Puisi-puisi Mikhael Wora

0
172

*) Mikhael Wora

PUJIAN MUSAFIR

Tengah terik kehausan hujan
Biarlah cintai-Mu melebihi seteguk air dingin
Merindu-Mu melebihi sesejuk wahah

Engkau yang lebih tulus dari desau angin
Engkau yang lebih jujur dari langit malam tanpa halang
Engkau yang begitu dekat
Lebih dekat dari kemah pelindung badai
Lebih dekat dari tambun budi
Lebih dekat dari denyut nadi

Bukan saja aku sulit menarik batas
Di antara nama-Mu pada hela-hela napas
‘Pun angin yang menggandeng debu-debu sahara

Engkau yang kerap kutiduri di ranjang puji
Sebelum malam melahap petang
Sebelum terik menjamu pagi

Di ketiak-Mu aku mencium bau surga
Dan nikmati luap takzim dari ucap bibir-Mu

(Puncak Scalabrini, 3/3/2017)

LAHIR

Aku terlahir satu kali dari rahim ibu
Dua puluh empat kali dari rahim waktu
Aku adalah perkawinan antara napas dan detik
Ketika detik melupakan napas
Aku semu
Ketika napas melupakan detik
Aku lugu

Sekali kulupakan keduanya
Tiba-tiba saja aku menjelma hampa
Di saat aku adalah hampa
Siapakah ada?

Adonai
Hampaku bukanlah hampa-Mu
Adaku adalah cipta-Mu
Dan ada-Mu adalah kata

Pada sampai aku menghembus
Dan waktu berdenyut lanjut
Biarlah aku merangkak dewasa di  pelataran kata-Mu

(Puncak Scalabrini, Maret yang ke-24)


Mikhael Wora. Kelahiran Ende, 7 Maret 1993.Mahasiswa STFK Ledalero. Seringkali mencumbui senja di Puncak Scalabrini.Bergiat bersama teman-temannya di komunitas sastra Djarum Scalabrini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here