Ketukan Ketiga Di Malam Jumat, Cerpen Sintia NA

0
117

*) Sintia NA

Sudah terhitung satu bulan warga desa dibuat geger. Banyak uang mereka yang tiba-tiba hilang. Mereka sempat mengira ini perbuatan tuyul atau babi ngepet. Tapi, perkiraan mereka meleset saat beberapa cermin kecil yang mereka pasang di depan pintu kamar untuk memancing para tuyul tidak bergerak sedikitpun.

Tak ada tanda-tanda yang mencurigan akan hadirnya seekor babi ngepet juga atau pun terjadi hal-hal ganjil, namun tetap saja uang mereka menghilang. Akhirnya ronda malam dilonggarkan, tidak diperketat seperti dulu, mereka lelah selalu mendapatkan kekecewaan.

Suatu malam, tepatnya malam jumat. Ketika waktu menunjukan tengah malam saat semua orang terlelap termasuk beberapa orang yang melakukan ronda.

Dari arah barat perkampungan penduduk angin kencang secara tiba-tiba berembus, membungkus sosok yang tiba – tiba memasuki salah satu rumah dengan pintu menjulang yang terbuat dari perak. Ia ketuk pintu itu tiga kali. Secara tiba-tiba , di bawah pintu yang masih tertutup rapat itu berpuluh-puluh uang kertas berserakan. Dengan tergesa-gesa ia memasukan semua uangnya pada kantung berwarna emas yang ia genggam, kemudian menghilang seperti angin.

***

“Ah yang bener kamu, Ton? Kan kita yang kemarin jaga.” Manin mengerutkan keningnya penasaran.

“Iya, Ton. Ini bukan waktunya buat becanda.” Ujon menimpali.

“Lah, buat apa juga aku bohong ke kalian, serius. Ini aku baru saja dari sana. Kasian banget Pak Sangit, istrinya langsung histeris gitu.” Tondi menekuk wajahnya. Ia sangat perihatin dan merasa amat bersalah atas apa yang terjadi terhadap Pak Sangit, orang kaya di kampung mereka yang semalam kemalingan. Seandainya saja ia dan kawan-kawannya tidak ketiduran.

“Ya, gimana ga histeris. Mereka nabung udah bertahun-tahun buat naik haji sekeluarga. Eh tiba-tiba uang itu menghilang dalam satu malam. Mana ga jelas lagi yang ngambil itu orang apa bukan.” Ujon menyeruput kopinya nikmat. Menyenderkan kepalanya pada pos ronda usang. Sedangkan Manin hanya diam, tatapan matanya kosong. Ia seolah sedang menerawang sesuatu hal yang sempat ia lupakan.

“Aku ko ya kemaren ngerasa ada angin yang lewat sini kenceng banget,” kalimatnya menggantung, “yang diherankan di sini. Angin kencang tapi rasanya panas.”

Manin memperlihatkan kakinya yang menghitam seperti terbakar.

“Makanya, tadi pagi aku nanya ke kalian, ada yang ga matiin puting rokok atau tidak.”

Mereka saling pandang penuh keheranan, menerka-nerka apa yang sebenenarnya terjadi.

“Aku sempet bangun buat ngusap-ngusap kakiku itu dan menutupinya pakai sarung. Tapi, sayangnya aku ga buka mata.”

“Menurut kalian, dia ini makhluk apa?” Tanya Ujon, memakan singkongnya.

“Kayanya dia bukan manusia. Tadi, soalnya aku liat di depan pintu rumah Pak Sangit itu ada bulu-bulu,” Tondi mengingat-ingat “dan warnanya itu coklat.”

***
Setelah kejadian perampokan orang kaya di desa itu, tidak pernah lagi terdengar ada yang uangnya menghilang. Penduduk desa mulai merasa tenang dan aman. Mereka tidak lagi menaruh uang di dalam Al-qur’an ataupun di atasnya. Entah mereka mendapatkan pemikiran dari mana jika mereka melakukan itu uang mereka akan aman. Meski itu terbukti memang benar.

“Akhirnya ya, kampung kita udah aman tentram sejahtera lagi.”
Ujon yang pertama memulai percakapan di petang itu. Menyulut sebatang rokok di tangan kanannya.
“Iya, kau benar Jon. Tapi aku masih heran. Sama makhluk itu loh.” Manin mengusap jenggotnya yang mulai panjang.
“Kalian, nge gosip wae. Hayu balik. Malam nanti kita kembali jaga kan? Jangan lupa pada bawa Cemilan masing-masing ya. Tekor saya entar, kalo kalian terus minta.”

Tondi terbahak melihat dua orang temannya itu melotot. Ia melambai kemudian meninggalkan mereka. Tondi masih memikirkan apa yang membuat desa mereka tak aman beberapa bulan terakhir. Ia terus melamun hingga tak sadar salah berbelok. Harusnya ia berbelok ke timur ini malah ke barat, lebih tepatnya kesebuah hutan. Ketika tersadar, ia sudah berada di depan gubuk yang tinggal setengah dan sedikit hangus yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Seingatnya gubuk ini tidak berpenghuni, karena dulunya hanya dijadikan sebuah rumah remang-remang. Ketika orang-orang mengetahui apa fungsi gubuk itu mereka langsung membakarnya. Ia menyapu pandangan ke segala arah. Dan mata itu terfokus di sana, persis tiga meter dari tempatnya berdiri di belakang gubuk. Ia melihat sesuatu yang membuatnya penasaran akhir-akhir ini.

“Lutung.” Setelahnya semuanya menggelap.


Sintia NA lahir di Cianjur 10 Oktober 1996. Sekarang tinggal di Bekasi Selatan. Sangat menyukai sastra. Menggeluti dunia literasi sejak 2015 akhir hingga sekarang. Email : sintianurazizah36@gmail.com. Instagram : sintianura.10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here