Puisi-puisi Nur Rafahmi

0
204

*) Nur Rafahmi

Dunia Tidak Mengerang
Ketika Kucing Terpejam

seekor kucing terburai jadi serpihan
orang-orang melompati bangkainya
roda-roda melaju tergesa
udara kering dan debu berdiam
dalam lambaian muram ilalang
jari-jari maut berkeriut
dunia lelap

bagai cakar mencabik belukar
lengking camar menabur garam
pada perih ingatan tentang
taring-taring yang bersaing mengoyak
daging dan gelegar suar menoreh memar
ranting-ranting tua terkapar
kucing meraung

2017

Kucing Lapar

genangan hujan menjadikanmu belang dan berhati kelam
siang atau petang jadi tak berbeda kecuali pendar bohlam
kau jilat semua karat tanpa peduli pada geliat siasat
pada hambur sisik ikan yang menajamkan jalanan
kau menunggu sepiring debu tersorong di depan pintu
sepasang matamu terganggu bayangan pencuri keju
cericit sakit berdecit dan lapar masih menggelepar

2017

Kuburan Kucing

batang unggun menjulang anggun
berhias gagap doa dan gugur daun
tanah lapang penampung lengang
segala yang dikenang berjalan
pelan memasuki liang

tapi tak ada tubuh untuk dipiuh
kelebat ngeong berpinak jadi ngiang
bulu-bulu bertebaran di hulu
pertanda bahwa sunyi petaka
terbenam jauh dalam rahasia

2017

Kucing Malam

seekor kucing berjalan
membuntuti petang hingga
tubuhnya hilang ditelan kegelapan
jubah malam tersibak
bayang-bayang tersingkir
hitam jejak

kucing itu berlari
meninggalkan semak
kala hujan mengamuk
bulu-bulunya meremang
sepasang matanya berkilauan
lampu jalan padam

erang sungai berlinang
gelombang keruh bergemuruh
sampah meruah dalam rumah
kucing-kucing memanjat genting
malam terhuyung-huyung
hujan diam

2017

Balada Kucing Mati

aku tahu hari ini akan tiba
tubuhmu yang terhantar di jalan
pejam mata dan barisan luka
lengking yang kembali kepada
hening, tidur panjang tanpa demam
pulang, tetapi tidak menuju ruang

apakah itu ajal, yang menggenang
dan mengental di atas aspal
sungguhkah itu tuhan, yang lenyap
dan hanya menyisakan kebekuan
perjalananmu mungkin telah bermula
rasa lapar yang biasa akan menjadi tiada

aku berharap
kau membawa kenangan tentang
dirimu yang berjuang sendirian
dunia yang penuh keganjilan
pekarangan yang berantakan
dingin cuaca dan layu bunga

maafkan iri yang bermekaran ini
kau belum pernah merasakan
hati yang patah, jiwa yang terjajah
pikiran kelam, hari-hari tercuri
tubuhmu bukan lagi milikmu
rumah menjadi labirin

bagimu, rasa sakit kini bukanlah teka-teki
sedangkan aku masih harus bangun pagi
mengejar kereta, mengatur uang belanja
dan ketika turun hujan, aku bisa menangis
kehilangan tempat berteduh, menjadi basah
dan saat tersayat, akan selalu mengucur darah

2017

Saat Kucing Melompat

kucing melompat dari pohon ke tembok
kucing melompat tanpa menjatuhkan gema
di rongga senyap ini puisi tersembunyi
namun kau lebih senang mengamati
tembok yang membubung tinggi
menghalangi matamu dari sayatan rindu
yang lekuknya teramat ngilu
kau ingin mengabaikan
gemulai dendang pepohonan
anggun perangai kucing
hatimu menjelma kaca retak
seluruh benda yang berkaca di sana
kehilangan bayangan
kau telah lama tersesat
kata-kata berusaha menemukanmu

2017


Nur Rafahmi lahir di Blitar, Jawa Timur, 24 Februari 1988, alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang, saat ini tinggal dan bekerja di kota kelahirannya. Menulis prosa dan puisi. Bukunya yang telah terbit Malaikat Penjaga (Stiletto Indie Book, 2016). Alamat email: nurrafahmi@yahoo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here