayar mencari ikan.

Alih-alih diantara mereka beranggapan akan bernasib sama dengan Pak Taufan. Mati kalap. Padahal Pak Taufan sudah mengikuti arah angin untuk melaut—dan ia adalah seorang nelayan yang sudah lihai dan mahir untuk melaut. Jadi mustahil jika kematian Pak Taufan lagi-lagi kesahalannya sendiri.

Begitulah yang bergumul di kepala mereka masing-masing, bertanya-tanya atas sebab kematian Pak Taufan. Aku pun hanya bisa manaruh iba saja.

Tapi jika mereka tidak melaut darimana anak dan istri mereka bisa makan dan dapur bisa mengepulkan asap? Apalagi sebagian besar pekerjaan warga Kulonprogo dan yang tinggal di pesisir pantai adalah sebagai nelayan.

Lamat-lamat ketakutan itu pun pudar. Aku melihatnya itu. Akhirnya para warga pun mengindahkan ucapan Zul. Apa yang dikatakannya itu hanya isapan jempol belaka. Hanya mencari perhatian saja. Apalagi mereka menganggap Zul, pemuda yang sudah tidak waras sejak kekasihnya meninggalkan dirinya lari dari pelukan lelaki lain. Mereka sudah menganggap saat itu Zul sudah hilang akal. Sudah menjadi wong edan!

Mereka pun seperti biasa melakukan pekerjaannya masing-masing. Ada yang melaut atau menelayan, berkebun dan ada pula yang bertani.
“Tolooooonggggg ada mayat….Tolooooongggg….Di sini ada mayat…!!!”

Saat itu matahari masih belum sepenuhnya menampakkan diri. Masih malu-malu untuk menampakkannya secara utuh.

Pagi yang masih terasa dingin sekali membuat warga Kulonprogo dan warga yang tinggal di sekitar pesisir pantai langsung terbangun mendengar suara orang minta tolong.

Suara itu berasal dari pantai yang tidak jauh dari rumah warga. Mereka pun lari ke asal sumber suara itu. Pun dengan aku.

Dengan tergopoh-gopoh kami pun saling membangunkan satu dengan yang lain untuk melihat dan ingin mengetahui siapa yang meminta tolong itu. Lalu apa yang terjadi.

Singkat kata, dalam waktu tidak lama kami pun sudah berkerumun di tempat dimana ditemukan sesosok mayat. Mereka pertama kali melihat mayat itu tidak tahu. Siapakah sosok mayat yang sudah terbujur kaku, tidak bernyawa itu?

Karena mayat itu tewas dalam keadaan terlungkup. Jadi mereka tidak mengetahui wajah pasti mayat itu.
“Baiklah sekarang karena warga semua sudah kumpul. Saya yang menemukan mayat ini akan membalikkan badannya agar kita ramai-ramai mengetahuinya. Siapa sebenarnya mayat ini,” ucap salah satu warga berprofesi nelayan membuka pembicaraan di tempat itu.

Semua warga saling saling adu pandang. Mungkin mereka berpikiran sama. Agar segera diketahui sosok mayat itu secepatnya. Siapa sebenarnya sosok mayat itu yang ditemukan di pagi yang menggigil itu.

Tibalah tubuh kaku dan tidak bernyawa itu dibalikkan badannya. Saat usai dibalikkan badan mayat itu semua warga terkejut bukan kepala.

Ternyata sosok mayat itu adalah Zul. Seorang pemuda yang selalu mengganggap setiap ada yang tewas di laut adalah mati kalap. Mati karena diminta kaum lelembut atau makhluk halus. Mati karena karena diminta Nyai Ratu Kidul untuk menjadi rakyatnya.

Mereka pun tidak menyangka kalau umur Zul begitu pendek. Begitu cepat. Tewas dalam usia muda.

Aku pun tidak mengira pula. Begitu cepat Zul  tiada.
“Sudah! Sudah! Sekarang kita bawa saja ke rumahnya. Apalagi rumahnya dekat dari sini. Bukan hanya itu agar Ibunya mengetahui kalau anak lanang semata wayangnya sudah menutup mata selamnya,” kembali salah satu warga mengkomandoi dan membuka topik pembicaraan agar mayat Zul segera dibawa pulang ke rumahnya.
“Iya, secepatnya kita bawa! Itu lebih baik!” aku akhirnya angkat bicara.
“Baik, ayo, kita ramai-ramai membawa ke rumahnya…” serempak warga yang saat itu ingin membawa tubuh gempal Zul ke rumahnya.

Ramai-ramai kam pun ikut menggotong mayat Zul untuk dibawa pulang. Anehnya, mereka tidak membicarakan kematian Zul karena kenapa? Mereka tidak memikirkan hal itu lagi. Mereka percaya kalau apa yang dikatakan Zul selama itu—tentang mati kalap hanyalah mitos belaka.

Ya, warga Kulonprogo dan yang tinggal di pesisir pantai itu menganggap mati kalap itu hanyalah mitos. Matinya Zul dan yang lainnya tewas di bibir pantai itu adalah takdir Tuhan yang sudah digariskan bukan karena apa-apa.

Usai itu mereka pun tidak ada lagi yang membicarakan sebab kematian Zul. Apakah Zul tewas karena mati kalap? Mati terbunuh? Atau, memang sudah takdir Tuhan? Entahlah.

Tapi yang pasti saat mayat Zul ditemukan di pagi yang menggigil itu kemudian dibawa pulang. Dan di sana aku tidak melihat Kardi sama sekali. Ia tidak ada di antara kami. Batang hidungnya pun tak tampak sama sekali aku lihat. Atau, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Kardi? Entahlah.

Kenapa aku juga yang dibuat pusing dengan setiap kematian di bibir pantai itu. Bukankah Tuhan sudah menggariskan hidup seseorang di Lauhul Mahfuz

Seperti halnya Zul sudah lebih dulu tutup usia. Kuharap begitu. Soal mati kalap?

Biarlah terbawa debur ombak di laut sana. Dan tidak lagi kembali menebar ketakutan di mana sekarang ini aku berpijak.[]


Kak Ian, bekerja sebagai guru/pengajar Jurnalistik tingkat Sekolah dan penulis Cerita Anak. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta dan penikmat fiksi-fiksi bertemakan mitos dan urban legend. Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional dan online. Serta beberapa kali memenangkan lomba-lomba kepenulisan. Paling benci dengan pem-bully-an dan para pendengki pada kesuksesan orang lain apalagi mematikan orang lain berkarya. Suka diajak sharing kepenulisan dan bisa dilihat karya-karyanya di IG:kak_ian0205. Penulis buku Kumpulan Cerita Anak Berkarakter Belajar Blusukan dan Cerita-cerita Anak Lainnya, penerbit Mazaya Publishing House, Desember tahun 2016 dan Kumpulan Cerita Misteri dan mitos Cerita Kampung Maut dan Cerita-cerita Lainnya, penerbit Hanami, Desember tahun 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here