Riwayat Dendam di Kampung Kita, Cerpen Valry Hengky

0
97

*) Valry Hengky

(Mengenang Tragedi Rangko Berdarah, Manggarai Barat, 16 Januari 2017)

Kesedihan kini selalu menunggu di kampung Kita. Terdengar kabar, di antara rumah-rumah sempit, para penduduk sempat mau berdamai. Tapi, pada suatu malam, ada bunyi parang riuh dari halaman rumah mereka. Pertumpahan darah kembali terjadi di sana, lagi. Dan entah mengapa, damai itu begitu cepat berlalu dan dendam akan menguak dari dalam darah-darah yang koyak, dari tangisan anak-anak dan perempuan-perempuan dalam rumah.

Pada siang hari, siapapun tidak akan bisa melihat kesedihan di tempat itu. Tapi pada malam hari, kesedihan selalu mampu menampakkan diri dan membelai kepala orang-orang kampung hingga anak-anak terlelap dalam pangkuan kesedihan itu saat lampu-lampu padam; pintu, jendela rapat terkunci. Anak-anak bertelungkup di kolong-kolong tempat tidur dan perempuan-perempuan itu merangkul mereka, erat sekali, sambil mata melotot dan pisau dapur berjaga, kalau-kalau ada yang menerobos ke dalam rumah menghendaki darah mereka.

Sementara di luar rumah, desingan parang, teriakan kemurkaan dan darah penghabisan membuncah di kegelapan. Malam kian jauh dan Kartika tidak tahu, entah apa yang akan tumbuh di halaman rumahnya selepas malamitu.

***
Di suatu sore yang berkabut, orang-orang yang berjejalan di halaman kampungdigemparkan oleh pemandangan yang fantastis yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di bawah pohon ketapang, samping rumah adat, dua orang kekasih berciuman penuh nafsu tanpa memikirkan tempat dan waktu.

Begitu panas ciuman itu, hingga orang-orang yang menjadi saksi peristiwa tersebut, kelak bertahun-tahun kemudian akan menceritakannya, bahwa mereka melihat api menyala dari bibir keduanya. Hal itu menjadi legenda, sebab sepasang kekasih tersebut adalah Berno dan Kartika. Baik lelaki maupun perempuan, akan mengenang peristiwa tersebut dengan kecemburuan tanpa ampun.

Kartika telah berpacaran dengan Berno jauh sebelum para pendatang menetap di sana. Bahkan saat Kartika sendiri belum genap berusia tiga belas tahun dan Berno masihlah bocah mentah yang kadang tengik. Dan semua orang berpendapat bahwa mereka adalah pasangan terindah yang pernah ada di dunia. Dan memang penampilan provokatif mereka telah dikenal di hari-hari terakhir sebelum kepergian Berno ke ibukota kabupaten untuk belajar di Sekolah Tinggi.

***
“Aku ingin belajar menangis tanpa air mata dan perasaan-perasaan lembap”, ungkapnya dalam hati kecil. Bagaimanapun, kematian Pau Gasol membawa duka yang mendalam bagi keluarga mereka. Sebab, Kartika teringat, telah bertahun-tahun lelaki itu berkorban dan membaktikan diri untuk keluarganya, sebagai rekan kerja ayah di ladang, yang kini dari sana lahir dan tumbuhya benih jagung, subur dan lebat.

Ketulusan, panjang dan susah, dinikmatinya sepenuh hati, seperti musim, sepanjang tahun-tahun. Lelaki itu telah menjadi anggota keluarga itu dan oleh sebab kegemilangan dan budi baiknya, keluarga pun tak menginginkan jarak di antara mereka.

Hingga pada suatu pagi yang basah, Pau Gasol diketemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Orang banyak dan beberapa polisi telah ada di tempat sebelum Kartika dan ayahnya tiba si sana. Sesungguhnya, di tempat terkutuk itu, telah terjadi pembantaian dan dari padanya akan lahir dendam, dan api akan meluap-luap dari bibirnya.

Ayah Kartika tak banyak kata, memeluk erat putrinya, hanya air mata dan hati yang patah mencuat dari sorot mata sembap dan bibirnya yang gemetar.

Sementara Kartika, setelah melepas dekapan sang Ayah,dan didorong oleh rasa iba yang tak tertahankan, mulai memungut potongan tubuh paling malang itu dan dengan kepedihan mendalam, dan sesuai arahan polisi, berusaha memasangkannya kembali pada tempatnya semula. Pagi masihlah basah, saat darah segar dan aroma ketulusan serta cinta yang ikhlas merebak dari tubuh itu sebagai penghabisan, dan salam perpisahan yang memilukan.

Warga kampung yang berkerumun pun membantu memungut tubuh sial itu dan segera sesudahnya langsung diantar ke kapel dekat pekuburan umum untuk disemayamkan di sana. Semua orang yang menyaksikan hal itu, di pagi yang basah selepas hujan kurang ajar sepanjang malam, tampak tidak percaya dan ketakutan, dan rasa menggigil yang luar biasa sebab kematian seperti itu baru mereka lihat.

Ada yang menduga kematian itu terjadi oleh sebab iri dengki hebat orang terhadap kegemilangan keluarga Kartika pada tahun-tahun belakangan, semenjak bermunculnya Pau Gasol. Yang lain mengira-sambil garuk-garuk kepala-bahwa Pau Gasol tertimpa kemalangan akibat tingkah kurang ajarnya di tenda pesta perkawinan anak kepala desa beberapa hari sebelum itu. Namun, dugaan itu langsung ditepis dan dinyatakan tidak benar oleh Kartika sebab ia sendiriada bersama Pau Gasol di sana (tempat pesta) dan mengetahui kebenarannya secara jelas, walau banyak tudingan miring dialamatkan kepada lelaki itu.

Tim aparat kepolisian sektor setempat yang datang mengolah tempat terkutuk itu, kuat menduga akan adanya sengketa tanah. Mereka kembali mengingat saat pembagian tanah beberapa tahun lampau yang berujung ricuh sebelum kepolisian turun tangan. Kemudian setelah itu, tanah-tanah tersebut tidak jelas hak kepemilikannya hingga menjadi tanah khalayak. Dan pengolahannya pun tidak jelas. Hanya sesepuh saja, termasuk ayah Kartika, yang untuk sementara waktu, berhak mengolah tanah tersebut sampai ada pembagian yang jelas dan adil.

Lebih dari itu, tubuh Pau Gasol berserakan bersimbah darah pada tanah yang masih lembap, tidak jauh dari tanah sengketa, pada bagian yang diolah oleh keluarga Kartika.

Polisi juga menemukan jejak titik-titik darah penghabisan pada batang-batang pohon jagung, tanah dan rerumputan. Namun, tak satu pun barang bukti diketemukan di sana.

***
Hari itu, cuaca membisikkan perihal-perihal iri hati, dendam dan pembunuhan. Aroma kematian menguak dari celah-celah jendela rumah dan hawa kebencian serta darah segar merebak dari hembusan angin selepas gerimis yang sederhana.

Berno merasa ada yang tidak beres dengan keluarganya di kampung. Sesuatu seperti malapetaka hebat akan terjadi dan membawa kemalangan, dan nampaknya langit pagi yang perangainya tenang dan hangat telah ditanggalkan.

“Aku tiba-tiba ingin pulang kampung. Serasa seseorang menangis menjadi-jadi dan memasuki kepalaku dan aku sedih, seolah ada sesuatu yang tiba-tiba hilang dari tubuhku dan jiwaku terbakar menjadi abu”, katanya kepada tuan kos sebelum berlalu.

***
Kartika telah berusia dua puluh tahun ketika Berno akhirnya muncul kembali. Lelaki itu telah berusia dua puluh dua tahun. Sejak kepulangnnya itu, ia memanggil dirinya jagoan, sebab keperkasaannya. Sebagai lelaki, ia belum terkalahkan di setiap arena pesta yang berakhir kacau. Tepatnya, sifat Bengal itu muncul setelah dia kehilangan ayahnya yang mampus tergantung di pohon ketapang samping rumah adat. Pohon yang paling berkesan itu.

Demikianlah Berno telah menjadi berandalan yang kurang ajar. Duka kehilangan ayahnya terus dibawanya kemana-mana. Ia menghilang dari kampung dan muncul kembali pada saat ada hajatan masal. Pengikutnya banyak dan mereka patuh pada titahnya. Banyak orang mulai resah dan takut, kalau-kalau, anak itu mengamuk dan entah dengan cara apa menghabisi lawan-lawannya.

Walau begitu, entah mengapa, cintanya pada Kartika tetap kokoh. Sebagaimana dikatakannya dulu, “Aku mencintaimu seperti televisi tua milik bapakku, yang hanya memiliki satu kanal dan tanpa remot kontrol”, walau sebenarnya bapaknya dahulu tidak punya televisi. Suatu keheranan bahwa sekalipun dia seorang penjahat, tetapi Kartika malah berharap kegilaann Berno akan segera lenyap dan kemudian Berno terlahir kembali menjadi manusia normal dan tumbuh layaknya pohon yang pucuk-pucuknya hendak menyentuh biru angkasa. Dan cinta mereka akan kembali mekar sejadi-jadinya seperti puisi yang tidak lagi tahu di mana harus berhenti.

***
Jauh sebelum perang pecah malam itu, kurang lebih tepatnya saat-saat persekutuan memabukan antara Berno dan Kartika sedang mekar-mekarnya, Pau Gasol telah ada dan tinggal bersama keluarga Katika. Pau Gasol sendiri sebagai sanak sepupu, sama sekali tidak menyetujui hubungan mereka. Pau tidak suka terhadap prilaku tengik dan kesombongan Berno. Sebab Berno selalu menghina Pau Gasol sebagai budak dalam keluarga Kartika dan oleh sebabnya, keduanya sering berkelahi walau selalu tanpa pemenang, karena keduanya sama kuat.Sejak saat itu kebencian dan nafsu untuk saling mengalahkan semakin menguat di antara mereka. Dimana-mana, keduanya selalu terlibat duel panas bahkan sampai tamat sekolah menengah.

Hingga, pagi yang basah itu, Pau Gasol akhirnya diketemukan tewas di dekat tanah sengketa, setelah semalaman berduel habis-habisan dengan Berno. Ketika itu, karena tak pernah terpuaskan, Berno secara diam-diam menantang Pau Gasol bertarung hidup mati tanpa benda tajam untuk menentukan siapa paling kuat. Maka, malam itu, Berno yang sudah di ibukota, pulang kampung dan diam-diam menghadapi Pau Gasol berduel di tanah sengketa. Keduanya bertarung sampai penghabisan, dibawah guyur hujan deras, hingga akhirnya Pau Gasol dibantai secara licik oleh Berno dengan sebilah parang.

Setelah Pau Gasol berpindah ke liang kubur, sanak keluarganya, secara tak terpuaskan dan dengan penuh keingintahuan, menelusuri kembali tanah sengketa tempat pertarungan dan di sana mereka menemukan kalung. Sebuah kalung yang sama dengan kepunyaan Kartika. Dengan penjelasan Kartika kemudian mereka yakin bahwa Pau dibantai oleh Berno. Sejak saat itu, dendam untuk memburu Berno sangat kuat. Namun, karena Berno menghilang, maka mereka pun menyerang ayah Berno dengan lebih sadis dan brutal. Lalu digantung di pohon ketapang samping rumah adat.

***
Sekali lagi, jauh-jauh hari sebelum perang pecah malam itu, dalam kegilaannya setelah kematian sang ayah, Berno, secara diam-diam pula, didekatinya dengan penghasutansemua keluarga dan teman segerombolannya dimanapun, untuk kembali membalaskan dendamnya, berperang melawan keluarga Pau Gasol.  Bagaimanapun, ia tahu, bahwa ayahnya dibantai oleh keluarga Pau Gasol sebagai imbalan atas nyawa Pau Gasol. Sementara itu, keluarga Pau Gasol telah bersiaga, kalau-kalau, pasukan Berno kembali menyerang. Walaupun, sempat di buat pendamaian antara kedua belah pihak, namun usaha itu tidak ada faedahnya dan tak bertahan lama, oleh sebab dendam iblis yang terus menerus menggelora dalam darah mereka.Akhirnya, kedua kubu pun kembali bertarung malam itu. Mulanya di tanah sengketa, lama kelamaan menjalar di halaman kampung dan di teras-teras rumah, di kegelapan, ditengah tempaan dingin angin laut dan gerimis yang tidak lagi sederhana.


Valry Hengky. Warga sastrawi Ledalero, tinggal di Wisma Arnoldus Nitapleat, Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here