Santisima dan Virginitas

0
318

*) Ezra Tuname

Bagi publik sastra NTT, Yohanes Sehandi adalah nama yang tak asing. Terdapat banyak ulasan sastranya di berbagai media. Ia pernah menulis sebuah apresiasi atas karya  Santisima Gama, Antologi Puisi “Virgin, di Manakah Perawanmu” di media Pos Kupang (30/3/2017).  Sehandi menulis dengan judul yang sama.

Dalam uraiannya Sehandi hanya mengurai, tetapi tidak mengulas secara buas atas karya tersebut. Sebutlah tulisannya sebagai sebuah “sinopsis” yang terlambat atas buku yang diterbitkan pada tahun 2012 (Penerbit Karmelindo, Malang). Atas usaha pengamat sastra NTT itu kita perlu memberi apresiasi. Uraiannya tidak kosong sebab memberikan pengertian dan introduksi yang menawan atas karya sastra dan penulisnya.

Virginitas

Termasuk saya dan mungkin juga sebagian besar kita belum membaca karya sastra Santisima Gama itu. Cetakannya terbatas. Tetapi dari beberapa nukilan bait puisi-puisi Santisima Gama, para penikmat sasta dapat menelusuri keutuhan secerita dan makna yang tersembunyi. Bocorannya telah ditulis oleh Yohanes Sehandi, puisi Santisima Gama berciri puisi prosaik. Ada semacam cerita nan puitis dari puisi-puisi-nya.

Virgin…itulah mahkota para gadis
Tapi, Virgin sahabatku bermandi duka
Janji pada kekasih musnah terkubur air
Meratapi peluh tubuh karena ternoda
Oleh lelaki biadab buta moral

Kutipan itu dikutip oleh Yohanes Sehandi dalam tulisannya. Pada puisi kutipan itu, virgin didefinisikan secara metafora, “itulah mahkota para gadis”. Sebagai mahkota, virgin menyimbolkan kebesaran sekaligus kesadaran akan pentingnya menjaga virginitas itu. Ketika mahkota itu direbut, kebesaran (dan mungkin harga diri) pun runtuh.

Pada puisi di atas, sekilas virgin disebut sebagai sahabat. Penyair sedang membayangkan seorang sahabat bernama “Virgin”. Itu juga permainan metafora. Sebagai mana definisi sahabat, “virgin” memiliki intimitas akrab pada pribadi yang bersahabat dengannya. Atau mau dikata, virgin identik dengan perempuan yang bersahabat dengannya.

Melalui puisi, sang sahabat mengetahui perasaan “Virgin”. Dikatakan, ada duka yang meleleh sebab tubuh tak lagi “utuh, penuh, seluruh”. Lelaki biadab buta moral telah menodai Virgin. Tubuh tak lagi sebagai persembahan suci kepada kekasih. Virgin tak lagi virgin.

Kamus Oxford mendefinisikan virgin sebagai “[A] person who has never had sexual intercourse”. Juga didefenisikan sebagai seseorang yang naif, lugu, tidak berpengalaman pada soal-soal tertentu. Kita bisanya lebih akrab dengan kata perawan.

Kaidah moralitas dalam konteks virgin bisa jadi berkenaan dengan pagu seksualitas. Dalam konteks puisi di atas, ada perilaku seks yang tak pantas. Karenanya ada frasa buta moral. Bahwa ada pemaksaan coitus interuptus, pemerkosaan, dan lain sebagainya sehingga seorang gadis kehilangan virginitasnya. Secara moral sosial, pemerkosaan adalah perbuatan terkutuk dan biadab. Dengan standar moral itulah penyair melakukan kritik sosial.

Feminisme

Ada sisi yang paradoks pada konteks sosial manakala kita berbicara soal virginitas. Perempuan yang baik itu perempuan yang bisa menjaga mahkotanya; lelaki hebat bila bisa menjadi “Don Juan”. Maklumat ini kian banal. Praktiknya kian menjalar. Aktor-aktornya kian fenomenal.

Fenomena tersebut membuat perempuan menjadi korban. Perempuan menjadi korban “machoisme” kaum pria. Perempuan pun tak memiliki tubuhnya secara utuh. Padahal, perempuan berhak atas tubuhnya. Kaum feminis terus berteriak bahwa perempuan harus keluar dari “kolonisasi” kaum pria atas tubuh perempuan.

Pada konteks feminisme, mempertahankan virginitas memiliki sisi perjuangan perempuan terhadap “machoisme” laki-laki. Tetapi titik persoalannya bukan pada virginitas itu sendiri, tetapi kepemilikan tubuh perempuan itu sendiri. Sebab, ada juga kaum perempuan yang lebih liberal menggunakan hak atas tubuhnya untuk melawan kaum hipokrit, dogmatis, fundamentalis, dan lain sebagainya.

Perlawanan perempuan terhadap dominasi dan machoisme kaum laki-laki merupakan gerak sejarah “kemenjadian” perempuan. Feminis Simone de Beauvoir menulis, “perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan”. Penyair Santisima Gama berada dalam gerbong ini. Penyair sedang menyuarakan kemarahan dan keluhnya melalui puisi untuk menerabas sisi dominasi kaum laki-laki. Ia berteriak untuk menangkis setiap kekerasan yang diterima kaum perempuan. Sembari ia berharap tak ada kekerasan itu.

Dengan “Virgin, di Manakah Perawanmu”, penyair tidak sedang mengajak pembaca untuk kembali kepada Abad Pertengahan. Penyair sedang mengajak kaumnya  untuk “…tegarlah bersamaku/Meniti hari esok lebih cerah” (dikutip dari tulisan Yohanes Sehandi).

Bukan hanya itu, dunia akan lebih indah apabila kaum perempuan dan laki-laki saling bergandengan tangan dengan memberi pengakuan (recognition) satu sama lain. Dengan begitu sang sahabat akan bertanya, “Virgin, dimanakah kekasihmu yang sepadan?”


Ezra Tuname, Penyair. Menetap di Borong-Manggarai Timur.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY