CERITA MAYA, Cerpen Edyka Balqis

0
81
Sumber: http://static.setipe.com/images/setipedotcom-tanyasetipe-cerita-epik-penemuan-cinta-di-dunia-maya.jpg

*) Edyka Balqis

Namaku Maya. Kau pasti akan kuajak berkenalan nanti. Tapi itu nanti, karena pagi ini aku harus bergegas. Menuju kantor  perusahaan kosmetik yang tergolong besar di kota. Kalau tidak segera pasti akan terkena semprot Supervisor berkulit coklat terang dan berkumis tebal itu. Dia adalah orang kesayangan Bos  yang tak akan segan memecat gadis-gadis.

Dengan bergegas kulangkahkan kaki, berbalut rok pendek selutut dan blazer ungu. Ini seragam resmi dari kantor. Syukurlah wajah bulat, alis tebal dan bibir tipisku cukup menarik. Tugasku memang membuat orang tertarik. Bagaimanapun aku harus mampu membuat orang melirik, takjub. Paling tidak sudi melihat wajahku, yang penuh tersapu make up tebal. Dan untuk selanjutnya menjatuhkan minat pada kosmetik yang ditawarkan.

“Segar sekali pagi ini, Mbak Maya.” Seseorang menyapa. Dan kupastikan kau akan tertarik dengan pria usia tigapuluhan ini. Senyumnya ceria dan memiliki wajah oval menawan. Tatapan matanya selalu teduh dan memiliki kharisma tersendiri.

Aku menarik sedikit bibir merahku membentuk senyuman dan bergegas melangkah.
“Ya. Terimakasih, Mas.”

Tentu kau akan mengira bahwa aku gadis lajang yang sombong kan? Sebenarnya tidak, aku hanya tidak suka berbasa-basi. Sapaan demi sapaan setiap pagi tentu mengandung arti bukan?

Dia lelaki pengayuh becak, yang setia menunggu pelanggan. Di sana  dekat lampu merah sejak pagi buta. Setahuku dia menjadi marbot  masjid seberang jalan. Entahlah aku tak tahu kenapa dia masih juga tak mau menikah. Dan secara  kebetulan dia tertarik denganku. Tapi seorang Maya tak akan mau menikah bersuamikan seorang penarik becak. Tidak akan, kepedihanku sejak kecil ditinggalkan Rama  dan  Biyung telah membuatku menarik garis target yang tinggi. Maya harus menjadi orang yang sukses.

Baiklah sedikit informasi untukmu.  Rama telah lama berpulang saat aku masih belum bisa mengeja huruf dan angka. Dia terjatuh dari atas gedung tinggi. Kecelakaan, terjatuh di tempatnya bekerja sebagai kuli bangunan. Lalu tak lama kemudian aku tinggal berdua dengan  Mbah Uti di kampung, setelah Biyung pergi merantau ke negeri tetangga. Menjadi tenaga kerja wanita, yang harus bekerja siang malam tanpa lelah demi memperbaiki nasib keluarga. Dia hanya pulang dua tahun sekali,  sesuai kontrak kerjanya.

Aku tak bisa menerima dekapan sayang dari  orangtua kandung sejak kecil, hanya Mbah Utilah tempat berbagi. Keberadaan perempuan mungil  yang  telah melahirkanku itu, hanya sebatas ingatan kecil tanpa makna. Karena  pada akhirnya kamipun terpisah jarak dan waktu. Biyung memilih menikah dengan pria yang ditemuinya saat masih berkerja di luar negeri. Dan aku terbuang dari keluarga baru itu.

Mungkin mereka menganggap bahwa kehadiranku hanya akan menyusahkan saja,  ah sudahlah sepertinya kau akan bosan dengan semua itu. Allah masih sayang padaku. Uang hasil kerja Mamak telah tersimpan dengan rapi, di tabungan atas nama Nenek. Uang itu untuk membiayai pendidikan, hingga aku lulus sebagai sarjana muda sekretaris.

Aku tinggal di sebuah kota kecil yang nyaman, penuh aura persahabatan  kental, tapi tak semua orang baik. Pengalaman telah membuatku membuka mata bahwa orang jahat ada di manapun juga.

Nanti kulanjutkan  ceritaku ya, lihatlah  Supervisor galak itu telah berdiri menanti, dengan membawa sebuah map.  Itu kunci mati setiap  orang di sini. Lembar presensi. Barang siapa yang terlambat lebih dari lima belas menit saja maka dia akan terkena sangsi tak menyenangkan, bahkan diberhentikan.

“Ayo Maya, cepat sedikit. Lelet sekali kamu ini.” Suara besar terdengar tak sabar seperti biasanya.  Entah apa yang ada dibenaknya, setiap saat hanya target, target dan uang.

Dengan segera aku memasuki kantor berkeramik biru muda, warna-warni ceria menyambutku di beranda. Iklan kosmetik dengan wajah artis bertebaran. Cantik dan elegan. Jujur, setiap memandang mereka aku membayangkan bahwa suatu saat nanti akan menjadi bintang. Seperti mereka yang hidupnya penuh dengan kesenangan. Tapi paling tidak aku kan meruntuhkan dulu kesombongan lelaki angkuh di depanku ini. Tunggulah saat yang tepat.

Okey, saatnya beraksi. Setelah mendengarkan kata motivasi  dari  anak kesayangan Bos yang membuat perut mual, akhirnya semua membubarkan  diri. Aku heran, bagaimana  pria semacam itu bisa menjadi tangan kanan. Bukankah isi dalam otaknya hanya materi. Tanpa kenal belas kasihan.

***
Namaku Maya, gadis Supervisor cantik dengan blazer ungu dan rok selutut berbelah pinggir.  Jika kau berbelanja di Pasar Raya terbesar di kota Purwokerto,  tentu aku  ada di sana. Seorang gadis bermuka senyum nan anggun. Kau boleh menyapa dan mulai melihat kosmetik impor spesial yang kutawarkan. Oh ya, kau pasti bertanya kan? Bagaimana caranya,  aku bisa menyingkirkan  lelaki kesayangan Bos itu bukan?

Nanti dulu, sebelumnya akan kulayani dulu customer potensial. Seorang ibu bertubuh tambun. Dia melirik cepat ke arah senyuman  gadis-gadisku.

“Bunda mau  wajahnya tampak semakin segar? Di usia yang sudah matang memang wajar kan ada sedikit kerutan. Tapi bisa dikurangi dengan cepat lho. Silakan melihat-lihat dulu dan nanti  dijamin suami akan terpana. Wajah  bisa halus tanpa noda dan kerutan.”

Nah, nyonya besar itu sudah mulai tersenyum dan mengangguk. Wajahnya  akan mengingatkanmu pada artis gaek yang kini masih cantik. Dia penyanyi kondang dari kota kembang.  Tebaklah sendiri.

Aku bergegas menggamit lengan gadis yang terdekat. Bagiku walaupun sudah menjadi seorang pengawas, tetap saja harus turun tangan sendiri. Demi omset dan uang serta kedudukan agar tidak goyah.

Baiklah, cerita akan dilanjutkan.  Lelaki sok tahu itu ternyata memilih berpacaran dengan salah satu  Sales  Girl anak buahnya. Tak lama mereka menikah  siri karena dia sudah beristri. Setelah pernikahan itu mereka tak lagi mampu bekerja dengan baik hanya sibuk bercinta  sembunyi-sembunyi. Manis! Aku yang jeli melihat peluang akhirnya berusaha tampil menonjol di depan  Bos.  Aku selalu datang pagi dan pulang menjelang malam. Nilai penjualanku di atas rata-rata bahkan melebihi target.

Nasib baik berpihak kepadaku,  suatu hari  orang nomor satu di tempatku bekerja itu memergoki pasangan kasmaran yang sedang makan berdua di sebuah restoran. Kau tahu apa yang terjadi? Dengan wajah merah padam Bos mengatakan bahwa mereka tak perlu lagi muncul di kantor.  Tanpa pesangon.

Lagi-lagi aku yang menerima bonusnya. Hanya dengan berbekal Short Massage dari ponselku yang terkirim manis ke ponsel Bos. Dan pyarr… Kisah asmara dan karir mereka berdua telah tamat. Licin bukan jejakku?

Kau boleh benci sekarang, boleh juga mengejek, silakan. Itulah upayaku untuk membongkar aib, beraroma busuk. Aku benci kepada mereka. Pasangan itu telah menodai ikatan sakral perkawinan. Ada satu lagi. Hal yang membuatku muak pada mereka berdua. Kau mau tahu?  Mari duduk sini, agar kau tak lelah mendengar ceri hidupku.

Saat kuliah aku berkenalan dengan seorang lelaki. Dia jangkung, tampan, berkulit putih tak lupa kacamata minusnya. Kaca mata itu justru menambah angka plus bagiku. Tak perlu kusebut siapa. Tak rela menodai bibirku dengan namanya.

Pertemuan kami terjadi tanpa sengaja. Saat aku sedang kebingungan mencari buku di toko. Memang sebagai mahasiswa baru tentu sangat mungkin tersesat di belantara pustaka bukan? Yap, seperti yang kau kira, dia membantuku menemukan apa yang kucari. Sekaligus menemukan siapa yang kucari.  Tentu kau bertanya, berapa lama cowok kakak tingkat itu bisa menipu hatiku? Lama, sangat lama. Hampir tiga tahun lamanya dia berjuang dengan segenap semangat. Wah sudah mirip seperti pahlawan pencari cinta.

Mulai dari  rayuan lewat  handphone ataupun media sosial, bahkan novel kesayanganku selalu dibawanya setiap kali datang bertandang. Yang paling seru adalah saat dia membawaku ke sebuah restoran ternama. Dan melamarku dengan sebentuk cicin indah. Lumerkah? Sayang sekali aku harus menatapnya dengan senyum tersipu. Ya, aku mau.

Lalu catatan demi catatan tergores indah bersamanya. Hingga saat paling kusesali, ketika noda hitam tercoreng di muka. Wajahku pias tanpa harapan lagi, menangisi yang telah terjadi. Duka semakin dalam saat dia perlahan mulai menghilang, lenyap entah kemana. Janin tanpa dosa berkembang tanpa sewajarnya, dengan susah payah aku berhasil meraih gelar Diploma tiga. Berdua dengan calon jabang bayi  tanpa ayah.

Tunggu dulu, kisahku belum selesai. Ada panggilan telpon buatku.
“Mbah Uti, halo ada apa? Kenapa Bayu? Kejang-kejang lagi?”
Aku harus pulang, secepat angin demi selembar nyawa.
Sedan merah kupacu hingga maksimal, tak ada waktu untuk berlama-lama.  Anaku harus segera dibawa ke rumah sakit. Kejang yang dialaminya terlalu sering dan mengkhawatirkan.

“Bayu, bangun nak, ini Ibu datang.” Kugendong anaku yang tak  berdaya.Tanpa respon. Matanya tertutup dan diam, seakan pasrah akan lelakon yang dialaminya. Tidak. Tidak akan kubiarkan anak semata wayangku  pergi. Gigil  dan kalut tak mampu lagi membendung kristal bening yang meluruh begitu saja. Aku merasa gagal menjadi pelindung baginya. Tak boleh lagi derita menghadang hidup kami, sudah cukup.

Syukurlah, lega rasanya  melihatnya kembali tersenyum. Wajah lugu moon face itu  selalu membuat rindu dan perasaan larut tercabik-cabik. Naluri keibuanku selalu muncul perlahan dan nikmat. Senyumnya sendu. Mirip dengan lelaki penebar benih di rahimku dulu. Tatapannya seakan selalu bertanya, kapankah bahagia akan datang menghampiri.

Di tengah badai gelombang silih berganti mendera, orang-orang menatap sinis ketika kami berdua bergandengan tangan di alun-alun kota. Mungkin sebagian mereka mengenalku sebagai single parent beranak satu tanpa status yang cukup untuk diakui.

“Mama, au.” Tangan Bayu menunjuk kepada penjual mendoan. Nyawa hidupku ini selalu menyukai mendoan, penganan khas kota ini.

Bayu permata hatiku hanya mampu tersenyum kepada siapa saja, kekata yang dia ucapkanpun tak jelas. Hanya berupa gumaman tak berarti. Semua tak ada yang memahami hanya aku yang mengerti, lewat tatapan bening matanya. Tanpa dosa dan prasangka. Terapi demi terapi dan sesi konsultasi tak banyak membantu kemajuannya. Kupikir inilah akibat perbuatan haram, yang aku lakukan di masa lalu. Rasa bersalah selalu saja mendera,  setiap kali menatap lelap tidurnya. Diapun masih tersenyum dalam mimpinya.

***
Namaku Maya. Kau tak akan lagi melihatku di Pasar Raya terbesar itu. Aku sudah memutuskan untuk resign. Kau heran? Tak apa nanti aku akan ceritakan lagi. Maaf ya, aku masih sibuk  dengan gamis dan kerudung ini. Pertama kali memakainya terasa aneh dan gerah. Lucu. Aku yang terbiasa serba ringkas dan minimalis harus rela bermetamorfosa demi  anakku.

Kau dengar teriakan dan tangisan bocah-bocah itu?  Mari kukenalkan dengan mereka semua. Anak-anak menarik ujung kerudungku, tanpa suara hanya tatapan dan senyum lugu. Ada pula yang berebut mainan dengan temannya. Satu lagi sedang meraba huruf-huruf dengan jemari mungilnya. Ceria apa adanya. Dunia gelap abadi milik mereka. Walaupun tanpa suara telah menerangi gelapnya hati. Bagi siapapun yang welas asih. Aku ada diantara mereka yang mencintaiku tak peduli dengan atau tanpa make up. Hanya pelukan yang mereka butuhkan. Juga ketulusan untuk mengakui  bahwa mereka ada. Sebagai karunia Allah.

Aku menemukan kedamaian tanpa batas. Hidupku hanya untuk cinta. Bukan lagi terbebani target dan materi. Meninggalkan semua yang teraih dalam hidup, demi mengabdi di sini. Tempat anak berkebutuhan khusus di didik untuk mandiri.  Mengajari mereka tentang bertahan dalam hidup. Dan akupun belajar dari mereke. Tentang kesederhanaan menerim takdir. Kebosanan yang sangat telah membuatku mundur, dari jabatan tinggi di kantor. Aku merasa seperti robot cantik tanpa keinginan. Bahkan seperti batu, yang harus berpura-pura tegar demi  prestise.

Dan kau tahu akhir kisahku? Mungkinkan kau juga telah menduganya. Ya, seperti harapanmu, setahun yang lalu lelaki penarik becak telah menjemputku untuk duduk di pelaminan, tanpa perlu banyak waktu. Kubuang ego  setinggi bintang demi Bayu, agar dia mendapatkan cinta yang utuh dari seseorang yang dipanggilnya, Ayah.

Tak apalah, setidaknya kini kami telah memiliki sepuluh becak hasil dari tabungan berdua selama ini. Allah  Maha Kaya.

***
Kiara, penulis lepas, penderita disabilitas itu menangis. Cerpen yang ditulisnya berangkat dari kisah nyata. Kisah milik sahabatnya yang baru saja berpulang. Mata bulatnya melirik jam dinding yang setia menemani selama ini. Berjam-jam tanpa lelah. Tulisan ini telah berulang kali direvisi agar  sempurna. Lalu jemari lentiknya, mengetuk satu kali. Send. “Selamat jalan, Bayu. Bahagialah engkau di sana.”


Edyka Balqis, nama pena dari Ika Setyaningsih,SE. Lahir  di Gunung Kidul, Yogyakarta, tinggal di dekat pulau misterius Nusakambangan. Seorang istri dan  ibu yang cinta  warna biru dan ungu, suka dunia literasi.  Sudah memiliki  beberapa Antologi. Kini mencoba merambah media. Motto hidup : Life is never flat. FB. Ika Setyaningsih II,  email : ikagumilir@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here