PANTAI, Cerpen Ricko W

0
123

*) Ricko W.

Aimere 1997

Dermaga kecil di ujung kampung itu sudah sangat tua. Sudah tidak ada lagi aktivitas kapal di sana. Besi-besi yang sebagian menjadi pagar pembatas sudah berkarat dan mulai tercerabut dari akarnya. Belasan tiang penyangganya mulai hancur digerus derasnya arus pantai selatan yang ganas. Semakin lama tiang-tiang itu semakin rapuh karena terus dikikis pukulan ombak pantai selatan.

Di tepian dermaga rerumputan liar mulai menjalar lebat hingga menjorok jauh ke dalam dermaga. Sepintas, dermaga tua itu hanyalah seonggok hamparan lantai semen yang kasar dan tak berbentuk; tempat beberapa ekor burung laut bersarang atau sekedar bermain-main. Tak ada satu orang dewasa pun yang tampak berminat dengan dermaga lusuh itu kecuali anak-anak kecil.

Letak dermaga itu tidak begitu jauh dari jalan raya yang merupakan jalan utama Flores, hanya beberapa meter dari badan jalan. Menjelang sore, saat matahari lebih berat condong ke barat, anak-anak sekolah dasar di kampung itu mulai berdatangan. Mereka akan bermain bola sepak di hamparan dermaga itu. Bila sudah lelah bermain, mereka akan menanggalkan pakaian dan melompat dari ujung dermaga ke dalam laut, berenang, menyelam dan mencari ikan sepuasnya hingga matahari yang lenyap di balik cakrawala mengusir mereka pulang ke rumah.

Jalanan aspal sejauh sepuluh meter yang menuju dermaga itu telah dipenuhi semak belukar, namun karena anak-anak setiap sore bermain di tempat itu maka jalur yang biasa mereka lalui telah membentuk semacam alur setapak kecil. Mereka pergi bergerombolan. Biasanya anak-anak laki-laki mendahului anak-anak perempuan. Tiba di dermaga itu, tak ada lagi perbedaan jenis kelamin bagi anak-anak itu, dermaga dan lautan yang ganas telah mempersatukan cerita masa kecil mereka.

Di antara anak-anak perempuan itu ada seorang yang hanya datang dan biasa duduk menyendiri di tepian pantai dekat dermaga. Ia enggan bergabung dengan teman-temannya yang bermain dan berenang. Sendiri, ia menatap jauh ke lautan sambil menghirup segarnya udara di senja hari. Senja dan pantai, bagi anak perempuan kecil itu adalah dua kenikmatan sekaligus penyesalan. Menyuruh anak sekecilnya menjelaskan kenapa ia begitu menikmati pantai dan senja adalah hal yang mustahil. Ia tak mampu paham kenapa pantai dan senja bisa menggantikan kesenangan bermain dengan teman-teman sebayanya. Ia selalu ingin berada di tepian pantai di senja hari. Ia terus menatap lautan lepas dengan mata yang nanar. Seolah ada sesuatu yang tertambat di sebuah pulau di ujung lautan itu. Ia punya perasaan demikian, namun selalu tak pasti. Ada sesuatu di sana. Mungkin sepotong jiwanya pernah ada di pulau itu.

Jam dinding menunjukan pukul 11.00 tepat. Lonceng sekolah berdentang keras. Tidak butuh waktu lama, ruangan kelas mulai kosong. Anak-anak yang sejak tadi bermalas-malasan dengan pelajaran di kelas kini bersemangat untuk bergegas pulang. Sudah menjadi kebiasaan yang baik di sekolah itu saat anak-anak hendak pulang sekolah mereka harus menjabat dan mencium tangan guru yang ada di dalam kelas. Beberapa orang guru kadang tak begitu memperhatikan kebiasaan ini. Namun tidak demikian dengan wali kelas siang itu. Sambil membiarkan anak-anak mencium tangannya, dengan saksama ia akan perhatikan anak-anak di kelasnya satu per satu hingga semuanya keluar dari kelas dan pulang.

Kelas mulai sepi. Masih tersisa satu orang anak yang belum keluar dari kelas. Seorang anak perempuan sedang asik berdiri di belakang kelas sambil memandangi peta kusang Provinsi NTT yang digantung di tembok di salah satu sudut ruangan. Tentu saja, tingkah anak ini menyita perhatian ibu guru. Dengan tenang ia mendatangi anak perempuan itu.

“Sari, belum pulang?” suara ibu guru yang lembut keibuan mengusik konsentrasinya. Dengan agak malu-malu anak itu membalikan tubuhnya dan tersenyum simpul sambil menggeleng kepala.
“Sedang apa?” tanya ibu guru sambil menjongkokan tubuhnya ke arah anak didiknya itu.
“Pulau mana yang Sari belum tahu?”
Anak perempuan polos itu tampak antusias melihat gurunya hendak menjelaskan kepadanya. Dengan segera ia langsung menunjuk-nunjuk menggunakan telunjuk mungilnya.
“Pulau yang ini, ibu?”
“Yang mana?” ujar ibu guru setengan tersenyum sambil menerka-nerka beberapa pulau yang dimaksud.
“Yang ini Pulau Timor, yang ini Pulau Flores, tempat kita tinggal sekarang. Nah, lihat, kita sekarang ada di sekitar wilayah ini, “
Raut wajah anak itu belum juga puas. Ia terus mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah pulau.
“O, kalau yang itu namanya Pulau Sumba, sebuah pulau yang indah, nak.”

Wajah anak itu langsung sumringah begitu mendengar nama pulau itu disebutkan. Anak-anak memang selalu ceria bila mendapatkan apa yang ia inginkan. Ibu guru pun senang melihat anak muridnya senang.
“Mari kita pulang, nak. Ibu akan antarkan sampai di rumah”
Anak itu menurut dan mengikuti langkah kaki gurunya. Mereka berdua pun keluar dari kelas dan pulang.

Di dalam benak anak itu selalu terngiang nama pulau yang disebutkan tadi. Ia kini tahu yang di ujung lautan itu ada sebuah pulau yang bernama Sumba. Sebuah kenangan sekaligus harapan sedang tertambat di pulau itu.

Sebulan sebelum Sari lahir, bapaknya pergi meninggalkan ibunya yang sedang mengandung. Demikianlah saat ia terlontar ke dunia tak ada bapak dan hanya ibu tercinta dan kakek-neneknya yang menemani. Tersiar kabar setelah itu kalau bapaknya telah beristri dan menetap di pulau Sumba. Kabar yang lebih mengejutkan sampai ke telinga ibunya; dia telah meninggal sebulan lalu dan dikuburkan jauh di tanah Sumba. Ibunya menitihkan air mata setiap kali memandang jauh ke laut. Ia selalu menangisi pengkhianatan dan sekaligus kematian suaminya.

Di depan anak perempuannya yang kecil lagi polos, ia berujar, “pandanglah laut, sejauh mata memandang tampak kosong tetapi berdoalah sebab di sana ada kenangan dan harapan.”

Labuan Bajo, 2016

Sehabis menyelesaikan studinya di di kota Malang, Sari bekerja di salah satu perusahaan asing di kota Labuan Bajo yang memfasilitasi para wisatawan untuk melakukan diving dan snorkling di perairan Labuan Bajo yang indah. Oleh karena kecintaannya pada pantai dan alam sekitar, ia juga turut aktif dalam sebuah komunitas orang muda yang peduli pada lingkungan hidup. Di Labuan Bajo, isu ini menjadi sangat penting dan krusial karena sejak dijadikan sebagai kota pariwisata, sampah dan privatisasi pantai menjadi momok bagi masyarakat kota itu sendiri.

Pemerintah daerah mulai kewalahan karena tingkahnya sendiri. Sebidang pantai yang indah bernama Pede di pinggiran kota yang sekarang merupakan satu-satunya pantai yang bisa dinikmati warga secara gratis telah diserahkan kepemilikannya kepada seorang pengusaha kaya ibu kota. Setiap hari warga kota kecil itu melakukan protes-protes yang intinya menolak privatisasi pantai. “Semua tepian pantai sudah dimiliki oleh pengusaha asing. Kemana lagi kami harus pergi kalau bukan ke pantai ini?”

Anak-anak muda di kota itu juga tak hentinya melakukan protes-protes melalui tulisan-tulisan analisis-kritis mereka di media massa dan juga melakukan unjuk rasa damai. Di kerumunan orang-orang muda itu hampir pasti selalu ada Sari di tengah-tengahnya. Ia sangat prihatin dengan nasib pantai Pede yang hendak diprivatisasi meski ia bukan orang asli Labuan Bajo. Alasannya, selain yang bersifat sangat sosial, ia juga punya alasan yang sangat pribadi.

“Saya selalu punya ikatan batin yang kuat dengan pantai. Ikatan batin itu selalu personal dan pantai adalah tempat dimana saya melepas rindu meski saya tak tahu rindu itu harus saya tujukan kepada siapa. Dan kalau pantai pede itu harus diprivatisasi maka kemana lagi saya harus melepas rindu?” ujarnya lirih kepada seorang teman aktivisnya.

“Di pantai itulah, saya selalu menghitung hari demi hari lewat fajar yang merekah. Menikmati matahari terbit seraya berbisik kepada angin laut sepoi-sepoi merupakan ritual wajib memulai hari. Apa yang saya bisikan? Itu rahasia antara saya, angin dan pantai bila ia bisa mendengarnya.”

Pemerintah Daerah tak punya pilihan lain. Pantai Pede harus segera dikelola oleh swasta. Semuanya sudah sah; kontrak dan tanda tangan oleh kedua belah pihak yang sama-sama tidak ingin rugi adalah legitimasi. Kehendak mayoritas warga kota pun dikorbankan. Semua jalan yang biasa digunakan untuk memasuki wilayah pantai telah ditutup. Beberapa truk dan alat berat telah ramai beraktivitas di pantai itu. Informasi yang santer diberitakan; sebuah hotel bergaya Eropa siap dibangun di areal pantai.

Di luar kantor Bupati, ratusan hingga ribuan warga berjubel menuntut pertanggungjawaban. Hari demi hari tak ada aktivitas yang mencolok selain demonstrasi. Orang-orang muda bergantian berorasi sambil ditodong ratusan polisi keamanan. Tak ada yang gentar. Beberapa kali saat darah seekor ayam putih membasahi tanah di depan kantor Bupati, sejumlah anak muda malah semakin beringas hingga bentrokan-bentrokan kecil dengan aparat tak terhindarkan.

Demonstrasi telah genap seminggu. Aktivitas pembangunan di areal pantai nampak tak ada hambatan. Para pekerja yang kebanyakan didatangkan dari tanah Jawa tetap sibuk dengan keahlian masing-masing. Amarah warga masih segar tak kenal waktu. Spanduk-spanduk dibentangkan di sekitar kota. Sejumlah perempuan berkain songke secara sukarela membawakan makanan dan minuman ringan bagi para demonstran yang kebanyakan orang muda. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Manggarai Barat tetapi juga ada juga pemuda yang datang dari Ruteng, Borong, Bajawa dan sejumlah kota di pulau Flores. Bahkan ada yang dikirim langsung dari Kupang.

Seorang perempuan dua puluhan tahun dengan peluh dan debu menempel mulai berorasi,
“Panas matahari, panas juga di dalam hati. Hingga darah kami putih kami tak akan pernah berhenti menuntut apa yang menjadi tanah ulayat nenek moyang kami.”
“Bila dialog tak lagi cukup mempersatukan kita maka kekerasanlah yang akan mendamaikan kita.”

Orasi singkat ini disambut dengan teriakan riuh para pemuda seolah setuju kalau kekerasan adalah pilihan terakhir. Beberapa orang pria di barisan depan sudah bertelanjang dada. Baju bertuliskan “Save Pede” yang tadinya menjadi identitas aksi siang itu, dibentangkan di tanah dan diinjak-injak hingga menyatu dengan bumi.

Suasana mulai tegang. Darah demonstran mulai naik. Deretan polisi keamanan yang membentuk pagar di hadapan mereka seolah hanyalah bagian dari upaya menakut-nakuti massa. Kata-kata makian dan hujatan mulai keluar dari mulut para demonstran dan para petugas keamanan. Tak lama berselang jendela bagian depan kantor Bupati mulai dihujani batu. Aparat mulai bertindak tegas; mengamankan para demontran yang bertindak anarkis dan menembakan gas air mata. Situasi di sekitar wilayah unjuk rasa mulai tidak kondusif; batu-batu mulai berterbangan ke arah kantor dan pihak aparat. Para demonstran; laki-laki dan perempuan, berhamburan tidak karuan ketika mendengar dentuman bunyi tembakan senjata dari aparat keamanan berseragam lengkap.

“Hentikan, kami tidak bersenjata!” teriak salah seorang pemuda, tetapi sayang, usahanya benar-benar tidak ada artinya di tengah dentuman demi dentuman senjata dan teriakan-teriakan para demonstran yang terjatuh di jalanan akibat terkena pukulan aparat yang kian beringas. Beberapa orang pemuda bertelanjang dada diseret untuk diamankan setelah mereka dihujani pukulan tanpa ampun oleh aparat.

Dua jam bentrokan berlalu. Jalanan kian sepi ditinggalkan para perusuh. Bebatuan yang digunakan para perusuh untuk melempari aparat, botol-botol minuman, pecahan-pecahan kaca dan beraneka sampah lainnya berserakan di jalanan. Tampak beberapa orang polisi masih menyisir jalanan yang lenggang. Di ujung jalanan, tubuh seorang perempuan dua puluhan tahun tertelungkup. Dari kepalanya mengalir darah segar yang terus membasahi aspal, pipinya membiru; sebuah luka tembakan menganga di bagian kepala.

Seorang polisi yang pertama melihat berujar, “ini perempuan yang tadi berorasi.”
Orang-orang pun menitihkan air mata.

Aimere, 2020

Sebuah pusara tua di dekat dermaga kusang di tepian jalan raya Aimere kadang kala menjadi lokasi persinggahan setiap orang yang kebetulan lewat. Pusara itu menjadi legenda tentang seorang perempuan muda yang gagah berani mempertahankan pantai tanah nenek moyangnya dari cengkeraman kapitalisme. Cerita-cerita tentang kegigihan perempuan muda itu disebarkan dari mulut ke mulut, sering muncul di setiap artikel, catatan-catatan dan opini-opini di media.

Namun aneh, tak ada satupun yang sanggup menebak pertanyaan; kenapa dia begitu mencintai pantai hingga harus rela mati demi mempertahankannya?

*Untuk tanah dan darah kita yang siap tertumpah…

Ledalero, Oktober 2016


Ricko W, Komunitas Kahe Maumere

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY