Sit! Kau! Cerpen Asrul Sanie

0
91

*) Asrul Sanie

Sudah biasa, para sopir truk datang ke sebuah kedai untuk singgah makan atau sekadar minum. Ini sudah larut malam, hampir pagi malah, namun mulai ramai. Kopi, susu, kopi-susu, jahe-susu, atau teh-susu menjadi pilihan untuk menghangatkan perut mereka. Orang-orang sudah sangat hafal dengan para sopir yang setiap malam singgah di kedai kecil itu. Si penjual juga sangat hafal menu-menu yang mereka inginkan. Pokoknya ketika mereka duduk di bangku kecil yang tersedia, si penjual sudah tanggap, lantas langsung menyodorkan hidangannya.

Seharusnya kedai sekecil itu dibangun agak luas lagi sehingga bisa menjadi tempat singgah yang agak pantas untuk para sopir yang agak panas itu. Panas pikiran karena belum dapat setoran, panas pikiran karena banyak utang yang belum bisa dilunasi, atau barangkali panas karena istri di rumah suka uring-uringan tak jelas tapi tak pernah membuat suaminya puas.

“Kalau ada susu, bisa stabil badan ini ya, Mas?” kata seorang sopir seraya mengambil pisang goreng di depannya.
“Loh, yang diminum barusan itu apa?” tanggap Nawir.
Salah satunya lagi menimpali, “Mabuk kowe, Lik?”
“Mabuk ndyasmu!”
Tawa pecah seketika.

Pengunjung kedai selain para sopir itu hanya bisa mendengarkan, tak berani ikut nimbrung lebih jauh. Pemilik kedai pun sama. Sambil jongkok membereskan gelas yang baru saja dicucinya, pemilik kedai hanya memberi isyarat kepada Nawir dengan telunjuk yang dimiringkan di depan keningnya menanggapi percakapan para sopir itu. Nawir yang menerima isyarat itu hanya menggeleng sambil meringis pada pemilik kedai.

Nawir terus menikmati kepala ayam bakar bertabur bumbu yang begitu lezat. Sebenarnya sudah agak mengantuk, tetapi jahe-susunya belum habis dan masih panas, tak mungkin ditinggalkan begitu saja.

“Ini, lho, yang kemarin aku bawa.” Seorang sopir menyodorkan gambar seorang wanita dari handphone-nya kepada temannya.
“Wah, bisa dipake itu?”
“Mantap, Bro!”
“Jangan-jangan cuma tebal polesannya saja, goyangannya loyo!”
“Huu … belum tahu dia!”

Sahut-menyahutlah mereka menanggapi gambar cewek itu. Nawir tak mau ikut menyahut karena ia tak tahu apa dan siapa yang sedang dibicarakan. Diambilnya lagi kepala ayam di piring lalu dilahapnya. Pemilik kedai pun sibuk mengipas arang di tempat pembakaran.

Yang perlu dikasihani adalah seorang kernet yang dari tadi terlihat begitu kesulitan mengganti ban bocor di tepi jalan agak jauh dari kedai. Mungkin ia kernet baru yang belum fasih tentang teknik mengganti ban truk sebesar itu. Rodanya saja setinggi dada. Kalau yang belum tahu tekniknya, pasti kesulitan. Mengangkat ban untuk dipasang di as roda pasti terasa sulit dan berat. Ironisnya, sopirnya malah asyik ngobral-ngobrol cewek bawaaanya.

Sopir-sopir itu masih larut dalam obrolan panas itu. Malam pun makin larut. Penggantian ban belum juga usai. Nawir ingin sekali membantu kernet itu, tetapi karena belum kenal, takut kalau disangka sok pintar. Meski tak lulus SMA, ia pernah iseng ikut belajar jadi montir di bengkel truk milik pamannya. Pernah juga menjadi kernet truk pamannya yang sering mengambil pasir dari Merapi untuk dipasokkan ke depot-depot atau orang-orang yang ingin membangun rumah di daerah Yogya, Magelang, Temanggung, dan sekitarnya.

Entah jam berapa mereka selesai, Nawir lalu tak peduli lagi karena ia langsung pulang setelah jahe-susunya habis.

***
“Kamu sudah nggak mau ketemu aku lagi, Mas?”
“Sit, kamu ini kenapa selalu ke sini? Sana, kamu nikmati saja hidupmu! Kamu tak pernah mendengarkan aku lagi. Kamu lebih memilih mereka.”
“Mereka siapa maksudmu?”
“Mereka yang selalu membuatmu senang, yang selalu memberimu uang, yang selalu memberi segalanya yang kamu minta.”
“Bukan begitu, Mas. Aku sungguh tak mengerti, mengapa kamu tak bisa juga memahamiku?”
“Buat apa memahamimu? Kamu pikir, ini jalan yang tepat?”
“Oke, kalau memang kehendak Mas begitu. Tolong, Mas, jangan mencariku lagi! Aku sudah tak butuh kamu lagi, Mas!”
“Kamu berani membentakku?”
“Terserah!”
“Sit …!”

Di atas ranjang, ketika tubuhnya sudah lemas karena seharian bekerja, mata Nawir masih terus dibayang-bayangi Siti. Di matanya penuh dengan wajah Siti yang sudah lima tahun tak ditemuinya. Nawir terbangun, Siti menghilang. Pikirannya ngalor-ngidul tak keruan. Sejujurnya Nawir sangat ingin bertemu Siti lagi. Mungkin karena itu Siti selalu seperti hantu bagi pikirannya. Nawir hampir tak bisa menemukan satu pun jawaban, mengapa Siti begitu mudah mendatangi pikirannya dan bahkan sudah berani membentak seperti itu? Tiap kali datang di dalam mimpi, wajah Siti selalu dalam keadaan marah dan sombong kepada Nawir. Siti selalu menjadi orang terakhir yang muncul di pikiran Nawir sebelum tidurnya.

Sit, kau memang …!

***
Betapa berat beban moral Nawir. Bagaimanapun juga, Siti adalah orang yang ia sayangi. Sebelum menghilang lima tahun lalu, Nawir adalah orang yang paling setia mendampingi Siti ke mana pun pergi. Nawir merasa orang paling bersalah atas peristiwa yang dialami Siti. Ia tidak bisa menjaga Siti dengan baik.

Ketika itu, kepercayaan Nawir terhadap Siti begitu besar. Dalam urusan belajar di sekolah, Nawir selalu berusaha mendukung Siti dengan sekuat tenaga, harta, dan pikiran. Segala kebutuhan Siti, Nawirlah yang mencukupi. Nawir percaya, Siti adalah orang yang akan memetik kesuksesan di masa depan. Nawir ingin sekali mewujudkan mimpi dan harapan seorang yang disayanginya itu. Ia adalah pendukung di garda terdepan bagi Siti.

“Mas, aku mau berhenti saja,” kata Siti waktu itu.
“Apa?” Nawir tersentak mendengarnya.
“Ya, aku mau berhenti.”
“Yakin tidak mau lanjut?”
“Aku capek, Mas!”
“Kamu capek? Aku belum capek. Aku masih kuat ini. Aku belum menyerah, Sit! Ayolah ….”
“Nggak, jangan memaksa!”
Begitu cepat Siti meminta berhenti, padahal baru dua minggu ia masuk kuliah dan baru selesai pula kegiatan pengenalan kampusnya.
Ini aneh, mengapa Siti tiba-tiba ingin berhenti? batin Nawir.
“Aku mau pergi! Selamat tinggal, Mas.”

Basah pula mata Siti. Air mata tumpah dan hampir membasahi pipi, tetapi kemudian tertahan dan teresap oleh tissue dari tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menarik koper yang telah ia siapkan di dekat meja makan. Nawir tak bisa menahan karena terlalu cepat Siti keluar, hanya mampu mengangkat tangan ke depan, mencoba mencegah ketika Siti benar-benar menjauh.

“Siti!”
Hingga beberapa waktu, mereka tidak bertemu lagi. Nawir enggan lagi mengingat kejadian itu meski juga berharap Siti masih mau kembali lagi. Entah kapan.

***
Sehari-hari Nawir beraktifitas sebagai tukang sapu di lingkungan pemerintah Kabupaten Magelang, pekerjaan yang sudah agak meningkat dari sebelumnya. Berbagai pekerjaan yang lebih sulit dari itu dengan penghasilan yang tidak tentu telah dilakoninya. Sekarang, ketika Nawir mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan berpenghasilan tetap, Siti telanjur pergi meninggalkannya.

Kepergian Siti membuat Nawir hampir putus asa. Kepada siapa lagi ia akan mencurahkan kasih dan sayang, ia tak mengerti. Cukup Siti satu-satunya yang ia punya.

Pagi itu Nawir telah selesai melaksanakan tugas menyapu jalan kota. Diambilnya sebuah tas merah bertuliskan Hammer di bagian bawah. Di dalamnya berisi sebotol air putih dan sekotak nasi dan ikan goreng. Ia sangat jarang membeli lauk yang lebih bervariasi dari itu, apalagi membuat sendiri. Ia merasa masih harus tetap menabung. Hasil tabungan itu nanti akan disiapkan untuk keperluan bersama Siti. Sayangnya Siti sudah tak ada lagi di sisinya.

“Aku tak tahu isi hatimu. Mengapa dulu kamu tiba-tiba pergi?” gumamnya.
Ketika duduk sendiri dan makan dan membayangkan masa depan, bayang wajah Siti selalu muncul di depannya. Itu yang membuat Nawir masih tetap teguh pada pendiriannya. Ia tetap menabung demi Siti.

Makanannya telah habis. Nawir seketika mengangkat sedikit baju bagian belakang setelah meletakkan kotak nasi. Seekor ulat bulu ditemukan telah mati dan tubuhnya menjadi dua bagian karena garukan jari Nawir yang masih agak kotor terkena debu dan sampah itu. Nawir merasakan ada benjolan di punggungnya. Mungkin agak kemerahan juga. Dibukanya baju yang terkena kotoran ulat tadi lalu menggantikannya dengan jaket yang ia bawa dari rumah sebagai penangkal dingin ketika naik motor pagi hari.

Usai menyapu jalanan kota, Nawir berencana menuju bank untuk mengambil uang keperluan sehari-hari. Kebetulan tanggal gajian tiba pada hari itu. Uang yang diambilnya tidak seberapa, hanya cukup untuk keperluan makan dan membeli bahan bakar motor. Separonya tetap disimpan. Ia masih saja terbayang akan Siti. Tabungan itu nantinya untuk masa depan Siti meski sekarang masih belum bisa ditemukan.

***
“Kamu di sini? Aku sudah putus asa selama ini karena mungkin aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Tadi pihak rumah sakit menghubungiku. Kamu kenapa?”
“Mas Wir, tolong aku, Mas,” kata Siti dengan sedikit merintih merasakan sakit.
“Sebentar, kok kamu …,” Nawir terheran.
“Nanti aku ceritakan. Aku minta maaf, Mas.”
“Ini ada apa sebenarnya? Tolong ceritakan semuanya padaku, Sit!”
“Aku minta maaf sama Mas Nawir sekali lagi.”
“Loh, ini anak siapa? Kamu sudah menikah? Mana suamimu?”
“Emm….”

Siti menangis. Ia baru saja melaksanakan operasi kelahiran bayinya yang entah siapa bapak dari anak itu. Siti tak bisa menjelaskan apa pun kepada Nawir. Nawir geram dan merah mukanya. Kepala Siti tertunduk, bahkan merekatkan kedua tangan di tengkuknya seolah-olah melindungi diri dari ancaman cekikan Nawir saat itu.

“Mengapa tidak ada yang mau bertanggung jawab atas ini semua?”
“Aku khilaf, Mas.” Air mata Siti menetes hingga membasahi selimutnya.
“Tidak kusangka kamu meninggalkanku hanya untuk menjadi seperti ini.”
“Mas, tolong aku. Demi bayi suci ini, aku terpaksa menyuruh pihak rumah sakit untuk menghubungi Mas Nawir. Aku tak punya siapa-siapa lagi.”
“Oke. Akan kuselesaikan semua biaya persalinanmu di sini. Aku punya uang. Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan gunakan uang yang selama ini kukumpulkan untuk masa depanmu. Meski kamu meninggalkan kuliahmu waktu itu lalu pergi dengan marah padaku tanpa aku tahu penyebabnya, aku masih tetap menabung untukmu. Tapi uang itu bukan untuk hal yang memalukan keluarga seperti ini. Kamu tahu itu? Aku tidak bangga padamu. Sungguh orang tua kita di sana pun pasti akan bersedih jika tahu kamu seperti ini!”

Siti tak bisa menjawab apa-apa. Tangisannya semakin keras. Tiga pasien lainnya yang sekamar dengan Siti dan juga para perawat yang sedang ada di sana juga tak berani sedikit pun mencegah kemarahan Nawir.

“Kamu adikku. Aku akan membayar seluruh biaya persalinanmu,” kata Nawir menyela tangisan Siti, ”tapi … setelah ini, apakah kamu masih pantas kembali ke rumah lagi?”


Asrul Sanie, bermukim di Temanggung. Menulis prosa dan puisi. Email: asrulsanie1@gmail.com

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY