Puisi-puisi Jefry Seran Tahuk

0
155

*) Jefry Seran Tahuk

OASE

Debur kemarau berteriak sepanjang musim
Gelora terik panas berombak
Memecah sunyi hati bermukim
Tempat kata berziarah
Temu mata jiwa berserah
Oh, sunyi
Kembalilah
Kembalilah setelah gurun badai tandus berlalu
Riak rindu terkubur dalam haru
Tentang asa mengalir tak tentu
Waktu begitu bengis kala ziarah ini tak berhujung duka
Di sini malam berbaring kaku
Tidur bersama aku
Bercerita tentang oase
Dalam duri-duri jalanan
Setiap detik ada tetes-tetes dosa
Setiap detik adalah rupa-rupa penyesalan
Yang lebih terik dari hatinya
Lebih tajam dari lidahnya
Musim kemarau ada di kepalanya
Dalam hatinya terbentang gurun
Jalan keramat hati mencari selamat
Pada oase jiwa merindu
Seribu musim di petaran Tuhan

Kupang, 16/3/2017

PUISUKU

Pusiku,
Bangunlah
Hari sudah pagi
Berkemaslah seluruh masa lalulumu
Karena waktu tak pernah kembali

Puisiku,
Bukalah mata
Tataplah fajar di ubun-ubun bumi
Dengarlah ceritanya dan hangatnya adalah cinta yang harus kamu bawa sebagai bekal dalam perjalanan ini

Puisiku,
Basuhlah seluruh kenangan keruh
Sebab hari esok adalah pakaian yang harus kau kenakan
Hidup itu cara menulis yang rapi dan baik
Setiap detik adalah puisi

Kupang, 16/3/2017

RIWAYAT PUISI

Padamulanya adalah sunyi
Sunyi yang paling sepi
Dalam sunyi ada kata
Yang lahir dari cinta
Oleh cinta jiwa mengembara
Menyusuri relung imaji
Meresap dalam setiap Tanya
Akan misteri
Syair-syair hendak mengalir
Menuruni lembah hasrat untuk bermuara di laut rasa
Riwayat puisi adalah jiwa
Yang tak lekang mati dalam waktu
sebab ziarah ini adalah cara mencintai sunyi dan menulis riwayat hidup masing-masing sebagai puisi untuk dibacakan dikemudian hari
Yang menulis dengan baik akan menjadi puisi yang disukai semesta

Kupang, 16/3/2017


Jefry Seran Tahuk, anggota komunitas  ASAL.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here