Maumerelogia 2: Sebuah Karya Kebudayaan

0
86
Salah satu adegan Ina Benga dalam Maumerelogia 2 (Foto: Dokumentasi Kahe)

*) Ricko W

Sebuah parade Teater dan Monolog yang berlangsung selama dua hari (Senin, 1 Mei dan Selasa, 2 Mei 2017) berhasil diselenggarakan Komunitas Kahe. Sebuah karya kebudayaan telah ditorehkan di bumi Nian Tana. Orang-orang datang pada malam hari, memenuhi hall Sikka Convention Centre (SCC) dan masuk ke dalam sebuah dunia yang tidak lagi hingar-bingar. Teater dan Monolog bukan sekedar hiburan, ia menampilkan sisi lain sebuah karya seni, yakni refleksi atas kehidupan dan usaha merawat kebudayaan.

Pada malam pertama, Kelompok Teater NARA dari Larantuka, Linda Tagie, Aletheia Ledalero dan Teater Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) menampilkan sebuah sebuah pertunjukan yang banyak mengangkat problematika perempuan dari berbagai sudut pandang dan beragam persoalan. NARA dengan Ina Benga berhasil memukau penonton dan sejenak mempertontonkan berbagai kegelisahan dan keresahan perempuan. Dua orang perempuan Lamaholot yang menjadi tokoh sentral menjadi potret perempuan NTT pada umumnya. Hal sehari-hari yang luput dari pengamatan dan kepekaan lazim masyarakat banyak; hidup sebagai perempuan muda, menikah dan menjadi seorang ibu, justru di sisinya yang lain menjadi tirai yang menutupi aneka ketidakadilan dan menjadi beban hidup.Ina Benga yang disutradarai oleh Sil Hurit membuka pementasan Maumerelogia 2 secara apik. Penonton dibawa ke dalam sebuah kesadaran baru dan mulai membaca realitas dari seni yang ditampilkan.

Penampil kedua Linda Tagie tampil lebih berani. Dengan mengenakan dress merah muda, ia membawakan monolog Kembalikan Anak-Anakku yang naskahnya ditulis Gusty Fahik. Sejak awal ia sudah mencuri perhatian dengan aksinya di atas panggung. Dari segi penyampaian pesan, Linda kelihatan lebih frontal menggugat sana sini. Bagaimana tidak, ia menghidupkan panggung pementasan dengan perannya sebagai seorang perempuan yang ditinggal suami yang pergi merantau. Biaya makan-minum, ongkos sekolah, tuntutan adat, tekanan sosial hingga arus modernisasi yang mengeksploitasi anak-anak adalah rentetan persoalan yang diteriakan Linda tanpa malu-malu. Sebagaimana penampilan Linda di banyak panggung monolog, karakter seorang perempuan ‘penggugat’ selalu menjadi ciri khas. Malam itu, kematian menjadi akhir cerita Linda di atas panggung dan kematian seorang perempuan naas sepertinya hanya menjadi santapan media tanpa sekalipun mereka tahu bagaimana ia hidup.

Masih tentang perempuan, Aletheia Ledalero tampil lebih kalem meski tetap mempertahankan aspek kritis dan puitisnya.Dalam monolog yang dibawakan aktor Aletheia kawakan Delis Mali,perempuan tak habis dimengerti dengan membaca buku, mempelajari risalah, menganalisis sejarah dan membuka ruang diskusi. Mengerti perempuan adalah ‘menjadi’ perempuan. Masuk ke dalam dunianya dan turut berempati. Jika tidak maka bunuh dirilah! Jalan keluar yang sebenarnya agak ironis. Dalam diskusi sehabis pentas, seorang pengamat justru menegaskan ini; yang menggugat adalah seorang laki-laki di atas panggung, ini sebuah paradoks, dan bunuh diri bukanlah solusi yang menyelesaikan masalah. Dan memang pernyataan ini keras. Aletheia hendak membongkar kenyamanan patriarki. Mungkin demikian.

Penampilan pamungkas di malam pertama Maumerelogia 2, kelompok Teater Seminari BSB menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Meski masih mengangkat tema cerita seputar perempuan, anak-anak BSB memasukan unsur-unsur religius di dalamnya. Seorang manusia yang merana, setan-setan yang menggoda dan kaum berjubah suci yang datang menyelamatkan masih menjadi pemandangan yang menggoda mata dan sarat nilai religiositasnya.

Malam pertama Maumerelogia 2 cukup meriah dengan penampilan Calypso Band yang membawakan beberapa lagu berirama Regea. Sedangkan di selasar SCC, Micky Mounster Tattoo menggelar demo sablon baju, topi dan aneka souvenir lainnya. Dan sehabis pementasanmalam pertama, Kahe bersiap untuk pementasan pamungkas Maumerelogia 2 di malam kedua.

Ansel Langowuyo, sang aktor Teater Tanya membuka malam kedua Maumerelogia 2 denganelok. Dalam kegelapan, ia memulai aksinya dengan menyeret-nyeret sebuah drum kecil dari belakang hall SCC. Semua penonton terdiam sembari menantikan aksi berikut. Bunyi drum yang berderap-derap di lantai terdengar begitu natural dan sekaligus turut menyeret penonton masuk dalam nuansa penuh ketegangan.

Di atas panggung yang gelapsudah terdapat sebuah ranjang yang diikatkan menggantung pada sebuah rangka besi berbentuk persegi. Dan di atas ranjang inilah Ansel mulai bermain-main seraya membangun cerita dengan pelbagai properti di sekitar; buku, kain, api, cahaya senter dan drum kecil.

Ia membawakan sebuah monolog berjudul Philosophia Di Atas Ranjang yang naskahnya ditulis Ino Koten. Narasinya begitu mengalir, monolognya hidup dan begitu berenergi. Sebagaimana ranjang yang diikat menggantung harus diturunkan ke dasar lantai, filsafat, ide juga seharusnya tidak menggantung di ketingginan. Ia harus membumi, menyentuh dasar dan menjadi bagian dari realitas hidup manusia. Ini tentu saja sebuah kritik klasik bagi filsafat, tetapi tetap saja relevan. Alhasil, di atas panggung Maumerelogia 2 Ansel berhasil memutus belenggu yang mengikat ranjang yang menggantung. Solusi berhasil dipecahkan.

Setelah Teater Tanya membawa penonton dalam suasana monolog yang serius dan penuh kerut di dahi, Teater Plender SMAN 2 Maumere tampil menyajikan sebuah pertunjukan bertajuk Aksi Bela Guru yang lebih santai, menghibur, namun tetap bernas. Mereka secara begitu transparan menampakan keseharian kehidupan anak-anak sekolah zaman sekarang, mulai dari kebiasaan membolos sekolah, pacaran, kebiasaan selfie, merokok di sekolah, dikejar polisi Pamong Praja, dan membicarakan hal-hal remeh temeh kehidupan anak sekolah lainnya. Kepolosan dan tingkah konyol yang mereka bangun melalui dialog-dialog justru berujung pada sesuatu yang satir; nasib guru honor yang gajinya rendah. Sungguh, Dede Aton sang penulis naskah berhasil membuat penonton menertawakan sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah teramat serius dalam dunia pendidikan negeri ini. Cerita ditutup dengan demonstrasi murid-murid sekolah yang menuntut gaji guru honor dinaikan. Aksi Bela Guru memberi sebuah pukulan telak pada wajah pemerintah di Hari Pendidikan Nasional. Semoga saja ada banyak pejabat pemerintah yang menyaksikan Aksi Bela Guru di atas panggung Maumerelogia 2.

Sehabis Teater Plender, Merlyn Cintya dari Komunitas Kahe naik ke panggung. Cahaya lampu yang remang langsung menyorot tubuh sang aktris yang sedang tertidur dengan gelisah di atas sebuah meja kecil. Mengenakan bawahan sarung khas Ende Lio, Merlyn dengan sangat emosional menghantar penonton dalam ketegangan demi ketegangan perempuan yang akan mengorbankan nyawa keesokan harinya. Esok Purnama—Malam Terakhir Ine Mbu adalah judul Monolog yang dibawakannya. Kisah ini adalah cerita turun temurun tentang Ibu Padi yang banyak diceritakan secara lisan dalam banyak versi di Flores. Tangisan dan rintihannya adalah bukti kegelisahan seorang perempuan yang bergelut dengan waktu kematian. Purnama yang ia lihat malam itu adalah purnama terakhir yang cahayanya sungguh menyiksa. Dengan olah tubuh yang baik dan ditambah kekuatan emosinya yang penuh totalitas, Monolog Ine Mbu berhasil menciptakan karakter estetis dari sebuah tradisi lisan.

Sehabis Komunitas Kahe menampilkan Monolognya, giliran Anak Cabang tampil ke panggung. Anak Cabang adalah sebuah kelompok grup musik anak muda yang sering tampil di Maumere. Malam itu mereka memberi kejutan. Sebuah musikalisasi puisi dipentaskan dengan sangat luar biasa. Irama musik etnik khas Maumere menambah kekuatan estetis dua orang perempuan berjubah hitam dengan menggenggam pelita di atas panggung. Selain menampilkan sebuah musikalisasi puisi, kelompok Anak Cabang juga membawakan beberapa lagu dengan musik kampung. Sebuah terobosan anak muda yang patut diapresiasi sebab mereka masih mencintai musik kampung, musik nenek moyang mereka.

Acara puncak dari Teater SMAS John Paul II adalah acara yang paling dinantikan. Mereka mementaskan sebuah Teater budaya yang sangat mengesankan. Sebuah perahu Jong Dobo memasuki panggung diiringi musik gong dan gendang serta para penari. Dengan sangat megah, mereka menceritakan kisah masuknya kapal Jong Dobo ke wilayah Kabupaten Sikka. Jong Dobo sendiri adalah sebuah miniatur perahu perunggu yang berasal dari kebudayaan Dongson tepatnya berasal dari India. Legenda masuknya kapal Jong Dobo inilah yang dikisahkan secara teatrikal di atas panggung Maumerelogia 2. Kombinasi budaya di dalam Teater Jong Dobo ini sungguh membuat semua orang berdecak kagum. Tak bisa dipungkiri panggung Maumerelogia 2 seolah menasbihkan diri sebagai panggung budaya yang sempurna dengan atraksi Jong Dobo ini.

Malam semakin malam, Maumerelogia 2 telah usai. Buku-buku bacaan yang dikumpulkan dari tangan penonton sebagai karcis sudah lumayan banyak dan siap untuk didonasikan.Orang-orang pulang dengan kagum. Mereka yakin anak-anak muda Nian Tana malam itu telah merayakan kebudayaan dengan cara yang pantas. Kita nantikan Maumerelogia 3.


Ricko W, anggota Kahe. Tinggal di Wolomarang Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here