Puisi-Puisi Oktofianus Luli Boli

0
186

*) Oktofianus Luli Boli

Yang Hitam Bercerita

yang hitam bercerita, meminta pertemuan di suatu hari
mengisahkan jerit sisa-sisa cerita pahit.

Ada luka yang dililit bunga-bunga menawan
Mengantar langit pada pertemuan-pertemuan dengan musim
Menabu nada-nada gong gendang
Melantunkan syair-syair kesedihan

Ada seribu liang basah berdendang ria tanpa lagu
Daun-daun hijau menulis sajak di punggungnya
Retak dan luka-luka di sekujur tubuh yang melekang
Lalu gugur mendapatinya menanam duka

Di balik perangai
Sejarah mematahkan jejak-jejak matanya
Taruk yang bersemi dari tanah mesti kembali ke tanah
Dan doa-doa akan bergantungan di anjungan
tempat perceraian musim dengan langit
Lalu kita akan menjerit-jerit pada hukum dan restu karma.

yang hitam masih bercerita
Pada tanah
Pada liang lahad
Pada yang belum lahir
Tentang musim-musim yang mahir melagu menawarkan kematian
Tentang dosa-dosa temurun
Tentang hitam dan duka,
Maka hiduplah.

Makassar, April 2017

Lewotanah

Lewotanah
Kudengar degup cerita nenek
pada bongkahan temaram senja
dalam resah gendang ditalu bapak tua
tentang doa-doa dan koda kiring yang tak kupahami.
Kau mengalir dari akar koyaki tanah.

Lewotanah tanah louk goka
Tanah tuak menumpahkan darah
Tombak pecah,
parang pecah di garis-garis tangan
garis-garis rusuk yang membeton,
rapuh oleh rerumputan di pusara yang basah.

Lewotanah tanah wai matan
Tanpa warna di hijau yang tak ranum lagi
Mata air mata hati menggenang kenangan dalam tempurung basah
murung di air mata ama lake

Lewotanah
Kudengar degup cerita nenek
pada bongkahan temaram senja
sembari Ibu menimang-nimang luka yang Kau sisakan.

Makassar, 01 Februari 2017

Lewotanah ( kampung, kampung halaman, suku lamaholot dalam mengucapkan kata tersebut merupakan sesuatu ucapan yang sakral dan berkekuatan magis-religius )
koda kiri’(nasihat, sabda, kata-kata yang diucapkan oleh tetuah adat dalam seremoni adat suku Lamaholot)
louk goka (menangis )
wai matan (mata air )
ama lake (laki-laki)

Senja di Musim Berahi
untuk Juwita

Nada-nada gentayang oleh percik gerimis
di akhir suatu senja yang menampar bibir kesunyian
Nada-nadanya, ia mencoba melumatkan keresahan
dari warna-warna tatapmu dikala musim Berahi

Sengaja kubiarkan ia mengalir
dari lantai tertinggi yang kutiduri rongsokannya
Kosong dan sesekali bayang-bayang malam
memeluk dinding-dinding sajakku yang kedinginan,
yang bertuliskan namamu

Ini, ruanganku kini kemudian melayu
Hanya memantulkan cahaya bulan yang selalu terlambat pergi
Lalu gerimismu berisik berbisik padanya;
“Kucari angin dalam ruang sepi di luasnya senja yang mati
meninggalkan pelangi yang masih ranum warnanya,
kutemukan kau terjaga di sudut-sudut ruang”.

Makassar, 16 Februari 2017

Gadisku

Gadisku,
Kita berpelukan dalam kelam waktu
menciptakan rindu seperti ilalang
tak pernah melebur bersua
berpacu pada bulan-bulan
di mana kita terlahir untuk mati.

Gadisku,
Berkemaslah
esok aku datang dalam dinding mimpimu
menyempurnakan sikap manusiawiku
yang kerap menampar dada
dan bapakmu akan meludahiku lewat bola-bola matamu.
Akan kusarungkan sebilah gading melamarmu.

Makassar, 11 Januari 2017

Dalam Doamu, Doa-doa Kita

Tuhan,
di mana aku mesti memulai mengeja
ribuan makna yang akan pagi tawarkan esok
air mata, luka, ataukah kerinduan?
Tak bisa kusandingkan laku pada waktu,
waktu pada laku.
Kudengar rintik-rintik ganjil memanggil.

Tuhan,
tanggalkan bayangan ini, air mata ini
Tinggalkanlah kematian yang kan selalu kunantikan
agar hidup kurasakan begitu merdeka.

Makassar, 2016

Kata untuk sebuah Sajak

Sanggul gerimis di kepala
Kemarau usai menanam rindu
Bangunkan kita kesiangan
Bait-bait kacau yang kehilangan warna
dari nada-nada senar patah
adalah ungkapan risau yang terakhir

Kata mesti diadakan
Suara mesti bergelora
teruntuk adab negeri yang kesepian
sedang sejarah masih bercinta dengan sajak-sajak pilunya.

Pendidikan di negeri ini gemar patah hati
seperti bergidik
bayi-bayi domba lengah berdiri
menetek pada puting pahit
menggendong rumus
lupa-lupa sadar
lupa pada sajak-sajaknya.
etika hanya berlabuh pada hafalan
lalu yang lain-lainnya menjadi firman Tuhan
hantu dalam tas-tas sekolah

Kata mesti diadakan
memanggil suara-suara peluh melumat kebekuan
biar menguliti kematian di tunas-tunas kehidupan
agar tak kesiangan lagi memanah pagi.

Biarkan kelak hidup dalam sajak-sajaknya,
di tempat terbaik baginya.

Makassar, 12 Desember 2016

Di Halaman Kampung

Jingga yang kugenggam hatinya
merayu melayu di kaki Boleng,
di serambi rumah
di rahim Ina yang hijau daun penuh.

Sungguh sangat bosan dengan wajah-wajah kota tak berwarna,
hanya bebatuan saja.

Makassar, 05 Februari 2017
Catatan; Boleng (nama gunung berapi di pulau Adonara).
Ina (ibu)

Tembok

Orang-orangan mata yang menangis
dari liar yang begitu dekat
pada warna-warna kerudung murung
yang menjumpai mataku hari ini.
Merah muda, hitam, biru,
dan yang ungu yang paling pekat.
Lalu warna jeruk yang merundung bergelayut gelantungan di dada,
di warna-warna tembok phinisi yang pudar.

Makassar, Koridor FBS, November 2016

Jauh

Jauh itu bisu
Punya seribu kata
Punya tulisan indah
Tapi dia bisu
Dia kesepian

Makassar, 15 Mei 2016

Elang dalam Kardus

Bila kehilanganmu adalah kesepianku
Maka pulanglah karena aku menunggu dengan kesakitanku
di sini.

Makassar, 04 Februari 2017

Sajak Cinta dan Hutan

Sesuatu terperangkap dingin
di rumah yang lepas dari penciptanya
sepi dan liar, terasing
membangun luka-luka di mata yang bulirnya berjatuhan
mematahkan ruang-ruang keinginan.
Ada juga yang diperangkap rindu
bermekar gemar merayu
di setiap helaian rapuh yang melambai-lambai pasrah.

Mereka yang kembali
Merobohkan dinding-dinding kesedihan
dari semak belukar di rindang asmara yang mekar
menghabiskan malam-malam perseteruan dengan bulan
dengan kebuasan.

Begitu liar untuk dilepaskan
Sesuatu itu telah menjadi kekuatan penuh
Menjadi rumah yang utuh bersama ruas-ruas batangnya,
bertuan dan beranak.

Tidak ada rindu
Tidak ada lagi kesakitan.

Malino, 13 April 2017

Panggung Mati

Di atas punggung panggung kita yang mati
ada kata-kata yang kekeringan.
Batu-batu berdarah,
bunga-bunga bertabur luka duri
yang keropos dalam hitungan angin.

Sepotong malam tengah menemui ajalnya
dan siang yang tumbang oleh terik-terik
sementara cakrawala menunggangi
sisa gerimis yang berserakan di jalan pulang.

Ada beberapa telunjuk menancap mengucap dalam
berlirih menunjukkan kesedihan di mata.
Ada juga yang tengah menerka-nerka asal-muasal surga,
berdiskusi dengan tuhan-tuhan ciptaannya,
sampai begitu dalamnya terluka,
sampai kelelahan dan mereka meninggal dalam kematian.

Makassar, 01 Januari 2017

Sajak Gila untuk Kekasih

Menelaah rasa itu gila.
Ia tak pasti, datang begitu saja dan pergi begitu juga
bagai Sukhoi dibusur bokongnya.
Seperti kamu, tak sebegitu sering
namun menyergapku tanpa permisi, tak berwujud
hanya kudapati semerbak parfum
dan desah nafas kelelahanmu semalam suntuk.

Kita memang begitu gila soal rasa kekasih,
Menggila-gilakan nafsu untuk berperang lebih dalam
tentang apakah kita menang menduduki kekuasaan rasa
ataukah yang berkuasa yang duduk di kursi kita.
Kita memang harus berperang.

Beberapa waktu yang lalu
fajar merekah dikeheningan daun-daun basah
itu hal terindah yang pernah kita genggam bersama.
Lalu datang berpapasan dengan luka yang terbelalak di siang bolong
Tak perlu semprotan parfum, sebab rasa ini diabstrakkan,

Ucaplah itu kekasihku
Semua ruangan yang membuat kita gila sendiri-sendiri
Ruang di mana cinta ditembak mati
dan sesekali aku meminyakinya dengan air mata.

Juga rasa kita kekasih
Masihkah dapat ku jamah lembut kerudungmu
Atau haruskah ku tancapkan badik ini
Agar bisa memelukmu dalam wujud yang sama?
Kita akan terus berperang
menghujani makian kepada para dewa yang tak menjadikannya nyata
sampai perjumpaan dengan kematian kedua sekalipun.

Makassar, 11 Mey 2016

Bu, Sepatu Sekolahku Rusak Bu!

Masih pagi, masih gelap
Ketiga mata tungku tengah menikmati jatuh cinta pada api,
Ibu, meniti jagung selalu seperti menulis catatan pagi
Kening Ayah membelah embun sepanjang setapak
menuju kebun ditunggu bulir kelapa siap dikopra.

Aku yang kecil masih menimang mimpi-mimpi di kasur pernah aku dilahirkan.
Dia agak cemas memelas mungil badanku lalu bujuknya,
Bangun Anakku, basuhlah muka, tangan, dan kakimu. Kenakanlah seragam, lalu sepatu kakakmu. Guru menunggu memulai pelajaran.
Anakku, jagalah selalu senyummu hari ini untuk Ayah dan Ibu. Tegaplah menatap papan tulis kelasmu yang hitam di matamu, namun memutih lebih dari kapur tulis putihnya.
Ibu menyusul Ayah di kebun mengopra segala mimpi-mimpi kita, agar esok tuk membeli sepatu barumu.

Ibu,
Aku kini tengah mencipta warna-warna mimpi
menjadi pelajar yang menghajar mimpi-mimpi sejati,
mimpi-mimpi yang menjalar menusuk cakrawala
di kota yang tak ranum juga mimpinya.

Makassar, 11 Februari 2017

Jatuh cinta , apanya yang bangkit?

Setiap hari manusia menikmati gelap
dan menghunjamkan ketakutan di matanya
Hanya saja malam,
Gelap lebih berarti dan memiliki sejuta tabik misterius
Berbicara dengan bulan, matahari yang telah mati meninggalkan cinta

Sengaja kubiarkan malam ini larut menggelap
karena aku tahu malam yang terang itu di matamu.
Dan pada saat itu ada dua kehidupanku yang hilang menuju nirwana
bagian terbesarnya adalah matamu.

Aku hanya ingin bertanya, semua indraku lumpuh
lalu apanya yang bangkit?

Cinta bukanlah malagandang
Tetapi sebagian darinya mengakar di nadi kita
Tumbuh dan menjalar menusuk nalar pecinta.
Semuanya disengajai karena kita memiliki cinta, rahasia paling diam.

Jadi, jatuh cinta, apanya yang bangkit?

Makassar, 09 Januari 2017

Lewak Tapo

Sebelumnya Kematian, Kita Telah Mengubur Kehidupan Sendiri
Sesudahnya kematian, air mata berkata-kata mengakar di kepala.
Ada dosa yang memanggil-manggil di tidur titisan darahnya,
yang masih muda jiwanya memikul perkara mengantarnya pada penantian
antara kematian yang berputar kembali atau terkuburnya dosa-dosa temurun.
Buah-buah kelapa, adalah kepala-kepala kita yang dipenggal tuhan atas dosa-dosa itu,
mesti tuak yang berkata-kata, mengucap syukur, doa, dan memohon restu lewotanah pada padu’ agar sempurnalah terangnya.
Dan hadirkanlah sirih-pinang sebagai pengikat antara manusia dengan pencipta, manusia dengan yang berkeliaran di atas tanah, manusia dengan yang berjalan-jalan di nirwana, agar sempurnalah kematian dan keabadian.

Makassar, 03 Mei 2017

Lewak Tapo (membelah kelapa) adalah tradisi khas orang Lamaholot, Adonara, Flores Timur, sebagai ritual mencari kebenaran atas kematian yang tak wajar dan menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan arwah para leluhur.

Lewotanah ( kampung, kampung halaman, suku lamaholot dalam mengucapkan kata tersebut merupakan sesuatu ucapan yang sakral dan berkekuatan magis-religius )

Padu’ (kemiri) adalah alat penerangan pada jaman dahulu, dari buah kemiri yang isinya ditumbuk bersama kapas lalu dililitkan pada bilah bamboo kemudian di nyalakan. Sampai sekarang masih dipakai dalam seremoni adat.


Oktofianus Luli Boli, yang pasti lebih cepat menoleh ketika dipanggil sebagai Once, lahir di pulau kecil bernama Adonara, Flores, pada 25 Oktober 1997. Once tengah melanjutkan studi strata satu di Universitas Negeri Makassar (UNM), program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 2015 sampai sekarang dan bisa ditemuai kapan saja di Panggung Daeng Pamatte. Aktif menulis puisi dan mengadaptasi “Once Luliboli” sebagai nama pena ketika bergabung di lembaga kesenian Bengkel Sastra JBSI FBS UNM. Hampir tidak ada prestasi dan mungkin saja belum diraihnya; ”beranilah memulai masalahmu”.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY