Menciptakan Penulis Pemula yang Berkualitas, Sebuah Resensi “Jangan Cuma Pintar Menulis!”

0
94

*) Ryan P. Putra

Judul Buku: Jangan Cuma Pintar Menulis!
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Griya Literasi
Cetakan: Pertama, Januari 2015
Tebal: 298 Halaman
ISBN: 978-602-0931-08-1

Menulis merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara instan. Meskipun hanya menggoreskan sebuah pena di selembar kertas, untuk menciptakan sebuah tulisan yang berkualitas tidak sekadar asal menulis. Diperlukan gagasan atau ide kuat serta ketekunan dalam mengolah kata-kata menjadi kalimat hingga tersusunlah beberapa paragraf. Hal ini sering menjadi permasalahan bagi penulis pemula.

Lantas, bagaimana cara menciptakan penulis pemula yang berkualitas? Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Lain halnya dengan penulis profesional yang telah memiliki gaya menulisnya sendiri, sebelum menulis penulis pemula perlu diberi beberapa metode menulis dan motivasi terlebih dahulu. Ibarat anak kecil yang belajar mengendarai sepeda, tanpa diberikan metode mengendarai sepeda dan motivasi maka anak kecil tersebut tidak akan bisa mengendarai sepedanya.

Buku ini bisa diibaratkan sebuah buku pedoman. Pasalnya, Eko Prasetyo menjabarkan hal-hal dasar menulis terutama untuk penulis pemula yang dikemas secara rinci. Pada bab awal disuguhkan dengan beberapa ulasan problematika menulis seperti penulis yang hanya pintar menulis tetapi tidak menerbitkan buku, alasan penulis tidak bisa kaya, tidak mendapat honor setelah tulisannya dimuat di sebuah media, budaya menulis yang masih rendah, kurangnya kreativitas menulis, sulit menembus penerbit, tidak memiliki mental pebisnis dan kurangnya jiwa entrepreneur untuk memasarkan buku.

Kemudian pada bab selanjutnya, yakni Metode Menulis. Salah satu metode tersingkat dan termudah untuk dipraktikan oleh penulis pemula yakni metode menulis Buya Hamka yang sangat sederhana. Buya Hamka menulis secara bebas dan membiarkan gagasannya mengalir apa adanya. Selanjutnya, setelah rampung mengetik, ia memeriksa kembali hasil tulisannya (hlm. 40).

Tidak hanya metode dari tokoh penulis saja, tetapi ada metode komitmen. Metode komitmen ini bertujuan untuk mendisiplinkan diri dalam menulis sebuah buku. Ariyanto [2008] menyebut bahwa setiap penulis harus memiliki komitmen terhadap diri sendiri. Dia memberikan contoh komitmen itu sebagai berikut.

“Saya akan menulis ½ jam per hari” atau
“Saya akan menulis ½ halaman per hari”

Nah, jika itu dilakukan dalam satu bulan, penulis bisa terkejut dan heran bahwa ternyata naskah sudah tersedia puluhan halaman. Siap diterbitkan menjadi sebuah buku (hlm. 48). Selain memiliki banyak tulisan, secara tidak langsung penulis pemula mengasah dan mempertajam penanya yang berdampak tulisannya semakin berkualitas.

Mirisnya, penulis pemula akan menulis bergantung pada mood sesuai yang dijelaskan di bab Motivasi. Jika mood sedang baik, ia akan menulis. Sebaliknya, jika mood tidak bisa diajak akur, dampaknya tulisan tidak selesai-selesai. Semua tantangan itu bisa dijawab apabila seorang penulis mengusung semangat man jadda wajada. Modal spirit tersebut diharapkan mampu melecut semangat untuk tidak berhenti berkarya dan terus mencoba melahirkan inovasi dan gagasan baru.

Karena itu, mulai saat ini buang jauh-jauh anggapan bahwa aktivitas menulis sangat menyita waktu. Kita tahu bahwa semangat man jadda wajada sangat menitikberatkan pada kerja keras. Menurut Akbar Zainuddin [Man Jadda Wajada The Art of Excellent Life, Gramedia, 2009], sukses itu pilihan. Hal ini sangat berpengaruh oleh kerja keras (hlm. 244-245).

Apabila metode menulis dan motivasi digenggam oleh penulis pemula, maka tulisan-tulisannya siap bersaing dengan tulisan para penulis profesional. Buku Jangan Cuma Pintar Menulis!, mampu mendobrak jiwa penulis pemula untuk berani menciptakan karya yang berkualitas. Selain pembahasannya yang lengkap, buku ini dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami. Sehingga penulis pemula langsung bisa mempraktikannya. (*)


Ryan P. Putra. Menulis ”Kelinci Percobaan K-13” (FAM Publishing, 2016) dan Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY