DI MAKAM TUHAN, Puisi-Puisi Gust Kn

0
99

*) Gust Kn

ANDREAS

“Mari, Ikutlah Aku. Kamu Kujadikan penjala manusia.” (Mat. 4:19)

/1/
Dan kau tinggalkan sampan serta jala
dalam sedih yang paling sunyi,
bahkan gelombang di perairan ini
tak sudi mendengarkan riaknya sendiri.
Kau, nelayan yang kelak lupa aroma samudera.

Pernah suatu pagi tatkala menebarkan jala,
aku membaca dengan tekun sebilah tanda
di punggung ombak. Sepatah sabda
tak tercatat dalam suara.        
Jika titah yang kau telah terima
menjelma selaksa bahagia,
—ah, aku pula
selalu berharap dengan segala rupa.
Jika kau telah menuai segala rahasia,
sembunyikan untukku sestanza soneta
dalam sarung lurik-jingga.

/2/
Antara yang telah pernah adaseluas samudera,
kau, nelayan yang paling bahagia.
Telah pernah kau nikmati secawan anggur di mejaNya,
merapal setiap kata, menjala manusia.
Dari Yunani sampai Rusia kau bangunkan mezbah percaya
bahwa Ia Mesias, tempat teduh mahasempurna.
—O ya, seperti engkau kelak aku pula
tinggalkan dermaga menjala satu tanda yang remuk sukma,
menjadi martir barangkali dan menjaga cinta
di tengah pergolakan yang membabi buta.

/3/
Andreas,
kau penjala yang lupa aroma samudera.
(antara yang telah pernah ada)
tapi kau telah pilih jalan mahabahagia,
barangkali kelak aku juga.

Puncak Scalabrini, 30 November 2016

DI MAKAM TUHAN
:maria magdalena

Sebelum pagi memeluk bumi
bergegaslah kau ke makam Tuhan.
Batu penyangga telah tiada, barangkali Tuhan
diambil orang. Merunduk sepi kau menangis tak terhenti.

“Mengapa engkau menangis?” tanya pemuda yang menjaga.
“Tuhanku hilang diambil orang.
Kalian tahu ke manakah ia dibawa pergi?” keluhmu lesu.

Sejumlah soneta
serasa hambar mengungkap segala putus asa;
antara duka dan tembang kehilangan
serta rindu yang digigit waktu dan kenangan.
“Tidakkah kau kenal Aku, Maria?”ada yang memanggil.
Tersandung.  Kau ingin lari membabi buta
—kau kenal suara itu, bukan?
“Rabboni!” sorakmu riang. Kau tahu bahwa dialah Tuhanmu.
Dengan segera beranjaklah engkau mewarta ke seluruh kota:
“Aku telah melihat Tuhan;  dan Ia telah hidup kembali.”

Manila-Filipina, 24-26 Maret 2016


Gust Kn adalah nama pena dari Agustinus Kani, seorang pegiat sastra kelahiran Kerkuak-Reo, Manggarai. Sekarang menetap di Puncak Scalabrini-Maumere dan bergiat di Komunitas Djarum Scalabrini.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY