“Segala Detikmu” Er EL Em

0
124

*) Ezra Tuname

Membaca “Segala Detikmu”, buku antologi puisi Reinard L. Meo alias Er EL Em, seakan memaksa kita untuk berlari melingkar searah jarum waktu. Di situ, diperlukan stamina intelektual yang “jos” untuk bisa sekadar menahan jarum jam, lalu diam melihat apa yang sedang terjadi.

Dalam diam itu, diri sedang menempatkan diri untuk melihat dan memperlihatkan diri. Diam bukan berarti sebuah kematian diri, tetapi berhenti dari ritus dan habitus menuju kematian. Dalam diam, ada refleksi. Dalam diam, juga ada relaksasi dan re-kreasi.

Hidup tak selamanya “zeit zum tot”, melainkan mencari keabadian setelah kematian. Di situlah iman berfungsi sebagai radar yang terus mencari dan mencari selama hayat masih dikandung badan. Iman adalah ungkapan cinta.

Dalam sajak “Segala Detikmu”, Er EL EM sedang membahasakan iman dengan pesona kata yang menjadi kekuatannya. “Aku mencintaimu dengan segala detikmu”. Meksipun iman itu “[L]aksana serpihan kaca yang pantulkan aurah senja”. Iman yang adem, redup dan sejuk; tidak garang, terang dan radikal bak pecinta yang mengebu-gebu mencumbui kekasihnya.  Sehingga diri yang beriman bersembunyi dalam keheningan untuk sekadar bermimpi tentang angin surga yang begitu menggoda dan memabukan.

SEGALA DETIKMU


Mencintaimu adalah anugerah
Seindah cawan bening yang hiasi lemari kayu
Jauh di lorong jiwa ini
Terukir peluhmu
Terpahat betapa aku tak kuasa berpisah darimu

13 Januari 2013, Kuwu-Ruteng     

Menelusuri puisi di atas tentu akan lebih komplit jika disikapi dengan, mengutip Heidegger, “the question of Being”. Pertanyaan tentang hidup berarti bertumpu tanya yang reflektif atas makna hidup itu sendiri. Bagi ER EL EM, boleh jadi, laku “mencintai” bukan saja sesuatu yang terjadi begitu saja dalam keseharian hidup manusia atau sesuatu yang ontis  dalam terma Heidegger, melainkan juga sebuah anugerah.

Sebagai anugerah, cinta itu “seindah cawan bening yang hiasi lemari kayu”. Lemari kayu frasa metaforis yang mengacu pada dunia tempat manusia itu hidup. Milton Fredman menyebut dunia itu datar. The World is Flat. Ada juga dunia itu seperti tabung pesawat luat angkasa dan kita semua berperan sebagai awak. Tetapi dunia tetap saja terasa monoton bila tak ada cinta yang perekat sesama; dunia tetap saja terasa kosong bila tak ada cinta yang jadi penghangat. Menghidupi cinta berarti meminum angur dalam cawan indah itu.

Tanpa menghidupi cinta, waktu di dunia ini hanya berisi kecemasan dan tak berpengharapan. Heidegger menulis itu dengan apik dalam bukunya yang berjudul “Sein und Zeit” (2001). Buku berisi pengalaman dasariah manusia tentang kecemasan (Angst), kekhawatiran (Sorge) dan kengerian (Unheimlichkeit). Semua pengalaman itu adalah cuka yang mudah lebur dan terurai dalam secawan anggur cinta: kasih sayang, kepedulian, toleransi, pengakuan dan lain sebagainya. Tanpa cinta, manusia hanya zombi yang mudah terbakar oleh panasnya terik mentari kehidupan.

Melalui puisi, penyair sedang berjuang menemukan tampakan spiritual dari kehidupan. Pada kata penyair mengekspresikan sesuatu yang terpikir dan rasa jiwa yang tulus. Pikiran dan puisi tentu memang memiliki “identitas” yang berbeda, tetapi setidaknya dengan puisi.  “But precisely because thinking  does not poetize, but is an original saying and language, it must remain  near to  poetry“, demikian tulis Heidegger. Dengan berpikir kita diajak terus berlari, dengan puisi kita menahan kecepatan. Sebab, dalam puisi tarik ulur waktu yang melingkari untuk berrefleksi. Dalam putaran refleksi itu, “yang hidup” baru bisa menyadari segala detik untuk mencintai.

Dalam mencintai itu adalah poros vertikal dan horisontal yang saling ketemu. Manusia mencintai sesama yang ciptaan yang di bumi dan di bawah bumi, dan juga manusia mencintai Penciptanya. Maka, baris “[T]erpahat betapa aku tak kuasa berpisah darimu” bukan sekadar ekspresi romantik, melainkan ungkapan kepada sesuatu yang transenden.

Di situlah letak kepercayaan seorang penyair. Tentu karena ER EL EM adalah seorang yang religius, calon klerus Katolik, yang ontentik menuangkan belenggu dan peluh kemanusiaannya dalam puisi-puisinya. Ah, sebagai manusia muda, penyair kadang seperti “Promoteus” yang mencuri dan (mungkin) bermain “api”: api itu ia berikan kepada manusia yang lain. Tetapi itulah dunia kepenyairan, ada yang membawa api, ada punya yang sekaligus terbakar di dalamnya.

Akhirnya, mari sisihkan waktu untuk membaca puisi dan menggunakan segala detikmu untuk menulis cinta dalam kehidupanmu sendiri. Ubi caritas, Deus ibi est.

 


Ezra Tuname, Pegiat Komunitas Sastra Air Pasang Borong

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY