“Kalau Tidak Menulis, Saya akan Mati” Percakapan Bersama Sastrawan Gerson Poyk

0
200

*) Herman Efriyanto Tanouf

Pada tanggal 16 Juni 2016 tepat di hari ulang tahun ke-85 Sastrawan Gerson Poyk, saya bersama Julia Sri Utami (Penyair Kereta) berniat untuk berkomunikasi bersama beliau. Komunikasi bersama Gerson Poyk kami lakukan secara online melalui email yang dimediasi oleh anaknya, Ibu Fanny Jonathan Poyk. Tujuan utama dari komunikasi tersebut adalah untuk mengetahui secara langsung tentang sedikitnya kiprah beliau di dunia sastra. Lebih jauh dari itu, ingin mendapatkan inspirasi dan motivasi dari beliau. Demi melancarkan niat dan rencana ini, saya kemudian menyusun dua puluh pertanyaan sebagai dasar untuk mendapatkan informasi dari Gerson Poyk. Pada tanggal yang sama pertanyaan-pertanyaan dimaksud saya kirimkan ke emailnya Julia Sri Utami untuk dilanjutkan kepada Ibu Fanny Poyk.

Sehari setelah pertanyaan-pertanyaan itu dikirim, tepatnya tanggal 17 Juni 2016 saya mendapat email dari Ibu Fanny Poyk yang isinya adalah jawaban Opa Gerson Poyk. Adalah suatu kebanggaan bagi kami bahwa beliau merespon semua pertanyaan yang diajukan. Berikut adalah cuplikan pertanyaan dan jawabannya:

Apa konsep dan pandangan Opa tentang karya sastra itu sendiri?
Konsep dan pandangan saya tentang karya sastra adalah: pertama sastra sebagai karya seni, kedua sastra merupakan intuisi kreatif yang lahir dalam jiwa, di mana di dalamnya ada perenungan-perenungan tentang hakekat kehidupan manusia di bumi ini. Sastra merupakan bentuk pelayanan dan cinta kasihTuhan kepada manusia.

Menurut Opa, bagaimana seharusnya karya sastra itu?
Seharusnya karya sastra adalah karya yang mampu menyampaikan penderitaan manusia dan alam melalui ungkapan-ungkapan yang lebih bersifat filsafat, di mana di dalam kehidupan banyak tembok-tembok absurd (absurd wall) yang dialami manusia

Bagaimana pandangan Opa tentang sastra Indonesia dewasa ini? Lalu, perbandingannya dengan sastra tempo dulu!
Perbandingannya, sastra tempo dulu lebih humanis dan lugas di dalam penyampaiannya, sedang sekarang lebih mengarah ke capital, sehingga unsure religiusitas, humanis dan kasih terkesampingkan.

Sejak kapan Opa mulai menulis? (Berkarya sastra)
Sejak tahun 1950-an yang diawali dengan pembuatan puisi dan bermain drama

Hal apakah yang melatarbelakangi atau menjadi motivasi utama Opa dalam menulis karya sastra?
Kisah-kisah masa kecilsaya selama di NTT (Ende, Flores, Kupang Rote, Alor), kenangan tentang masa kecil di kota-kota itu, membuat niat saya untuk bergelut di bidang sastra semakin kuat.

Apakah Opa mempunyai idola (sastrawan)? Mengapa?
Saya mengidolakan Ibu saya, sebab beliaulah yang menjadikan saya untuk menjadi seorang sastrawan. Selain itu ada Albert Camus, Immanuel Kant, Sastre, Hegel, dan lain-lain.

Karya sastra identik dengan citraan atau imajinasi. Dalam berkarya, apa citraan Opa yang paling dominan?
Pencitraan saya adalah memperkenalkan sastra hingga ke ujung dunia, salah satunya dengan memperkenalkan budaya NTT.

Mengapa faktor (citraan) tersebut menjadi dominan?
Kisah-kisah itu menjadi dominan karena saya mengalaminya secara langsung.

Bagaimana kreativitas (cara) Opa dalam menuangkan ide atau imajinasi dalam bentuk karya sastra?
Kreativitas saya sebelumnya adalah dengan membaca dan membaca, dengan begitu, imajinasi saya akan terbentang luas dan menjadikannya suatu titik tolak dalam karya-karya saya.

Karya-karya Opa pada umumnya bertemakan lokalitas. Mengapa demikian?
Saya lebih banyak memilih tentang lokalitas khususnya NTT karena saya memang berasal dari Rote, alam NTT telah membentuk diri saya menjadi begitu militant rasa cinta saya padanya, meski saya kini menetap di Depok, Jawa Barat, NTT selalu berada di dalam pemikiran saya. Bagi saya NTT merupakan provinsi yang sangat indah.

Hasil dari karya sastra sudah sekian banyak. Sejauh ini sudah berapa buku yang diterbitkan dan dicetak? Baik berupa Puisi, Cerpen, maupun Novel.
Ratusan lupa menghitungnya hehe

Boleh tahu, apa judul buku pertama dari sekian banyaknya buku Opa yang sudah ada?
Sang Guru dan Mutiara di Tengah Sawah

Opa pernah mendapat banyak penghargaan di tingkat daerah, nasional dan bahkan internasional. Apa faktor utama Opa memperoleh semuanya itu?
Faktor utamanya mungkin penilaian dari karya-karya saya lebih banyak bercerita tentang manusia terpinggirkan, orang-orang miskin dan budaya local seperti NTT

Memasuki usia ke-85 dan sering sakit (faktor usia), apakah Opa  masih bergiat menulis? Mengapa?
Saya masih menulis dan membaca, sebab jika tidak otak saya bias buntu dan penyakit semakin merajalela. Beberapa waktu lalu saya pernah menderita sakit jantung dan paru-paru akibat merokok, sekarang saya berhenti merokok dan tubuh terasa lebih sehat.

Opa terus menulis hingga saat ini tanpa peduli faktor usia, fisik, situasi dan kondisi dimana Opa seharusnya lebih banyak beristirahat. Apa sesungguhnya harapan Opa saat ini dengan menulis?
Karena kalau saya tidak menulis saya akan mati

Semangat dan motivasi Opa dalam menulis begitu tinggi. Apa harapan Opa terhadap sastra Indonesia ke depannya?
Harapan saya semoga karya sastra Indonesia makin dikenal luas dan nama Indonesia di dunia internasional semakin harum, tidak hanya dikenal sebagai Negara teroris atau narkoba, tapi Negara dengan karya-karya sastra yang bermartabat.

Bagaimana pandangan Opa terhadap para sastrawan muda saat ini (Penyair, Cerpenis, Novelis)?
Sastrawan muda Indonesia harus terus berlatih dan banyak membaca, khususnya buku-buku filsafat, sebab jika tidak karya-karya mereka tidak bias bersaing di tingkat nasional maupun Internasional.

Di NTT sendiri, sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap Opa  para sastrawan NTT menjadikan tanggal kelahiran Opa  sebagai Hari Sastra NTT sejak tahun 2015. Apa pendapat Opa tentang hal ini?
Wah saya sangat berterimakasih sekai tanggal kelahiran saya dijadikan hari sastra NTT, tapi di NTT sendiri setahu saya masih banyak yang tidak suka dan menganggap itu hanya ‘kultus individu’ khususnya sastrawan-sastrawan muda yang tidak mengenal saya secara baik, itu sah-sah saja. Saya sih santai saja, dijadikan atau tidak tidak ada pengaruhnya, Nasional dan Internasional lebih mengenal saya ketimbang NTT atau bahkan Rote sendiri, karena di sana mereka lebih suka menjadi PNS dari pada sastrawan, atau lebih suka dunia dunia hedonism ketimbang baca buku-buku filsafat. Itu tidak berpengaruh bagi saya.

Bagaimana pendapat Opa tentang sastra dan sastrawan NTT itu sendiri?
Sastra NTT dan juga sastrawan sudah berkembang semakin baik, banyak karya-karya mereka yang dimuat di media-media Nasional. Namun untuk menjadi seorang penulis tidak bisa instan, harus terus belajar, rendah hati dan tahu siapa pendahulu mereka. Jadi perbanyak membaca buku-buku filsafat agar karya-karya mereka semakin berkualitas

Menurut Opa, apakah penulis (sastrawan) perlu mendapat perhatian dari pemerintah? Mengapa?
Di Indonesia belum, sebab orang-orang yang duduk di pemerintahan tidak suka membaca, apalagi buku-buku filsafat yang penuh dengan renungan-renungan humanism atau kemanusiaan, mereka lebih berpikir ke materialism sehingga hati nurani rakyat tak didengar. Sastra pun belum menjadi perhatian pemerintah, padahal jika sastra di suatu Negara maju, maka harkat dan derajat dari bangsa itu akan terangkat. Lihat saja Inggris, berkat karya-karya Shakespeare Negara itu terkenal dan tetap diperhitungkan sebagai negara yang berbudaya dan bermartabat, begitu juga Amerika dengan Ernest Hemingway, dan Negara Eropa dengan para filsufnya yang terkenal itu seperti Nietze, Kierkegaard, Albert Camus, Kant, Hegel, dan lain-lain hingga kini negara-negara itu selalu menjadi perbincangan. Jangan seperti kita, yang diperbincangkan hanya teroris dan fanatisme agama lengkap dengan ekstrim kiri dan kanannya, tak ada etis moral, manusianya lebih memuja agama ketimbang Tuhan, dan akibatnya korupsi merajalela, pelacuran di mana-mana, rasa tidak puas selalu muncul dari hati yang bengkok, yang jahat lebih terkenal ketimbang sisi baiknya. Terima Kasih Nak.

Demikian percakapan singkat yang terjalin setahun lalu sebelum akhirnya beliau meninggal dunia pada tanggal 24 Februari 2017 pukul 11:00 WIB di Rumah Sakit Hermina, Depok, Jawa Barat. Jawaban yang telah dilontarkan dalam percakapan di atas, sungguh memberikan inspirasi dan motivasi tentunya bagi siapa saja yang menaruh simpati dan empati terhadap dunia sastra.

Selamat Jalan Sosok Inspiratif
Sastrawan Gerson Poyk
Bahagialah di dalam rumah-Nya
Doa kami iringi ziarahmu menuju Rumah Bapa
.

Oeba, 26 Februari 2017


Herman Efriyanto Tanouf, Penulis syair, essay, artikel lepas.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY