SEPERTI BENENAI, DARAHKU MENETES PILU: Perempuan Dalam Narasi Puitik R. Fahik

1
197

 

*) Sintus Runesi

Ada banyak jalan memelajari madah suatu suku bangsa, dan masing-masing jalan itu senantiasa benar.” ~ Rudyard Kipling, In the Neolithic Age

Pada suatu masa, perempuan bisa dikatakan, disamakan dengan barang. Dalam kultur patriarki, di mana nilai laki-laki sangat kuat menentukan struktur pemaknaan atas kehidupan, perempuan sepenuhnya adalah milik para lelaki. Di situ, boleh dibilang suku dan adat sinonim dengan laki-laki. Memang, dalam kitab suci Yudeo-Kristiani misalnya, perempuan disebut sebagai partner, namun sebutan itu tidak menjadi pengalaman nyata dalam corak sosio-kultural dan sosio-politik masyarakat tradisional. Bahkan, bisa terjadi bahwa yang paling kuat tertanam dalam kepala orang beragama tentang perempuan adalah femme fatale, ia yang membawa dosa ke dalam dunia laki-laki. Tidak hanya dalam bidang religius. Dalam bidang ekonomi-politik misalnya, masih bisa ditemukan cara pandang yang melihat perempuan sebagai bagian dari penghias laki-laki atau yang dikalkulasi menurut ukuran laki-laki.

Dalam hubungan dengan kapital misalnya, bila dibanding laki-laki, perempuan adalah objek akumulasi keuntungan paling menjanjikan bagi pasar kosmetik-fashion, dengan kurikulumnya, mulai dari lengkung alis sampai model rambut, dari besar pinggang sampai ukuran keindahan betis. Tentang Abang-None Buku DKI, saya pernah iseng bertanya pada salah satu PNS di Perpustakaan Daerah DKI Jakarta, tentang tugas none buku dalam kegiatan pemerintahan. Dengan wajah inosens dan santai, ia menjawab, none buku jadi pendamping pejabat saat berfoto di acara-acara pemerintah. Bisa saja, ini sebuah jawaban konyol untuk pertanyaan yang konyol. Biar demikian, jawaban tersebut sedikit menyingkap logika sosial yang terjadi. Sebab, seperti dituturkan oleh Kristeva dalam Desire in Language (1980:174), dalam jawaban seperti itu, subjek yang berbicara tanpa sadar menempatkan dirinya sebagai subjek suatu kelompok, suatu keluarga, suatu suku maupun suatu bangsa, dan menjadi cerminan alam pikir  masyarakatnya.

dari Noy ke Mey, dan balik ke AKU

Dalam sejarah pemikiran, pembacaan kritis, terutama dari perspektif feminis membuktikan bahwa struktur sosial patriarki dengan ideologinya, ciri koersif dan manifestasi nekrophilik struktur tersebut, selalu hadir dengan sangat gamblang dalam narasi tekstual. Tanpa sadar, teks sering turut mengeraskan ringkusan ideologi yang mengesampingkan perempuan. Bahkan beberapa feminis Barat, melihat bahwa praktik penindasan terhadap perempuan diperkuat melalui ideologi keagamaan. “Hukum bapak” (the law of the Father) menjadi bidang operasional struktur patriarki. Hukum bapak adalah frase psikoanalisis untuk memerlihatkan logika berpikir patriarki yang sangat kuat menentukan struktur pemaknaan terhadap seluruh sendi kehidupan. Setiap hal mesti dilihat dari perspektif laki-laki. Dalam hukum bapak, tatanan simbolik maupun nilai ditentukan melalui posisi dan status laki-laki, dengan perempuan sebagai sosok yang selalu dalam posisi absen. Kita bisa menemukan hal tersebut dalam kultur masyarakat kita yang sangat kuat digerakkan oleh logika ini, seperti nampak jelas pada status om dalam hubungan perkawinan.

Novel Seperti Benenai, Cintaku terus mengalir untukmu, sebagai suatu teks dengan kandungan kulturnya yang kental, dapat dibaca demikian. Maka, dari perspektif feminis tentang keterlibatan publik perempuan, tokoh-tokoh perempuan dalam narasi Fahik dapat dibagi ke dalam tiga kategori:  (1) perempuan yang berpikir dan bersuara, (2) perempuan yang berpikir dan tak bersuara, dan (3) yang tidak berpikir dan tidak bersuara. Kategori pertama, adalah perempuan yang memiliki gagasan dan mampu menyuarakannya, bahkan cenderung agresif. Julia Kristeva menyebut kategori ini sebagai perempuan jenius (female genius). Sosok Mey mewakili kategori ini. Ia visioner, turut terlibat memikirkan persoalan-persoalan masyarakat karena pendidikannya, bahkan berani keluar dari logika patriarki soal pilihan menikah dengan siapa: “[p]ertunanganku ditunda, … aku menundanya (karena) aku masih ingin ke Malaka, menemuimu sebagai orang bebas” (hlm. 126).

Sosok Noy, Uku Mery dan Bete Rany, pada level tertentu adalah perempuan yang memiliki gagasan tetapi tidak mampu bersuara secara publik. Dalam lanskap patriarki, perempuan-perempuan ini hanya memiliki suara secara terbatas, di ruang privat, tepatnya dalam keluarga. Itu sebabnya, sosok Noy dinarasikan sebagai perempuan cerdas, memiliki visi tentang Malaka, namun gagasannya mesti disuarakan melalui yang lain, dalam hal ini melalui tokoh Manek. Posisi ketiga, adalah posisi paling tragis yakni perempuan yang tidak memiliki gagasan sekaligus tidak memiliki suara. Nampak dalam sosok kembaran Manek. Dalam narasi Fahik, sosok ini tidak memiliki nama dan tergantung, bahkan sakitnya menjadi bagian dari penegasan logika patriarki: “[k]embaranmu sekarang mengalami sakit berat usai melahirkan anak pertamanya. Dan ia selalu memanggil namamu. (…) Ritual adat pun sudah dilakukan. Dan leluhurmu di Mutis memang memintamu ke sana. Hanya kehadiranmu yang bisa menyelamatkan nyawa saudarimu. Ketahuilah, ayahmu keturunan bangsawan” (hlm. 100).

Perempuan, kembaran Manek, yang secara tekstual tak memiliki nama, mewakili suatu situasi tak bernama yang tak dapat disebut, tempat berlangsung saling-memengaruhi antara makna dan hasrat (jouissance). Situasi ini mencakup di dalamnya, kematian para leluhur atau kematian ayah dan kehadiran seorang anak. Bagi perempuan itu, mencintai adalah cara untuk memertahankan kelangsungan makna patriarki. Mencintai menuntut pemisahan yang tidak memungkinkan terciptanya jarak, sebab ia akan terus-menerus dihadirkan dengan tujuan memertahankan makna patriarki, yang dikombinasi dengan suatu perjalanan jauh nan sia-sia dari sosok yang tak pernah kembali, tetapi tetap hadir sebagai objek pemaknaan. Hubungan itu nampak dalam narasi tentang bapak yang pergi ke Malaysia tanpa pernah kembali, lalu ibu yang menyusul dan tak pernah kembali. Orang tua di Mutis yang menanti anaknya yang tak pernah kembali, selain cucu perempuan yang diterima dalam rumahnya, dan para leluhur dari balik “gelapnya gunung.” Maka, teriakan kesakitan yang dialami setelah melahirkan, tanpa narasi yang jelas tentang siapa suaminya, adalah “suara sunyi perempuan, yang berhadapan dengan ketiadaan” (Kristeva, 1980: 148).

Oleh sebab itu, bila melihat lebih dalam, sosok kembaran Manek secara metafor, sejajar dengan Malaka sebagai female land. Ini tidak terlepas dari kosmologi masyarakat yang melihat ketinggian sebagai representasi laki-laki dan rendah sebagai representasi perempuan. Dalam kesejajaran tersebut, gamblang terlihat, Mutis sebagai laki-laki, Malaka adalah perempuan. Kerinduan Mutis menjadi bencana bagi Malaka. Bening seperti tetesan embun, tapi dirasakan sebagai amukan pantai Selatan (hlm. 88). Dalam keadaan sakit parah, kembarannya memanggil-manggil nama Manek. Barangkali dalam konteks seperti itulah, Luce Irigaray menulis dalam Speculum of the Other Woman bahwa “dorongan kematian bekerja lewat laki-laki, tidak pernah, dalam setiap keadaan, oleh perempuan. Perempuan hanya ‘melayani’ bekerjanya insting kematian. Laki-laki” (1985:53). Seturut itu, Mey sekalipun memerlihatkan karakter perempuan jenius, tetapi sebagai perempuan-dalam-proses, menurut Kristeva, masih tetap tunduk dalam logika patriarki. Pergi bersama ke Mutis, berarti Mey turut dalam proses penegasan kekuasaan simbolik patriarki. Narasi sosok-sosok perempuan pada akhirnya merupakan narasi tentang Aku, narasi patriarki.

Poetic Patriarchy

Nampak gamblang kalau Fahik membangun dunia kebahasaannya dengan pertolongan legenda dan tempat sebagai dua pilar utama bagi identitas dan kenangan. Ini mengingatkan saya pada Paul Ricoeur, yang menulis dalam Memory, History, Forgetting, bahwa “mengenang adalah mengikat ambisi, (atau) sebuah klaim, sehingga yang hidup sekarang percaya pada masa lalu” (2004:21). Masa lalu dalam novel ini, serupa cermin pemoles wajah patriarki. Masa lalu adalah sumber narsisme patriarki, sumber kelangsungan makna patriarki. Itu sebabnya, Manek selalu menjadikan aliran Benenai sebagai tempatnya meluapkan rindu-dendamnya, karena di situ ia bisa memanggil masa lalu. Tetapi bagi Noy, legenda Benenai adalah sumber ketakutan. Ini memerlihatkan apa yang disebut oleh Kristeva sebagai kekuatan horor suatu teks, bentuk ketakutan yang mewakili sisi tak sadar perempuan yang kuat dibungkus nilai patriarki. Perempuan, seperti kembaran Manek, bukan aktor, bukan pula martir, tetapi “hanya mencoba untuk tidak mengecewakan Ayah” (hlm. 25, 33). Cinta bagi perempuan, tulis Irigaray, adalah kewajiban bukan hak, sebab ia melayani laki-laki (Luce Irigaray, I Love to You, 1996:22)

Seturut itu, dalam narasi Fahik, saya menemukan adanya proses transposisi perempuan, perempuan-sebagai-proses, sebagai titik penting bagi hasrat dan aspirasi patriarki. Noy dan Mey dalam keunikannya masing-masing, mewakili dua aspek perempuan dalam imajinasi patriarki, dan menyatu dalam sosok kembaran Manek, sosok tanpa nama: virginitas dan keibuan. Meneriakkan nama Manek oleh kembarannya, bisa berarti gambaran tentang ketergantungan perempuan pada phallus laki-laki yang ditandai dengan tiadanya narasi tentang siapa suami dan bapak dari anaknya. Noy yang meninggal sebelum menikah menjadi penanda sisi virginitas perempuan, dan pilihan Mey pergi ke Mutis menegaskan penerimaan status keibuan yang mengandaikan virginitas dan kesediaan menderita sebagai perempuan. Mey barangkali adalah jawaban untuk permintaan yang tak terkatakan, doa yang inginkan secara tak sadar oleh Manek (hlm. 37, 64, 85). Mey menjadi pemenuhan ‘objek’ narsisme primer tokoh Manek terhadap ibunya dan terutama tentang Noy dan Malaka.

Kristeva dalam Stabat Mater (1986) menulis bahwa kita hidup dalam suatu kebudayaan di mana gambaran kekudusan keperempuanan ‘mengental’ dalam gambaran tentang keibuan. Jika, kita melihatnya lebih dekat, keibuan adalah fantasi yang dipelihara oleh orang dewasa, laki-laki, sebagai wilayah yang hilang; dan lebih lagi, ia mencakup suatu gambaran keibuan arkais ketimbang idealisasi tentang hubungan yang mengikat kita padanya, suatu ideal tentang narsisme primer. Sehubungan dengan itu, seperti dalam novel Likurai untuk Sang Mempelai (2013), demikian juga di novel ini, saya menemukan jejak yang sama. Fahik tidak dapat melepaskan dirinya dari sebuah kultus objek feminine, yang mana di dalamnya terjadi proses mentransformasi perempuan menjadi “objet a,” yakni objek ideal yang didambakan, sambil itu, samar-samar kita bisa mendengar erangan tragis ketidaksadaran, yakni suara kemalangan perempuan yang dilupakan: Noy yang selalu ketakutan bila mendengar legenda Benenai, dan panggilan dalam kesakitan dari kembarannya.

Untuk itu, subjek yang menulis tidak hanya menulis dari kesadarannya, tetapi juga dari ketidaksadarannya. Dalam lanskap naratif seperti itu, subjek yang menulis tidak ditindas secara semiotik, namun penulis pun tidak sepenuhnya berada dalam jangkauan kesadaran yang lebih luas. Ini adalah area yang dibungkus oleh ideologi dominan: semua sistem mitos dan prasangka memberi kita perspektif tentang masyarakat dan tempat kita dan melalui suatu orientasi spesifik. Cara kita memaknai kehidupan dibingkai oleh penerimaan kita terhadap berbagai cerita masa lalu. Maka, dalam perspektif feminis, bidang imaginer masyarakat tentang Benenai dan Mutis, yang menurut Ricoeur selalu berfungsi membebaskan; yang selalu dihadirkan kembali (re-enactment) melalui tokoh Manek belumlah bersifat subversif terhadap logika patriarki. Jadi, apakah Robertus Fahik sedang menempatkan dirinya sebagai suara patriarki? Jawaban atas pertanyaan ini menuntut kita menelusuri lagi karya-karyanya yang lain.[]


Sintus Runesi, Penikmat Sastra. Dapat dihubungi via email sintusrunesi@gmail.com

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY