Pagelaran Musik Jazz Termegah Di Atas Langit, Cerpen Muhamad Kusuma Gotansyah

0
58

*) Muhamad Kusuma Gotansyah

Terompet yang kumainkan basah akan keringat dari kedua telapak tanganku. Wajahku, leherku, dan tengkukku pun basah akan keringat. Kemeja yang kukenakan juga basah dan lengket pada tubuhku. Namun bibirku tetap meniup terompet walau nafas sudah habis dan jari sudah lelah serta kaki sudah lunglai. Sebuah not kuteriakkan penuh geram, setelah itu aku berhenti meninggalkan sunyi yang kikuk. Terompet yang kupegang kuletakkan di atas sebuah meja kecil di sampingku. Seketika, ujung bawah kemeja yang kusisipkan ke dalam celana hitam kukeluarkan dengan paksa hingga tanpa kusadari kancing terbawah kemeja ini lepas dengan bebas. Kancing teratas kemeja ini kubuka guna memberi ruang untuk tubuhku bernafas. Kuhela nafas sangat dalam lalu menyemburkannya lewat mulut dengan kejam. Kuambil terompet dengan tangan kananku, dan dengan tangan kiriku aku menyapu rambut dari ujung depan hingga belakang perlahan. Lalu aku kembali meniup terompet.

“Cukup!” ujar Pak Dirish ketus.
“Kau tidak akan bisa memainkannya sehebat Bakir. Pulanglah dan berlatih lebih keras Winto!”
“Tetapi pak…”
“Pulanglah dan berlatih lebih keras!” bentak Pak Dirish, lalu pandangannya ia alihkan pada lembaran-lembaran partitur di tangannya.

Aku tak lagi melanjutkan ucapan dan menggerutu. Kedua kakiku yang lunglai kupakai kembali untuk melangkah ke pintu keluar kelas ini. Sesampainya aku di depan pintu, aku menoleh ke arah Pak Dirish, namun ia tak menyadarinya karena sibuk menatapi partitur-partitur di tangannya. Aku keluar dan menutup pintu hingga ia agak terbanting.

Aku menyusuri koridor dengan pintu-pintu yang di baliknya tidak ada siapa-siapa. Jam dinding di tembok koridor ini menunjukkan bahwa kini telah masuk pukul 8.57 malam. Langit yang tampak di sebuah jendela yang terpampang di tembok koridor pun telah gelap. Aku tidak pernah pulang dari sekolah begitu malam.

Di luar sekolah, aku mempercepat langkah kaki yang sebenarnya sudah lelah. Apalagi, aku membawa dua beban yaitu sebuah tas sandang dan sebuah tas terompet. Namun kedua kakiku tetap kupaksa bekerja, hingga akhirnya aku sampai di sebuah rumah kos. Di rumah itu aku menyewa sebuah kamar untuk tinggal.

Sesampainya aku di kamar, kunyalakan lampu dan pendingin ruangan. Kedua beban yang dari tadi kupikul kuletakkan di atas tempat tidur. Aku menukar pakaian dengan kaus hitam polos yang baru. Lalu aku duduk di samping kedua tasku di atas tempat tidur. Kubuka tas sandangku dan mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah agak lecek. Yang satu adalah partitur dengan ‘Round Midnight tertulis pada bagian paling atas tengahnya. Dan yang satunya lagi adalah sebuah kertas pengumuman tentang seleksi anggota kumpulan musik jazz untuk tahun ini di sekolah tinggi musik tempatku belajar. Selain beberapa informasi umum, pada kertas itu juga tertera beberapa judul lagu yang boleh dipilih satu untuk dimainkan pada seleksi, dan salah satunya adalah ‘Round Midnight karya Thelonious Monk.

Kutatap kedua kertas yang sedang kupegang silih berganti sehinga akhirnya kertas pengumuman kuletakkan di atas tempat tidur lalu aku berdiri. Aku mengambil sebuah music stand yang terlipat di dalam lemari kamarku dan memasangnya di depan jendela kamarku yang saat ini tertutup namun tirainya dibuka. Pada music stand itu kutaruh dengan rapih partitur ‘Round Midnightku. Kemudian aku mengeluarkan terompetku dari dalam tasnya dan mengelapnya. Ia masih basah akan keringat saat itu, juga agak berbau busuk.

Kuhadapkan tubuhku ke arah music stand yang terletak di depan jendela. Ujung terompet tempat untuk meniupnya kuposisikan 1 centimeter di depan bibirku yang kering.  Aku menghitung ketukan dalam 4/4 sebanyak dua kali lalu mulai memainkan ‘Round Midnight. Mataku tidak tertuju pada partitur, malahan ia terpejam rapat. Aku mencoba untuk tidak membaca partitur, melainkan merasakannya. Juga kusisipkan sedikit improvisasi pada permainanku.

Keringat mengucur kembali dari ujung kepala hingga tubuhku, padahal pendingin ruangan telah kunyalakan. Seiring keringatku mengalir not-not dari terompetku juga mengalir bertambah deras, sehingga sampailah pertunjukan tanpa penonton ini pada not terakhirnya. Aku berhenti bermain dan mengusap keringat pada dahi. Keringat yang kuusap tak sengaja terpercik pada partitur di depanku. Aku tidak begitu menghiraukannya, lalu aku menatap jauh keluar jendela yang tidak bertirai. Dimanakau kau sekarang Bakir?

***
Tiga minggu sebelumnya, Bakir dinyatakan menghilang. Saat itu ia tidak hadir di sekolah tinggi musik tempat ia belajar. Hal ini menimbulkan banyak tanda tanya di kalangan guru dan murid, karena Bakir adalah seorang pemain terompet dan pelajar musik yang sangat rajin serta berbakat. Namun pada hari itu, hari Selasa pada minggu kedua bulan Januari, ia menghilang dari sekolah. Ketika kedua orang tuanya ditelpon oleh sekolah, mereka menjawab bahwa dari sejak mereka bangun pagi, Bakir sudah tidak ada.

Sebuah pagelaran musik tahunan akan diselenggarakan akhir tahun ini, dan seleksi anggota kumpulan musik jazz diadakan mulai awal tahun untuk memilah bakat murid yang akan ditampilkan. Namun guru-guru sangat kecewa dan diselimuti bingung karena musisi yang mereka harap akan ikut seleksi ternyata lenyap dari muka bumi tanpa sepatah dua patah kata ‘selamat tinggal’. Karena itulah guru-guru di sekolah musik ini lebih keras dalam menyelenggarakan seleksi. Mereka tidak ragu-ragu membuat para murid menangis karena mereka tidak bisa bermain ‘sehebat Bakir’.

Namun memang, setelah peristiwa hilangnya Bakir namanya berubah dari nama seorang murid teladan menjadi nama seorang legenda yang menggema di koridor-koridor dan kelas-kelas sekolah. Di sekolah ini orang tidak takut untuk menyandingkan dirinya dengan Charlie Parker atau Louis Armstrong, dan orang semakin tidak takut karena Bakir sendiri sudah tinggal nama seperti kedua orang tersebut.

Peristiwa hilangnya Bakir juga sudah masuk ke telinga polisi. Walau mereka kurang tahu pasti siapa dia, mereka tetap tekun membantu mencari jejak Bakir, walaupun tidak ada perkembangan apapun sejauh ini. Karena kehilangan ini sangat mengena di hati para guru dan murid, mereka mulai menciptakan spekulasi-spekulasi, mulai dari yang masuk akal hingga yang di luar akal.

Beberapa guru percaya bahwa Bakir lari dari rumah dini hari, karena mereka tahu bahwa hubungan Bakir dengan ayahnya sering dijadikan bahan gunjingan. Dalam gunjinga-gunjingan ini, dikatakan bahwa ayah Bakir sangat membenci Bakir yang memilih jazz sebagai cita-citanya, yang kini ia buktikan dengan menuntut ilmu dalam bidang tersebut. Sebenarnya ayah Bakir menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, sebuah cita-cita klise seorang orang tua. Tetapi hal ini adalah gunjingan, dan yang namanya gunjingan tidak selalu benar. Ingat, tidak selalu benar.

Sekelompok guru lainnya berkata bahwa Bakir pindah ke sekolah lain yang bertempat di luar kota. Namun, ayah dan ibunya tidak ikut karena mereka punya usaha pribadi yang berpusat di kota ini, sehingga Bakir harus tinggal bersama keluarga pamannya yang berada di sana. Tetapi teori ini tidak terlalu digemari warga sekolah karena dianggap tidak berdasar pada logika. Jika memang Bakir pindah sekolah, mengapa tidak ada pemberitahuan dahulu? Bukankah harus ada surat resmi? Dan mengapa kedua orang tuanya berkata bahwa Bakir sudah hilang dari pagi hari?

Segelintir guru beranggapan bahwa Bakir hanya malas sekolah dan dia mengemis setengah mati pada orang tuanya untuk berbohong pada sekolah jika mereka ditanya mengapa Bakir tidak hadir, lalu orang tuanya ternyata kurang pintar berbohong. Guru-guru yang percaya akan ini adalah guru-guru yang tidak terlalu memikirkan Bakir, bahkan dalam hati kecil mereka membenci Bakir. Mereka menganggap warga sekolah terlalu mengagung-agungkan Bakir padahal walau bagaimanapun ia masih seorang pelajar yang ada kekurangan. Guru-guru ini juga sering dicibir oleh para murid pada jam istirahat.

Kalangan murid juga menciptakan kisah-kisah tentang Bakir, dari yang sederhana hingga yang mengerikan. Sebagian dari mereka bercerita tentang Bakir yang diculik. Beberapa murid percaya Bakir diam-diam punya proyek rahasia bersama nama-nama terkenal dalam jazz, karena kehandalannya dalam jazz tidak menutup kemungkinan ia kenal dengan orang-orang terkenal dalam jazz. Anggapan ini juga didukung oleh seringnya Bakir tampil di luar sekolah untuk festival-festival jazz ternama dalam negeri. Selain dua spekulasi ini, tiga hingga lima orang murid bahkan percaya bahwa Bakir bunuh diri, tanpa penjelasan lanjut mengapa, bagaimana, dan kapan.

Di antara cerita-cerita yang memenuhi sekolah ini, sekumpulan kecil murid-murid memiliki cerita yang paling lain. Mereka adalah musisi-musisi gagal yang memiliki kelebihan daya khayal dan waktu luang, dan kelebihan waktu luang itu mereka gunakan untuk memuja-muji Bakir. Mereka adalah penggemar setia Bakir, mereka tergolong orang-orang yang mengagung-agungkan Bakir sebagai seorang musisi jazz terhebat sejagat raya. Didorong oleh fanatisme mereka, mereka memiliki dan memercayai sebuah kisah tentang Bakir.

Mereka percaya bahwa Bakir diundang untuk tampil di sebuah pertunjukan jazz terhebat di atas langit. Pada pukul dua malam, ia disuruh untuk menaiki anak-anak tangga ke langit yang terbuat dari tuts-tuts piano. Ketika ia menaiki tuts-tuts piano tersebut, ia disuruh berlari sehingga lagu Fly Me to the Moon termainkan oleh tuts-tuts itu. Sesampainya ia di atas langit, Count Basie menyambutnya dan memberinya sebuah jas untuk dipakai. Ia digiring oleh Dizzie Gillespie dan Dexter Gordon menuju belakang panggung. Di sana, Louis Armstrong menyapanya penuh ceria dan memberikannya sebuah terompet baru yang mengkilap. Lalu ia masuk ke panggung dan melihat Stan Getz, Eric Dolphy, Freddie Hubbard, Charlie Parker dan banyak musisi jazz lainnya memenuhi kursi penonton. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, dimana ia melihat John Coltrane dengan sebuah saksofon tenor, Wes Montgomery dengan gitarnya, Max Roach pada drum, Charles Mingus pada double-bass, dan Bill Evans pada piano, lalu secara spontan mereka bermain bersama. Dan hingga kini, mereka masih menampilkan pertunjukan yang sungguh indah.

Begitulah kiranya cerita yang mereka cipta dan mereka percaya. Namun mereka tidak pernah menarik perhatian siapa pun di sekolah berkat kisah mereka yang sebenarnya cukup mengundang tawa. Yang ada hanya celaan seperti ‘belajar saja yang baik agar kamu bisa ikut tampil di langit’ dan semacamnya.

Namun aku percaya pada cerita itu. Para pencipta cerita itu sendiri terkejut mendngarku percaya, tetapi aku memang benar-benar yakin. Maka sejak saat itu aku berusaha sekeras hati agar dapat menjadi seperti seorang Bakir, sehingga suatu saat nanti aku dapat ikut tampil di langit.

***
Lelah kembali menjamah tubuhku. Aku perlu istirahat yang memadai. Aku disadarkan bahwa aku telah memaksakan diri. Terompet yang kembali berkeringat kuletakkan di atas kasur, dan partitur yang semakin lecek kulipat rapih dan kutaruh di atas sebuah meja. Aku terduduk, lalu seiring waktu membaringkan tubuhku ke belakang. Terbayang olehku Bakir. Apakah benar dia sedang menampilkan dirinya di atas sana?

Seketika aku rindu dengannya. Aku rindu mencemburui dirinya yang kelihatan sempurna. Lalu aku terduduk dan kembali berdiri. Kuambil terompet tetapi tidak kumainkan apa-apa. Hanya memegang-megangnya dan sesekali diangkat dan didekatkan ke bibir, namun tetap tak dimainkan. Pandangku berjalan keluar jendela, menjelajah ke seluruh arah, siapa tahu aku menemukan sebuah tangga menuju langit yang terbuat dari tuts piano.

Namun yang kutemukan hanya gelap malam yang melelahkan. Tekad dalam hati untuk menjadi seperti Bakir pun kian pudar. Aku mengalah, lalu aku bergerak menuju tas terompetku, dengan tujuan ingin meletakkan terompetku ke dalam. Namun sebelum aku sempat memasukkannya beberapa ketukan pada pintu kamarku terdengar.

“Winto! Buka pintunya!” perintah orang di sebalik pintu itu padaku.

Lekas aku membuka pintu itu, dan aku pun tersentak. Di depanku ada Bakir. Ia mengenakan sebuah jas hitam dan kemeja putih di dalamnya. Ia juga melingkarkan dasi berwarna hitam di sekitar kerah kemejanya. Bakir juga memakai celana hitam panjang dan sepasang sepatu kulit berwarna hitam juga. Di depanku ia tersenyum dan menyapaku.

“Bakir! Kemana saja kamu selama ini?”
“Ah, begini. Aku disini untuk menjemputmu ke tempat selama ini aku berada, Winto…”

Aku bertanya kepadanya dimana tempat itu. Juga mengapa begitu tiba-tiba ia datang. Dan juga mengapa harus aku yang ia jemput. Namun ia tidak menjawab semua pertanyaan itu, ia hanya menyuhku memasukkan terompetku ke dalam tasnya agar dapat dibawa lalu ia beranjak pergi dari depan kamarku sambil berteriak ‘ikuti aku’ saat dia berjalan.

Cepat-cepat kumasukkan terompetku ke dalam tasnya dan langsung kubawa seraya mengikuti langkahnya. Ia begitu cepat berjalan sehingga aku tidak dapat melihatnya, hanya dapat mengikuti suara langkah kaki dan panggilan-panggilannya. Sehingga sampailah aku di depan rumah kos, dan aku melihatnya disana. Ia bertanya padaku tentang terompetku, apakah sudah dibawa atau belum, dan aku menjawab dengan mengangkat tas terompetku yang kugenggam di tangan kananku. Ia kembali berjalan dengan cepat sehinga lagi-lagi aku harus tertatih mengikuti langkahnya.

Saat aku mengikuti langkahnya, jam kota berbunyi. Jarak di antara rentetan bunyi jam kota sangat teratur, sehingga langkah kaki aku dan Bakir menjadi senada dengan bunyi jam kota. Kaki kanan kami menyentuh tanah saat jam kota berbunyi dan kaki kiri kami menyentuh tanah setiap jam kota berhenti bernyanyi. Hingga pada bunyi yang kedua belas, kaki kanan Bakir menyentuh tanah dan kaki kirinya tidak lanjut melangkah. Ia berhenti dan kini kami berada di tengah taman kota yang cukup luas. Sebenarnya taman kota itu sudah dibatasi garis kuning dan ada reklame bertuliskan ‘DILARANG MASUK’ di depan taman itu. Tetapi kami memasukinya dan tidak terlalu menghiraukan garis kuning dan papan tanda itu.

Di sana aku melihat sebuah tangga yang sangat tinggi. Kurang jelas kemana tangga itu akan membawa orang yang menaikinya saking tingginya. Aku perhatikan tangga itu ternyata terbuat dari tuts piano dengan ukuran dua kali telapak kakiku.

Bakir berkata padaku itu adalah tangga menuju langit lalu ia menaikinya, lalu bersorak padaku untuk ikut dengannya. Aku mengikuti langkahnya menaiki tangga itu. Sebuah lagu termainkan saat kami menaik tangga itu, dan lagu itu adalah Fly Me to the Moon. Namun tiba-tiba Bakir berhenti.

Ia berkata padaku bahwa ia merasakan sebuah getaran di atas tangga itu. Kami menoleh ke bawah dan melihat sekumpulan orang-orang berhelm a la kontraktor lengkap dengan dua buldozer. Ternyata mereka sedang melaksanakan renovasi taman, dan sepertinya tangga ini akan dirobohkan. Kami pun kembali naik ke atas namun kali ini sambil berlari.

Lari kami semakin cepat, dan semakin cepat kami berlari, terasa semakin jauh jarak kami menuju langit.

Kuala Lumpur, 26 Februari 2017


Muhamad Kusuma Gotansyah, Seorang gitaris muda penggemar jazz kelahiran Tangerang yang berambisi untuk membuka mata dunia dengan musiknya. Penampilan debutnya adalah di selamatan sunat anak tetangga.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY