Perempuan dalam Loteng Rumahku, Cerpen Nanda Dyani Amilla

0
72

*) Nanda Dyani Amilla

Aku tidak begitu paham apa yang membuat ayah tidak mengizinkanku memasuki loteng rumah ini. Sejak usiaku lima belas tahun, tepatnya sejak setahun kepergian ibu ke pangkuan Tuhan, ayah tidak pernah lagi mengizinkanku membuka pintu loteng itu. Entah bersebab apa, padahal setahuku loteng itu selalu dibersihkan ayah dua minggu sekali. Setidaknya tidak akan ada hal-hal aneh yang akan terjadi di sana jika aku masuk ke loteng itu. Tapi tetap saja, ayah melarang keras aku untuk masuk ke dalam sana.

Aku berpikir, barangkali terlalu banyak kenangan indah di dalam loteng itu tentang ibu. Sebab yang aku tahu, ayah telah memindahkan seluruh barang-barang kepunyaan ibu ke dalam loteng itu sejak ibu meninggal. Mulai dari piano kesayangan, baju-baju, hingga semua perlengkapan ibu, ayah pindahkan ke atas sana. Ayah juga mulai mengunci loteng itu dan menyembunyikan kuncinya di tempat yang aku tidak tahu. Setiap kali ditanya, ayah selalu diam. Enggan menjawab.

Aku adalah anak tunggal di keluarga ini. Sejak usiaku lima belas tahun, ibu telah pergi menghadap Tuhan. Ibu meninggal dunia karena sakit. Sakitnya tak kunjung sembuh, hingga membuat ayah kerap murung berminggu-minggu. Hingga hari buruk itu datang, ibu pergi dan ayah menjadi sangat menutup diri. Ia mulai malas untuk bertemu orang-orang. Ia juga tidak lagi banyak mengajakku bicara. Aku dan ayah hanya berkomunikasi di meja makan, saat sarapan dan makan malam. Selebihnya, ayah akan pergi bekerja dan pulang mendekam di kamarnya.

Sesekali ia menuju loteng rumah tanpa mengajakku. Aku sering memperhatikan ayah sebelum beranjak menuju loteng itu. Wajah murungnya sedikit cerah, beberapa kali kulihat ayah membawa peralatan untuk bersih-bersih. Tidak jarang juga kulihat ayah membawa senampan makanan ke atas sana. Aku berpikir bahwa mungkin itu untuk camilan ayah setelah membersihkan loteng itu. “Perlu kubantu, Yah?” tanyaku menawarkan suatu ketika. “Tidak usah, Jaz. Terima kasih.” Ayah menggeleng dan menaiki tangga.

Biasanya, jika sudah seperti itu, aku hanya bisa diam dan beranjak menuju kamarku. Atau aku akan pamit untuk mengunjungi teman-temanku di kafetaria. Usiaku 20 tahun saat ini, dan ayah tidak pernah melarangku pergi kemana saja selama itu tidak berbahaya. Pernah suatu ketika, ketika aku pulang ke rumah, ayah belum juga turun dari loteng itu. Penasaran, kususul ayah ke atas sana. Dengan langkah kaki yang sangat hati-hati, aku mendekat ke arah pintu loteng itu. Mengendap-endap mencari tahu apa yang tengah dilakukan ayah selama berjam-jam di dalam sana.

Kurapatkan telingaku dengan pintu, kudengar ayah tengah mengobrol dengan seseorang. Bukan, bukan mengobrol. Ayah tengah bermonolog, dia berbicara seorang diri. Tapi seakan-akan sedang ada yang diajaknya bicara. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi, aku semakin berkonsentrasi, berusaha mendengarkan apa yang sedang diutarakan ayah. Samar, yang terdengar hanya suara ayah yang terdengar sangat bersedih. Sesekali kudengar ayah terisak. Ah, mungkinkah ayah sedang rindu ibu? batinku. Sebab di dalam loteng itu, banyak sekali barang-barang kenangan yang akan mengingatkan ayah tentang ibu.

Setelah agak lama dan ayah tak kunjung keluar, aku memilih turun dan balik ke kamarku. Pikiranku kacau, mengapa ayah menangis sesedih itu? Kenapa pula ayah tidak mau berbagi cerita tentang risaunya padaku? Esoknya di meja makan, aku mencoba menanyakan hal itu pada ayah. “Kemarin, aku tak sengaja mendengar ayah menangis di dalam loteng itu. Apa ada sesuatu yang terjadi, Yah?” aku menatap ayah. Seketika air muka ayah berubah, dia langsung menatapku tajam. “Berapa kali ayah bilang, kau tidak boleh naik dan mengunjungi loteng itu!” ayah berkata dingin.

“Memangnya kenapa, Yah?” tanyaku lagi. “Kalau ayah bilang tidak boleh, ya jangan kau lakukan! Jangan juga kau tanyakan lagi!” nada bicara ayah naik beberapa oktaf. Aku diam sejenak, mencoba membaca raut wajah ayah. Firasatku mengatakan bahwa ayah tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Atau memang ayah belum mau bicara dan terbuka padaku untuk saat ini? Entahlah, yang jelas ayah selalu marah jika aku membahas soal loteng rumah ini.

Selesai makan, ayah mengoles dua roti dengan selai stroberi. Lalu beranjak naik ke atas loteng. Aku mengernyitkan dahi, apa yang dilakukan ayah dengan dua roti itu? Siapa pula yang hendak diberi ayah di atas sana? Mungkinkah tikus-tikus jaman sekarang sudah mulai doyan makan roti? aku membatin. Tapi tanpa mau ambil pusing, aku segera meraih tas kuliahku, dan beranjak pergi ke kampus.

* * *
Malam ini, saat aku tengah bermesraan dengan tugas-tugas kuliah di ruang keluarga, aku melihat ayah mengambil kunci loteng itu lagi. Setelah sebelumnya ia membuat dua gelas teh dan membawa sebuah bungkusan besar. “Ayah habis belanja?” tanyaku. Dia menggeleng. “Lalu, bungkusan apa itu? Seperti kantung plastik dari sebuah mol?” tanyaku lagi. Ayah menatapku tajam. Tatapannya sungguh dingin. Aku memilih bungkam dan kembali menekuri laptopku.

Kulihat ayah menaiki tangga menuju loteng itu. Sikap ayah semakin hari semakin bertambah aneh. Aku tidak habis pikir, apa yang selama ini dilakukan ayah selama berjam-jam di atas sana. Belakangan ini aku juga sering mendengar ayah tertawa-tawa dari atas loteng itu. Hari berikutnya, kulihat ayah membawakan makanan lezat ke dalam loteng itu. Dan berikutnya lagi, kulihat ayah membawa peralatan make up ibu. Ayah seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dan ia tidak mau aku tahu.

Beberapa jam kemudian, ayah turun membawa satu gelas kosong. Bekas teh yang tadi dibawanya ke atas. Mana satunya lagi? pikirku. Ayah mendekat ke arahku, aku segera berpura-pura sibuk dengan tugasku. Ayah memperhatikan apa yang tengah aku kerjakan, lantas mengelus kepalaku lembut. Aku menengadah, menatap wajah ayah. Wajahnya yang tak lagi muda itu, penuh gurat bahagia. Seperti baru bertemu sang pujaan hati. Merona.

“Jangan terlalu larut.” ayah menepuk pundakku dan berjalan menuju kamar tidur. Sudut mataku mengikuti langkah kaki ayah, hingga akhirnya masuk ke dalam kamar. Rasa penasaranku kembali muncul. Malam ini, aku akan mencari tahu segala hal yang tengah disembunyikan ayah. Aku tidak sanggup lagi melihat keanehan-keanehan dalam diri ayah yang dengan sengaja ia sembunyikan. Bagaimana pun juga, aku tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada ayah.

Setelah sejak semalam aku menguntit ayah, akhirnya aku mengetahui di mana kunci loteng itu ia sembunyikan. Aku mengambilnya dan segera menuju lantai atas. Aku berjalan pelan sembari memikirkan apa yang akan kutemukan di dalam loteng itu. Sejak dulu, aku selalu ingin melihat-lihat isi di dalamnya. Bahkan ketika ayah semakin melarangku, ambisiku untuk masuk malah semakin membuncah.

Perlahan, aku memasukkan kunci dan memutarnya dua kali. Dengan perasaan berdebar, aku membuka pintu loteng itu sedikit. Gelap. Tidak ada terlihat apa-apa di dalam sana. Aku meraba dinding pelan-pelan, berharap menemukan saklar. Aku bahkan tidak ingat lagi, di mana saklar loteng ini berada. Sejak lima tahun lalu, ayah tidak lagi mengizinkanku masuk ke dalam sini.

Ah, akhirnya ketemu, batinku takut-takut. Dengan sekali tekan, lampu mulai menerangi seluruh ruangan. Aku hampir pingsan ketika aku melihat ada seseorang tengah duduk membelakangi daun pintu. Perempuan dengan baju hitam yang lusuh. Rambutnya tergerai sebahu. Namun dia sama sekali tidak bergerak ketika aku menyalakan lampu. Perempuan itu masih bergeming di tempatnya. Darahku berdesir hebat, lututku terasa lemas. Apa ini? Apa yang selama ini dilakukan ayah bersama perempuan ini? Pikiran burukku menjadi-jadi.

Aku menyeret kakiku untuk mendekat. Berusaha menguasai hati dan pikiranku yang mulai kacau. Rasa takut tiba-tiba menyergapku. Hawa di dalam loteng ini menjadi semakin tidak enak. Jarakku dengan perempuan itu tinggal beberapa meter lagi. Dengan tubuh yang bergetar hebat, bola mataku mulai menangkap wajah perempuan itu.

“AAAAAARRGGHH!!!” aku teriak sekencang-kencangnya. Badanku jatuh ke lantai, tanpa sengaja turut menarik kain putih yang menutupi meja besar yang letaknya tak jauh dari kursi perempuan itu. Aku terperangah atas apa yang kulihat. Napasku memburu, bulu kudukku berdiri. Aku menangis sejadi-jadinya. Masih dengan tubuh yang gemetar hebat, aku melirik perempuan itu lagi. Astaga! Teganya ayah melakukan ini! Tangisku semakin menderas membasahi pipi.

Perempuan yang duduk di kursi itu adalah ibuku. Ya, perempuan itu adalah ibu. Ibu yang sejak lima tahun lalu telah divonis dokter untuk mati. Ibu yang nyatanya telah dipanggil Tuhan menuju surga. Tidak.. ibuku belum di surga, ibu dipenjara ayah di loteng rumah ini. Tangisku meraung kencang. Aku berusaha menutup mulutku agar tak terdengar ayah. Dengan segala kekuatan yang tersisa, aku melihat apa yang ada dibalik kain putih tadi.

Lihatlah, segala bentuk keperluan ibu ada di sana. Makanan kesukaan ibu, segelas teh, semangkuk sup, dua roti berselai stroberi, juga baju baru dan lipstick merah ada di sana. Ayahku telah gila. Bagaimana mungkin dia berani melakukan hal bodoh ini? Bagaimana mungkin ia tega melakukannya pada ibu? Bagaimana mungkin? Kepalaku berdenyut. Air mataku jatuh kembali.

Ibu telah mati dan ayah tidak bisa menerima semua ini. Oh Tuhan, gilakah ayahku menculik ibu dari keharibaan-Mu? Tak jauh dari kursi itu, di sudut ruangan, aku menemukan botol berisi cairan yang entah apa. Aku meyakini itu adalah cairan yang digunakan ayah untuk mengawetkan ibu. Dadaku terasa sakit, seperti ditimbun beribu-ribu bata yang besar. Lihat, ibu lelap dalam tidurnya. Seharusnya ibu sudah bahagia di dalam surga, bukan di dalam loteng rumah ini.

Tiba-tiba aku menangkap bayangan seseorang dari balik pintu. Ayah, itu pasti ayah. Dengan wajah penuh murka, ayah menatapku marah. “Kurang ajar!” desisnya. Ayah mendekat dan menjambak rambutku kasar. Aku meraung memohon ampun. Ayah kalap, dia membanting semua yang ada di dekatnya, lalu menghempaskanku kasar. Kepalaku membentur ujung pintu, darah segar mengalir di sana. Tapi aku masih terus berusaha untuk bertahan.

Dengan memegangi kepalaku yang berlumuran darah, aku menangis dengan segenap sakit yang ada. “Mengapa ayah tega melakukan ini pada ibu?” tanyaku pelan. Tubuhku kembali bergetar hebat. Ada perasaan sakit, takut, kecewa, dan marah yang masuk dalam hatiku. “Mengapa ayah mengurung ibu di sini? Mengapa ayah mengambil ibu kembali dari tanah pekuburan itu? Bagaimana bisa ayah melakukannya??!!!” aku membentak ayah. Ayah diam, wajahnya merah padam.

“Diam kau! Sudah kuperingatkan berkali-kali, jangan pernah masuk ke dalam loteng ini! Kenapa kau selalu saja membantah?!!! HAA!!” bentak ayah tak mau kalah. “Ayah gila! Kau gila!” bentakku sekali lagi. Mendengar kalimatku, murka ayah kembali menjadi-jadi. Diambilnya pisau yang ada di meja besar itu, lalu sekilas dia melirikku. Kepalaku yang masih terasa sakit akibat benturan tadi, mulai kehilangan keseimbangannya.

Aku mencoba berdiri dan melarikan diri dari tempat ini. Namun sia-sia, kekuatanku telah luruh. Aku hanya bisa menatap ayah dengan sisa-sisa air mata. “Jangan, Yah..” ucapku memelas. Aku merangkak, mencoba menjauhi ayah. Ayah menyeret kakinya untuk mendekatiku, pisau itu ia acungkan ke arahku. Aku masih terus merangkak menjauh, menangis sejadi-jadinya. Mengapa ayah jadi seperti ini? batinku kecewa. “Aku mohon jangan, Yah. Jangan lakukan hal bodoh ini lagi.”

Sayang, saat ini, ayahku telah dirasuki murka yang dalam. Ia tidak lagi bisa membedakan mana binatang dan mana anak kandungnya sendiri. Pisau itu akhirnya menancap di perutku. Empat kali tusukan sudah cukup untuk merobohkanku. Aku jatuh dengan lantai yang memerah. Oksigen mulai sulit untuk kuhirup. Napasku tersengal. Sesak mulai meraja. Samar-samar, penglihatanku juga mulai gelap. Hingga detik berikutnya, badanku kaku seperti ibu.


Nanda Dyani Amilla Mahasiswi FKIP UMSU, Semester 6, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjabat sebagai Sekbid Riset dan Pengembangan Keilmuan di HMJ Basastrasia FKIP UMSU. Penulis novel remaja “Kejebak Friendzone” ini sedang giat-giatnya menulis cerita-cerita fiksi bertema thriller)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY