Puisi dan Jejak Sunyi Seorang Misionaris

0
151

*) Gusty Fahik

“…
kota yang asing dengan cerita yang pahit
ajari aku mereguk manis deritamu
dalam nyanyian ombak
…”
(Hari Terakhir di Maputo – Jimmy Meko Hayong)

Di Maputo, sebuah kota tepi pantai nun jauh di Afrika, seorang pemuda misionaris menulis bait-bait puisi yang penggalannya saya kutip di atas. Barangkali ia mengalami sebuah perjumpaan dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang lain, yang asing baginya. Ada sebuah kesalingan tersaji dalam kata asing yang dipakai untuk menjelaskan sebuah kota. Ia asing bagi kota itu, seperti kota itu juga asing baginya. Ia dan kota itu punya masa lalu sendiri-sendiri. Dan mereka berjumpa dalam sebuah masa kini yang barangkali hanya sebentar saja.

Persentuhan dengan “yang asing” selalu melahirkan berbagai pertanyaan, yang mungkin tidak semuanya akan terjawab. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul merupakan jalan menuju ketersingkapan. Ini adalah jembatan untuk menghubungkan sang aku dengan dunia yang tersaji dalam kota yang kini ia jejaki.

Perkenalan dengan kota yang asing, membuat sang aku akhirnya tahu bahwa ada cerita yang pahit di sana. Kota asing dengan cerita yang pahit inilah yang kemudian oleh sang aku yang nota bene adalah seorang misionaris muda dijadikan tempat untuk belajar mereguk rasa manis dari sebuah (atau ribuan) derita yang lahir di sana seirama nyanyian ombak. Sang aku ingin mereguk manis dari sesuatu yang pahit di tempat asing. Namun, adakah sesuatu yang manis dirasakan di tengah derita dan kisah yang pahit dalam sebuah kota yang asing?

(Sebuah Upaya) Membaca Konteks, Memahami Teks

Saya sengaja melepaskan bagian puisi ini untuk saya bahas dari keseluruhan puisi yang berjudul Hari Terakhir di Maputo karya Jimmy Meko Hayong. Namun, saya tidak bisa melepaskan teks (baca: puisi) ini dari konteksnya sebab ada pertalian erat antara konteks sang penulis sebagai seorang misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) dengan apa yang hendak disampaikan lewat puisi ini.

Misionaris, pada dasarnya adalah manusia yang selalu berada dalam persinggahan, dan setiap persinggahannya selalu bersifat sementara. Namun, kesementaraan ini memberi bingkai bagi kisah-kisah yang terjadi bersama jejak yang ditinggalkan sang misionaris di tempat ia pernah berada. Jejak dan kisah inilah yang coba diabadikan dalam bait-bait puisi, sehingga dengannya, ada upaya untuk melampaui kesementaraan yang membelenggu sang misionaris itu sendiri.

Jika konteks ini kita pakai untuk memahami penggalan puisi di atas maka akan lebih jelas kelihatan bahwa puisi ini menggambarkan optimisme seorang misionaris ketika berada dalam sebuah persinggahan, jauh dari rumah. Ia seorang asing, yang berharap untuk menemukan sesuatu yang berharga, sesuatu yang manis, ketika kenyataan yang ia jumpai justru sebaliknya.

Namun, kehadirannya sebagai seorang asing, justru menawarka sebuah cara baca baru terhadap kenyataan sehari-hari yang dihidupi dalam sebuah kota. Sebagai orang asing, ia bukan bagian dari kota itu. Ia hanya mendengar kisah pahit tentang derita, barangkali dari sejarah panjang kota itu sendiri, tetapi ia bukan bagian dari semuanya. Ia berjarak dari apa yang kini ia pijak. Keberjarakan ini membuat sang misionaris bisa membaca secara berbeda arti kepahitan dan derita yang dialami dan dikisahkan oleh kota itu dan segenap warganya.

Cara baca yang baru itu digambarkan secara frontal dengan menyandingkan dua kata yang beroposisi langsung yakni pahit dan manis. Ia coba memahami yang pahit untuk mereguk manis, seperti merasakan nyanyian ombak. Debur ombak hanya mungkin didengar telinga ketika terjadi benturan antara air dengan karang atau hamparan pasir. Benturan itu tentu akan mengikis batu karang secara perlahan, menyeret pasir masuk dalam genangan air, dan tentu saja melahirkan kesakitan sekiranya air, karang dan pasir itu adalah makhluk bernyawa yang bisa merasakannya.

Benturan demi benturan yang menimbulkan rasa sakit ini, ternyata juga menghasilkan irama yang digambarkan penulis sebagai nyanyian ombak. Ia mengalun sebagai suara alam, yang pada titik tertentu menggambarkan bahwa alam sejatinya tidak pernah tidur. Alam memiliki irama sendiri untuk menunjukkan kehadirannya meski luput dari perhatian manusia sebagai makhluk yang berkesadaran.

Barangkali pada titik ini pula, sang misionaris menemukan kekuatannya, yakni kesadaran bahwa ia tidak sendirian di sebuah tempat asing. Ia ada bersama dan di dalam alam yang alunan iramanya masih bisa ia dengar sekalipun ia berada dalam ruang yang asing baginya. Nanyian ombak sebagi wujud kehadiran alam, melebur semua unsur yang saling berkelindan sebelumnya; asing, pahit, manis, dan derita. Alam punya daya untuk menjembatani sekaligus meleburkan semuanya.

Jejak Sunyi Seorang Misionaris

Puisi yang ditulis oleh seorang misionaris dari sebuah kota yang jauh mungkin tepat dibaca sebagai sebuah kisah perjalanan, persinggahan dan perjumpaan. Ia coba mengekalkan sesuatu yang sementara, sesuatu yang sebentar lagi akan berlalu, seperti judul puisinya, Hari Terakhir di Maputo. Sebagai sebuah peristiwa nyata, keberadaannya di Maputo sudah akan berakhir, tetapi sebagai sebuah kisah, keberadaannya itu masih akan terus berangsung setiap kali ia membaca puisi yang ia tulis di sana.

 Ia meninggalkan jejak berupa puisi yang sekali waktu akan ia pijak kembali untuk mengenang persinggahan demi persinggahan yang pernah ia alami. Tidak semua persinggahan itu menyuguhkan kisah indah dan pengalaman manis. Ada persinggahan yang memberi derita dan cerita pahit, tetapi sang misionaris dalam kesunyiannya menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ia ada bersama alam yang senantiasa mengalunkan nyanyian abadi tentang kehidupan.

Dari sini, pengalaman sang misionaris bisa ditarik menjadi pengalaman manusia-manusia lainnya. Setiap manusia dalam arti tertentu adalah peziarah yang melintasi persinggahan dunia untuk kembali kepada keabadian. Tentu ada banyak kisah yang lahir dalam periode persinggahan itu, tetapi tidak semuanya akan abadi dalam kenangan dan ingatan generasi-generasi manusia yang datang kemudian. Masing-masing manusia merintis jalannya dan meninggalkan jejaknya sendiri. Kita meninggalkan jejak yang kelak akan dikenang oleh orang lain, seperti sang misionaris yang menuliskan jejaknya dalam untaian puisi untuk dikenali oleh misionaris lain yang suatu ketika akan datang ke Maputo dan mengalami perjumpaan sebagai orang asing di sana. Mungkin ia akan menemukan Maputo dengan kisah yang manis, tetapi ia juga akan tahu bahwa Maputo pernah menyuguhkan kisah yang pahit bagi seorang misionaris yang dulu menjejakkan kakinya di sana.

Penggalan puisi yang saya kutip di bagian awal tulisan ini, menjadi semacam rekaman historis yang sangat pribadi dan sangat subjektif, tetapi memiliki nilai sosial ketika dibaca oleh orang lain selain penulisnya. Memang benar bahwa puisi selalu merupakan ungkapan perasaan pribadi seseorang, tetapi yang pribadi itu bisa bernilai sosial. Puisi bisa menjadi jembatan untuk menemukan jejak-jejak sunyi yang ditorehkan manusia sebagai peziarah dan misionaris di dunia yang selalu bersifat sementara.

Kupang, Januari 2017


Gusty Fahik, penikmat sastra, menetap di Kupang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here