Lelaki Berdasi Kupu-kupu, Cerpen Mirna Alfiani

0
72

*) Mirna Alfiani

Seorang lelaki tampan berdasi kupu-kupu menyambut kehadiranku di depan kafe sore itu. Dengan sopan dan ramah, lelaki dalam balutan busana hitam putih itu mengucapkan selamat datang, lalu membukakan pintu kaca kafe tersebut untukku.

“Terima kasih,” desisku sambil melangkah masuk. Seperti biasanya jam segini pengunjung kafe tidak begitu ramai. Akupun memilih meja di pojok kanan tempat favoritku, aku sangat menyukai pojokan itu karena dari sini aku bisa bebas memerhatikan tamu kafe keluar masuk. Selain itu, aku juga bisa menatap keluar, ke arah jalanan yang selalu macet pada jam pulang kerja seperti ini. Sejenak aku mengedar pandangan keseluruh ruangan. Di pojok sebelah kiri, sepasang sejoli sedang duduk. Mereka tampak saling bercanda, melempar senyum dan saling menggoda satu sama lain.

Seorang lelaki paruh baya berkacamata di depan sejoli itu tampak cuek, sepertinya sangat larut dalam bacaannya, sebuah buku tebal, yang dalam bayanganku seperti sebuah novel. Di sebelah lelaki paruh baya itu, ada sepasang suami istri beserta ketiga anak kecil duduk dengan tertib. Mereka sedang menikmati makanan dan minuman yang terhidang di hadapan masing-masing. Mulut mereka tampak asyik mengunyah, barangkali mereka sangat lapar sehingga tidak perduli dengan keadaan sekitar.

Seorang pelayan cantik dengan polesan make-up sederhana datang menghampiriku. Dengan senyuman ramah ia pun bertanya, “mbak Ika pesanannya seperti biasa, hot chocolate atau mau menu yang lain?” tanya pelayan cantik itu.
Hot chocolate saja, seperti biasa.” Jawabku tanpa melihat daftar menu yang tersedia di meja karena memang aku pelanggan setia di kafe ini hampir setiap sore sepulang kuliah aku mampir di sini. sehingga para pelayan kafe sudah mengenaliku.

Sembari menunggu pesanan datang, akupun mengeluarkan nootbook yang ada didalam tas yang aku jinjing tiap harinya. Kemudian mulailah jemariku menyentuh keyboard lalu menari-nari diatasnya melanjutkan tulisan novelku yang masih terbengkalai. Aku memang sudah cinta dengan dunia tulis menulis sejak masih SMP. Sekarang aku sedang ingin membuat sebuah novel melalui kisah hidupku.

Tak lama kemudian pesananku datang, “silahkan mbak di nikmati.” Desis pelayan cantik itu. Akupun langsung meminum perlahan-lahan sambil menikmati tiap cokelat panas yang masuk ketenggorokanku. Lalu, aku mulai melanjutkan tulisan ini. Ketika sedang asyik menatap layar nootbook tanpa menghiraukan keadaan sekitar, aku lupa kalau Jam pun sudah menunjukan pukul tujuh malam, sudah sejam lebih aku di kafe ini. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan besok akan kembali ke sini lagi pikirku dalam hati.

Keesokan harinya, aku datang kembali ke kafe ini. Namun ada yang berbeda dari pandanganku, yaitu lelaki berdasi kupu-kupu yang selalu melontarkan senyum ramah kesemua tamu sudah berbeda wajahnya. Mungkin dia pelayan baru gerutuku dalam hati. Seperti biasa, masih di tempat yang sama dengan minuman yang sama dan juga dengan kegiatan yang sama. Sesekali aku melempar pandangan keseluruh ruangan dan pintu keluar masuk. Entah sejak kapan pelayan baru itu memperhatikanku, ketika aku melihat ke arahnya dia langsung memalingkan wajah tampannya itu. Aku sangat bingung arti dari pandangannya.

Tepat seminggu pelayan baru tersebut berkerja di kafe ini, tanpa disangka-sangka ia menghampiri mejaku. “Maaf sebelumnya. Bolehkah saya duduk di sini?”
“Oh iya, silahkan.” Jawabku singkat. “Perkenalkan nama saya Rangga. Saya sering memperhatikanmu. Apakah kamu pelanggan setia kafe ini ya?”
“Ya bisa dibilang seperti itu. Perkenalkan juga nama saya Ika. Terima kasih sudah memperhatikan saya dan salam kenal kembali.” Jawabku. Tak kusangka perkenalan singkat itu membuat kami berdua semakin dekat hari demi hari sehingga mengenal satu sama lain.

Hingga suatu malam ia mengajakku berjalan-jalan menikmati indahnya alun-alun kota di malam hari. Dia meraih tanganku lalu berkata “Ika, sejak awal pertemuan kita aku melihat ada sesuatu yang berbeda pada dirimu. Sejak itulah aku selalu mencari tahu tentang dirimu dari karyawan kafe lainnya, dan itu alasan mengapa aku selalu ingin bersamamu. Maukah kau menjadi istriku?” tanya Rangga dengan penuh keyakinan. “Maaf aku tidak bisa.”
“Kenapa?” tanya Rangga. “Aku takut mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjadi seperti wanita lainnya memberikan keturunan yang baik, sehat. Aku tidak pantas untukmu, Rangga. Aku terkena HIV, lebih baik kau menjauh saja dariku.” Jawabku dengan isak tangis. “Dengar Ika. Aku tidak perduli kamu terkena HIV atau apalah itu. Aku siap kok untuk menanggung semuanya. Aku hanya ingin selalu ada disampingmu.”

Akhirnya aku luluh dengan janjinya dan kami sudah mempersiapkan tanggal pernikahan. Namun, semenjak pertemuan malam itu Rangga menghilang tiba-tiba, hampir seminggu tidak ada kabar darinya, dia juga tidak masuk kerja, tidak ada satupun temannya yang mengetahui keberadaan Rangga. Aku sudah pasrah dengan semuanya. Suatu malam disaat kekacauan hatiku menggebu-gebu handphoneku berdering. Suara wanita paruh baya dengan suara parau memberitahukan padaku bahwa Rangga sudah meninggal dengan riwayat penyakit jantung yang ia derita selama hidupnya.

Aku langsung terdiam beribu bahasa, tanganku kaku, aliran darahku seperti terhenti. “tidak mungkin..tidak mungkin…!! kenapa kau tidak pernah cerita padaku, kenapa kau tega meninggalkanku. Ranggaaaa…[]


Mirna Alfiani, Penulis adalah Mahasiswi FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UMSU

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY