Puisi-Puisi Joe Annas Hasan

0
125

*) Annas Hasan

Biduan Amatir

katanya kerja
katanya jual suara
katanya sibuk

sorak-sorak dari lelaki malang
saling berkejaran
menghimpit udara
berusaha membelah dan meremas susumu
ada yang bergairah, ada yang jijik
bertahan melihat hanya untuk mengumpat

mereka, yang haus akan hiburan
akan terbawa gejolak emosimu
kau begitu pandai bergoyang, dan kau memang cantik
wahai biduan
biduan amatir
hingga tak ada lagi malu yang kau simpan untuk lelakimu

katanya kerja
katanya jual suara
katanya sibuk
nyatanya jual badan

(6 Mei 2017)

Jendela Kaca

lewat jendela ia masuk
memenuhi ruangan
jendela kaca

katanya ini rumahnya
“tembok menjadi saksi.” katanya lagi
nyamuk-nyamuk dan tikus tertawa

lewat jendela ia masuk
menembus asap
memecah pagar

kisah ini tak tuntas
kau mulai dengan sarang baru
untuk pengakuan

(2 Mei 2017)

Rembulan Dan Merah

Ya,
Kau yang berdiri disana
Rembulankah yang sedang kau tatap?
Berbicarakah ia padamu?
Kulihat kau hanya manggut-manggut
Tak ada suara
Bahasa apa yang kau pakai, nak?

Sempit nian ruangku untuk bertemu denganmu
Sudah kutebas rumput liar nan tinggi
Melebur bongkahan batu-batu kasar
Agar tak ada penghalang

Kau tetap tak mendengar
Mungkin karena payung merahmu
Jaket merahmu, dan sepatu merahmu

Tak usah kau nanti wahai gadis
Kau terlalu kecil untuk urusan cinta
Datanglah padaku
Untuk memerahkan bulan yang kau tatap

(30 April 2017)

Kata-Kata Indah

hujan pun menerawangimu
dari sudut sebelah mata
aku terlalai oleh kisah lalu
tiba-tiba kau berubah menjadi kata
kata-kata cinta
kata-kata indah
dan aku terperangkap dalam keindahan

(22 April 2017)

Usia 10 Ku

Aku berlinang pada permainan anak-anak
Keributan yang terasa menyenangkan di tengah jalan
Berluncur dari tangga hingga pasir
Ia kesakitan dalam bahagia yang baru dikenal

Mengenang perbuatan anak emas
Di tempat sampah yang ingin kulupakan
Menampung upah peti mati dari kemarahan
Mencari titik gelap di kegelapan

Namun di dasar berbeda
Kemurnian hidup mengalir bak air
Menambah senjata untuk membunuh kecemasan
Pergi merindu seluruh mata

Aku teringat pada usia 10 ku
Ku remas erat-erat tanah berbatu
Aku tertawa lebih garing
Mungkin itu akan terus berulang
Masa ketidakpedulian

(Jayapura, 2 April 2016)


Joe Annas Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Karya-karyanya baru tersebar di penerbit indie. Aktif di bidang olahraga (Taekwondo).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY