Kolam Renang, Cerpen Teguh Irawan

0
90

*) Teguh Irawan

Kau menyelam lebih lama dari biasanya, tidak aneh memang. Semenjak kejadian itu kau seakan-akan mendadak menjadi seorang penyelam. Bahkan, kau bisa menyelam lebih lama dari hewan-hewan yang bisa menyelam sesungguhnya.

Sementara menuggumu muncul ke permukaan, aku masih duduk di bibir kolam. Kaki kiriku sengaja aku masukan ke kolam sedangkan kaki kananku tidak, aku suka ketidak seimbangan,tidak seimbang selalu mengajarkan banyak hal.

Kau masih belum muncul juga, aku bersiul, mendengdangkan lagu Ebit: lagu kesukaanmu.  Dan lirik yang paling kau suka adalah ‘mengapa di tanahku terjadi bencana?’ menurutmu tanah dalam lirik itu berarti manusia. Manusia adalah sumber dari segala bencana, katamu juga.

Waktu itu kau bahkan sempat berpendapat harusnya Tuhan menciptakan makhluk selain manusia saja. Dan aku hanya menjawab ‘mungkin Tuhan sedang bosan, atau Dia memang khilaf telah menciptakan manusia.’

Kakiku terasa kesemutan, aku kemudian beranjak dari bibir kolam meraih handphone dan memeriksa beberapa pemberitahuan yang telah ku lewatkan.

Saat sedang menatap layar handphone, aku tiba-tiba teringat perkataanmu, kau berkata tentang orang-orang sekarang mungkin menganggap hidup mereka sedemikian penting, hingga kemudiann mereka selalu mengabarkan tentang keadaan mereka, tentang kesehatan mereka, tempat yang mereka singgahi dan kondisi lainnya. Kau berkata, sebenarnya tak ada yang ingin benar-benar tahu kondisi kita, kita hanya mencoba menghibur diri kita yang kesepian, dan semakin kita mencobanya semakin tebal juga rasa kesepian yang menyelimuti kita.

Ada benarnya juga. Tiba-tiba ku ingin tertawa mengingat itu. Tapi, apapun itu, melihat keadan orang lain dengan apapun medianya adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Menurutku diantara semua orang, jenis orang yang paling menghibur orang yang selalu mewartakan keadaannya adalah salah satu jenis di dalamnya.

“Kau ingin minum apa?” Aku tinggikan suaraku agar kau mendengar, walaupun tak mendapatkan hasil.
“Hey, kau mau minum apa?” tanya ku lagi, sedikit berteriak.
“Oke, aku akan buatkan sirup rasa jeruk saja.” Aku akhirnya menyerah.

Kau sepertinya sedang asyik sekali. terakhir kali saat kutanya hendak minum apa, kau langsung menjawab ‘air jeruk dengan rasa manis dan asam yang pas.’ Sampai saat ini aku masih belum tahu kenapa kau begitu suka dengan minuman rasa jeruk. Tetapi, kalau tidak salah kau pernah bilang bahwa minuman jeruk adalah hal yang aneh tapi nikmat, sesuatu yang berbeda: asam dan manis digabungkan menjadi satu.

“Kau suka sesuatu yang adil?” saat itu kita sedang berada di sebuah cafe, dan kau menjelaskan tentang es jeruk itu.
“Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang adil” kau menjawab.
“Tahu dari mana?”
“Mudah, lihat saja ikan yang sedang berenang” kau menjawab datar.
“Tidak ada hubungannya sama sekali” kataku. Percakapan itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Dan kini aku sedang membuatkan minuman itu sembari menunggu kau muncul ke  permukaan.

Aku kembali, membawakan dua gelas sirup rasa jeruk. Sebenarnya aku tak terlalu suka dengan jeruk, tetapi semenjak sering bersamamu kumulai terbiasa. Seperti cinta dan kebahagiaan, kebiasaan ternyata bisa ditularkan juga.

Kau masih belum juga muncul. Atau kau mungkin muncul saat aku membuat minuman ini lalu sebelum aku kembali kau sudah menyelam lagi.

“Hey, ini minumannya” aku meneriakimu di dalam kolam dan kemudian dengan sedikit tertawa “Oh iya, aku sekarang tahu kenapa kau menyebut ikan adalah produk ketidakadilan. Karena ikan tidak punya kaki, kan?”

Kau tidak menjawab lagi, dan aku mulai sedikit jengkel.

Kau jarang membuatku marah, pernah sesekali. Waktu itu kau bertanya seandainya kita menikah dan kau ingin menikah lagi apakah aku akan menyetujuinya. Aku memilih tidak menjawab, dan kau tahu aku marah. Lalu kau bertanya lagi, apakah aku akan setia kepadamu dengan apapun yang terjadi. Dan aku hanya menjawab dengan mendendangkan lagu Beatles: Michelle.

“Kau tak dingin?” tanyaku setelah sadar kulit telapak tanganku mulai mengeriput karena terlalu lama terkena air.

Percuma, kau sepertinya memang sedang asyik-asyiknya menyelam: kau tak menjawab lagi.

Aku duduk sembari meminum sirup jeruk yang tadi kubuat. Saat sedang duduk, tiba-tiba seseorang pria datang menghampiri.

“Sayang, sedang apa?” dia bertanya kepadaku, aku enggan menjawab. Ku hanya melirik ke arahmu, ke dalam kolam.
“Sudah malam, kau sendirian berenang. Kau bisa sakit” dia sembari menyelimuti handuk ke tubuhku.
“Aku tak sendirian” aku akhirnya menjawab dan dia hanya menatapku seperti biasanya, tatapan memelas. Tatapan yang biasa ditunjukan oleh pengguna jalan raya ketika melihat kucing yang mati tertabrak.

Saat aku seolah-olah sedang dihakimi oleh pria itu kau tiba-tiba muncul ke permukaan. Syukurlah batinku. Aku merasa benar, karena aku memang tak sendirian, aku berenang bersamamu malam ini.

“Lihat itu, kubersamanya sejak tadi” jawabku lagi dengan nada membentak.

Pria itu masih menatapku dengan raut wajah yang sepertinya ingin menangis. Aku berpaling melihat ke arahmu, kau hanya tersenyum.

“Sedang apa kau di sini?” tanyaku kepada pria itu, aku merasa kehadirannya telah mengganggu waktu kita.

Dia kemudian sedikit menjauh, menjangkau saku celananya kemudian menghubungi seseorang dan siapapun itu aku tak akan peduli.

“Lama sekali kau menyelam, aku sudah kedinginan. Sudah malam juga” aku menggosokan handuk untuk menghangatkan tubuhku dan semabri menatapmu dengan rasa gembira.

Kau tak menjawab, hanya berdiri dan tersenyum kepadaku, mungkin kau terlalu kedinginan karena terlalu lama menyelam.

Sementara itu samar-samar aku mendengar pembicaraan telepon pria tadi, dan sepertinya aku tahu bahwa dia telah menghubungi dokter tua itu lagi.

Beberapa waktu lalu Dokter itu pernah ke sini dan menanyaiku macam-macam. Terutama tentangmu.

‘Dia seorang penyelam’ jawabku ketika dokter tua itu bertanya tentangmu.

Terakhir yang ku ingat, kau memang seorang penyelam, kau pernah menceburkan diri ke laut melalui tebing.

Saat itu kau tahu aku akan menikah dengan orang lain, kau bilang pria yang akan ku nikahi adalah pria yang menyebalkan, dan aku setuju denganmu. Dia selalu memanggil dokter dan selalu menatapku seakan-akan aku tidak waras. Dan saat kuperlihatkan undangan pernikahanku kepadamu, kau tiba-tiba saja mengajakku ke tebing dan mencoba untuk meloncat ke laut melalui tebing itu.

Tentu saja aku melarangmu, tapi kau memang keras kepala. Kau akhirnya meloncat juga.

Beberapa hari berikutnya aku melangsungkan pernikahan dan kau namamu masuk di kolom berita karena, menurut orang-orang setelah melompat kau belum juga muncul ataupun ditemukan, kata mereka kau hilang.

Sampai saat ini aku tidak mempercayai dan tak peduli dengan berita itu. kau tak pernah benar-benar hilang, buktinya kau selalu berenang dan menyelam bersamaku di kolam ini, dan malam ini kau muncul sembari tersenyum kepadaku. Syukurlah.

Teguh Irawan. Alamat Jl dermaga baru no.46 klender jakarta Timur. Akun Medsos : davitteguh@yahoo.co.id (facebook) @viuepheiraxa (twitter). Suka membaca dan menulis agar mendapat kebahagian, walalupun belum pernah mendapatkannya melaui jalan itu. Mahasiswa tingkat akhir di salah satu univ swasta di Bekasi.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY