Bocah di Tanah Merah, Puisi-Puisi Novy Eko Permono

0
111

*) Novy Eko Permono

Bocah Tanah Merah

Ku lihat seorang bocah
alisnya berurat di kelopak mata

Pada cuaca yang ditelan gelap
si bocah terus berjalan menatap burung merak
mengikuti dengan mata yang terus bergerak
sesekali menghela napas, memejamkan mata sesaat.
serumpun pohon kesturi membentuk lautan kembang

Pada gundukan tanah merah
Zubaedah mengingat wajah-wajah
tanah asal yang telah padam
lenyap oleh gelombang
menghapus jalannya pulang

Wonogiri, 22/2/2017

Zubaedah

Seorang bocah
lamat-lamat berjalan
menyusuri tanah-tanah kelahiran
linglung tak karuan

Zubaedah
Menuju tanah bukit merah
Memanggil-manggil tanpa arah
Ibunya tak pernah pulang ke rumah.

Wonogiri, 22/2/2017

Negeri Kaitetu

Satu jam perjalanan dari kota Ambon melewati sungai kecil di Keihitu
binar mataku memancar mengenai sebuah bangunan
terlihat tidak berdiri tegak, doyong ke sisi kanan

arsitekturnya begitu sederhana 
dindingnya berupa gaba-gaba beratap daun rumbia
tiang pancang kayu, tempat duduk khatib
beduk dan kitab-kitab yang berpindah
terkesan mistis, begitulah legenda dibangun
jemariku terdiam di atas buku catatan
ku tarik napas cukup dalam
melanjutkan perjalanan
sepanjang jalan mereka becerita banyak tentang Maluku
tentang agama yang bersendikan adat.

Wonogiri, 23/2/2017

Menjelma Pasar /1/

Di surau selepas mengaji
mereka datang
berjejalan di atas gerobak
menempuh jalan koral
kubangan kerbau
terbenam di balik kerudung hujan

Rumah kosong sudut jalan
kaca-kaca, lantai keramik
gading yang terus berpijar
menjelma pasar
menggelar baju-baju cantik
sepeda tua, kopra, singkong dan paya

Wonogiri, 12/3/2017

Menjelma Pasar /2/
: Yuditeha

Tukang cukur
bercermin besar
kotak-kotak perkakas
meja kursi
berkalung handuk yang khas

Di sudut lain
bocah-bocah beradu gambar
duduk, berbaring di langit basah
menenggelamkan diri
dalam kerahasiaan yang menyenangkan

Wonogiri, 12/3/2017

Menjelma Pasar /3/

Rumah bukanlah rumah
tak ada kamar
tak ada dapur
kotak-kotak tembok selembaran
memanjang beberapa depa

ketika matahari berpulang pada laut
merekapun pergi
lamat-lamat, menjauh, menghilang
rumah kembali dalam kebisuan

Wonogiri, 12/3/2017


Novy Eko Permono penggemar tempe ‘mendoan’ garis keras. Saat ini aktif sebagai koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Wonogiri. Dapat disapa via email: novyekop@gmail.com, fb: Novy Eko Permono

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY