Sastra yang Menggerakkan

0
64
*) Tommy Duang
 
Apa yang tak dapat kau hancurkan
Dengan tangan
Hancurkanlah dengan sajak
Tapi demikian kau
Membangun lagi
Dindingnya waktu

Sajak tanpa judul Sitor Situmorang di atas menampilkan karakter ganda dari rangkaian kata yang membentuk sebuah sajak (baca: karya sastra). Sebagai suatu perpaduan sempurna olah nalar dan ekspresi disposisi batin manusia, karya sastra mempunyai di dalam dirinya sendiri, kekuatan menghancurkan dan membangun kembali.

Sebuah karya sastra bisa menghancurkan sebuah peradaban, menggerayangi nurani manusia, menggulingkan takhta kekuasaan seorang raja, merendahkan martabat manusia dan merampas mimpi tentang gambaran masa depan yang stimulatif dan kreatif. Di sisi lain, sastra sebagai suatu keistimewaan manusiawi berpotensi untuk membangun dan memberikan daya tumbuh, mendobrak kehidupan sosial kemasyarakatan, memberikan makna pada kehidupan manusia, membebaskan manusia dari pembusukan kepribadian serta hati nurani, meneguhkan dan memberikan ketenangan jiwa serta menyingkirkan setiap kesangsian dan keraguan.

Di Inggris misalnya, beberapa karya sastra Charles Dickens berhasil mendorong pemerintah Inggris untuk mengeluarkan undang-undang memperbaiki nasib dan kesejahteraan kaum buruh. Presiden Lincoln pernah menyebut Harriet Becher Stowe sebagai si nyonya mungil yang menimbulkan perang besar, karena melalui karyanya, Uncle Tom’s Cabin, Stowe membantu menghapus perbudakan Negro di Amerika Serikat.

Dalam sastra klasik Indonesia, kita mengenal beberapa penyair yang mencoba memberikan perhatian pada kemiskinan sebagai salah satu lambang kepincangan sosial. Keprihatinan seperti ini, misalnya muncul dalam sajak Ali Hasjmy, ‘Pengemis’, ‘Kepada Si Miskin’ karya Toto Sudarto Bachtiar, sajak ‘Kepada Peminta-minta’nya Chairil Anwar dan cerpen ‘Si Keong’ karya Gerson Poyk.

Sedikit contoh di atas menunjukkan peran penting karya sastra dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Karya sastra tidak hanya memenuhi unsur estetik sebagai ciri khasnya, tetapi juga unsur sosiologis, karena selalu menyertai fenomena sosial apapun. Keberadaan sastra adalah keberadaan yang menyentuh, menyentil dan menggerakkan realitas sosial yang di dalamnya dia berada, mencipta dan bertumbuh. Karena sebuah karya sastra bukanlah semata-mata terlahir dari imajinasi liar tanpa batas, melainkan imitasi realitas kehidupan manusia dalam ruang dan waktu tertentu.


Warna Ungu

Banyak karya sastra dewasa ini, meminjam istilah Fuad Hasan, berwarna ungu. Karya sastra berwarna ungu adalah sebuah metafora yang merujuk pada karya sastra yang berkecenderungan hanya menggambarkan perasaan-perasaan personal penulis. Kebanyakan penulis karya sastra lebih suka berkubang dalam sastra erotik dan kurang antusias mengangkat tema-tema sosial politik dalam karya sastra yang dihasilkan. Para penulis tidak tertarik untuk menangis bersama realitas sosial yang terluka dan mempertajam suara tangisan itu ke hadapan publik.

Padahal, dalam kenyataan, terdapat banyak kegoncangan dan kepincangan sosial yang cukup meresahkan bangsa. Karya sastra sebagai imitasi realitas sosial seharusnya membaca dan membahasakan kembali kenyataan ini dengan lebih tajam sehingga mampu menggerakkan perubahan sosial. Karya sastra seharusnya dengan nada yang merdu meratapi kekhilafan sosial dan memilih diksi yang menawan serta sedikit sarkastis, memperdengarkan suara yang tak terucapkan dan menajamkan suara minor yang tenggelam dalam keangkuhan mayoritas.

Ekstrem lain yang sering muncul adalah bahwa karya sastra sering terjebak dalam modus keberadaannya yang paling rawan: komoditas perdagangan, barang antik bernilai jual tinggi yang bisa diperjualbelikan. Komersialisasi  karya sastra mengingkari esensi karya sastra itu sendiri sebagai ekspresi kekayaan nurani manusia. Selain itu, karya sastra akan kehilangan rumahnya karena orang tidak lagi bertanya: ‘bagaimana menghasilkan karya sastra yang murni sastra?’ melainkan ‘untuk apa karya sastra ini diciptakan?’ Kenyataan ini cukup menyedihkan, mengingat kebebasan para penulis terpasung oleh prasyarat yang dituntut supaya karya sastra yang dihasilkan itu ‘terjual’ dan laku di pasar sastra. Sebagai komoditas perdagangan, sebuah karya sastra mengorbankan banyak keindahan dan kekayaan yang menyusunnya sebagai satu kesatuan yang bulat sempurna.

Selain diresahkan oleh subjektivitas yang naif dan dijadikan sebagai karya komersial, karya sastra kita juga dijangkiti oleh penyakit abstraksi. Karya sastra kita membiarkan ide yang abstrak tetap disajikan dengan abstrak pula. Bahkan tidak sedikit sastrawan gila, demi mengejar bobot dan mempertahankan estetika karya, mengabstraksikan realitas konkret. Ide-ide konkret dibunuh oleh abstraksi demi mengejar nilai estetik dan bobot karya. Padahal, sebuah karya sastra yang baik tidak hanya diukur melalui estetika bahasa semata, tetapi juga sejauh mana ia memiliki pengaruh terhadap publik yang menjadi konsumen.

 
Sastra yang menggerakkan

Herace, seorang sastrawaan berkebangsaan Yunani mengatakan bahwa sebuah karya sastra, minimal memiliki dua fungsi, dulce et utile, indah dan bermakna. Kemahiran dalam memilih, merangkai dan menyajikan kalimat-kalimat yang indah dan menawan, menjadi semacam inner beauty yang khas sastra. Seorang perajin sastra harus pandai meramu simbol, diksi dan gaya kepenulisan sehingga publik menikmati dan mengerti.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa sebuah karya sastra memiliki makna dan tujuan tertentu. Ia bukan hanya medium untuk mengekspresikan imajinasi dan perasaan personal penulis. Jauh lebih dari pada itu, sebuah karya sastra memiliki tujuan tertentu yang memiliki dampak sosial. Dia merupakan hasil konstruksi atas interaksi sadar antara penulis dengan realitas sosial di mana dan kapan ia hidup. Dengan demikian, sastra sebagai produk kekayaan nurani manusia memiliki kapasitas di dalam dirinya sendiri untuk menggerakkan, mengubah dan memberikan daya tumbuh melalui estetika, etika dan logika berbahasa.

Sastra tidak terlepas dari kondisi sosial kemasyarakatan di mana ia lahir. Sebuah karya sastra harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan serta dinamika kehidupan masyarakat di mana ia hidup. Hidup dalam suatu ruang dan waktu tertentu berarti mengikuti gaya yang dituntut untuk bertahan di dalamnya. Marx mengatakan, materi bergerak sesuai dengan zamannya. Hal ini berlaku juga bagi sebuah karya sastra. Sastra sebagai realitas zaman yang dibungkus dalam keindahan kata-kata, hanya bisa bertumbuh dan bertahan jika bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sastra hadir untuk membahasakan dengan lebih tajam situasi sosial yang tengah berlangsung. Sebuah karya sastra merupakan hasil refleksi sosial dan karenanya menggambarkan realitas sosial yang ada di sekelilingnya.

Untuk bisa menggerakkan perubahan, sebuah karya sastra harus bisa membentuk karakteristik masyarakat pembaca. Dia berfungsi seperti garam dalam sayur, meresap ke seluruh, tanpa terlihat dan memberikan cita rasa tinggi. Nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam sebuah karya sastra sesuai dengan nilai yang dianut oleh masyarakat. Ketika masyarakat menikmatinya, mereka akan menyadari bahwa ini adalah milik mereka yang harus dilestarikan dan dihidupi.

Kembali ke sajak tanpa judul Sitor  Situmorang. Apa yang tak dapat kau hancurkan/ dengan tangan/ Hancurkanlah dengan sajak. Semua orang pasti menginginkan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk itu. Salah satu yang ditawarkan adalah melalui karya-karya sastra. Mari kita “hancurkan” apa yang seharusnya tidak boleh ada dan bersama membangun kembali kehidupan yang baik. Hancur dan bangun kembali dengan karya-karya sastra bercita rasa tinggi.

 

Tommy Duang adalah seorang mahasiswa STFK Ledalero.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY