Bawi Si Tabir Mimpi, Cerpen Sintia NA

0
97

*) Sintia NA

Matahari siap menuju peraduannya. Langit berubah menjadi orange. Orang-orang berkerumun, berdesak-desakan. Debu berhamburan tak tentu arah, pintu-pintu bilik dibanting tidak berperasaan.

Sedangkan dalang dari segala kehebohan menatap angkuh ke depan menyapu pandangan
“Apa kita benar-benar harus bermain di sini?” Dia mendecih. Temannya memotar bola mata jengah.
“Menurutmu? Ayolah. Kau tidak melihat jika ular-ular kita sudah siap ingin bermain?”

Dua laki-laki berpakaian hitam-hitam dengan topi kain yang melilit kepala mereka itu bersila di tengah kerumunan. Memainkan suling digengaman, ke kiri kekanan dengan mata terpejam. Ular-ular di depan mereka yang berjumlah lima itu mulai menari, Meliuk-liuk, memutar kemudian berdiri, terus seperti itu hingga beberapa lama.

Setiap menit kerumunan itu bertambah dan semakin banyak. Tak sediktipun dari mereka yang mengalihkan pandangan walau hanya satu detik.

Nada-nada yang melantun  indah bagi ular itu berhenti. Ular-ular yang semula meliuk-liuk dimasukan pada sebuah kain. Kemudian mereka pergi tanpa mengatakan apapun.

Orang-orang saling pandang, kemudian tak lama membubarkan diri masing-masing.

Sedangkan seorang anak tanpa baju dengan celana yang kotor penuh debu mengintip di balik bilik. Dia menatap cemas apa yang terjadi. Menggeleng-gelengkan kepala dan setelahnya pergi menerobos hutan.

***
Entah sudah berapa jam yang lalu Bawi tidak bisa diam. Ia mondar mandir tak jelas dengan perasaan gelisah.

Temannya yang melihat itu menatap jengah.

“Kenapa sih kamu, Wi?” tanyanya dengan setengah menguap. Pasalnya ini memang waktunya untuk tidur, bagi mereka yang masih bisa dibilang belum cukup dewasa. Apalagi peraturan di tempat mereka memang seperti itu. Tidur tidak boleh terlalu malam.
“Tadi, aku ke desa. Dan aku ngeliat sesuatu.” Jawab Bawi menerawang dengan menggigit bibirnya.
“Apa? Kamu ke desa? Kamu taukan apa masalah yang bakalan kamu dapet kalo orangtua kita tau?”
“Makanya jangan bilang-bilang.” Ucapnya dengan muka memohon.
Yang diajak bicara menatap penuh selidik.
“Coba cerita. Kenapa kamu ke desa?”

Bawi masih diam. Memilih-milih kata yang tepat untuk mengatakan semua yang membuatnya resah.

“CEPET!!!! Atau aku bakalan bilang ke orang tua kita.”
Bawi yang melihat temannya beranjak akhirnya bicara.
“Rando!!!! Aku melanggar pantanganku.” Bawi menangis bersimpuh di atas tanah, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia merasa sangat bersalah telah melakukan itu.Dan yang paling dia sesalkan adalah tidak ada yang bisa dia lakukan sedikitpun.

Rando yang mendengarnya terdiam. Menatap temannya dengan muka pucat pasi.
“Siapa sekarang yang akan menjadi korban dan menderita?”
Beberapa menit terjadi keheningan. Tiba-tiba Rando tertawa sinis.
“Apa penduduk desa?”
Bawi mengangguk. Sedangkan Rando tersenyum sinis mendengar tebakannya tak meleset.
“Biarkan saja. Mereka pantas mendapatkan itu.”
“Apa yang kau katakana Rando? Kenapa kau berbicara seperti itu?”
“Jangan so baik Bawi. Kamu tidak ingat apa yang mereka lakukan pada kita dan keluarga kita hah? Apa perlu aku mengatakan satu persatu agar kamu sadar?” Napas Rando memburu,
“bagaimana mereka membuang kita ke sini? Bagaimana  mereka menganggap kita bagai sampah? Bagaimana mereka mengatakan kamu anak pembawa petaka. Hanya karena kita berbeda?” Nada itu mulai melemah, “jika boleh aku memilih aku tidak ingin terlahir seperti ini.” Rando pergi meninggalkan Bawi dengan muka menunduk.

Sedangkan Bawi menatap sahabatnya itu iba. Melihat bagaimana ia berjalan dengan satu kaki lebih besar seperti batang pohon.

***
Pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum ayam-ayam berkokok. Lima rumah di tengah hutan itu di kelilingi orang-orang dengan senjata di tangan mereka masing-masing.
“Keluar kalian! Berikan pada kami anak sialan itu!”

Bawi yang tadinya terlelap tiba-tiba membuka matanya, menelisik apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia mengintip di balik bilik depan. Matanya tiba-tiba melotot. Ia menggigit bibirnya kencang. Keringat mengucur deras dari dahinya. Suara pekakan-pekakan menyakitkan itu berasal dari sana

Itu suara keluarganya. Apa yang harus ia perbuat sekarang. Ia tidak mungkin membiarkan keluarganya mati konyol seperti itu, apalagi semua karena ulahnya.

Dengan napas yang masih memburu ia keluar. Menerobos orang-orang.
“Hentikan! Lepaskan keluargaku. Atau kalian akan menyesal.”
Orang-orang desa yang membawa kapak itu tertawa terbahak-bahak.
“Memang apa yang bisa kau lakukan bocah?” Seorang pria menjilat pisau di tangan dan siap menghunuskannya pada Ibu Bawi.
“Kubilang hentikan sialan! Jangan sakiti ibuku.”
Terlambat. Ibunya sudah tergeletak tak berdaya di tanah. Darah mengucur deras dari lehernya.

“KALIAN! SEMUANYA AKAN MATI! Seperti ular-ular tak berdaya yang harus memasuki kandang mereka meski mereka tak ingin.” Bawi tertawa mengerikan.
“Apa tidak cukup harta kalian dirampas? Kalian benar-benar ingin mati juga?”
“Darimana dia tau jika kita mengalami perampokan? Jangan-jangan dia yang mencurinya?”
Satu orang berbicara marah.
“Katakan! Kau tidak mungkin mencuri aku sudah memeriksa semua rumah yang ada di sini dan tidak menemukan apapun.”
Pria berasal dari kerumunan menyahut. Semua mata menatapnya heran.
“Benar, aku di sini tidak menemukan apapun. Bahkan sampai kehutan-hutan pun tak ada. Semua semak-semak telah kami periksa juga.”
Bawi menepuk-nepuk tangannya.
“Karena aku adalah Bawi sang tabir mimpi. Apa yang aku mimpikan kemudian aku ceritakan semua akan menjadi kenyataan.” Kalimatnya menggantung, “termasuk kematian kalian.”


Sintia NA Lahir di Cianjur 10 Oktober 1996. Menggeluti dunia literasi sejak 2015 akhir hingga sekarang. Selain penulis merupakan seorang penyair juga. Yang sangat mencintai karya sastra. Email : sintianurazizah36@gmail.com

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY