Mendedah Relasi Sastra Dan Agama Dengan Dua Wajah

0
97
Lukisan Sardono dalam http://kalatida.com/agama-dalam-sastra/

*) Allan Wayan

Agama adalah fakta sosial yang ditemukan pada hampir semua kelompok masyarakat. Dikatakan demikian, karena ia diciptakan oleh manusia untuk mengatur ritme hidup dan memberi identitas bagi manusia itu sendiri. Sebagai sebuah fakta sosial yang dapat mengatur ritme hidup para penganutnya, maka setiap agama wajib memiliki panduan etis yang dinamakan kitab suci dan berbagai tradisi lisan yang berkembang dan dipelihara oleh agama tersebut dari waktu ke waktu. Kitab suci tersebut tidak hanya menjadi pelengkap bagi sebuah agama, tapi secara substansial ia memberikan ciri khas atau karakter tertentu dan kebajikan-kebajikan teologis serta sebagai penentu arah bagi misi agama tersebut di dunia. Selain itu, kitab suci juga dapat dijadikan sebagai rahim bagi lahirnya sejumlah landasan etis-normatif dari agama tersebut, yang dari padanya terbentuklah sebuah konstitusi yang mumpuni, yang tidak dapat diintervensi oleh agama lain.

Dalam sistem penulisannya, kitab suci tidak pernah jauh dari yang namanya sastra. Dalam arti sempit, sastra bisa diartikan sebagai sebuah seni bahasa yang sangat memperhatikan unsur estetika dari setiap penulisannya dan pelafalannya. Sastra dalam arti sempit ini adalah sastra yang kita kenal seperti sekarang ini, yakni puisi, pantun, drama, teater, dll. Namun, dalam arti luas sastra dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan atau argumentasi, seperti hukum (perintah dan larangan), silsilah, kronik dan nubuat (P. DR. Lukas Jua, SVD dalam kuliah mimbar dari matakuliah Pengantar Kitab Suci Perjanjian Lama Perjanjian Baru di STFK Ledalero, Maumere, 1 Februari 2017). Dengan demikian, sastra dalam konteks penulisan Kitab Suci tidak hanya menyangkut dunia estetika dan juga tidak hanya mampu meromantisasikan segala peristiwa, tetapi ia jauh melampaui hal itu. Bahkan dari padanya lahirlah ketaatan mutlak yang irasional. Ketaatan mutlak yang irasional ini lahir akibat tubuh tak mampu membebaskan rasio yang telah dikandangkan oleh seonggok harapan eskatologis yang absurb.

Sastra dan agama dengan dua wajah adalah sebuah distingsi etimologis yang diangkat oleh penulis untuk membedakan mana agama yang sungguh-sungguh beradab dan mampu menghidupi kitab sucinya secara baik dan benar dan mana agama yang sudah mengangkangi identitasnya sendiri akibat penafsiran subjektif yang keliru terhadap makna dari setiap ayat dalam kitab suci. Menurut Dadang Kahmad secara substantif agama dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta yakni a yang berarti tidak dan gama yang berarti kacau. Berdasarkan akar katanya itu, agama mengandung pengertian tata aturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau (Bernard Raho, 2014: 234). Namun dalam kenyataannya, agama tidak hanya mempersatukan manusia dalam kasih, tetapi agama juga dapat memecahbelah kerukunan umat manusia. Fenomena ini terjadi karena rasio dikandangkan dalam kepicikan dari para elite agama tersebut yang tidak mampu menggeledah daya kritis-rasionalnya untuk mencari makna terdalam dari setiap ayat dalam kitab sucinya.

Dua ekstrim keagamaan

Dalam perkembangan peradaban manusia, agama cenderung terjebak dalam dua ekstrem berikut yakni, pertama, agama yang terlalu eksklusif dan lebih mementingkan ritus-ritus keagamaannya. Agama seperti ini cenderung terjebak dalam ritualisme belaka dan sangat tertutup terhadap dimensi sosial kemasyarakatan. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Karl Marx dan para filsuf ateisme lainnya bahwa agama adalah candu bagi masyarakat. Dikatakan demikian karena agama hanya memberikan seonggok harapan eskatologis yang palsu tanpa ada sumbangsih apa pun untuk memanusiakan manusia. Ia hanya mementingkan kematangan spiritual para anggotanya dan kekhusyukkan dalam ibadat keagamaannya tanpa memberikan sejumput perhatian pada fenomena kemanusiaan.

Kedua, agama yang terlalu aktif dalam dimensi sosial. Agama seperti ini cenderung terjebak dalam aktivisme belaka tanpa adanya “roh”. Ia sering menggunakan ideologi keagamaannya untuk memanufer segala kebijakan dan melegitimasi serta membungkus segala tindakan sosialnya atas nama agama. Aktivisme juga melahirkan agama yang sangat fundamentalistik. Agama seperti ini menganggap bahwa apa yang rasional dalam ideloginya adalah sesuatu yang benar dalam tindakannya. Fundamentalisme agama mengandaikan bahwa ideologi keagamaannya adalah sumber kebenaran satu-satunya. Bertindak sesuai ideologi keagamaan adalah benar dan baik.

Fundamentalisme agama ini melahirkan agama-agama yang hanya mementingkan rasionalitas instrumental belaka, dalam arti bahwa orang memanfaatkan ideologi keagamaannya untuk bertindak sewenang-wenang. Apa yang rasional dalam ideologinya adalah rasional juga dalam praksisnya. Agama seperti ini rentan dirasuki oleh berbagai kepentingan politik dan kepentingan-kepentingan individual lainnya. Apalagi agama seperti ini adalah agama mayoritas dalam suatu negara. Dengan ini agama mudah ditaklukkan di bawah diktatur kelompok  orang yang mengejar kepentingan politik dan ekonomisnya sendiri dan dapat berkembang menjadi agama tanpa wajah kemanusiaan.

Tidak jarang, agama-agama seperti ini sering dipakai oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan untuk mengakumulasi kekayaan dan popularitas mereka. Contoh praksisnya adalah di Indonesia akhir-akhir ini banyak bermunculan oramas-ormas keagamaan bentukan para penguasa untuk memuluskan segala kebusukannya. Tidak jarang mereka menggunakan ideologi agama tertentu dan status mayoritas dari agama tersebut untuk melabrak hukum normatif yang berlaku di negara ini  dan dengan seenaknya pula mengatur seluruh kebijakan di negara ini.

Di sini, secara demokratis apa yang dilakukan oleh ormas-ormas tersebut dapat dibenarkan karena dalam sistem pemerintahan demokratis suara mayoritas adalah suara publik yang harus di dengarkan. Namun dalam negara hukum sekular, hukum adalah panglima tertinggi yang netral, yang harus ditakuti oleh semua elemen dalam negara tersebut. Sebagai panglima tertinggi, hukum mempunyai kekuatan untuk memaksa dan mengikat setiap individu yang bernaung di bawahnya. Sejauh suara mayoritas itu berdampak positif bagi kesejahtraan dan kemaslahatan masyarakat, maka hukum sebagai panglima tertinggi harus mengikuti suara mayoritas tersebut. Sebaliknya jika suara mayoritas itu hanya bergaung bagi kelompok tertentu, maka hukum sebagai panglima tertinggi dapat membatalkan suara mayoritas demi kesejahtraan dan kemaslahatan seluruh masyarakat.

Tanggapan terhadap fenomena bangsa

Tentang privatisasi ruang publik oleh agama tertentu, Ratzinger (Paus Emeritus Benediktus XVI) menyebutkan dua bahaya yang sangat ekstrem dari adanya intervensi agama dalam ranah politik (Paul Budi Kleden dan Adrianus Sunarko [ed.], 2010: 225.) Pertama, bahaya politisasi agama. Kedua,bahaya reliogiofikasi politik. Tentang hal ini Ratzinger mengatakan bahwa bahaya ini muncul dalam kecenderungan untuk memberikan mantel ilahi dan tidak terubahkan pada politik. Akibatnya politik mengambil wajah ilahi, mutlak dan tak terubahkan. Apa yang sebenarnya merupakan hasil pertimbangan dan rekayasa temporal demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, dipromosikan sebagai titah tak terbantahkan dari Yang Ilahi yang mesti dipatuhi oleh semua orang.

Agama dibutuhkan karena memberikan keseimbangan hidup, orientasi, bahkan identitas. Namun di samping itu agama mempunyai sisi negatif. Sisi negatif ini bisa disebabkan oleh potensi inheren yang menganggap agamanya sebagai satu-satunya yang benar, bisa juga disebabkan oleh interpretasi para elite pemegang tradisi. Yang terakhir inilah yang sering menimbulkan perbantahan. Kepicikan para elite pemegang tradisi dan otoritas dalam agama tertentu dapat membuat setiap pemeluknya melihat perbedaan sebagai musuh yang harus dibasmi. Mereka sering menggunakan rasionalisasi yang irasional demi membenarkan interpretasi mereka. Akibatnya para pemeluk agama yang sangat awam digiring untuk berani berdiri di garda terdepan untuk membela kepicikan mereka.

Ratzinger sadar bahwa agama pun mengandung bahaya apabila tidak diimbangi oleh pertimbangan rasional dan diikat secara rasional dalam satu komunikasi dengan elemen-elemen publik yang lain. Di sini Ratzinger berpendapat bahwa iman berciri rasional, dan manusia adalah makhluk yang rasional (Paul Budi Kleden dan Adrianus Sunarko [ed.], 2010: 220). Penafsiran atas isi kitab suci harus diimbangi dengan daya kritis rasional terhadap konteks penulisan dan sastra yang digunakan dalam kitab suci. Penafsiran itu akan lebih bermakna dan bermartabat apabila ada dikotomi yang jelas antara waktu penulisan dan waktu penafsiran ayat kitab suci. Apa yang ditulis dalam kitab suci lahir dari suatu fenomena yang berkembang dari zaman tertentu. Setiap teks adalah hasil dari produk sejarah. Oleh karena itu, setiap elite dari masing-masing agama harus mampu membuat penilaian dan penafsiran kritis atas teks yang hendak ditafsir.

Sejarah mencatat bahwa agama sering ditunggangi oleh berbagai muatan politik yang kemudian dari padanya lahirlah konspirasi antara politik dengan agama. Terhadap catatan sejarah ini, dapat disimpulkan bahwa ada penciutan makna sastra yang terdapat dalam kitab suci demi kebenaran yang irasional dan demi nirwana politik yang absurb. Akibatnya agama dijadikan “alat permainan” oleh segelintir elite politik dan pemegang otoritas dalam agama yang cerdik seperti ular. Bisanya sangat beracun sehingga dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ia mampu melumpuhkan dan mematikan keadilan serta memenjarakan hak-hak esensial manusia di seantero jagat ini.

Kembali ke agama yang beradab

Hans Küng mengatakan, tidak ada damai di muka bumi ini kalau agama-agama tidak berdamai (Dr. Leonardus Samosir, OSC, 2010: 88). Sudah saatnya kita berbenah diri dan berdamai. Kita memang tidak seagama, tetapi kita se-Tuhan. Sudah saatnya kita membuka cakrawala rasio kita yang selama ini telah diselimuti kabut egoisme dan kepicikan. Sudah saatnya pula kita membiarkan sastra berbicara kepada kita dalam arti yang sesungguhnya lewat penafsiran kritis-rasional yang terpadu dan paripurna.  Agama hanyalah buatan manusia untuk memberikan identitas belaka dan sebagai sarana untuk mencapai nirwana dan satra hanyalah sebuah cara Allah mendewasakan manusia melalui kemampuan akal budi yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita. Sudah saat kebajikan-kebajikan teologis dalam masing-masing agama harus diterjemahkan serasional mungkin, tidak hanya terbatas pada rasionalitas instrumental, tetapi juga harus bisa menyentuh rasionalitas tindakan. Sudah saatnya pula kita membebaskan agama yang beradab yang selama ini disekap oleh para penghisap kekuasaan. Agama yang beradab adalah agama yang tahu menempatkan diri dalam setiap situasi dan tidak mudah terjebak dalam bahaya aktivisme dan fundamentalisme belaka. Agama yang beradab adalah agama yang tidak kacau dan tidak mudah diperalat. Agama yang beradab adalah agama yang telaten dalam menggeledah makna terdalam dari setiap jenis sastra yang terdapat dalam kitab sucinya. Agama yang beradab adalah agama yang melihat pluralitas sebagai kawan dan bukan lawan. Agama yang beradab adalah agama yang mampu melihat wajah Allah yang terluka pada diri “yang lain.”[]


Allan Wayan, Anggota KMK Ledalero

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here