SERGAP, Cerpen Kartika Catur Pelita

0
88

*) Kartika Catur Pelita

Ini entah operasi mereka yang ke berapa. Kali ini di daerah pinggiran hutan bakau. Si punya hajat menanggap  organ tunggal. Pentas dangdut yang digelar di atas tanah lapang, bekas tambak yang mengering- benar-benar meriah. Semakin malam, semakin merancak.

Pernah sekali  aku pergi dari Jakarta ke Surabaya. Untuk menengok nenek  di sana. Juk ijak ikuk ijak ijuk kereta berangkat. Pokoke joget…pokoke joget…

Biduan bersuara merdu, beraura bintang panggung. Kostum penyanyi seksi, mengumbar panorama sekitar dada dan paha. Kerlap-kerlip lampu,  musik dangdut koplo berpadu suara DJ menghenatak. Penonton berjubel. Tua, muda, laki, perempuan, beradu riang. Ikutan nyanyi. Ikutan joget. Orang mremo juga banyak. Pedagang makanan, miras,  dolanan anak. Penjudi banyak berdatangan. Judi remi,  domino, rolet, dadu.

Inilah kesempatan paling bagus. Paling ditunggu, dicari Gap, Ho dan Jo. Mereka  menarik nafas panjang. Seragam loreng yang dikenakan semakin menambah wibawa. Sepatu lars dan jaket tentara yang mereka sandang semakin membuat langkah panjang.  Lagak mereka yang sok tegas dan disiplin. Khas militer.

“Kalian harus tahu kalau judi dilarang pemerintah!”
“Tapi Pak…”
“Dibilangin ngeyel!”
“Berani melawan militer, kupukul kau!”
“Ampun, Pak. Ampun…”
“Jangan cuma ampun. Kami  perlu uang.”
“Kalian boleh main judi asal bayar upeti. Mana, mana uangnya. Bayar. Cepat!”

Si bandar judi memberi beberapa lembar  uang. Si Ho  memberi pengarahan. Si Gap gegas mengambil upeti.

“Kalian boleh main udi. Tapi jangan ribut, jangan bertengkar. Aman!”

Ketiga lelaki tegap  itu  menyimpan uang ke dalam dompet, lalu berkeliling lagi mencari mangsa, penjudi kelas teri  yang mancari sesuap nasi di acara orang punya hajatan.

Sesaat setelah operasi ketiga begundal ikutan bergoyang dan  mabuk. Penyanyi dangdut yang bergoyang di pentas, membuat mereka sesak birahi.  Seandainya punya uang  sekantong bisa boking biduan. Konon  di antara  mereka ada yang mau menemani tidur asal ada uang sumpelan. Tentu jumlah uangnya  tak sedikit. Lebih banyak dari honor biduan itu bernyanyi.   Gap  mengelegak birahi. Keluar dari orang-orang  yang asik joget, bergoyang. Kencing. Di pinggir kali. Gap  berpapasan dengan perempuan  penjaja cinta. Begenggek alias kupu-kupu malam memang biasa mencari mangsa pada saat ada tontonan seperti ini.

“Kau cantik nian, ” Gap  merayu di antara bau alkohol.
“Ah, Akang genit.”
“Bener.”
“Akang juga gagah. Kasep. Ganteng.”
“Yoi. Sejak dulu cewek bilang begitu. Akang  ganteng, kasep,  gagah dan kuat!”
“Akang tentara, ya?”
“Kok tahu?”
“Bodi Akang atuh, potongan rambut. Jaket yang AKanag kenakan.”
“Hehehe.”
“Abang  pangkatnya  apa sih ?’
“Bintang-bintang di langit.”
“Ah, Akang  suka canda.”
“Aku juga suka main.”
“Main apaan, Akang?”
“Tiarap, tindih-tindihan. Kita bisa main di mana?”
“Di sekitar sini bisa. Kalau mau di  kontrakan juga ada.”
“Sudah gak tahan nih. Dekat sini aja.”
“Di pinggir sungai  ada gubuk. Kita ke sana.”
“Sini aja, “ Gap  menyeret perempuan jalang di balik pohon bambu.
“Nanti ada ular, “ pelacur berdesis.

***

Kali ini operasi di desa pegunungan. Di dekat hutan. Tontonan dangdutan. Jarang ada hiburan. Ramai penonton. Tumpek blek seperti semut merubungi sekotak gula-gula. Penjudi pun ikut beraksi, ikut mengambil rezeki. Orang-orang unik yang suka berjudi. Bertarung nasib. Gap, Ho dan Jo  kembali beroperasi, menarik upeti pada pemain judi,  bandar-bandar yang menggelar aneka perjudian

“Jangan bergerak kalian!”  Gap menodongkan senjata kosong. Ia meniru aksi di film-film action. Saat seorang polisi menangkap teroris atau penyelundup barang terlarang, semisal  senjata ilegal, atau narkoba.

“Ada apa nih?” Para pemain, penjudi pias. Mengapa tiba-tiba ada penggerebekan?
“Kalian  semua tak boleh  berjudi. Kalian melanggar aturan. Kalian ditangkap!” Ho dan Go mengeluarkan suara besar dan  lantang. Khas aparat saat menangkap penjahat.

Penjudi gerah. Segera mengeluarkan  upeti membayar  uang sogok keamanan pada tiga coro. Tiga begundal  hendak pergi, ketika beberapa orang berjaket menjejeri langkah mereka

“Kalian tentara?” tanya salah seorang di antara mereka, menyelidik.
Gap  melirik Ho dan Jo.
“Ya!”Jo mengagguk yakin, dia memang tentara. Pangkatnya prajurit dua.
“Kalian?”
“Sama juga. Kami tentara. Apa kalian tak melihat bodi dan potongan rambut kami?”
“Boleh kami melihat kartu anggota kalian?”
“Mana kami bawa.”

Jo mengeluarkan dompet. Memperlihatkan  selembar kartu.  Mereka memeriksa dan meliriknya.

“Sebagai abdi negara tak seharuanya kau  berbuat  rendah seperti ini. Menarik upeti, beroperasi  di tontonan seprti ini. Jika komandan kalian tahu, kau bisa  dihukum! Bahkan bisa

dipecat!”
“Siapa kalian asal cocot!”Jo berang dan hendak menyerang
Seorang  menangkis dengan manis
“Dan kalian berdua dari kesatuan mana?”
Gap dan Ho  tersenyum mengejek.”Gak usah sok, berlagak banyak selidik. Kita  join saja. Sama-sama operasi di tempat  ini.”
“Kalian ditangkap karena melakukan aksi kriminal”
Hari paling apes dalam hidup Gap, Ho dan Jo. Jo mendapat skorsing dari komandannya. Sementara Gap dan Ho ditangkap karena berbuat kriminal.

“Dari   mana kalian mendapat seragam tentara?”
“Jaket dan  doreng dari mana, heh?!”
Tentu saja  warisan dari orang tua. Karena ayah Gap adalah seorang militer. Pangkatnya kapten. Gap sebenarnya   ingin jadi tentara. Tinggi tubuh 175. Boleh, memenuhi satu persyaratan. Tapi kesehatan tak oke. Karena  matanya juling. Beberapa kali ikut tes, ditolak. Gap stres. Gap marah. Mengapa ia dilahirkan bermata  kero sehingga gagal meraih cita-cita manjadi tentara seperti bapaknya!

Karena  terobsesi   menjadi tentara, Gap sering diam-diam mengambil  seragam ayahnya,  beraksi sebagai tentara gadungan. Beroperasi mencari upeti. Juga mencari  para gadis. Terutama gadis  desa yang cantik tapi bodoh, tak bisa  membedakan tentara  asli atau gadungan. Sebenarnya  mudah sih  jika tahu dan  berpikir mana ada tentara  juling. Tapi ketampanan Gap menutupi kekuaranganya. Apalagi Gap  juga  pintar bertutur  kata manis. Merdu merayu.

Sementara kisah  Ho lain lagi. Ho, anak  desa.  Ho berbodi atletis. Sehat lahir batin. Perjaka  ting-ting. Pernah mengikuti seleksi  masuk militer. Tapi seorang oknum  memintanya sejumlah uang untuk meloloskan impiannya menjadi militer. Sayangnya  Ho yang cuma anak seorang petani gurem tak punya uang sebanyak yang diminta. Ho  pun  kecewa.

Pada satu malam ketika mabuk di terminal, dia bertemu Gap. Menemukan kecocokan. Kemudian berdandan tentara  gadungan dan  beroperasi mencari mangsa

Ho mendukung aksi dua pemuda. Jo, adalah teman setangsi Ho. Prajurit yang  mencari tambahan uang dengan bekerja sama dengan dua begundal untuk beroperasi mencari mangsa, sebagai tentara gadungan!

Kota Ukir, 21 Januari 2017


Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1971. Karya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Kartini, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Radar Bojonegoro, Sabili, Annida, Analisa, Lampung Pos, Soeara Moeria, Bangka Pos, Metro Riau, Republika, Media Indonesia, dan Nova. Menulis buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta” dan “Bintang Panjer Sore”. Bermukim di Jepara dan bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY