Kejora Terbit Dari Sudut Matamu, Cerpen Lee Risar

0
159

*) Lee Risar

(Kudedikasikan untuk Alm. Poly Bolong guru SMAK Kejora Riung)

Di ruangan ini aku menemukan rahasia-rahasia kecil tentang kerdilnya pengetahuanku. Segalah pongah menunduk perlahan bersama lengkung leher sepanjang perjalanan mataku dari tulisan yang satu ke tulisan yang lain. Setiap halaman yang kulewati menyisahkan kehausan akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Semacam memasuki dunia baru yang penuh tantangan dan menyenangkan atau pertualangan dari rahasia yang satu ke rahasia yang lain. Sebuah ziarah yang tak pernah bosan oleh para pengelana mana pun selama ia mengerti arti dari ketidaktahuannya dan betapa luasnya permukaan informasi yang perlu dijelajahi pada setiap helai kertas buku-buku.

Aku masih di sini dengan sebuah buku di hadapanku, mataku terus melumat tulisan-tulisan yang timbul di dalamnya. Ia begitu manis dan imut. Setiap kali aku memasuki lembaran baru ia melebarkan senyum indahnya dan membiarkan mataku menyusuri lekuk huruf-huruf pada setiap kata dan memori merekam jejaknya dalam ingatanku sendiri. Perlahan kata-kata itu membendung air di mataku dan dari sudut-sudutnya ia jatuh satu-satu ketika kisah yang dulukiskan kata-kata itu teramat haru. Bahkan pandanganku pun mulai kabur karena cairan bening itu mengalir lebih deras. Aku menangis. Bukan karena orang yang memarahiku atau memukulku dan bukan juga karena ejekan-ejekan teman-teman. Biasanya kalau ada yang mengejekku maka kata-kataku tidak mampu membalas ejekan tersebut tetapi tangan atau kakiku lebih cepat melayang ke arahnya dari pada kata-kata. Kini aku menangis. Aku menangis oleh kata yang menuntun air mata di selokan kelopak mataku dan melonggarkan emosi yang menyenangkan atau semacam bela-rasa imajinatif seperti yang pernah diutarakan Martha Nusbaum filsuf Amerika yang cantik itu.

Aku yang jarang menjatuhkan air mata kini jatuh juga hanya karena tulisan sederhana tetapi kesedihannya sangat tajam menusuk perasaanku seolah mengiris-iris hatiku. Alur ceritanya lebih detail dari sebuah film sedih yang pernah aku tonton beberapa waktu lalu. Bahkan adegan-adegan yang dimainkan kata-kata lebih hidup dan semacam sedang bermain teater di dalam imajinasiku. Seolah ada musik latar yang bermain sendu dan begitu pilu nadanya meremuk-remuk jiwaku. Sedih, teramat sedih. Aku mengambil sapu tangan dari dalam saku celanaku dan coba untuk mengeringkan basah di pipiku lalu aku lanjut membacanya.

“Eman, kenapa kau menangis?”

Aku tersentak kaget mendengar suara itu dan merasa malu karena ada yang mendapatkan aku sedang menangis. Padahal ayahku mengajar semua anak laki-lakinya harus tegar dalam situasi apa pun. Tidak boleh menangis walau bilah bambu dihantamnya kuat-kuat ke tubuh kami apabila kami lalai mengerjakan tugas rumah. Aku masih diam mematung.

“Eman, apakah kau baik-baik saja?”
Ini kedua kalinya suara itu menanyaiku.
“Ia kaka guru, saya hanya baca-baca saja isi buku ini.” Jawabku datar sambil memperlihatkan sampul buku.
“Oh… buku itu, dia berhasil membuatku menangis berkali-kali dan aku tak pernah bosan membacanya.” Katanya.
“Ha? Ka’e menangis kah? Saya pikir hanya saya. Tapi…” aku tak dapat melanjutkannya lagi.
“Tapi apa Eman?” ia menudingku untuk melanjutkan pembicaraan.
“Maksud saya begini ka’e, saya diajarkan oleh bapa agar menjadi pria yang tegar dan kuat, tidak boleh menangis. Saya merasa sangat malu kalau ada yang mendapatkanku sedang menangis. Apakah ka’e pu bapa pernah bilang ke ka’e begitu ka?”
“Eman, menjadi laki-laki yang kuat dan tegar bukan berarti tidak boleh menangis. Tuhan menciptakan manusia secara sempurna seturut gambar dan rupa-Nya lengkap dengan perasaan sebagai manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan lain. Kalau kau tidak menangis atau menahan diri untuk tidak menangis berarti engkau sedang membunuh perasaanmu perlahan. Lama-lama kau pun akan mati rasa dan orang akan meragukan dirimu apakah kau masih memiliki perasaan atau tidak dan mungkin mereka tidak akan berelasi dengan orang yang tidak punya perasaan. Tuhan sendiri pernah menangis di hadapan orang apalagi kita Eman.”

Pak Poli menepuk lembut bahuku lalu keluar dari ruangan ini. Aku merasakan cintanya begitu besar padaku dan hampir semua teman-teman di sekolah juga merasakan hal yang sama saat ia memberi nasihat. Ruangan ini adalah ruang bacanya atau semacam perpustakaan mini milik pribadi tetapi cukup luas lengkap dengan buku-buku koleksi pribadi. Dari novel-novel karya penulis terkenal juga buku-buku puisi. Ada juga buku-buku filsafat dan beberapa buku yang agak sulit bahasanya untuk dimengerti. Beliau memang guru yang baik dan patut untuk diteladani. Ia lebih suka disapa kaka atau ka’e dan tentunya hal itu mempererat hubungan kami dengannya. Istrinya juga sangat baik dan penyayang. Anak-anak mereka masih sekolah dasar.

***
Aku mulai suka dengan keperibadiannya saat ia memberi pelajaran Agama yang paling tidak kusukai. Bukannya karena isi dari pelajaran tetapi guru sebelumnya yang menurutku terkesan sangat konservatif atau katakan saja ‘kering’ begitu. Selerah humornya lari dari titik nol menuju angka minus. Waktu itu aku sedang asyik menatap sekawanan kupu-kupu yang sedang menyikap kabut tipis pagi di antara bunga-bunga di taman saat pak Poli berjalan memasuki ruang kelas dan berdiri di hadapan kami.

“Selamat pagi pak guru” suara kami serempak menyalaminya.
“Selamat pagi juga teman-teman.” Aku merasa agak aneh karena ia memanggil kami teman bukan anak seperti guru yang lain. Ada keistimewaan tersendiri guru ini. Aku bergumam sendiri. Ternyata Rista dan Nona demikian Bruno dan Ima berpikir hal yang sama karena mereka serentak mengangkat bahu sambil meniggikan kembar alis mata mereka lalu tersenyum.

“Baiklah teman-teman kita memulai kegiatan belajar mengajar dengan doa nanti satu orang bisa pimpin kita dalam doa.” Alber langsung saja memimpin doa pembuka. Fitry dan Yulia tersenyum karena Alber adalah tipe manusia dengan segudang humor dalam otaknya setiap dengar suaranya saja teman-teman memekarkan senyum lebar-lebar. Dia orang paling ramah di kelas dan jembatan perdamaian bila ada terjadi kesalapahaman di antara kami. Kalau ada piagam perdamain pasti sudah layak dan sepantasnya ia terima.

“Sebelum memulai pembahasan materi saya akan membacakan sebuah puisi karya Mario Lawi sastrawan muda NTT yang karyanya cemerlang di kancah lokal pun Nasional.

SEEKOR KELEDAI DI DEPAN LUBANG JARUM

Sebuah kota tenang mengapung di atas danau Galilea. Ratusan orang kaya menghuni kota, mengadakan pesta sepanjang waktu, menumpahkan anggur terbaik bagi ikan-ikan yang berkeriapan di permukaan danau. “Mereka sering kali mencekik orang-orang seperti Lazarus dan Bartimeus,” katamu. Ayahmu mengirimkan angin besar yang menggoyang-goyangkan seisi kota. Kota yang sedih, kota yang sedih, cintailah aku seperti anak ayam mengasihi bulu-bulu tebal induknya. Engkau mencengkeram jubah salah seorang penduduk kota itu dan menyeretnya ke hadapan kami sebelum kota benar-benar tenggelam. Di hadapan kalian yang mengitari sinagoga ini, aku dan Lazarus adalah anomali. Ia dipuji karena harta, kalian dipuja karena kata. Kami berdua adalah semut di ujung tumit yang hanya pantas dicibir sekawanan anjing.

Engkau menudingkan telunjukmu ke wajah si kaya ketika melipat lidahmu dan mulai mengumpamakan kerajaan surga. Lazarus yang kian gentar hanya menunduk di sudut gelap dan berusaha membendung airmatanya. Langit tak pernah terbuka. Tabir tak pernah terbelah. Gemuruh tak pernah terdengar. Merpati tak pernah menampakkan diri. Ia tak pernah menjadi raja. Setelah mengisahkan kembali cerita yang diperdengarkan Abraham ketika Lazarus duduk di pangkuannya, sekelompok orang dari luar sinagoga masuk dan menyeretmu. Kami semua tahu akhir kisahmu, termasuk anjing-anjing di dalam sinagoga yang kelak menjilati bunga-bunga luka yang mekar dari batu-batu para perajammu.

Aku berdiri di hadapan lubang jarum ini, kini, setelah melewati enam hari yang melelahkan. Tanpa kuk. Tanpa muatan. Tanpa beban. Bolehkah aku memilih untuk tidak melewatinya lagi?

Naimata, 2014”

Kami semua terdiam. Tidak ada suara-suara kecil yang biasanya muncul saat pelajaran sedang berlangsung. Suara pak Poli seakan terus bergema tanpa henti dalam diri kami. Cara membaca puisinya begitu memukau, begitu dalam. Suaranya tidak terlalu keras juga tidak lembut namun ada saatnya suara itu meninggi lalu turun perlahan dan perlahan. Pada syair tertentu ia memberi penekanan dengan intonasi dan tatapan matanya yang nyalang seakan mengisyaratkan pesan yang sangat luhur untuk kami simpan di kedalaman hati kami dengan lembut.

“Sarel dan Santy tolong bagikan kopian puisi ini kepada semua teman dan bacalah di rumah atau asrama jika ada waktu luang.”

Kami semua mendapatkan fotokopi puisi tersebut. Pelajaran pun mulai dan kami sangat antusias karena ia juga menyelipkan cerita-cerita yang menggugah dan lucu tetapi kalau dipikirkan lagi kesannya sangat mendalam. Ia juga menjelaskan tentang puisi tadi dengan bahasa sederhana muda dicernah dan menarik. Aku pun mulai suka dengan puisi-puisi atau tulisan-tulisan yang ada wangi sastra di dalamnya.

***
“Eman, mau minum teh atau kopi?” Tanya isterinya dari seberang pintu.
“Minum teh saja kaka. Oya kaka guru di mana?” sambungku.
“Dia ada ke rumah pak Adrianus nanti sebentar lagi dia akan datang.”
“Oke kaka nanti setelah habis baca bab terakhir baru saya ke ruang depan karena hampir selesai.”

Aku pun lanjut membacanya sampai selesai. Saat aku meniggalkan ruangan ini menuju ruang tamu kudapati kaka guru sudah duduk di kursi sambil minum teh dan menikmati pisang goreng yang masih panas. Di tangannya ada koran edisi hari ini.

“Suda selesai baca ko?” katanya sambil tersenyum.
“Suda ka’e”

Aku pun ikut bergabung menyerang pisang goreng kesukaanku dan teh panas kuteguk perlahan. Setelah itu aku kembali ke asrama kebutulan letaknya tidak begitu jauh mungkin sekitar seratus lima puluh meter jaraknya dari sini. Tidak lupa aku berterima kasih karena telah memberi kesempatan untuk baca di perpustakaan mungilnya. Pak Poli adalah guru dan teman baikku. Ia mengetahui banyak hal terutama informasi-informasi baru ia tidak pernah ketinggalan.

Kerendahan hatinya juga keperibadiannya yang tidak suka marah-marah menjadi daya tarik tersendiri. Banyak siswa menobatkannya sebagai guru favorit juga kamus hidup karena ada kata-kata yang sulit kami mengerti ia akan menjelaskan dengan sangat memuaskan mulai dari akar bahasanya dan biasanya bahasa Latin atau bahasa Inggris. Pokoknya dia guru spesial di hati para siswa. Aku belum sempat tanyakan apa rahasianya. Barangkali karena dia ex-frater belajar filsafat dan banyak hal hahaha… Tetapi ada guru yang ex-frater juga dan karakternya sangat berbeda dengan pak Poly. Ah, entahlah nanti aku tanyakan. Aku hanya tersenyum sepanjang perjalanan pulang sambil mengagumi sang guru dan berharap kelak jika jadi guru maka kerendahan hati menjadi hal yang paling aku utamakan dalam hidup dan karyaku.

***
“Ka’e.., pa’ Poly galong, mata baru-baru…” artinya “kaka pak Poli telah pergi, meninggal baru-baru ini”. Aku langsung terdiam membisu di ujung telpon terdengar suara adikku menjelaskan dalam bahasa Wangka alasan kematian ka’ Poly karena sakit yang singkat dalam tempo beberapa jam saja sakit merenggut nyawanya. Aku tidak pernah membayangkan kematiannya dalam umur yang begitu singkat meninggalkan isteri dan anak-anaknya. Air mataku tumpah perlahan di pipihku. “Ka’e guru terima kasih untuk cinta dan perhatianmu terutama motivasi yang membakar semangatku untuk terus belajar banyak hal. Terima kasih telah membagikan cahaya Kejora yang terbit dari sudut matamu untukku dan semua muridmu juga para guru dan sahabatmu. Lebih dari itu terima kasih karena dikau telah mengajriku mencintai pada saat yang sangat sulit untuk mencintai. Ka’e Rest In Peace. Doaku menyertaimu dan juga keluarga yang ditinggalkan.

Canberra – Australia, 2016.-


Lee Risar: Alumnus SMPK – SMAK Kejora dan STFK Ledalero. Pernah menjadi Staf Youth Ministry Support Officer di Australian Catholic University (ACU) Canberra – Australia. Kini Mahasiswa di CTC Melbourne – Australia. Karyanya terbit di koran: Flores Pos, Pos Kupang, Medan Bisnis dan Analisa [Sumatra], Jurnal Sastra Santarang serta sejumlah media online.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here