Lilin Untuk Lidia, Cerpen Melania Cici S. Ndiwa

0
77

*) Melania Cici S. Ndiwa

01 November 2016

Apakah ada lupa yang abadi, kak ?

Lupa yang menjadi batu, membatu tanpa pecah menjadi kerikil lalu pasir.

Karena akan tertiup angin, lalu menjadi abu yang melekat pada kaca jendela saat senja. Dan akan pergi saat menjelang pagi, saat embun melekat pada kaca jendela. Atau pada senja, saat desahan nafas sengaja dihembuskan pada kaca jendela rumah lalu ukiran inisial nama kita tercetak pada embun yang datang dari jantung.

Sepertinya tak ada lupa yang abadi, kak. Disaat saya ingin mengabadikan lupa, malah lukalah yang terjadi. Tapi, kak….bukankah kita perlu luka untuk menyadari arti kehilangan ?. Luka kak..bukan lupa.Sesekali saya berpikir untuk menghindari luka, tapi dunia ini penuh dengan jarum yang dihembuskan oleh angin, seperti udara. Saat bernafas dan menyadari bahwa saya masih tetap hidup, luka itu tetap ada, tak mengikuti tapi tetap ada.

Penuhi saja saya dengan luka, pada jantung, hati lalu empedu. Biar saya tahu, untuk setetes darah selalu ada kepahitan yang menyertai.Menyertai saya melalui sesuatu yang bernama waktu untuk melewati ruang, dengan rasa kehilangan karena lupa tak abadi.

Bisakah lupa yang abadi itu menghampiri saya kak, walau sedetik ? Agar kita bisa bersama, tanpa andaikata dan kemungkinan untuk bertemu di alam lain.Atau tertidur sambil menyimpan potretmu di bawah bantal.

***
Kak, mungkin engkau marah perihal nama yang ada pada tiap kertas yang diketik atau pun ditulis tangan. Ada nama, namamu tapi bukan nama yang akrab saat kita masih bisa berangkulan ataupun bergandengan tangan, yah saling merasa lewat kulit.Disudut atas kertas ataupun setelah tanda titik dua (:) setelah judul puisi ataupun judul sebuah cerita ada namamu, Lidya. Setelah ragamu tak bisa lagi kujamah, aku lebih memilih memanggilmu dengan nama santa pelindungmu, agar aku tak lagi merasa kehilangan yang hampa. Tapi kehilangan untuk kepenuhan karena engkau ada, walau tak bisa kujamah. Lidia.

Kak, aku ingin menebak lagi seperti dahulu, saat kita sering menghabiskan malam Minggu tanpa terlelap karena menunggu acara musik. Kita menebak soal apa yang dipikirkan oleh masing-masing kita. Kini aku mencoba untuk menebak sesuatu yang mungkin kau pikirkan saat engkau melihat aku duduk di depan komputer lalu mengetik. Mungkin, engkau berpikir bahwa aku menggunakan rasa yang ditimbulkan karena kepulanganmu agar aku bisa menulis. Tidak, kak. Aku menulis karena aku menjaga ingatan ingin tetap waras, engkau pernah berpesan begitu. Dan aku masih seperti gadis kecil berambut ombak yang sangat pendiam, yang tetap mencoba membaca pikiran orang dan mengungkapkannya atas sesuatu yang aku pikirkan.

Kini, walau ada di dunia yang lain, aku masih tetap gadis kecil, adik sepupumu yang berambut ombak yang sangat pendiam karena telah kehilangan telinga dan bibir yang selalu mendengar dan membuat aku merasa ada di dalam keluarga.

Kak, saat menulis ini air mataku menetes merindukanmu. Menetes, bukan mengalir. Betapa kehilangan orang yang sangat kita cintai, membuat air mengalir seperti menetes : perlahan namun tetap. Begitulah aku kak.

***
900 hari yang lalu. Detik-detik kehilangan membuat air mata menetes membasahi pipi. Mengingatnya membuat luka berair, pada hati lalu mata.Dokter membawa peralatannya dan berjalan dengan tergesa ke ruangan tempat engkau dibaringkan. Ada  banyak keluarga di ruangan, air mata mereka menetes sambil memanggil-manggil namamu, 10 menit berlalu tak juga engkau jawab panggilan mereka.

Aku, adikmu  berada di sisi tempat tidurmu, menggenggam tangan kirimu saat dokter mulai meminta kami untuk mendoakanmu. Menghantar sambil mencoba merasakan nadi yang mungkin dapat berdenyut lagi.

Kak, kau genggam tanganku untuk terakhir saat di rumah sakit, itulah saat terakhir saat aku meminta maaf untuk semua kesalahanku saat kita bersama di dunia.

Maut tak dapat ditahan oleh isak yang memecah dan tembok yang dipukul atau pun semua suara yang memanggil namamu. Tuhan lebih mencintaimu. Engkau pulang kepada rumahmu yang abadi dan meninggalkan kami yang kini sedang berziarah.

Sirene memecah ditengah keriuhan pagi. Tak ada yang percaya, begitu pun aku yang saat itu hanya memilih melihat tempat tidurmu dengan engkau yang didorong menuju kamar mayat. Berharap ini hanya mimpi.

Sakit rasanya, saat mendengar mobil ambulans berjalan mendahului kaki kami, berhenti di depan rumah. Dan engkau pulang ke rumah kita yang fana tanpa desahan yang tersisa.

Aku menyaksikan semua keluarga kita menangis. Susah bagiku untuk menangis saat itu, karena bagiku engkau hanya tidur lalu akan terbangun. Tapi tidurmu itu selamanya kak. Pada pukul 15:00 sore, kita sungguh berpisah. Isak dan tangisku memecah di siang itu. Aku ingin memberhentikkan waktu, agar engkau tak dikuburkan. Semua kenangan kita muncul saat itu. Aku kehilangan.

Rahang tanah membuka dan kita terpisah. Tak lagi aku menyentuh tubuhmu yang dingin dan kaki. Tak lagi aku melihat senyummu yang kau bawa sejak lahir. Tak ada lagi pandangan lekat pada jenazah dengan harapan akan  bangun lagi.

15:00. Aku masih tetap adikmu yang mendambakan kakak.

***
Kehilanganmu membuat aku menjadi sosok paling pendiam. Tidak ada lagi tempat aku bercerita dan mengadu tentang hal yang tidak mengenakkan.

Sepeninggalan engkau, kertasku begitu rajin kuiisi tulisan. Tulisan untukmu.

Hari ini genap 900 hari engkau pulang kepada yang abadi. Doa kami tetap mengiringimu, dalam perjalananmu kepada Bapa.     900 hari, adakah pulang yang tidak abadi?

Lilin di bulan November menyala, dan  banyak hari yang telah aku lewati dengan engkau dalam doaku.

Aku menulis ini, sejak aku tak lagi kau datangi dalam mimpi.

900 hari, kak pada jumlah hari ke berapa aku akan lupa ?

Salam

Adikmu.

01/11/2016.


Melania Cici S. Ndiwa, mahasiswi Pendidikan Teologi STKIP St. Paulus Ruteng. Bergiat di Komunitas Sastra Hujan Ruteng, sedang berlatih menulis cerpen dan membuat puisi. Surel:melaniandiwa@yahoo.com.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here