NADA, PUISI JIWA, Puisi-Puisi Resty Baba Nong dan Kris da Somerpes

0
174

Puisi-puisi Resty Baba Nong


Riwayatku

Riwayatku,
sebuah catatan harian
yang terbentang sepanjang
ingatan, rindu dan jumpa

Riwayatku,
tak akan pernah sudah dibaca
selama menulis menjadi pulang yang kekal
dan tanda baca tetap menjadi tanda

Kupang 2017

Sepucuk surat buat kekasih

salam jumpa
di ujung bulan februari
sebusur cinta lepas lalu
tinggal air mata basah
ruang khayalmu.
di sini aku sendiri
menunggu cerita ulang tahun
surat ini mengajakmu kemari.
di sini
setangkai bunga hati
aku menanti

Kupang, 2016

Nada

Kepada nada
aku pulang.

sepalungan bunyi
yang gemakan harmoni
dari nyanyi paling hening

Kepada nada
aku pulang.

seriungan melodi
yang kumandangkan elegi
dari doa-doa paling bening

Kepada nada
aku pulang
dan tak pernah mau berpaling

Kupang, 2016

Rindu

Rindu adalah rumah jumpa
manusia dengan dirinya

Rindu adalah bahasa
manusia dengan dirinya

Rindu adalah jalan pulang
manusia menuju dirinya

Rindu adalah dirinya,
manusia

Kupang, 2016

Puisi Jiwa

Kita telah bersama,
telusuri seribu cerita.
Kita baca dengan setia
lembaran-lembaran usia

Kita tak pernah-pernah tua,
rindu masih setia berbunga.
Cinta masih berikan cahaya,
kita adalah sepasang puisi jiwa.

Kupang, 2016

Puisi-puisi Kris da Somerpes


Mata Pena

Matamu, mata pena
di rebah tubuhku
kau catatkan doa

Labuan Bajo, 2017

Anak Kata

Aku sudah menjadi janin
dan berenang dalam renungmu
kelak, dalam hening yang putih
akan lahir anak kata yang
tak dapat kau besarkan sendiri

Maumere, 2017

Mencintaimu

Mencintaimu, aku pohon
dengan akar-akar yang
Suluk jauh ke masa lalu
menembus lapisan cerita

Mencintaimu, aku ranting
dengan bentangan merimbun
tempat kau jatuhkan tidur.
Tidur paling teduh.

Mencintaimu, aku daun
dengan helai-helai hijau
tempat kau catat puisi
tentang keseharian

Mencintaimu, aku pucuk
yang julang, kepada langit.
Doa-doa dipohonkan
disambut serentang masa depan.

Maumere, 2017

Cemburu

Dia tak mengenalmu, dan
tak pernah mengganggu doamu, pun
menyuruhmu berzalim. Tetapi
yang selalu melawan Tuhan, dan
mengganggu kekuasaan-Nya

Labuan Bajo 2017

Sedalam apatah itu tubuh

“Bertolaklah lebih jauh ke dalam. Naikkan sauh”

Aku pun berburu-buru mengayuh. Mengarungi laut bergelombang peluh
“Tuhan, aku sudah di kedalaman tubuh. Haruskah aku lepaskan sauh”

“Bertolaklah lebih jauh ke dalam. Tahan itu sauh”

Aku kembali berkayuh, tempuh pada kedalaman terjauh
“Tuhan, akankah jangkau ini sauh. Sedalam apatah ini tubuh”

“Bertolaklah lebih jauh ke dalam. Hingga kau sauh”

Tuhan yang tak bertubuh
“Betapa aku rapuh di biru laut-Mu, sungguh”

Labuan Bajo, 2017


Resty Baba Nong, seniman musikalisasi puisi tinggal di Kupang. Kris da Somerpes adalah salah satu pengampu pada rumah kreasi Baku Peduli Labuan Bajo. Sebelum keduanya pernah berkolaborasi dalam musikalisasi puisi berjudul “Berlayar” bersama musisi Edward Angimoy

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY