Puisi-Puisi Yuditeha

0
228

*) Yuditeha

Puisi Peduli
: untuk terkasih perempuan-perempuan

Tidak mudah melumpuhkan hatimu
meski dengan puisi darah sekalipun.
Bahkan kau selalu mencibir
pada puisi romantis yang kubuat.
Ngawur, adalah kata kesukaanmu
untuk mengatai isi puisi-puisiku.
Dangkal, adalah kata ajianmu
untuk menilai seberapa mutu argumenku.

Keras kepala isi kepalamu
justru menjadi sebuah tantangan bagiku
untuk semakin ingin melucuti jiwamu.
Kuserang dan kuserang lagi dengan
napsu pikiran untuk menundukkan karsamu.
Kau tidak takut,
bahkan kau tanggalkan sekujur tubuhmu pada mulut
untuk diperbincangkan.
Silakan sumpah serapahi jika berani!

Katamu lagi, jika aku kalah, aku harus telanjang
pada kenyataan.
Menunjukkan semua bopeng yang tergambar
di seluruh bidang kejujuranku.

Lalu aku membenci puisi romantik
yang selalu mati kutu di depan matamu,
yang selalu seperti sampah di depan hidungmu,
bahkan kau menamainya dengan tai kucing.

Aku hampir putus asa meraihmu, sembari bergumam tanya:
Apakah kau membenci puisi?
Tidak, adalah jawaban mengejutkanku.
Buatkan aku puisi untuk penderita kanker payudara, katamu.

2016

Resah

resah yang laksana candu
cair dan mengalir ke tempat yang lebih rendah
membebaskan aku bergerak untuk bisa melihatmu seutuhnya
lewat pantulan cermin
yang ada di kilau kedua bola matamu yang empat dimensi

resah yang bagai gerimis
menderasi benak dengan runcing keinginan
membuat gemuruh jantungku
lalu segala karsa ingin segera mencari sandaran
agar tak tersungkur dan menghindar dari ending sesat

resah yang seperti hujan
dia bagai tempias yang membasahiku dengan buaian
mungkin lebih tepatnya membaluriku dengan agenda kenangan
untuk berdiri di tengah-tengah
Lalu sesekali menatap ke depan dan sesekali menoleh ke belakang

resah yang seperti laut
mengajakku berjalan di lahan permadani
yang terbuat dari kepingan kisah yang saling bercumbu
mengingatkan aku tentang kisah pencurian kecil
hingga aku dihukum oleh ibu untuk menuliskan kalimat aku mencuri hatimu

aduh, kau muncul lagi
lari-lari mengelilingi bantaran hati
oh, berikan aku pertahanan satu pleton keteguhan
bahwa kau sebenarnya hanya sebuah lukisan realis
begitu detail, begitu nyata, dan begitu dekat

lalu bagaimana aku menjelaskan kepadamu tentang perasaanku?
dan tentang tali kesadaran yang mengikatku
sementara kita telah rekat duduk berdampingan
tahukah kau, telah sekian lama aku menderita resah
akankah aku memegang tanganmu?

2016

Ampas Kopi

Pagi ini aku ingin membuat segelas kopi.
Kulihat persediaan kopi di lodong ternyata telah habis.
Buru-buru kucari dua gelas kopi kita semalam.

Ampas kopinya masih ada di sana.
Kucampur ampas kopi kita ke dalam satu gelas.
Kuseduh kembali ampas kopi itu dengan air hangat tanpa gula.

Aku membayangkan aroma bibirmu ada yang tertinggal
bercampur dengan ampas kopimu.
Saat kucecep seduhan ampas kopi itu sungguh terasa nikmat.

Catatan pertama:
Tidak dianjurkan meniru adegan dalam puisi ini jika pasangan ngopi Anda belum benar-benar  pasti menjadi milik Anda. Jika nekat Anda bisa didakwa telah mengguna-gunai dirinya.

Catatan kedua:
Untuk lelaki yang biasa ngopi denganku, jangan merasa kepedean karena kisah ini tidak ada sangkut-pautnya denganmu.

2016

Asuku

Anjing itu datang kepadaku di hari yang panas.
Membawa sendu yang disimpan di tiap ketiaknya.
Kulihat matanya berwarna biru, lalu mataku ikut-ikut berwarna biru.
Dan aku heran, tak kutemukan taring dimulutnya.

Aku belum yakin dengan maksud kedatangannya.
Tapi anjing itu justru menunjukkan kibasan ekor yang menggemaskan.
Kuberi dia tulang dan secawan air.
Mungkin anjing itu terharu, lantas dia menjilat-jilat sandal yang kupakai.
Lalu aku bertanya, “Siapa pemilik hatimu?”
Mata anjing itu basah.
Dia menangis, seperti menangisnya perawan kencur.
Tak ada suara tapi bumi terasa mati.

Anjing itu tiba-tiba menyalak dan aku mengartikannya sebagai pengharapan.
Kuberi dia ikan asin dan dia melahapnya renyah.
Kepala anjing yang berbulu lebat itu diusap-usapkan pada kakiku.
Sembari satu per satu dia mengeluarkan sendu dari tiap ketiaknya.
Satu per satu juga sendunya kubaca dan saat itu mata anjing itu kembali basah.

Mendadak anjing itu menggonggong seperti sebuah rintihan.
Tapi aku mengartikannya sebuah keikhlasan.
“Apakah Kau sudah punya nama?” tanyaku.
“Ijinkan aku memberimu nama,” kataku.
“Ijinkan aku memberimu nama Asu,” kataku.
“Sebab Kau binatang, tak mungkin aku memberimu nama manusia,” kataku.

“Baiklah, saat ini kuberi nama Kau, Asu,” kataku.
Mata anjing itu berbinar dan berwarna jingga.
Dan aku mengartikannya dia setuju dan suka.
“Asu,” panggilku.
“Jangan pernah tinggalkan aku,” kataku.

Lalu anjing itu bangkit, berlari-lari kecil dan belok di sebuah lorong.
Aku mengartikan anjing itu ingin mengajakku bermain.
Aku bangkit dan berlari kecil mencarinya.
“Asu.. Asu..” panggilku.
Aku mencari dan mencari anjing itu tapi sampai kini belum kutemukan.
“Asu, Asu,” kataku.

2016

Menyendiri

aku suka menyendiri, bukan kehampaan
dan yang mengisi diriku adalah dirimu.

aku suka menyendiri, bukan kesedihan
dan yang menghibur diriku adalah dirimu.

aku suka menyendiri, bukan keriutan
dan tempatku berlindung adalah dirimu.

aku suka menyendiri, bukan kegalauan
dan tempatku bersandar adalah dirimu.

aku suka menyendiri, bukan kesendirian
dan yang menemani diriku adalah dirimu.

aku suka menyendiri, bukan kedengkian
dan yang mencintaiku dan kucinta adalah dirimu (semata).

2016


Yuditeha. Menulis puisi, cerpen dan novel. Aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Buku puisinya Hujan Menembus Kaca (2011). Buku terbarunya Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016). Pelukis wajah-wajah yang hobi bernyanyi puisi. Penyuka bakpia dan onde-onde.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here