Sui Generis di Segala Detikmu Karya Reinard L. Meo

0
180

*) Yohanes Berchemans Ebang

SEGALA DETIKMU

Aku mencintaimu dengan segala detikmu
Laksana serpihan kaca yang pantulkan aurah senja
Kadang keheningan membantuku bermimpi
Tentang desiran angin yang menyapu begitu menggoda
Mencintaimu adalah anugerah
Seindah cawan bening yang hiasi lemari kayu
Jauh di lorong jiwa ini
Terukir Peluhmu
Terpahat betapa aku tak kuasa berpisah darimu

13 Januari 2013, Kuwu-Ruteng

Kutipan di atas merupakan sebuah judul puisi di buku Sekumpulan Puisi halaman 102 karya penyair Reinard L. Meo.Puisi ke-64 (ke-2 dari terakhir) di atas sekaligus menjadi judul buku sekumpulan puisi, Segala Detikmu.Sedangkan Cumbuan merupakan puisi pembuka di buku Segala Detikmu.Kemudian puisi berjudul Sembahayang, puisi ke-65 di halaman 103 menutup sekumpulan Segala Detikmu.Perlu diketahui, Segala Detikmu dalam tulisan ini merujuk pada judul buku, bukan judul puisi.

Puisi dan atau sekumpulan puisi semacam ini (Segala Detimu) ketika di tangan pembaca, akan mendapat perlakuan dan menuai kesan yang variatif. Berberbeda-beda.Para akademisi sastra misalnya, lebih menitik-beratkan perhatiannya pada estetika bahasa, matra, rima, irama, larik dan bait. Atau ada pembaca yang mungkin saja terpesona pada gaya dan rasa bahasanya. Ada yang mungkin mengagumi estetika bangunan puisi.Ada yang merasa tertarik dengan diksi, tema dan topik.Layout dan desain cover.Jenis huruf, tempat dan tanggal penulisan.Bahkan, mungkin saja ada yang mengagumi penyairnya(ganteng, pintar dan kece). Sehingga yang jelas, setiap pembaca akan memiliki frame yang berbeda-beda. Pemahaman semacam ini terasa kental dan erat dengan perspektif ‘membaca sastra-nya’ Jacques Derrida tentang ‘yang lain’ (the other/otherness) dan ‘dekonstruksi’ (deconstruction). Gagasan Derrida tersebutberhasil menggeser dominasi tradisi klasik perihal peng-signifikasi-an terhadap karya, teks, naskah atau wacana tertentu. Penggeseran dominasi ini dilakukan Derrida dengan menawarkan gaya atau mode baru yang ia sebut difference, pemahaman langsung terhadap apa yang ada dalam teks dan pemahaman transendental (yang tak terkatakan). Menurut Kevin Hart, mode difference tersebutlah menjadi pegangan Derrida ketika berhadapan dengan karya semisal sastra. Bahwa ketika menganalisis dan atau memaknai  karya sastra tak harus berpusat pada subjek, jejak dan efek teks tetapi juga pada aspek atau dimensi lain (tanpa mengabaikan subjek/karya). Maka ketika membaca puisi-puisi prosaik Francis Ponge, Derrida justru tertarik untuk (hanya) menganalisis nama dan tanda tangan pengarang. Ketika berhadapan dengan syair-syair Paul Celan, Derrida justru mencermati cara penulis membubuhkan tanggal (bdk. Kevin Hart dalam Peter Beilhlarz: 2005; 73-81).

Berdasar pada konsep derridian dan kemungkinan-kemungkinan di atas dan kemungkinan-kemungkinan lainnya, sebuh naskah atau buku puisi kemudian mendapat perlakuan yang berbeda pula mulai dari cara membaca, kesan dan pemaknaan hingga pada rekomedasi-rekomendasi individual.

Maka ketika seorang pembaca masuk ke dunia ‘membaca naskah puisi’, acap kali bagai pengembaraan di padang yang maha luas, atau semacam penglalang-buanaan di hutan yang tak tahu pasti pinggirnya di mana. Juga bisa seperti jalan panjang tak berujung.Ada yang bisa tersesat, tak tahu jalan pulang.Ada yang bingung dan lelah.Ada yang pulang dengan suka cita dan sorai sorai bak selesai meramu buah atau menuai panenan.Ada yang berkerut dahi, ada yang tersenyum.Ada yang tertawa terbahak, mungkin juga ada yang mengusap air mata, tersentuh-senduh.Atau tentang Segala Detimu, selain menggelitik dan menyihir, Stephie Kleden-Beetz juga menyebutnya sebagai karya yang penuh rahasia dan berselimut berlapis-lapis tabir.Maka menggauli sebuah atau sekumpulan naskah puisi, hemat saya, pembaca seolah memasuki sebuah dunia yang bernama ‘penyingkapan tabir’ dan dunia ‘aneka kemungkinan’.

Di mahligai yang bernama ‘aneka kemungkinan’ itulah saya menulis catatan ini sebagai sari konseptual dari pengelaman pribadi dalam pengembaraan di rimbaSegala Detikmu.Sebagai sebuah perspektif dari seorang pembaca, tulisan ini tidak bermaksud mengalisis salah satu, beberapa atau seluruh puisi dalam Segala Detikmu, tetapi semacam pandangan-pandangan atau konsep-konsep yang terbersit-percik ketika sedang dan sesudahmembaca Segala Detikmu. Kemudian tulisan ini saya beri judul Sui Generis di Segala Detikmu.

***
Secara asali, sui generis(sʊ.iː ɡɛnɛrɪs) merupakan ideom Latin yang berarti nya, dia, atau mereka (yang jenis sendiri, bisa juga unik dalam kelasnya).Sui generis kemudian direduksi oleh sejumlah disiplin ilmu lalu digunakan untuk menyebut entitas yang lebih esoteri dalam bidangnya masing-masing seperti di bidang biologi, filsafat, hukum, politik, seni dan kebudayaan.Sui genesis dalam tulisan ini direduksi dari dua pengguna sekaligus dari dua disiplin ilmu yang berbeda. Pertama, konsep sui generisyang dipakai John Rundell dalam observasi kritisnya terhadap karya-karyaJurgen Habermas (Peter Beilhlarz: 2005; 217).Konsep ini lebih dekat dengana rana filsafat dan ilmu sosial khususnya disiplin ilmu komunikasi. Dan yang kedua, dari rana seni dan kebudayaan,kritikus film Michael Brooke dan Richard Scicheel menggunakan istila yang sama.Sui Generis. Menurut catatan Wikipedia, dalam filsafatsui generis digunakan untuk menunjukkan ide, suatu entitas, atau realitas yang tidak dapat direduksi menjadi konsep yang lebih rendah atau termasuk dalam konsep yang lebih tinggi; dan dalam bidang seni kreatif, sui generis merupakan konsep atau penamaan pada (terhadap) sebuah karya seni yang melampaui batas-batas genre konvensional.

Menurut John Rundel, Jurgen Habermas dalam karyanya Legitimation Crisis, The Structural Transformation of The Public Sphere hingga pengujian dan penegasannya tentang Ruang Publik dalam The Theory of Communicative Action  volume I dan II, ia berulangkali secara tegas mematenkan konsepnya teantang posisi rasio dan betapa pentingnya mempertahankan raiso dalam setiap retorika mapun tindakan praktis. Dalam pandangan Habermas, mempertahankan rasio bukan sebatas karena maknanya (sebagai yang rasionalis) tetapi lebih dalam dari itu, di mana rasio itu didasarkan.Artinya rasio itu berasal sekaligus meneguhkan manusia sebagai yang sesuangguhnya sebagaimana temuan filsuf klasik.Sokratens prihal Jiwa dalam tubuh manusia, Manuasia berakal budi, Plato; informasi, relasi, individu, substansi, materi dan esensi-nya, Aristoteles yang kemudian diperteguh oleh Deskretes “saya berpikir karena itu saya ada”.

Sui generis Habermas sebagaimana observasi kritis  John Rundel merupakan semacam kehidupan batin yang serentak memosisikan manusia sebagai pribadi yang khas di ruangnya yang privat pun dalam ruang publik (sebagai yang khas dalam partisipasi sosial). Sehingga dalam pandangan Habermas, sui generis merupakan asal sekaligus tempat bersandarnya rasio yang menggerakan seorang manusia dalam berpikir dan bertindak.Kosep Sui generis sekaligus menjadi pembeda bagi pandangan Hubermas dengan para pemikir sosial dan filsuf kontenporer lainnya (bdk.The Theory of Communicative Action  volume I dan II (versi inggris terjemahan Thomas McCarthy).Dalam pandangan semacam ini, manusia tampil sebagai seorang pribadi yang independen, mengelak generalisasi, atau tidak serta merta terjadi penyerapan mutlak ke dalam imperatif-imperatif sistem sosial masyarakat yang terlanjur tersosialisasikan.Manusia rasional terteguhkan sebagai satu spesies.Di dalamnya terdapat yang namanya ‘kehendak’ dan ‘kehidupan batin’ sampai pada pelampauannya dalam praksis sosial yang oleh Habermas disebut sebagai ruang publik.Maka, sui generis menjadi semacam identitas koheren seorang pribadi dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam masyarakat.

Konsep kedua.Sui generisdipakai oleh kritikus film Richard Scicheel dan Michael Brooke. Richard Schikel dalam menganalisis film Joe Versus the Volcano, ia menyebut film tersebut sebagai film sui generis. Disebut sui generis karena film tersebut unik dan belum masuk dalam standar dan pengglasifikasian film berdasar genre-genre yang  sudah lasim. Konsep yang sama juga di ungkapkan kritikus film Michael Brooke dalam sebuah esay yang berjudul Fantastic Planet:Gambous Amalga. Senada dengan Richard Schickel, Brooke menggunakan istilah sue generis ketika menganalisis film Fantastic Planet (sebuah fillm fiksi ilmiah yang disutradarai Rene Laloux 1973) sebagai film yang unik, tak seperti film-film fiksi ilmiah sebelum-sebelumnya. “… and the film as a whole is so rich, strange, and sui generis that nothing has emerged since to retrospectively blunt its impact” (alinea pertama Fantastic Planet: Gambous Amalga). Sui generis berarti juga unik, hanya dimiliki atau hanya ada dalam (film) itu.

Kedua konsep tentang sui generis di atas hampir mirip dengan konsep tentang immersive spaces yang berulangkali di pakai Scott A. Lukas dalam menganalisis berbagai karya seni khususnya film dan pertunjukan. Ruang imersif menurut Scoot merupakan ruang inklusif yang pertama dalam diri sang pencipta karya (mis. Sutradara dan sastrawan) yang dari itu karya itu dilahirkan.Yang berikut adalah ruang peleburan antara yang imaginatif dan yang nyata (dalam diri penikmat) yang terbentuk oleh karena menonton seni pertunjukan atau film.Immersive space tidak sebatas tempat situasi tetapi lebih dari itu memiliki pengaruh dalam tatanan berkarya (ilmu pengetahuan dan seni) maupun dalam kehidupan sosial yang lebih luas.Bandingkan esay Scott A. Lukas tentangQuestioning “Immersion” in Contemporary Themed and Immersive Spaceshalaman 115-124 dan beberapa esay Scoot lainnya dalam buku A Reader in Themed and Immersive Spaces (ed. Scott A. Lukas, 2016).

***
Kembali pada Segala Detikmu.Memasuki lautan puisi Segala Detimu, saya seolah terseret ke beberapa penjuru, berjumpa dengan arus lautan dan cuaca yang tak menentu, seperti bertemu dengan mitos yang belum tuntas diurai serta dipertanggungjawabkan di hadapan mahkama ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Dari sana (tepi dan penjuru) lahirlah beberapa konsep (perspektif) dengan berpegang pada konsep sui generis.

Pertama, perihal puisi klasik dan puisi modern (Indonesia).Ensiklopedi Sastra Indonesia (versi elektronik) mengelompokan puisi Indonesia ke dalam dua periode.Periode klasik dan modern. Puisi klasik, sebagaimana catatan ensiklopedi, sangat terikat dengan irama, matra, rima, serta membuatannya begitu kaku dengan konstruksi baku yakni larik serta bait. Sedangkan Susunan puisi moderen Indonesia tidak terikat dengan pakem baku di atas, tetapi lebih elegan dengan pilihan kata atau diksi, bahasa figuratif atau majas, serta citraan atau pengimajian penyair atau penulis puisi. Perasaan serta situasi jiwa penyair lebih tersibabkan.Lalu munculah konsep lecentia poetika, kebebasan panyair.

Berkaitan dengan hal di atas, banyak pakar dan akademisi sastra telah membahas bahkan mempeributkannya ketika menganalisis puisi-puisi modern semisal karyaChairil Anwar, Amir Hamzah, Sapardi, Goenawan Mohamad, Sutardji, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Jokpin dan lain sebagainya. Satu hal yang menarik yang hendak saya lontarkan pada ruang ini berkenaan dengan ‘membaca Segala Detikmu’ ialah soal penamaan terhadap puisi modern.Bahwa puisi modern, selain dipertanda oleh tampilan fisiknya (diksi, majas, citra, struktur dan imajinasi), satu hal yang tak boleh diabaikan adalah khasana dan kehidupan batin penyair termasuk jiwa dari sebuah karya. Artinya, puisi modern tidak hanya atau lebih soal bangunan fisiknya, tetapi menurut saya, lebih pada khasana batin, yang dari situlah pengelaman, pengetahuan dan pikiran penyair terendap lalu kemudian ‘meluap’ leawat karya seperti puisi.Maka dalam sebuah banguna puisi juga bersemayam jiwa, jiwa puisi.

Lebih dalam dari khazana batin yang dimaksud, terdapat satu titik yang khas dan asali yang dalam tulisan ini disebut sui generis. Konsep ini hendak mengangkat predikat penyair atau penulis ke ruang publik bahwa karya penyair lain yang pernah dibaca tak serta merta berpengaruh atau tertirukan dalam karyannya. Karena bagaimana pun, seorang penyair adalah khas, sphesis dan geneus-nya sendiri-sendiri.Secara tersirat Jokopin pernah mengungkapkan hal ini dalam acara Mata Najwabertajuk di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki 6 Mei 2016 silam.Dalam bagian Pengantar Segala Detikmu,  ibu Stephie Kledens-Beetz menyebutnya dengan nama Bengkel Waktu. Konsep Sui generis tidak bermaksud ‘menista’ teori sastra bandingan, tetapi lebih merupakan pernyataan diri penyair. Melalui Segala Detikmu, Reinard L. Meo membuktikan hal ini. Misalnya puisi Cumbuan dan Wendelina(mewakili) apa yang disebut oleh penyair sendiri di puisinya yang paling akhir ‘…sembah yang di atas/ Cium yang di bawah/ Saling Rangkul di kiri-kanan. Mengimani Tuhan dan mencintai sesama, bukan soal meniru tradisi dan cinta warisan orang tua, tetapi seuatu terberi dan asli. Maka yang asli itu kemudian ter-teks dalam karya yang bernama puisi (bdk pengertian puisi secara etimologis, Poet: puisi, bahasa Yunani).

Kedua, tentang originalitas karya. Berkaitan erat dengan konsep pertama di atas, originalitas sebuah karya diuji sejak proses kelahirannya. Karya itu orginal atau tidak.Asli atau tiruan. Sebagaimana konsep tentang sui generis(yang telah dipertanggungjawabkan dalam bagian tengah tulisan ini), keorginalitasan sebuah puisi sudah teruji secara privat dari dalam hati (khazana) penyair itu sendiri.

Melalui Segala Detikmu, keaslian sebuah puisi bukan sebatas di diksi, figurasi, struktur dan bangunan puisi tetapi lebih pada imaginasi batin penulis yang tertuang dalam jiwa sebuah puisi. Misalnya, hubungan pribadi antara penulis dan yang Ilahi bagai ombak dan karang.Manusia dan Sang Khalik.Atau mencintai adalah anugerah/terberi, maka mencintaimu berarti mencintai dengan segala detik, segala waktu.Mencintai berati tidak mengenal kata berpisah.Diksi dan figura dalam puisi Cumbuan dan Segala Detikmu ini tidak dipandang hanya sebagai hal yang fisik semata tetapi sesuatu yang batinia.Yang dari itu keaslian sebuah karya dapat terdeteksi.

Ketiga, posisi pembaca.Dalam kesusastraan, posisi pembaca merupakan hal yang penting. Selain sebagai tempat dan cara mengapresiasi karya, pentingnya posisi pembaca turut menentukan kebersampaian pesan atau maksud dari pengarang. Bahwa pada dasarnya karya sastra termasuk puisi, tidak bebas nilai.Ada nilai-nilai yang diusung oleh seorang penyair dalam syair-syairnya, walaupun nilai-nilai tersebut acap kali tersembunyi, kabur dan gelap.Maka posisi pembaca yang dimaksud ialah bagaimana seorang pembaca ‘menggauli’ karya sastra yang menurut Derrida, jalannya gelap dan berliku.

Berpegang pada konsep dan judul tulisan ini, posisi pembaca lebih dilihat sebagai ruang pribadi. Ruang pribadi pembaca untuk bagaimana, seperti apa, dengan cara apa membaca, lantas kalau boleh memahami dan memaknai Segala Detikmu. Cara dan situasi pendekatannya sudah sempat disinggung di bagian awal tulisan ini. Inti dari konsep ketiga ini, hemat saya, Segala Detikmu selain mambantu pembaca untuk bagaimana berpartispasi secara individu dalam lingkunagan publik, tetapi juga mampu menghantar pembaca kembali ke dalam dirinya sendiri, bertemu dengan dirinya sendiri sebagai yang asali, khas, spesies. Bertemu dengan dirinya yang sui generis. Unik di antara unik yang lain.

Maka konsep sui generis dalam tulisan ini merupakan konsep ‘pinjaman’ yang dipakai tidak hanya untuk menegaskan kekhasan penyair dan kehyasan karyanya (Segala Detikmu) semata, tetapi juga menegaskan sebuah ruang dalam diri pembaca yang bernama sui generis. Bahwa Reinard L. Meo melalui Segala Detimu, tidak hanya menampilkan kekahasan karyanya semata, tetapi sebaliknya Segala Detikmu mempu menampilkan kekhasan/keaslian dari kedalaman khasana jiwa pembaca. Kalau Reinard di Sekedar Pembuka mengatakan bahwa puisi-pusinya tumbuh berkat sentuhan banyak orang, maka setelah membaca puisi-puisinya, pembaca (saya) boleh katakan bahwa Segala Detimu hadir karena ingin menemui, menyentuh dan menemani hati, pikiran dan aksi pembaca, sambil tetap membiarkan pembaca memiliki kebebasan, kemerdekaan dan kekhasan jiwa sebagai yang asali, manusiawi yang sekaligus berdimensi transenden.

Maka atas kelahiran Segala Detikmu, bersama penyair, marilah kita sembayang; sembah yang di atas, cium yang di bawah dan saling rangkul di kiri-kanan.***


Yohanes Berchemans Ebang, Petugas Kebersihan di Perpustakaan Misi St. Yosef Freinademetz, TDM-Oebufu, Kupang, NTT.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY