Bayang-Bayang Identitas, Catatan Atas Pentas Monolog Menggaris dari Pinggir

0
100

*) Gusty Fahik

Suatu malam, menjelang akhir April 2017, diawali sajian pembuka berupa musikalisasi puisi yang dibawakan Reisty Baba Nong dan Fernando Leonard Ale, Abdy Keraf mementaskan sebuah monolog dalam kolaborasi dengan Ragil Sukriwul.

***

Dari dalam gerobak beroda tiga, dalam keterkungkungan sempit ruang, ia menggeliat dan melontarkan pertanyaan-pertanyaannya:

Siapakah aku, hingga ibuku memuntahkan aku dari rahimnya?
Siapakah aku hingga bapakku memanggilku dengan nama yang aku tak pernah tahu apa arti nama itu?
Siapakah aku hingga aku merasakan cinta?

Abdy Keraf, dalam pentas monologMenggaris Dari Pinggir yang berdurasi singkat itu, meletakkan simbol-simbol yang boleh dibilang sejajar. Ia memanfaatkan gerobak beroda tiga untuk menghidupkan imajinasi tentang rahim yang secara verbal ia sebut dalam pertanyaan pertama.Sang Aku yang terkurung dalam sempit rahim itu, segera menyadari dirinya bukan sekadar onggokan daging belaka. Sang Aku adalah subjek yang sedang berhadapan dengan dirinya sendiri, ketika ia mempersoalkan ikhwal keberadaan dirinya.

Sang Aku yang mencari tahu ihwal dirinya itu sebetulnya sudah menyadari kehadiran “Aku yang lain.” Barangkali sang Aku mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan tertentu. Seseorang yang ia identifikasi sebagai bapaknya. Namun, ia sendiri tidak memahami apa arti sebutan yang dialamatkan kepadanya itu. Apakah sebutan itu adalah sebuah nama? Kalau benar sebuah nama, apakah nama itu mengandung arti tertentu? Atau hanya sesuatu yang diberikan tanpa maksud? Sang Aku mempertanyakan makna namanya sendiri.

Keingintahuan sang Aku tentang namanya itu serentak mengafirmasi kesadarannya sendiri bahwa nama itu sebetulnya adalah sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Ia bukanlah subjek yang memilih nama bagi dirinya. Ia selalu terkait dengan “yang lain” yang ada di luar dirinya. Dengan demikian, rahim bukan lagi sebuah dunia terpisah dimana sang Aku bisa menjadi dirinya sendiri. Rahim juga menjadi ruang bagi sang Aku untuk mulai merasakan dunia lain, dunia yang lebih besar dari rahim itu sendiri.

Keterhubungan rahim dengan dunia luar itu tidak saja terkait dengan subjek-subjek “aku” yang lain, melainkan terkait juga dengan perasaan-perasaan tertentu yang dirasakan/dialami sang Aku, seperti cinta. Namun, pertanyaan sang Aku bukan  mengenai cara (bagaimana) ia merasakan cinta, melainkan pertanyaan tentang dirinya sendiri. Ia tidak ingin tahu bagaimana cinta itu bisa ia rasakan, sebab ia lebih tertarik pada pertanyaan tentang dirinya sendiri.

Keterpusatan Sang Aku pada dirinya ini berlanjut pada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

Siapakah aku, hingga kau perempuan, melemparku keluar?
Siapakah aku, hingga kau laki-laki membuahi rahim ibuku?

Lagi-lagi, ia tidak mempersoalkan alasan (mengapa) ia hadir sebab yang ia gugat bukanlah alasan, melainkan subjek yakni dirinya sendiri. Siapakah yang harus memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan ini? Sebab, ia seolah-olah bertanya pada dirinya, tetapi sebetulnya ia serentak sedang bertanya pada yang lain tentang dirinya. Ia tidak membatasi pertanyaannya pada ibu dan bapak yang ia sebut secara gamblang, karena ia sudah mulai menyebut subjek lain, kau.

Kau!
Aku tak pernah menolak cintamu!

Siapakah kau yang dimaksud dalam pernyataan ini? Ibu? Bapak? Atau seseorang yang dianggap menjadi asal rasa cinta yang dirasakan sang Aku?  Kau bisa merujuk kepada siapa saja. Ketika kau bisa merujuk pada siapa saja, sang Aku pun bisa menjadi siapa saja. Ia subjek tunggal yang sedang mencari identitasnya, tetapi identitas yang ia temukan itu bukanlah sebuah identitas tunggal. Ia berhadapan dengan pilihan-pilihan identitas, dimana ia sendiri bingung menentukan pilihannya sendiri.

Dalam kalimat lain, keterlemparannya dari ruang kecil, rahim ibunya, ke dunia luas, bukanlah sebuah jalan pasti bagi penemuan dirinya. Ia justru seakan-akan berada dalam sebuah belantara yang memenyediakan terlalu banyak pilihan untuk ia ambil bagi dirinya sendiri. Hal ini terlihat dalam pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kemudian.

Apakah aku laki-laki yang selalu menampilkan kelaminku, lebih mulia dari otakku?
Apakah aku perempuan yang selalu memotret payudara dan melemparkannya ke dunia maya untuk diberi jempol oleh seribu laki-laki?

Barangkali ia ingin mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki. Namun, apa artinya menjadi laki-laki? Apakah laki-laki hanya sebatas konsep yang dianggap berbeda dari perempuan oleh sebab perbedaan bentuk alat kelamin belaka? Pertanyaannya tentang “menjadi laki-laki” adalah pertanyaan tentang perangkat yang terhubung dengan kebanggaan, kemuliaan dan hal-hal agung yang pantas bagi seorang manusia.

Pertanyaannya tentang laki-laki ini menjadi menarik sebab sang Aku menggunakan kata “kelamin” saja. Ia tidak menyertakan keterangan lain misalnya jenis kelamin atau alat kelamin. Dengan demikian setidaknya dua bentuk penafsiran bisa dihadirkan mengkuti dua keterangan yang disediakan di atas. Jika sang aku merujuk pada jenis kelamin, maka sang aku sedang menampilkan persoalan klasik dalam kultur masyarakat patriarki, dimana menjadi laki-laki adalah sebuah kebanggan, tidak peduli apakah punya otak brilian atau tidak punya otak sama sekali. Laki-laki menjadi simbol kemuliaan dengan menafikan unsur lain misalnya pengetahuan dan terang akal budi sebagai yang menetukan nilai keagungan manusia dibanding makhluk-makhluk lain sebagaimana diyakini dalam tradisi agama-agama.

Jika sang Aku merujuk pada alat kelamin, maka ia sebetulnya sedang menunjukkan sebuah patologi dalam dunia laki-laki sendiri, dimana tolok ukur pencapaian seorang laki-laki bukan dilihat dari hal-hal yang berhubungan dengan kelamin saja. Keperkasaan laki-laki direduksi menjadi sebatas urusan ranjang atau libido belaka. Karena itu, mereka yang meski berjenis kelamin laki-laki tetapi tidak mampu menunjukkan keberhasilan dalam urusan ranjang, dianggap bukan laki-laki dan pantas disingkirkan. Pertanyaan sang Aku jika dipahami dalam batas ini, kelihatan mengafirmasi patologi yang ada,serentak menjadi sangkalan terhadap pengagungan alat kelamin, sebagai perangkat kemuliaan seorang laki-laki. Ada sesuatu yang lain, yang perlu diletakkan sebagai penentu kemuliaan laki-laki, dan itu bukan alat kelamin.

Dalam pertanyaan yang lain, sang Aku mecoba mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Proses identifikasi ini bermuara pada kenyataan tentang perempuan yang ingin dipuji oleh karena perangkat fisik-biologis yang sering ia pertontonkan kepada laki-laki. Unsur fisik seperti payudara menjadi sebuah senjata yang bisa dioperasikan untuk memuaskan hasrat ingin dipuji sebagai perempuan. Apakah ini juga sebuha “kecelakaan” di tengah perjuangan kaum perempuan untuk menjadi subjek yang setara dengan laki-laki? Sebab pertanyaan sang Aku sebetulnya menunjukkan bahwa perempuan sedang menjadikan diri/bagian-bagian tertentu dari dirinya sebagai objek bagi tatapan mata kaum laki-laki.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sang Aku kemudian menjadi titik kesadaran baginya untuk memastikan identitasnya sebagai subjek. Namun, kepastian itu tidak serta-merta diperoleh, sebab Sang Aku terjebak dalam kebingungan untuk mulai menarik garis batas antara dirinya dan yang bukan dirinya, antara Sang Aku dan Aku yang lain.

Darimana aku harus memulainya?

Kebimbangan Sang aku tidak bertahan lama, sebab ia menemukan jalan untuk memulai misinya. Hal ini terlihat dalam dua kalimat terakhir yang dilontarkan Sang Aku.

Aku ingin membuat garis-garis itu, dengan papan2 tombol ini, menjadi sebuah garis pinggir
Dari mana aku memulainya.

Bagian akhir monolog ini menunjukkan konsistensi Sang Aku dalam pergumulan mencari dirinya. Ketika ia menarik garis-garis batas dari pinggir, ia sedang menunjukkan konsistensinya untuk tetap mendudukkan dirinya pada pusat pergumulan itu. Ia menetapkan sebuah dunia bagi dirinya sendiri, dimana ia bisa terus bergumul mencari jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang telah ia lontarkan sebelumnya.

Abdy Keraf dalam monolog yang ia pentaskan sebagai pembuka diskusi buku Menggaris Dari Pinggir karya Elvan de Porres ini sebetulnya membenturkan unsur-unsur pembentuk identitas subjek seperti aku dan bukan aku, subjek dan objek, laki-laki dan perempuan, pusat dan pinggir, juga dunia nyata dan dunia maya.

Kehadiran unsur-unsur ini menjadikan pergulatan ini relevan bagi subjek-subjek milenial yang akrab dengan teknologi internet. Internet menyediakan sebuah dunia yang disebut dunia maya, dimana segalanya menjadi serba kabur. Orang bisa menjadi subjek sekaligus objek, laki-laki sekaligus perempuan, bahkan orang bisa menjadi apa dan siapa saja serentak bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.[]Publication1


Gusty Fahik adalah seorang penikmat seni, tinggal di Kupang.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY