*) Risto Jomang

Dia terus mengigau saja. Setiap malam, dia terbangun. Entah sejak kapan dia memulai ritual anehnya itu, yang pasti setiap jam yang sama pada pertengahan mimpi-mimpinya, dia akan terbangun, seakan mendengarkan emaknya yang sedang bercerita, seperti malam-malam yang lalu itu. 

“Ma, dimana kau?” tanyanya.

Masih diingatnya dongeng-dongeng emaknya. “Nak, andaikan saja dulu tak ada Tuhan yang mau mendengar doa kita, ah! Tak terbayangkan sulitnya hidup yang harus kita jalani…”. Lalu emaknya mulai bercerita tentang negeri titipan dewa yang kaya akan segalanya, tentang betapa bahagianya mereka itu. “Nak, banyak, terlalu banyak yang iri pada mereka, pada kekayaan mereka.” Emaknya bercerita pada anak-anaknya tentang dongeng-dongeng yang indah yang katanya didengarnya dari kakek-neneknya. “Kalau kau besar nanti, pergilah kesana nak, ke negeri itu, entahlah aku tak tahu namanya…”. Emak mereka terus bercerita. Semuanya diam mendengarkan. Anak kecil itu, juga kakak-kakaknya, tak pernah tahu bagaimana akhir dari setiap dongeng emak mereka. Yang mereka tahu, dongeng-dongeng itu hanya sampai disitu, sampai dikalimat terakhir yang mereka dengar, sebelum mereka tertidur. Sementara emak mereka terus bercerita, mungkin sampai cerita itu selesai. Tak ada yang tahu.

Dia mulai mencari emaknya. Pikirnya, mungkin di dekat tungku api, mugkin diantara kakak-kakaknya, atau mungkin di ujung kampung kecil itu, sedang menyembah batu besar yang selalu memberikan mereka sesisir pisang, yang kemudian dimasaknya untuk makan esoknya. Mereka tak pernah tahu, bahwa pisang itu adalah persembahan warga kampung sebelah yang pulang bertani sorenya, dan para petani itu tak pernah tahu, bahwa pisang itu diambil oleh emak mereka. Yang mereka tahu, Tuhan mereka mahabaik, menerima doa dan persembahan mereka.

Anak kecil itu mencari lagi, mungkin di sampingnya, sedang membentang sarung untuk kakak-kakaknya, mungkin… segala kemungkinan dipikirkannya. Dia masih ingat, dongeng emaknya tentang pemakan manusia yang berkeliaran malam-malam di kampung mereka. “Nak, jangan menangis kalau kau kedinginan, nanti dia akan datang, memakan setiap orang yang menangis…”. Emaknya mungkin masih terus bercerita, tapi hanya itu yang diingatnya. Bahwa dia tidak boleh menangis. Dia tahu, dan kakak-kakaknya juga tahu, emak mereka tak pernah memakai sarung setiap malamnya, dia membentangkan sarung satu-satunya yang mereka miliki, menyelimuti anak-anaknya, dan membiarkan dirinya diserang oleh dingin, yang memukulnya, memakinya, membunuhnya, memakannya, asal anak-anaknya terlindungi.

Setiap kali ingin tidur kembali, dia akan menatap kakak-kakaknya, “Dimana kau, ma? Aku ingin dongengmu…”. Dia berbisik perlahan dalam diam, takut kakak-kakaknya bangun. Tak lagi dirasainya dingin yang menusuk hatinya, tak disadarinya, dingin itu adalah kulitnya, yang melekat erat pada tubuhnya.

 “Ma, kapan kau mendongeng lagi?” Dalam tidurnya yang kedua malam itu, dia mengigau lagi. Betapa besar rindunya pada dongeng-dongeng emaknya, dongeng yang selalu membuatnya terlelap, dongeng yang mengubah dingin menjadi kehangatan pada kulitnya. Dia belum pernah mengenal emaknya dengan baik. Yang dia kenal, perempuan tua dengan wajah tenang yang selalu mendongeng untuknya dikala malam tiba,  yang selalu bilang padanya, “Tidurlah nak, menuju malam yang indah. Bawalah dongengku kedalam mimpimu,” dipanggilnya “emak.”

Dia perlahan tertidur. Sayup didengarnya dongeng yang mengalun indah dari emaknya. Akhirnya dia terlelap juga, dibungkus kain yang telah usang itu. Sebenarnya tak ada ritual dongeng lagi, dia mendengarkan imajinasinya sendiri. Malam itu, dia tertidur tanpa iringan dongeng emaknya. Dia terlelap juga, mungkin karena bisikan emaknya kemarin, Nak, aku bisa mendongeng dalam mimpimu.” Kata terakhir yang didengarnya dari emaknya, sebelum emaknya pergi pagi kemarin, pergi mendongeng dengan kesunyian, mendongeng dengan jangkrik dimalam buta, mendongeng dengan tanah yang menelannya. Pagi kemarin, dia menatap aneh pada tumpukan tanah di belakang rumahnya. Sempat dia merasa kehilangan, kehilangan emaknya, atau mungkin kehilangan dongengnya, karena dia lebih mengenal dongengnya daripada emaknya.

***
Anak kecil itu bangun dari tidurnya. Bukan karena nyanyian emaknya dikala menghidupkan api, bukan karena panggilan emaknya, tetapi karena panasnya sinar matahari yang masuk melalui jendela yang tak berpenutup.

Kakak-kakaknya belum juga bangun.
Tak ada sesuatu yang bisa dimakan.

Dibangunkannya kakak-kakaknya, tak ada yang bergerak. “Mungkin dengan tidur, laparku akan hilang,” pikirnya. Dia mulai mencari-cari emaknya, diantara kakak-kakaknya, tak ada. “Ma kapan kau mendongeng lagi? Aku ingin dongengmu. Aku ingin tidur bersama kakak-kakakku. Ma, beri aku sebuah dongeng lagi…” Kala itu, dia tidak tahu, bahwa kakak-kakaknya, serta pendongengnya, tidur untuk selamanya…(*)


Risto Jomang, Siswa kelas XI IPS, SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur. Anggota Sastra BeKaS (Bengkel Kata Sanpio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here