SENAM PAGI DI HALAMAN SEKOLAH, Cerpen Muhamad Kusuma Gotansyah

0
37

*) Muhamad Kusuma Gotansyah

Senam pagi kali ini aku laksanakan tanpa niat dan tanpa keikhlasan seperti sediakala. Sepertinya mereka telah membeli speaker baru sehingga musik senam yang menyebalkan ini terdengar begitu keras, atau mungkin speaker lama masih atau bahkan semakin rusak karena saat ini suaranya sedikit aneh walau keras. Di sekelilingku para peserta senam begitu gembira sembari menggerakkan tangan, kaki, dan kepala mereka yang disempurnakan dengan wajah mereka yang penuh ceria. Tawa dan sorak sorai mereka berbaur dengan musik senam, menciptakan bising yang membuyarkan isi pikiran dan hati. Lalu jenuh menjelma menjadi kesal yang menggelora. Seketika terpikir bahwa aku sedang berada di tempat yang salah, di antara orang-orang yang salah, dan melakukan hal yang salah. Tetapi siapa yang tahu, apalagi mau tahu. Niat dan keikhlasan yang hingga kini tak kunjung datang pun juga tidak mau tahu.

Namun di antara segenap hal yang kubenci akan senam pagi, aku ingat akan sesuatu yang telah kurencanakan jauh hari, yang pada hari ini akan aku laksanakan dengan bangga. Ingatan itu sungguh indah sehingga kedua telingaku tidak lagi mendengar musik senam yang sangat menyebalkan itu. Bukan hanyut, hanya rindu. Aku menutup mata, dan tanpa disengaja jemariku bergerak-gerak lembut seakan sedang menekan-nekan not pada sebuah saksofon soprano. Khayalku mulai mengalir. Dan aku pun membuka kedua mataku.

Kedua tanganku memegang sebuah saksofon soprano yang ujungnya terletak sangat dekat dengan bibirku. Lekas aku menjauhkannya sedikit dari bibirku. Aku melihat ke sekeliling tempat yang kutempati sekarang. Pada dinding di sebelah kananku terdapat pintu kayu yang sedikit terbuka. Di hadapanku terletak sebuah kasur putih yang sudah dirapikan, dan saat aku menoleh ke kiri, sebuah poster Wayne Shorter terpampang. Pada poster itu ia sedang memainkan sebuah saksofon soprano dan kebetulan sedang memandang pada kamera yang memotretnya. Ia seakan memandangku, dan menyuruhku dengan kata yang lembut untuk memainkan saksofonku.

Aku menekan sebuah not, yaitu not E dan meniupnya pelan. Not itu kumainkan sepanjang empat birama. Setelah itu aku menurunkannya ke D, lalu ke B, dan akhirnya C. Dari sana, aku mulai memainkan beberapa birama improvisasi dengan tangga nada kromatik. Aku tidak terburu-buru berimprovisasi, setiap not yang kutiup kuusahakan terdengar seindah mungkin.

Seiring waktu, improvisasi yang tenang dan pelan kuubah menjadi rentetan nada pentatonik yang buas. Seketika aku menjadi seorang John Coltrane; memainkan dua belas atau lebih not dalam satu ketukan. Yang tadi tak terburu-buru, kini menderu kencang. Pada setiap frasa yang kumainkan, aku selalu menutupya dengan satu not yang kutiup satu birama penuh, dan setiap aku memainkan not penutup ini, aku selalu memejamkan mata. Kemudian improvisasi itu kuakhiri dengan penutup yang menggantung, sebuah akhir yang dibenci banyak orang.

Sejenak setelah jeda tiga detik, terdengar hingar bingar tepukan di sebelah kananku, tepatnya di balik pintu kayu yang ada di sana. Dengan suara yang begitu menggelegar, aku yakin tepukan itu berasal dari orang yang cukup banyak. Aku pun melangkah pelan menuju pintu tersebut sambil tetap memegang saksofon sopranoku di tangan kananku. Sesampainya aku di depan pintu itu, aku mengulurkan tangan kiriku pada gagang pintu. Gagang pintu itu seakan berbicara. Tepatnya menggodaku untuk lekas memegangnya dan membuka pintu yang ada di depanku ini. Dan aku pun membuka pintu itu.

Aku disapa oleh tepukan yang semakin mengeras dan lampu-lampu yang terang benderang. Tempat itu luas dan megah. Kini aku berdiri di atas sebuah panggung besar dengan persekitaran berwarna putih dan emas. Aku dan saksofonku terperangah. Di hadapanku terdapat dua ribu delapan ratus empat kursi merah yang seluruhnya terisi oleh manusia, dan saat ini mereka semua sedang berdiri sambil bertepuk tangan. Lalu aku menyadari bahwa kini aku sedang berada di Issac Stern Auditorium, yaitu aula utama di sebuah tempat pagelaran musik ternama yang bertempat di New York, Carnegie Hall.

Aula yang mewah lagi megah itu memiliki lima lantai tempat duduk. Kuperhatikan seluruh kursi dari lantai teratas. Pada lantai teratas itu, aku melihat guru-guruku. Guru-guru yang gemar menegurku kala memergokiku yang lebih serius memerhatikan partitur-partitur hasil transkripsiku ketimbang mendengarkan mereka yang sedang berceramah di depan ruang kelas. Kini mereka tersenyum sumringah sembari bertepuk gemuruh.

Lalu pandanganku turun ke lantai di bawahnya, dimana aku dapat melihat sederet musisi-musisi jazz ternama di baris terdepannya. Aku melihat John Scofield, Brad Mehldau, Larry Grenadier, Wynton Marsalis, hingga Herbie Hancock dan Wayne Shorter. Tuan Shorter bertepuk paling keras di antara mereka, juga menampilkan senyum yang paling lebar hingga deretan giginya keluar agak malu-malu di balik dua belah bibir. Lalu senyumnya sedikit mereda dan memandangku dengan pandangan yang sama pada poster di kamarku.

Mataku menjamah lantai ketiga dan kedua sekaligus, dimana aku dapat menangkap wajah-wajah wartawan majalah Down Beat dan Rolling Stone, serta beberapa wajah yang tidak kukenal. Namun tepukan dan kegembiraan mereka senada.

Akhirnya mataku jatuh pada lantai terbawah, dimana pada barisan terdepan aku dapat melihat beberapa teman-teman sekolahku. Sebenarnya bukan teman-teman, tetapi sederetan orang-orang yang agak kukenal. Aku melihat Jundi, anak seorang arsitek yang gemar menanyaiku secara paksa jawaban untuk tugas-tugas matematika yang diberi guru. Aku juga melihat Harbi, pemain piano muda yang tak pernah bosan membanggakan dirinya yang pernah mengunjungi Julliard dan sering mencemoohku dengan bertanya, “Kapan kau kesana?”. Juga ada Alfin, kakak kelasku yang memiliki hobi membanting saksofon sopranoku dan merobek lembaran-lembaran partiturku karena baginya musik jazz terdengar ‘banci’ di telinganya. Tak jarang aku babak belur sebab aku sering menjawab ‘Yang banci itu kau’ padanya. Mataku juga menangkap sesosok lelaki muda yang ternyata adik kelasku bernama Idrash. Ia gemar merengek, dan sering mencari perlindungan padaku kala ia dibuat menangis oleh teman-temannya yang nakal. Dan aku juga melihat beberapa orang-orang yang agak kukenal lainnya.

Namun mataku berhenti menjelajah saat aku melihat seorang perempuan muda yang sebaya denganku. Ia adalah Ahmra, gadis yang hingga kini selalu diletakkan di sampingku di ruang kelas. Ia tak pernah bicara, ia tak pernah menyapa, ia tak pernah melihatku, apalagi tersenyum. Walau selalu di sampingku, ia tak pernah menyadari kewujudanku. Tetapi kali ini ia tampak begitu cantik dengan senyumnya dan tepukan gemuruhnya.

Dalam jarak waktu yang sangat singkat berangsur-angsur semua tepukan berhenti. Ahmra memandangku seraya tersenyum mekar. Aku melihatnya mengucapkan sebuah kata namun tidak dapat mendengarnya. Kucoba membaca gerakan bibirnya.

“Mainlah!” kira-kira itu ujarnya.

Aku menunduk tanda memberi terima kasih pada para penonton. Kembali aku tegakkan tubuhku setelah menunduk, dan kucoba menyapu semua penonton dari lantai teratas hingga lantai terbawah dengan pandangku. Aku berhasil, dan kembali pandangku jatuh pada Ahmra. Aku tersenyum dan mendekatkan ujung saksofonku pada bibirku, lalu memainkannya.

Dengan spontan aku memainkan sebuah lagu berjudul Naima karya John Coltrane. Kumainkan not pertama pada lagu itu yakni C, lebih lama daripada yang tertulis pada partitur aslinya. Sangat lama hingga nafasku sepenuhnya habis dan terdengar rintihan pada ujung not tersebut. Lalu aku memainkan kelanjutan lagu itu dengan sediakala. Saat mengulang bagian A lagu terebut untuk kedua kalinya, aku mengisi sela-sela not yang dimainkan panjang dengan nada-nada dekorasi yang kromatik.

Pada bagian B, aku menampilkan lebih banyak improvisasi yang buas, seperti saat aku di kamar sebelumnya. Tanpa kusadari suara saksofon sopranoku bertambah keras seiring waktu, hingga pada akhir improvisasi aku meniupkan not terakhir dengan volume yang paling keras di antara not-not sebelumnya. Dan pada birama kelima bagian ini, kembali aku memainkan lagu dengan bunyi not yang sendu seakan menangis bahagia. Dan memang sesaat kulihat saksofon sopranoku terisak, juga para penonton, bahkan Wayne Shorter, dan juga Ahmra. Namun mereka semua tersenyum, begitu juga saksofonku tersenyum lebar. Aku pun ikut jatuh pada haru yang terang benderang.

****
Aku membuka mata dan melihat halaman sekolah yang tak lagi penuh akan manusia. Tak lagi berisik akan musik senam yang menyebalkan. Tak lagi terpenjara dengan suasana senam pagi yang hambar. Aku menoleh ke sekitarku, semua orang sudah tidak ada. Hanya aku sendiri.

Aku mengusap kedua mataku perlahan karena telah lama tertutup. Tubuh ini kuregangkan dan aku berjalan-jalan dalam lingkaran kecil. Kepalaku terasa agak berat. Terasa olehku seakan sedang memikul mimpi-mimpi dan kenangan-kenangan yang jumlahnya selangit, lalu tersandung hingga semua mimpi dan kenangan itu terjatuh dan berpencar kemana-kemana.

Kucoba mengumpulkan mimpi dan kenangan yang berserakan itu satu persatu, dan akhirnya berhasil. Aku ingat akan segalanya. Aku ingat akan kamarku yang mungil, akan poster Wayne Shorter, dan akan pintu kamarku yang penuh misteri. Juga akanCarnegie Hall, akan lampu dan panggung dan kursi yang megah lagi mewah. Akan segalanya, termasuk Ahmra.

Tumbuh keinginan yang berkobar dalam jiwa. Seketika aku berlari menuju kelasku di tingkat dua sekolah ini. Di koridor tingkat dua, aku melihat Jundi, aku melihat Harbi, juga Alfin, juga Idrash. Mereka memandangku seperti biasanya; Jundi dengan pandang yang meminta, Harbi dengan pandang yang meremehkan, Alfin dengan pandang yang jijik, dan Idrash dengan pandang yang memelas. Mereka tak kuhiraukan.

Memasuki kelas, aku melihat Ahmra. Ia memandangku juga dengan pandang yang seperti biasa; dingin. aku datang untuk mengambil saksofon sopranoku yang masih terkemas dalam tasnya, dan aku tak ingin mencoba bersenda gurau dengannya. Setelah kuambil saksofonku, sesuatu memaksaku untuk kembali memandang Ahmra. Kini ia tak lagi memandangku, sekarang kedua bola matanya tertuju pada buku yang sedang ia baca. Dengan sekuat tenaga aku pergi dan tidak menghiraukan dirinya.

Aku keluar kelas dan kembali berlari dengan menyandang tas saksofonku. Hampir saja ia terjatuh saat Alfin dengan sengaja menyandung kakiku, namun aku tidak peduli lalu memungut saksofonku itu kembali dan lanjut melaju.

Tujuanku adalah aula pertunjukan sekolah ini. Hari ini aku mendapatkan kesempatan untuk ikut sebuah audisi pertunjukan musik. Kesempatan ini telah kurencanakan lima tahun lamanya.

Aku sampai pada sebuah ruangan khusus penampil di belakang aula. Ruangan ini kosong, tidak ada orang-orang lain yang mengikuti audisi. Mungkin aku telat, pikirku cemas. Aku duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di sana. Seketika saat aku duduk, aku mendengar alunan saksofon soprano yang damai dan hingar bingar di waktu yang sama. Alunan itu berasal dari panggung aula. Kudengar baik-baik dan ternyata alunan itu adalahNaima.

Terkejut dan bingung, aku berdiri dan segera menengok pada panggung aula dari belakang panggung ini. Aku melihat diriku sedang berimprovisasi di atas panggung. Ia gembira, berapi-api, dan penuh gemuruh. Tak ada yang menonton, bahkan juri pun tidak ada. Hanya ada diriku di panggung.

Ia mengakhiri improvisasinya dengan sebuah not yang diteriakkan. Volume not itu paling keras di antara not-not sebelumnya. Lalu ia kembali memainkan Naima hingga habis. Dia berhenti. Lebih tepatnya aku berhenti.

Dia, atau diriku, terdiam dan menoleh padaku, atau dirinya. Dia, atau diriku, tersenyum, lalu tertawa, kemudian tawanya makin keras hingga terbahak-bahak, hingga saksofon pada tangan kanan terjatuh ke lantai panggung, kemudian terpingkal-pingkal hingga terjatuh di lantai panggung, lalu melingkar di lantai panggung dan tertawa sekeras-kerasnya.

Dia, atau diriku, menertawakanku, atau dirinya.

Kuala Lumpur 19 Februari 2017


Muhamad Kusuma Gotansyah. Seorang gitaris muda penggemar jazz kelahiran Tangerang yang berambisi untuk membuka mata dunia dengan musiknya. Penampilan debutnya adalah di selamatan sunat anak tetangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here