Ingin Rasanya Kukecup Senyumannya yang Kecut Itu, Cerpen Kak Ian

0
121

*) Kak Ian

JIKA ANDA MELIHAT SALAH SATU PRAMUNIAGA KAMI TIDAK MELAYANI ANDA DENGAN BAIK DAN JUGA TIDAK MEMBERIKAN SENYUMAN RAMAH. HARAP LAPOR KEPADA KAMI.  DAN KAMI SIAP MENERIMA LAPORAN DARI ANDA. TERIMA KASIH.

Minggu pagi ini di hari libur aku menghampiri supermarket itu seperti biasanya. Berbelanja keperluan yang aku inginkan bukan kebutuhan bulanan. Maklum masih tanggal tua jadi aku menghampiri supermaket itu untuk membeli yang aku inginkan saja.

Ini sudah yang kesekian kalinya aku menghampiri supermarket itu dan juga kesekian kali membaca pemberitahuan itu. Pemberitahuan yang sengaja ditempelkan tepat di kaca pintu masuk supermarket itu.

Itu sering kali aku baca ketika saat ingin membeli kebutuhan yang  kuperlukan. Entah, itu perlengkapan mandi, makanan ringan maupun yang aku butuhkan. Pasti aku akan singgah ke tempat itu. Maklum beginilah nasib menjadi bujang. Apa pun dilakukan seorang diri. Apalagi soal kebutuhan sehari-hari, mau tidak mau tetap harus dijalankan  tentunya.

Satu persatu aku susuri rak demi rak di tempat itu. Namun tetap saja tak ditemukan.  Nihil, aku tak menemukan juga. Padahal ini bukanlah yang pertama kali aku masuki tempat itu melainkan sudah bebetapa kali. Jadi aku sudah hafal benar di mana tempat apa yang kucari itu berada. Namun kali ini aku tak menemukan juga! Atau, mungkin letak raknya diubah? Entahlah.

”Maaf  Mbak bisa bantu saya? Di mana ya tempat pecukur kumis?”
Sayang, orang yang aku sapa tak menggubris ucapanku.
”Maaf  Mbak bisa bantu saya? Di mana ya tempat pecukur kumis?” Aku pun kembali bertanya kepadanya. Lagi-lagi ia tak juga menoleh ke arahku. Bicara sepatah kata pun tak aku terima. Apalagi senyum tak juga aku dapatkan.
“Sial!” gerutuku dalam hati.

Akhirnya aku pun kembali ke tempat semula. Mencari apa yang aku butuhkan seorang diri walau dengan sedikit seperti orang menahan gondok di batang leher. Tapi aku memakluminya apalagi ia seorang perempuan. Perempuan yang aku amati selintas mirip Nabila Syakib selebritis muda ibukota. Berhidung bangir. Berwajah negeri Timur Tengah. Dan beralis hitam kereta api.

Sungguh bagi aku perempuan itu makhluk sempurna dari Tuhan—yang telah menciptakannya. Sayang seribu sayang lagi-lagi perempuan itu tak menyunggingkan senyum sedikit pun dari daun bibirnya yang tipis itu.

Hmm…ingin rasanya aku kecup bibirnya saat itu juga agar bisa merekah. Dan bisa tersenyum kepadaku! Pikirku menerawang tak menentu.

Tapi…alamak. apa jadinya jika aku melakukan hal itu. Bisa-bisa aku telah melakukan tindakan asusila di muka umum. Dan bisa-bisa dilaknat Tuhan. Oh, tidak! Lebih baik aku tahan kendali saja. Biarlah ia tidak senyum kepadaku. Toh, aku juga baru kali ini melihat perempuan itu di tempat ini.

Namun dalam kelelahan akhirnya aku menemukan juga  apa yang aku cari. Usai itu aku pun langsung menuju ke meja kasir untuk  membayar. Ternyata aku kembali melihat perempuan yang pertama kali kusapa. Perempuan itu masih tetap sama. Ia tak membuka daun bibirnya sesenti pun. Tak ada senyum yang menyungging di bibirnya itu.

”Dua puluh lima ribu rupiah,”  ucap sang kasir.
Ekor mataku masih tertuju pada perempuan itu.
”Maaf Mas! Ini kembaliannya!” tukas sang kasir kembali membuyarkan lamunanku.
”I-iya!” seruku terbata-bata.

Usai menerima pencukur kumis itu aku pun langsung melangkah keluar meninggalkan  tempat itu. Supermaket yang sering kali aku singgahi. Namun sebelum kaki aku jauh keluar ekor mataku kembali tak sengaja membaca pemberitahuan yang ditempelkan di kaca pintu masuk tempat itu.

JIKA ANDA MELIHAT SALAH SATU PRAMUNIAGA KAMI TIDAK MELAYANI ANDA DENGAN BAIK DAN JUGA TIDAK MEMBERIKAN SENYUMAN RAMAH. HARAP LAPOR KEPADA KAMI.  DAN KAMI SIAP MENERIMA LAPORAN DARI ANDA. TERIMA KASIH.

Aku hanya mendengus. Menghela nafas dalam-dalam  ketika membaca pemberitahuannya itu kembali. Aku keluar dalam kondisi seribu tanya yang menyelubungi hatiku.

Buat apa pemberitahuan itu dibuat kalau tidak sesuai harapan? Kesalku.

***
Aku heran akhir-akhir ini entah kenapa selalu melihat wajah-wajah yang dipenuhi ombak disekitarku. Aku amati dalam berbagai keadaan tak ada satu pun orang-orang yang kutemui tak memberi senyum. Walau aku sudah ramah kepada mereka. Padahal dalam berbagai kesempatan aku seringkali melihat bahkan bertemu dengan mereka.

Mungkin senyum di negeri ini sudah sulit ditemukan? Jadi susah aku menemukannya. Atau, jangan-jangan senyum di negeri ini sudah dikomersilkan? Jadi mahal untuk ditunjukan?

Ya, aku tahu negeri ini terkenal dengan ramah tamahnya. Penuh dengan senyum. Tapi ketika aku melihat dengan mata-kepala sendiri hal itu jadi merubah asumsiku. Padahal yang aku tahu senyum itu sangat mudah dilakukan. Kapan pun dan dimana pun bisa dilakukan! Gratis pula lagi. Tak dipunguti biaya segala apalagi dikenai pajak.

Dan benar juga apa kata ustadz Sulaiman, guru ngaji di kampungku dulu pernah bilang,” senyum itu ibadah.” Nah, kalau sudah begitu siapa yang perlu dipertanyakan?

Keesokan harinya setelah peristiwa ”insiden” kecil yang aku alami di supermaket itu. Supermarket yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggal aku yang hanya dibatasi jalan raya. Sejak saat itu aku sudah enggan untuk singgah kembali dan sekaligus ingin melupakannya.

Bukan! Bukan, karena perempuan itu menggoda imanku. Apalagi jika aku sedang memejamkan mata bila malam tiba. Wajahnya selalu menghantui di pelupuk mataku. Lalu menari-nari dalam bayangan pikiranku. Kalau begitu…Apakah aku sudah jatuh hati padanya? Atau, aku terlalu sentimentil dengan perempuan itu? Ahai…nanti sajalah ketika aku ke supermaket lalu bertemu kembali kepadanya.

Akhirnya kesempatan aku untuk bertemu kembali dengan perempuan itu pun tiba. Namun bukan di supermarket yang seringkali aku singgahi. Kali ini aku bertemu kembali dengannya di lain tempat dan waktu. Saat itu aku bertemu dengannya, tapi lebih tepatnya melihat dirinya sedang menyendiri di sebuah taman kecil.

Ya, taman kecil itu berada disekitar tempat tinggal aku. Namun saat aku melihat ke arahnya awan kelam sedang menyelubungi dirinya. Saat itu ia sedang berduka. Ia sedang isak. Entah apa yang terjadi padanya aku pun tak tahu.

Tapi jika aku menghampiri perempuan itu apakah ia mau menerima kehadiranku? Maklum aku tak kuasa jika melihat seorang perempuan menangis. Aku ingin buru-buru mengetahuinya. Kalau perlu aku bisa melindunginya. Tapi lagi-lagi aku tak mengenal nama dan alamat tinggalnya dengan pasti.

Aku  hanya sekali melihat wajahnya di supermarket itu. Jadi tak mungkin aku tiba-tiba langsung menghampirinya. Lalu mengenalkan semua indetitas pribadiku secara lengkap (kalau diperlukan!). Seperti yang sudah kurencanakan sebelumnya ketika nanti aku bertemu dengannya.

”Kenalkan namaku Bujana. Usiaku 35  tahun. Aku  tinggal di perumahan komplek Indah Permai. Bekerja sebagai akunting. Satu lagi aku masih jomblo. Alias, bujangan! Boleh aku berkenalan dengan Anda?”
Amboi…pede sekali ya aku ini jika hal itu terjadi kualami.
”Sekar, ayolah Nak tak baik kamu meratap di taman ini. Tempat ini tak baik untuk kamu jadikan singgahan untuk menghilangkan penderitaanmu. Bukankah kamu tinggal di sini untuk mencari ketentraman hati dan juga untuk menghilangkan segala semua yang terjadi. Ayolah Nak kita masuk ke dalam saja. Tak baik dilihat tetangga.”

Belum usai lamunan aku menerawang lebih jauh. Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil nama perempuan itu.
Aku pun tersentak, terkejut lalu melihat ke arah perempuan itu. Ternyata ia sedang beradu argumen dengan seorang perempuan paruh baya. Tapi siapa perempuan paruh baya itu? Sepertinya tak asing aku melihat wajah perempuan itu. Tapi dimana ya aku melihatnya? Atau, mungkin hanya dejavu aku saja?

Dengan seksama aku kembali melihat dua perempuan itu di taman. Namun sayangnya saat itu aku lagi-lagi tak menyampari mereka. Hanya melihat dari kejauhan saja. (Saat itu aku sedang berada di lantai atas rumahku). Atau, nanti saja aku bertanya dengan perempuan itu kembali di tempat ia bekerja? Kemudian aku bisa bercakap-cakap lebih lama dengannya dan saling bercerita.

Tapi mungkinkah hal itu terjadi? Walau aku ingin sekali bertanya kepadanya nanti disaat aku singgah kembali di supermarket itu. Dan aku akan bertanya langsung kepadanya tanpa sungkan; Kenapa ia kecut kepadaku  saat itu.[]


Kak Ian, bekerja sebagai guru/pengajar Jurnalistik tingkat Sekolah dan penulis Cerita Anak. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta, Perpus Jalanan Pembatas Buku Jakarta dan penikmat fiksi-fiksi bertemakan mitos dan urban legend.

Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional dan online. Serta beberapa kali memenangkan lomba-lomba kepenulisan. Paling benci dengan pem-bully-an dan para pendengki pada kesuksesan orang lain apalagi mematikan orang lain berkarya.  Suka diajak sharing kepenulisan dan bisa dilihat karya-karyanya di IG:kak_ian0205.

Paling benci dengan pem-bully-an dan para pendengki pada kesuksesan orang lain apalagi mematikan orang lain berkarya. Suka diajak sharing kepenulisan dan bisa dilihat karya-karyanya di IG: kak_ian0205.

Penulis buku Kumpulan Cerita Anak Berkarakter Belajar Blusukan dan Cerita-cerita Anak Lainnya, penerbit Mazaya Publishing House, Desember tahun 2016 dan Kumpulan Cerita Misteri dan mitos Cerita Kampung Maut dan Cerita-cerita Lainnya, penerbit Hanami, Desember tahun 2016 serta sedang menunggu buku-buku antologi selanjutnya yang akan terbit.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here