Menguak Identitas Bertha, Cerpen Ken Hanggara

0
59

*) Ken Hanggara

Bertha sering memberiku tumpangan, tetapi aku tidak pernah tahu di mana rumah gadis itu. Ia hanya bilang, “Di suatu tempat yang tidak pernah kamu pikirkan.” Tentunya aku semakin penasaran, apalagi sering saat aku kehabisan bus atau taksi, karena pulang kemalaman, tiba-tiba dia lewat dan berhenti begitu saja sembari membuka pintu depan mobilnya dan berkata, “Ayo, kuantar!”

Pertama kali Bertha memberiku tumpangan kira-kira setahun silam, dan pada saat itu kami belum saling mengenal. Dia berhenti begitu saja karena melihatku berdiri diam di pinggir jalan, dan membuka pintu depan mobil dan bertanya ke arah mana rumahku. Aku bisa mengantarmu, katanya waktu itu. Karena sama-sama perempuan, kupikir aku bisa menumpang mobilnya. Sejak itu, bantuan berupa tumpangan gratis selalu gadis itu berikan setiap aku kesulitan mendapat kendaraan.

Aku tidak bisa beli kendaraan pribadi, karena segala biaya hidup sudah membuatku kepayahan. Pekerjaanku sendiri tidak terlalu memberi jaminan, bahkan untuk dua bulan ke depan, karena uang yang kuperoleh tergantung dari seberapa gencar usahaku dalam menjual sendok dan garpu. Ya, itu pekerjaanku, sales alat-alat makan. Bukan pekerjaan baik sebagaimana yang disandang Bertha, meski dia tidak pernah mengaku. Mobilnya selalu berganti-ganti setiap kali kami ketemu dan aku rasa Bertha ini wanita karier yang berpenghasilan besar.

Aku tidak pernah benar-benar tahu siapa Bertha, meski lumayan akrab dengannya. Ia orang yang mudah bergaul dan melebur ke lingkungan jenis apa pun. Segala macam topik obrolan dikuasainya, sehingga kadang aku cemburu; bagaimana mungkin di dunia ini ada orang seperti Bertha dan sekaligus ada juga yang sepertiku?

Aku pikir Tuhan memang senang keberagaman dan mewarnai dunia ciptaan-Nya dengan hal semacam itu. Maksudku, aku yang bergaji kecil dan punya sedikit teman ini, berbanding terbalik dengan Bertha yang kaya raya dan kurasa memiliki banyak teman dari caranya berbicara. Dan, pada suatu kesempatan yang ganjil, kami bertemu sebelum akhirnya menjadi teman.

Aku tidak pernah mendapat teman dengan cara seaneh ketika aku mengenal Bertha. Memang begitulah kenyataannya. Malah, sejauh yang dapat kuingat, teman-teman yang kupunya selama ini mengenalku karena akulah yang lebih dulu berusaha. Misalnya, ada seseorang yang tidak akan bicara dengan orang asing, kecuali orang asing itulah yang memulai percakapan. Nah, teman-temanku kebanyakan lahir sebagai tipe manusia yang macam ini. Sayangnya, usahaku menghampiri mereka dan kesadaran bahwa aku harus datang untuk mengenal beberapa orang, adalah karena kondisi di sekolahku saat itu tak memungkinkan jika harus dijalani sebatang kara, dan mereka yang kuhampiri itu kutahu adalah orang-orang kesepian yang tak akan berteman dengan siapa pun jika tidak ada yang menyapa.

Semua itu sangat jauh berbeda dengan ketika aku mengenal Bertha.

Pekerjaanku yang mengharuskan keliling dari pintu ke pintu di beberapa sudut kota membuatku harus memaksa diri untuk bicara lebih banyak ke orang asing. Itu memang membantu, tetapi tidak membuatku yakin dapat mengubahku yang dilahirkan sebagai pendiam. Jadi, ketika tidak ada kendaraan sama sekali, aku merasa yakin bahwa malam itu aku harus tidur di tempat terbuka, sampai pagi, dan berharap tidak ada rampok atau pemerkosa. Aku tidak akan bisa mengetuk pintu rumah orang dan bertanya, “Boleh saya numpang semalam?” Aku tahu yang seperti itu tidak mungkin terjadi. Dan selalu cemas akan terjadi suatu hari saat aku sedang sial.

Perusahaan tidak menyediakan kendaraan apa pun untuk para sales. Mereka hanya memberikan fasilitas berupa mobil van yang mengantar kami ke suatu lokasi yang baru, dan membuat laporan penjualan esoknya, sejam sebelum kami diangkut kembali dengan mobil van yang sama ke daerah lain. Itu artinya, di akhir hari, kami harus pulang oleh usaha sendiri.

Aku selalu bisa pulang lebih awal, jika aku mau. Aku bisa pulang jam tiga sore dan tak perlu cemas kemalaman, tetapi ada saatnya pikiran begini muncul: aku kehabisan uang dan tak dapat memenuhi segala kebutuhan dasar dan akhirnya aku mati atau malah terpaksa berbuat kejahatan demi bisa mengisi perut. Ini mendorongku untuk lebih rajin mengetuk pintu dan menawarkan dagangan perusahaan yang tidak terlalu menarik minat orang, demi mendapat komisi lebih. Semakin banyak komisi, semakin besar uang yang dapat kusimpan demi bernapas lega.

Suatu ketika, aku lupa jam sudah terlalu malam, dan baru sadar ketika perutku tiba- tiba perih, karena belum makan sejak siang. Saat itu bus sudah tidak lewat, dan tidak ada satu pun taksi yang bisa kutumpangi. Memang lebih baik naik bus, karena itu lebih murah, tapi pikiran bahwa aku harus segera pulang, membuatku terpaksa harus melihat taksi sebagai satu-satunya jalan keluar. Pada saat itulah Bertha mendadak lewat, dengan mobil mewahnya, melintas tepat di jalanan sepi di seberang tempatku berdiri. Dia tidak banyak bicara selain bertanya di mana aku tinggal, dan begitulah bagaimana awal mula kami berteman.

Aku selalu mencari peluang untuk menelusuri identitas Bertha, yang kuyakin tidak pernah menunjukkan jati dirinya. Tetapi, usaha itu tidak pernah berhasil. Bertha tertawa saat kudesak dia untuk menjelaskan di mana sebenarnya dia tinggal dan bagaimana bisa dia percaya dapat berteman dengan orang sepertiku. Aku benar-benar ingin tahu, karena dia sudah baik padaku. Barangkali suatu hari nanti aku bisa membalas kebaikannya.

Tapi, Bertha cuma bilang, “Yang kulakukan untukmu tidak harus kaubalas. Cukup sudah pertemanan ini sebagai balasan, dan malah semua ini jauh lebih baik daripada apa pun.”

Aku tidak bisa menyahutnya dengan kalimat apa pun, tapi perasaanku tidak pernah bisa tenang sebelum Bertha memberiku jawaban yang ingin kutahu. Lagi pula, ia terlalu sering membantu. Ia seakan selalu tahu saat aku lupa waktu dan tak bisa segera pulang karena kehabisan bus atau taksi. Ia seakan punya banyak kamera pengawas di beberapa sudut kota, sehingga selalu tahu kapan saatnya aku bisa pulang sendiri dan kapan saat aku tidak dapat pulang kecuali oleh tumpangannya.

Karena inilah, suatu malam aku sengaja berlama-lama. Hampir tengah malam, saat tidak ada kendaraan apa pun di daerah yang kusambangi, mesin mobil Bertha selalu terdengar dari jauh, dan aku tahu saat itu bantuan untukku datang. Namun, malam itu, ketika suara mobil Bertha terdengar, aku siapkan diri untuk benar-benar tidur di tempat terbuka, di halaman rumah warga, yang memang seharusnya sudah terjadi sejak setahun silam. Aku kira, ini saatnya Bertha menjawab semuanya. Aku tidak akan menumpang jika dia tidak memberi penjelasan tentang identitasnya. Aku ingin memberinya balasan, walau tahu barangkali semau itu tidak ada artinya. Aku tahu Bertha punya banyak uang.

Bertha tersenyum murung saat ancamanku benar-benar kusampaikan. Ia membuka pintu depan mobil seperti biasa, dan menungguku naik, tapi yang kulakukan hanya diam di tempat seakan-akan mobil mewahnya belum datang.

“Kenapa sih?” tanya Bertha heran.
“Aku hanya akan naik kalau kamu jawab semua rasa ingin tahuku,” kataku.

Butuh beberapa menit untuk kami berdebat, tetapi akhirnya gadis itu menyerah dan ia putuskan mengajakku mampir sebentar ke rumahnya. Bertha mendadak terlihat beda dan murung; selama ini aku tahu dia periang dan mudah cair dalam setiap suasana, tapi malam ini sungguh lain.

Bertha tidak bicara sedikit pun, kecuali menyinggung soal tempat tinggalnya yang katanya tidak akan pernah aku pikirkan. Selama ini aku membayangkan rumah Bertha amat sangat besar, dan mungkin kalimat tidak akan pernah aku pikirkan amat tepat pada saat apa pun, karena memang aku belum pernah tinggal di sebuah rumah mewah, dan itu memang wajar.

“Jangan dikira aku tidak tahu,” kataku dengan nada mencairkan suasana, “yang kau bilang selama ini soal tidak akan pernah kau pikirkan sudah pasti memang tidak pernah. Hidup kita berbeda dan pertemanan ini terjadi begitu saja karena kerendahan hatimu.”

“Bukan soal itu,” tukasnya pendek. Tapi akhirnya obrolan terhenti. Bertha meminta kami diam saja, sebab dia harus berkonsentrasi melewati jalanan berlubang yang di sisi kanannya terdapat sungai dengan aliran air sangat deras.

Aku tidak tahu berapa lama kami berada di dalam mobil sejak aku naik tadi, tetapi kurasa sudah dua jam lebih dan pada saat ini kami memasuki area yang jarang dilintasi kendaraan. Aku tetap diam dan tidak mengantuk sama sekali, meski seharian tadi tidak tidur. Aku terus memandangi sisi kiri jalan yang dibatasi tebing tinggi menjulang. Pada saat itu hujan turun perlahan sebelum akhirnya deras. Bertha tetap diam dan kurasa tak lama lagi kami sampai.

Memang benar, tidak berapa lama setelah menengok tebing di kiri jalan dan hujan berubah deras, mobil berhenti di depan sebuah rumah, tapi aku rasa aku salah menduga. Aku rasa ada yang salah dengan mesin mobilnya. Rumah itu amat tua dan terbengkalai, dan kurasa Bertha sekadar menghentikan mobil agar kami dapat berteduh, sebab mesin atau apalah pada mobilnya mengalami masalah.

“Tidak ada masalah kok, dan memang ini yang kamu mau, bukan?” jawab Bertha yang lalu menggandeng tanganku tanpa menjawab rentetan pertanyaan berikutnya. Kami benar-benar masuk rumah itu dan Bertha tidak berkata apa pun, tapi aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak butuh waktu lama, aku memang langsung tahu. Aku tahu setelah beberapa sosok keluar dari pintu-pintu yang ada dalam ruangan besar semacam aula di tengah rumah. Bertha melepas lenganku dan tubuhku mendadak dingin. Semua mata menuju padaku.

Aku menyesal telah memaksa seseorang memenuhi permintaanku, tapi itu sudah terlambat. Bertha benar-benar mengajakku pulang ke suatu rumah yang tidak lagi hidup, karena bertahun-tahun silam terjadi kebakaran di sini, dan tak ada seorang pun penghuni yang selamat, termasuk Bertha. Aku tidak tahu bagaimana caraku pulang, tetapi semoga saja Bertha tetap menganggapku teman.

13 Januari 2017


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY