DI METRO NOVOGIREEVO, Puisi-Puisi Milto Seran

0
99
Sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/eb/e5/99/ebe59996b0b1aa110935a713546b260f.jpg

*) Milto Seran

Di Jalan pulang dari Bioskop

Matahari merendah di kaki langit
Perlahan-lahan malam merayap
Meliputi kota yang mulai senyap

Ada rindu untuk pulang
Di mata gadis-gadis malang
Dalam film yang sudah lewat

Tambov, 2015

Hujan dan Kenangan

Kenangan, meski semanis anggur terbaik
dan cokelat termahal, ia bisa dilupakan
tetapi hujan menolongku
mengingat butir-butir air mata yang tercecer
dan kering ditiup angin

Kenangan, meski seindah mawar
Yang harumnya tak sanggup kaujelaskan
Ia tetap layu di hadapan Alzheimer dan
Usiamu yang singkat dilahap waktu

Tetapi hujan menolongku
Mengumpulkan kembali tetes-tetes perasaan yang tiris
Dari atap rumah jiwamu yang rapuh
“Kau tahu dan paham. Hujan dan kenangan adalah kicau burung
Dan pagi yang sunyi.”

Tambov, 2015

LANGITMU

Moscow,
Di langitmu ada rindu
yang sejenak membara
di musim yang sedingin ini

Moscow,
di bawah atap gereja-gerejamu
ada iman dan keraguan di mata
para peziarah yang tak seluruhnya
paham. Di manakah Tuhan bertakhta?

Di surga?
Di gereja-gereja tua?
Di biara-biara nan sunyi?

Oh Kesunyian Agung,
Sentuhlah hati yang dingin
Dengan jemariMU yang hangat
Dengan ilhamMU yang melimpah

Moscow,2016

Di Metro Novogireevo

Gelap sudah turun di Moscow
dengan tas hitam di tangan kiri
Dan iphone silver di tangan kanan

Kau ayunkan langkah sebegitu ayu
Kau masuki kereta di Novogireevo
Di kerumunan padat dalam wagon, kau tahu
Beban yang kau pikul sungguh kejam, sungguh,
sungguh terlalu! Sungguh berat dan menyesakkan

Di matamu yang mulai basah, kau seakan mengutuki hidup
Kau seakan hendak menyudahi semuanya dan menunjukkan
pada dunia; ada hal yang tak termaafkan, hanya kegilaan dan
kematian yang sanggup memberi keterangan tentang air mata
yang sudah timbul, mengalir, membasahi pipi dan bibir

Kaupalingkan wajahmu, kau keringkan matamu yang basah
Sekuat mungkin kau gigit bibirmu bersama hidup yang kejam

Di stasiun Rimskaya
Kau salibkan rasa,
kau yakinkan diri
Kau coba menjadi normal
Tapi langkahmu kian berat

Kau coba ayunkan langkahmu lagi.
Bersama butiran bening di pipimu
dan tisu yang berkali-kali mengeringkannya,
kau merunduk di keramain metro undergorund:

“Hidup bagai desis roda besi dan telinga-telinga
yang memahaminya dengan sabar.”

Kau terus melangkah, berjalan menaiki tangga,
berjubel di tengah kerumunan yang tak peduli
pada duka dan pedih yang tersalib di matamu

“Beban ini kau pikul seorang diri; sungguh
dukamu bukan lukaku. Sungguh mati, gadis
jelita, kau cantik tapi kau sakit. Kau sungguh
wangi, wangi sekali, jadilah sakti!”

Moscow, Januari 2017

Membiarkan rindu bekerja

Di jalan Riyazanskaya
Di malam yang sungguh dingin
Di situ ada yang sungguh tak terpahami

Ada bisikan yang begitu berarti
Ada tetangga yang begitu ingin tahu
Ada rindu yang amat dan tak ‘kan lunas

Di sana di musim dingin yang payah
Kaulagukan rindu dalam nada-nada
Piano tua berusia dua ratusan tahun

Kau nyalakan lilin, setelah sejam lebih
Kau cari sebatang korek api dan kau letih
Melihat rindu melahirkan luka dan pedih

Kau buka jendela dan memandang jalanan
Di situ kaupaham, rindu terus bekerja dan
Kau semiskin itu menaruh benci pada hujan

Ya hujan! Hujan yang tak pahami kulit yang basah
Hujan yang tak peduli pada manisnya ciuman dan desah
Hujan pada malam Januari yang panjang dan bikin resah

Setelah semuanya berakhir, setelah semua itu kausudahi
Rindu bekerja dalam ingatan akan segala detik yang berarti
Dan setiap jengkal hidup yang sudah kaujalani di bawah langit

Moscow, 2017


Milto Seran, sekarang menetap di Proezd Kirova d.6, Moscow. Lahir di Betun (Timor), 14 Juli 1983. Finalis Eagle Awards Metro TV 2014, menulis esai dan kisah perjalanan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY