Puisi-Puisi Mikhael Wora

0
114

*) Mikhael Wora

NA-PAS-KAH (?)

Pada waktu itu bumi belum bernapas
Penyair datang membawa roh bersama sebatang pena
Ia duduk tafakur di atas perahu

Roh melayang-layang dan pena menari-nari di atas permukaan air
“Jadilah terang!”, begitu tulisnya
Lalu Ia menutup buku dan menyimpannya kembali di saku baju
“Jadilah gelap!”

Bersama roh sepekan penanya lincah menari
Pada hari keenam Ia merangkai huruf dari bulu-bulu
 “Jadilah kutu-kutu buku”
Adapun kutu itu jantan dan betina
Kutu yang berkumis dan bergincu

Pada hari ketujuh Ia bertanya pada kutu-kutu buku:
“Apa yang kalian mau dari-Ku sekarang, Na-Pas-Kah?”
Mereka mengangguk lantas Ia berikan pena milik-Nya
Demikian mereka bernapas dengan sajak paskah

 (Mautapaga-Ende, 16/4/2017)

SEBELUM SABAT

/1/
Di kaki pintu kubur fajar merekah senyum
Dan aku terharu mencium aroma pagi
Celah-celah batu menghembus wangi mur dan gaharu

/2/
Di kaki pintu kubur aku menggenggam dupa
Juga setangkup doa di ujung rambut
Hendak menjaga tubuh-Nya dari kerumunan lalat

Lagi-lagi aku harus menahan diri
Sebab Magdalena dan gempa belum jua datang

/3/
Di kaki pintu kubur resahku mengalir
Ingin kuganti bunyi kitab:
Pagi-pagi benar seorang penyair pergi ke kubur Yesus
Mendahului Magdalena dan lainnya

/4/
Di kaki pintu kubur aku dicegat pria bertopeng cahaya
“Apakah kamu lupa bahwa ini belum hari ketiga?”

(Mautapaga-Ende, 15/4//2017)


Mikhael Wora. Mahasiswa STFK Ledalero. Tinggal di rumah pembinaan filsafat Puncak Scalabrini. Bergiat di komunitas sastra Djarum Scalabrini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here