Milaria Berduri, Cerpen Khadijah Abbas

0
93

*) Khadijah Abbas

Berhari-hari Milaria duduk di samping jendela kamarnya, memandang lepas pada kotak-kotak pot berisi Mammillaria Elongata di teras luar. Ia bahkan lupa waktunya makan. Hingga merasa benar-benar lapar, baru ia beranjak menuju dapur Ibu. Pot-pot bundar kecil itu berisi kaktus yang beberapa pohonnya sudah menguncup bunga, dengan tanah bercampur pasir yang terlihat gembur dan terawat. Ia memandang kaktus itu dengan perasaan geram namun tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, mungkin karena kaktus-kaktus itulah nasibnya menjadi seburuk pohon berduri itu.

Nenek sudah berkali-kali menegurnya agar Milaria berhenti duduk di dekat jendela. Bahkan, Nenek mengancam Ibu agar membuang tumbuhan berduri itu. Semua itu agar Milaria berhenti menjadi manusia patung di dekat jendela kamarnya. Namun, tentu saja Ibu menolak keras-keras anjuran Nenek. Ibu sudah terlanjur mencintai kaktus-kaktus itu hingga memberi nama anaknya serupa tumbuhan itu.

Tentu saja Milaria tidak pernah benar-benar mencintai tumbuhan itu, seperti cinta ibunya pada Mammillaria Elongata. Milaria sering bergidik sendiri menyadari ibunya mencintai bunga berduri, bunga yang bukan tidak mungkin membuat jemari seseorang berdarah bila tidak hati-hati ketika menyentuhnya.

Namun, sejak beberapa peristiwa besar yang membekas di hatinya tempo hari di sekolah, Milaria tiba-tiba mengalihkan ingatan peristiwa itu pada pot-pot Ibu. Gara-gara hobi barunya itu, Milaria bolos ke sekolah berhari-hari.

Dua minggu pasca Milaria mendekam di kamarnya, tiga bocah yang mengaku sebagai teman dekatnya datang dan bilang pada Nenek bahwa mereka ingin membujuk Milaria agar kembali ke sekolah, mengajaknya untuk belajar bersama mereka lagi. Sebelum ketiganya berhasil menemuinya, Milaria melihat tiga temannya itu memasuki pagar rumahnya. Buru-buru Milaria mengunci pintu kamarnya berikut jendela kamarnya dengan rapat. Kemudian ia kembali duduk di samping jendela kamarnya. Kali ini ia tidak memandang lekat kaktus kesayangan ibunya, melainkan kaca jendela kamarnya yang sudah cukup berdebu.

“Mereka datang untuk menemuimu, Mil!” suara Nenek terdengar lebih lirih daripada biasanya.

Tidak! Mereka pasti pura-pura bersikap baik di depan Ibu dan Nenek. Pura-pura mengatakan Milaria adalah anak yang manis dan mereka sangat kangen padanya. Padahal itu sama sekali tidak benar. Ah..tapi, apa pedulinya Ibu, gumam Milaria dalam hati. Ibunya lebih mementingkan kaktus-kaktus berduri itu, lebih mementingkan dirinya sendiri. Berangkat kerja pagi-pagi sekali. Pulang-pulang, menyapa kaktus-kaktus bodoh yang hanya bisa membuat orang terluka. Sementara Milaria mengasingkan diri, hingga ia terkadang merasa jenuh berada di setiap sudut di dunia ini. Di sekolah, di rumah, di lapangan desa tempat biasa teman-temannya bermain sore hari. Dunia terasa menusuk, seperti duri-duri kaktus yang sudah tumbuh mengelilingi sekeliling serambi rumahnya.

“Mil! Buka pintu kamarmu! Mereka ingin menjengukmu. Mereka mencemaskanmu karena kau tidak ke sekolah!” terdengar teriakan Nenek lagi. Milaria tidak menjawab.

Sebenarnya, ia ingin sekali memuntahkan akar-akar yang tumbuh di kepala dan di dadanya. Tapi, ia sendiri khawatir mereka akan tertusuk oleh kata-katanya yang berduri. Mana mungkin Ibu dan Nenek percaya kalau mereka sering melukai Milaria di sekolah? Mereka yang telah membuat perasaan Milaria sakit hingga bertahun-tahun di sekolah, hingga Milaria memutuskan menyepi di jendela, mengalihkan pikirannya pada pot-pot berduri milik Ibu. Tidak. Ibu dan Nenek tidak akan pernah mempercayaiku kalau mereka pura-pura bersikap baik pada Milaria.

Setiap kali guru Milaria mengabsen namanya di sekolah, nyaris seluruh teman-temannya memandangnya dengan sorotan jijik. Lalu mereka saling berbisik dengan teman di sampingnya. Berikutnya, saat jam-jam istirahat, teman-teman akan mengoloknya dengan memanggilnya si jadah atau anak jadah yang tak memiliki Ayah dan Ibu.

Milaria sudah pernah membantah bahwa ia mempunyai orangtua, hanya saja kata Nenek, ayahnya pergi ke suatu tempat yang jauh untuk mencari satu pekerjaan, namun ajal menjemputnya. Tapi, teman-teman tdak pernah mempercayainya, mungkin karena Ibu tak pernah mau mengantarnya ke sekolah. Memang, ibunya tidak pernah mau mengantarnya ke sekolah. Sampai menangis pun, Ibu tidak akan pernah mengantarnya ke sekolah. Tapi, meski begitu Nenek selalu menjadi malaikat penyelamat Milaria saat kehidupan terasa menjepitnya.

***

Pada pagi-pagi buta, Milaria terbangun dari tidurnya dengan keringat yang mengalir deras di dahi dan sekujur tubuhnya. Ia bermimpi di sekeliling rumahnya tumbuh kaktus berduri, bahkan di lantai rumah (kecuali lantai kamarnya) penuh kaktus-kaktus. Tentu saja ia tak bisa keluar kamar. Ia tak mau kakinya berdarah gara-gara Mammillaria Elongata itu. Namun, dari pintu kamarnya, ia melihat ibunya yang menampakkan rona wajah bahagia, sambil bersenandung kecil, Ibu melangkah seperti biasanya di lantai rumah, menginjak kaktus-kaktus berduri itu, namun sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa kakinya terluka. Bila saja terluka, tentu saja Ibu tidak akan bersenandung dan sebahagia itu.

Milaria terbangun dari tidurnya saat dalam mimpi itu terdengar teriakan Nenek dari pintu depan karena kaget dengan ulah Ibu dan mendapati kaktus-kaktus tumbuh di lantai rumah. Terbangun, Milaria beranjak dari tidurnya sambil menyeka keringatnya. Ia kemudian menyalakan lampu kamar. Semoga saja mimpi itu datang karena gelapnya ruangan. Berkali-kali Milaria meminta agar ibunya tidak mematikan lampu kamarnya saat ia sudah terlelap. Tapi, Ibu tetap saja melakukan hal itu. Ibunya pernah mengatakan bahwa dengan terbiasa gelap, manusia mampu merasakan nikmatnya cahaya. Ah, tapi Milaria tak peduli. Kegelapan sering membuat dadanya sesak dan pikirannya muram.

Beberapa menit setelah cahaya menyeruak dinding kamarnya, Milaria tersadar bahwa ada sesuatu yang aneh yang menempel di kepalanya. Kepalanya terasa berat. Ia sama sekali tidak merasa pusing, tapi berat. Ia merasa ada sesuatu yang bertengger di atas kepalanya hingga ia merasa tertekan.

Ia segera melangkah ke cermin yang menempel di permukaan lemarinya. Kedua mata Milaria terbelalak melihat permukaan kepalanya ditumbuhi Mammillaria Elongata. Tidak. Ia sama sekali tidak merasa sakit. Tapi, tentu saja ia merasa ngeri dan bergidik sendiri melihat duri-duri tajam tumbuh di kepalanya.

Ini pasti gegara Ibu menamaiku Milaria! Gerutunya dalam hati.

Milaria ingin berteriak, namun kedua mulutnya tak bisa mengeluarkan suara. Ia mengharap ini mimpi belaka, namun ia mencubit kedua pipinya dan merasa sakit. Tidak! Ini bukan lanjutan mimpi beberapa menit yang lalu, bantahnya sendiri.

“Hei, kaktus. Mengapa kau tumbuh di kepalaku? Menyingkirlah!” teriak Milaria.

Kaktus-kaktus itu menggeliat, bergerak begitu lirih dan mendadak kepala Millaria seperrti tertusuk-tusuk. Anehnya, tak ada setitik darah pun yang mengucur, namun sekarang rasa sakit itu terasa sekali.

“Pergilah, kau Millaria!”
“Tenanglah, aku hanyalah kaktus cantik yang ingin berbagi kehidupan di kepalamu. Bersabarlah hingga akhirnya aku luruh.”
“Tidak!! Pergi!”

Kaktus-kaktus itu hanya menggeliat-geliat pelan. Millaria geram dan menggerak-gerakkan tubuhnya, berharap si kaktus merasa tak nyaman bertengger di kepalanya.

Beberapa menit kemudian, perlahan rasa sakit itu menghilang. Namun, dari cermin, ia masih melihat kaktus-kaktus itu bertengger, beberapa mulai menguncup bunga.

Milaria mencoba membaringkan tubuhnya di atas kasur, memejamkan kedua matanya. Berharap kalau semua itu hanyalah mimpi atau ilusi belaka. Ia memejamkan mata sementara adegan mimpi tadi kembali datang, mendesak-desak pikirannya.

***

Seorang lelaki dan perempuan sedang duduk di bangku taman. Di sekeliling taman itu tumbuh pohon mawar merah berduri tajam. Angin mendesah halus di antara daun-daun pohon mangga.

“Lebih baik kita berpisah. Aku tak bisa hidup dengan kerumitan akar-akar yang selalu tumbuh dalam otakmu. Kita memang berbeda,” ujar si lelaki dengan penuh penyesalan.

“Lalu bagaimana dengan malaikat kecil dalam perutku ini? Apakah kita benar-benar akan berpisah hanya karena keteraturanku dan kesederhanaan pola pikirmu itu?”

“Ia tetap anakku, tentu saja,” ujarnya tenang, seakan tak pernah melakukan hal istimewa apapun pada si perempuan. Kemudian, si lelaki mengulurkan sebuah pot kecil berisi Kaktus dengan bunga yang sedang menguncup.

“Tumbuhan ini akan menjadi mainan terbaik bagi anakku, kelak saat ia lahir ke dunia.”

Si perempuan meraih pot itu, menatapnya dengan nanar. Bila saja bukan karena perpisahan itu, barangkali ia tidak akan pernah mencintai Mammillaria Elongata seperti cintanya pada lelaki yang telah membuat pilar-pilar hatinya terluka.[]


Khadijah Abbas, perempuan Sagitarius kelahiran Sumenep Madura, 1989. Seorang bibliophile dan pecinta warna coklat. Tercatat sebagai anggota Kampus Fiksi Diva Press angkatan ke-16. Beralamat di Annuqayah Sabajarin Guluk-Guluk Sumenep Madura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here