Kita dipanggil Karena Cinta

1
367

*) Maria Yosefa Pandi

“sampai jumpa lagi…”

Carita berusaha melepas genggaman tangannya kemudian berbalik dan pergi. Langkahnya agak cepat  menyusuri aspal yang mulai rusak di mana-mana. Tak ia pedulikan teriknya matahari, baginya ia harus segera meninggalkan kota kenangan ini.

Ia berhenti pada sebuah persimpangan, lalu menatap ke awan.

“kita masing-masing tlah di panggil. jika nanti di ujung jalan kita menemukan persimpangan, mungkin di sana ada titik di mana kita kembali bersua dan menceritakan semua kebanggaan tentang panggilan hidup kita, sahabatku...”

Teringatlah Carita pada kalimat itu. Ingin sekali ia meneteskan air mata dan berbalik menggagalkan salam pisah tadi.

Carita gadis timur, berkulit sawo matang dengan matanya yang dalam dan lentik, hidung yang tak begitu tajam dan rambut panjang sedikit bergelombang khas timur semakin cantik dengan perawakannya yang tinggi dan ramping.

Hari ini genaplah usianya 22 tahun. Ia tersenyum manis ketika mengatupkan mata dan tangannya di depan lilin ulang tahun mengiringi make a wish yang melantun dalam batinnya. Lagu ulang tahun dan berbagai ucapan mengalir sepanjang hari ini.

“selamat ulang tahun, sahabat.. Salam”

Beberapa saat Carita terdiam setelah membaca kalimat terakhir dari rangkain bait puisi yang diterimanya tepat pukul 00.00 wib. semalam melalui sms. Ia bermaksud membalas ucapan tersebut namun ia belum berhasil merangkai kata yang tepat.

Sekarang pukul 16.30 wib dan sms itu telah berulang kali dibacanya.
Perlahan ia mengetik kata demi kata sebagai balasan. Inilah chattingan yang pertama setelah perpisahan tiga tahun silam. Dan tanpa disadarinya pukul 16.50 wib. ia telah menulis begitu panjang, hingga ia menyadari ia begitu merindukan sang sahabat. Tak tertahan lagi tangisnya.

“ah.. Tuhan… aku tak ingin lagi terbuai puisi dan bayang-bayang yang manis! aku ingin hadirnya! wajah dan pelukan yang nyata, bukan syair bermelodi indah. aaahh..”

Raungannya semakin keras seperti ingin mencabik-cabik mimpi dan janji di lampau itu. Setelah lelah menangis ia kembali melihat telephone di genggamannya lalu mengedit pesan yang tadi diketiknya begitu panjang.

Gadis itu menyadari, ia dan sang sahabat telah menjawab panggilannya masing-masing dan mereka telah menggenapi janji dan mimpi-mimpi itu cinta ini untuk kemuliaan sang Cinta Sejati.

“saya adalah sahabat yang paling bangga nanti jika melihat kakak berdiri di depan sana..” ia berkata sambil menoleh ke ujung lorong dari barisan kursi-kursi panjang itu. “Biar ini semua kita letakan sebagai persembahan lewat pengabdian bagi-Nya…”

Carita yang masih remaja menjawab begitu manis. Bahkan ia belum mengerti arti sebuah ketulusan, yang dipahaminya saat itu hanyalah sebuah keberanian. Keberanian mengubur rasa dalam hatinya, menyatakan cinta dalam bayang tak berkata.

“Amiiiiin…¬†
terima kasih banyak untuk doa dan ucapannya, sahabat…
salam.” Balasan itu seketika terkirim dan Carita bangkit untuk membuka pintu kontrakannya. Seseorang mengetuk dari luar.

“selamat ulang tahun, sayaang…” Alberto mengecup keningnya dan menyerahkan kue berukuran kecil serta seikat mawar sebagai hadiah ulang tahun baginya. “ku pikir kau melupakannya…” Carita tertawa kecil sambil berterima kasih pada kekasih barunya itu.

Langit Jakarta semakin gelap pertanda hari ini kan berakhir.

Ah.. cinta…ketika itu senin, 27 Februari 2017


Maria Yosefa Pandi, kelahiran Flores-manggarai pada 1995, sekarang menetap di Jakarta Timur

1 KOMENTAR

  1. wahhh ceritanya sedih bgt….
    salam dri rakat jakarta kaka…
    jangan berhenti berkarya yah.. di tunggu tulisan selanjutnya……

LEAVE A REPLY